World Keffiyeh Day 2025, Kebenaran yang Ditutupi melalui Film Zahra Blue Eyes

3 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Pemateri World Keffiyeh Day 2025 (Mahdiah), Selasa, 13 Mei 2025. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Pemateri World Keffiyeh Day 2025 (Mahdiah), Selasa, 13 Mei 2025. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

World Keffiyeh Day merupakan acara yang diselenggarakan oleh @withkeffiyeh.id dalam rangka mengambil sebuah momentum untuk menyadarkan kembali kepada masyarakat perihal isu yang berkaitan dengan Palestina.

Di mana palestina bukan milik dari suatu bangsa tapi sudah masuk ke dalam krisis kemanusiaan yang mendesak dan menuntut perhatian dari khalayak. Acara ini dilaksanakan pada pukul 14:30–selesai. Ada pun tempat diadakannya event ini berada di perpustakaan mandiri bernama The Rooms 19 yang berlokasi di Jl. Dipatiukur No.66 C, Lebak Gede, Kecamatan Coblong, Kota Bandung.

Acara diawali dengan pengenalan mengenai Keffiyeh oleh Mahdiah. Kemudian selanjutnya peserta diminta untuk saling berkenalan dan juga menceritakan sedikit mengenai latar belakang pendidikan. 

Selanjutnya pemateri menjelaskan beberapa hal terkait kondisi palestina terbaru disertai beberapa foto dan video. Dalam tayangan tersebut banyak kepedihan yang dirasakan oleh rakyat Palestina. Mirisnya tidak hanya orang dewasa saja tapi juga berdampak bagi anak kecil. Kondisi peperangan tidak memungkinkan persediaan makanan yang layak sehingga banyak anak kecil yang mengalami kelaparan dan berakibat pada kesehatan dan kondisi tubuh yang bermasalah.

Selanjutnya mulai memasuki acara inti yaitu perihal penayangan film yang berjudul Zahra Blue Eyes (Zahra Cheshm Abi). Film ini merupakan serial Tv di Suriah-Iran yang ditayangkan pada tahun 2004. Ali Derakhshi yang memproduksi serial ini merupakan mantan pejabat Kementerian Pendidikan Iran. Menurut penuturan pemateri sebetulnya film ini banyak dikecam oleh Negara Barat sehingga soft file dari film ini sangat sulit untuk ditemukan.

Film ini menceritakan perihal warga sipil Israel yang memiliki misi untuk mengambil mata anak-anak Palestina untuk diambil dan digunakan untuk anak salah satu pejabat tinggi Israel yang memiliki permasalahan pada matanya. Para tentara Israel menyamar menjadi anggota PBB dengan menyabotase dan mengikat. Sehingga tentara Israel mengelabui warga Palestina dengan dalih sedang terjadi wabah penyakit mata yang mematikan dan anak-anak harus diperiksa kondisi matanya.

Dari sekian puluh anak didapatkan satu mata berwarna biru cantik yang membuat salah satu dokter terperanjat akan keindahannya. Anak itu bernama Zahra, dia dan Kakeknya dibawa ke rumah petinggi Israel untuk dirawat dengan baik. Dipastikan kondisi badannya bisa sehat untuk dilakukan operasi pengambilan mata.

Sangat mengharu biru perjuangan yang dilakukan Zahra dan Kakeknya. Begitu banyak ketegangan yang terjadi sebelum akhirnya mereka benar-benar tertangkap. Begitu banyak kengerian yang ditampilkan dalam film ini salah satunya penjualan organ manusia yang dilakukan oleh Israel secara ilegal. Banyak warga Palestina yang organnya diambil secara hidup-hidup seperti Zahra. 

Namun ada juga beberapa korban genosida yang organnya masih baik tetap diambil untuk kebutuhan transplantasi kepada pihak Israel yang sudah memiliki kondisi badan yang tidak baik. Entah bagaimana lagi merepresentasikan film yang bahkan di belahan dunia lain ada manusia yang sama sekali tidak memiliki hati nurani sedikitpun mengenai rasa kemanusiaan.

Di mana palestina bukan milik dari suatu bangsa tapi sudah masuk ke dalam krisis kemanusiaan yang mendesak dan menuntut perhatian dari khalayak. (Sumber: Pexels/Ömer Faruk Yıldız)

Dalam film ini juga ditunjukkan beberapa adegan bahwa PBB tidak setuju dengan isu kekerasan. Namun pada situasi tertentu Israel juga menyabotase, mendiskriminasi dan menekan menggunakan kekuasaan sehingga mereka pun tidak berkutik. Juga ada adegan warga Yahudi yang menolong Zahra beserta Kakeknya ketika terluka akibat tusukan benda runcing dari tentara Israel ketika sedang melaksanakan pelarian. Film berakhir setelah Zahra benar-benar kehilangan Kakeknya, penglihatannya dan saudaranya yang bernama Ismail yang mengorbankan dirinya bersama bom bunuh diri juga para penguasa Israel yang zalim.

Setelah film selesai peserta diminta untuk menuliskan apapun yang dirasakan atau yang dilihat melalui film ke dalam kertas dalam bentuk puisi. Peserta dipersilahkan secara bebas membuat karya tanpa harus dibatasi apa pun. Setelah selesai ada beberapa perwakilan dari peserta untuk membacakan puisinya di depan seluruh peserta yang lain. 

Adapun menurut penulis ada salah satu puisi menarik yang ditulis oleh Seorang Jurnalis Kompas Jabar bernama Shafirah Vidaa Fatimah Alatas. Dalam puisinya yang sarat dengan makna berlirik demikian:

“Oh demi mata birumu Zahra. Ali Derakshi oh ... Ali Derakshi

Mereka berdebat, mereka mengecam tentang kebenaran atau kebohongan

Yang kau coba tampilkan

Ali Derakhsi oh Ali Derakshi aku  sama sekali bukan kritikus film tapi semua

Yang kau tampilkan tidak sejuput pun disebabkan dari kengerian. 

Ini aku dari 20 tahun kedepan, 20 tahun kemudian. Dengan semua potongan

Daging dan darah malaikat. Serta para pejuang yang dengan leluasa

Menyaksikan dari langit” (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)