Prof Wanjat Kastolani dan Formula Sederhana untuk Menyelesaikan Sampah dari Akarnya

Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Ditulis oleh Eneng Reni Nuraisyah Jamil diterbitkan Kamis 21 Agu 2025, 15:09 WIB
Wanjat Kastolani tidak sedang menciptakan teknologi revolusioner. Ia justru menantang paradigma lama dengan pendekatan yang nyaris tak terdengar, menyelesaikan sampah dari akarnya. (Sumber: Ayobandung.id)

Wanjat Kastolani tidak sedang menciptakan teknologi revolusioner. Ia justru menantang paradigma lama dengan pendekatan yang nyaris tak terdengar, menyelesaikan sampah dari akarnya. (Sumber: Ayobandung.id)

AYOBANDUNG.ID -- Prof Wanjat Kastolani tidak sedang menciptakan teknologi revolusioner. Ia justru menantang paradigma lama dengan pendekatan yang nyaris tak terdengar, menyelesaikan sampah dari akarnya, tanpa mesin, tanpa jargon, tanpa kemewahan.

Sebagai akademisi lingkungan dari Universitas Pendidikan Indonesia, ia mengembangkan metode bio compound, sebuah formula sederhana yang mengubah sampah organik menjadi media tanam dalam waktu kurang dari sehari. Tanpa bau. Tanpa limbah tambahan. Tanpa ketergantungan pada alat berat.

Di tengah kebiasaan kota yang membuang sampah ke TPA tanpa pikir panjang, Prof. Wanjat menawarkan alternatif yang bersifat lokal dan mandiri. Ia percaya bahwa solusi tidak harus datang dari atas, melainkan bisa tumbuh dari kebiasaan warga, dari dapur, dari halaman belakang.

Bio compound bukan sekadar kompos. Ia adalah pembenah hayati, membuat campuran yang mampu menghidupkan kembali tanah yang rusak akibat limbah dan polusi. Formulanya terdiri dari sampah organik yang dicacah, batang pisang (gebog cau), kotoran hewan, dan bio compound itu sendiri.

“Caranya simpel, sampah dicacah, dicampur gebog cau untuk mengikat racun, lalu ditambah kotoran hewan dan bio compound. Hasilnya bisa langsung dipakai sebagai media tanam," ujar Prof. Wanjat dalam pelatihan di Babakansari, Bandung.

Metode ini dirancang untuk skala kecil seperti rumah tangga, RT, RW. Tidak perlu biodigester, peuyeumisasi, atau proses kompos yang memakan waktu berminggu-minggu. Ia bisa dilakukan dengan ember, sekop, dan kemauan untuk memilah.

Prof. Wanjat menyebut sampah sebagai bom waktu. Ia tidak sedang melebih-lebihkan. Kota-kota besar di Indonesia menghadapi krisis TPA yang penuh, mahal, dan tidak berkelanjutan. “Dulu kita cari solusi ke mana-mana. Ternyata sampah bisa selesai oleh dirinya sendiri," katanya.

Ilustrasi. Tumpukan sampah. (Sumber: Ayobandung.id)
Ilustrasi. Tumpukan sampah. (Sumber: Ayobandung.id)

Di Babakansari, pendekatan ini diterapkan. Warga diajak memilah sampah sejak dari rumah. Mereka membawa tumblr, menghindari air kemasan, dan mulai memahami bahwa sampah bukan sesuatu yang dibuang, melainkan sesuatu yang bisa diolah.

Kebijakan lokal pun mendukung. RW setempat menetapkan aturan, di mana sampah yang tidak dipilah tidak akan diangkut oleh petugas. “Ini satu langkah maju, karena perubahan perilaku harus didorong oleh sistem," ” kata Prof Wanjat.

Namun, ia tidak memaksakan satu metode untuk semua tempat. Baginya, pengolahan sampah harus kontekstual. Karakteristik tanah, budaya warga, dan kapasitas lokal harus menjadi pertimbangan utama. “Tidak semua wilayah cocok dengan biodigester. Tidak semua cocok dengan kompos biasa,” ujarnya.

Bio compound menjadi jawaban bagi wilayah yang tidak punya lahan luas, tidak punya anggaran besar, tapi punya semangat gotong royong. Ia bisa diterapkan di gang sempit, di halaman rumah, bahkan di balkon apartemen.

Lebih dari sekadar teknik, metode ini adalah gerakan. Ia mengajak warga untuk melihat ulang hubungan mereka dengan limbah. Bahwa yang dibuang bisa menjadi sumber kehidupan. Bahwa yang dianggap kotor bisa menjadi penyembuh tanah.

Prof. Wanjat tidak menjual produk. Ia menyebarkan gagasan. Ia melatih warga, bukan menjadikan mereka konsumen. Ia percaya bahwa perubahan dimulai dari pengetahuan yang dibagikan, bukan dari alat yang dijual.

Di tengah krisis lingkungan yang semakin kompleks, pendekatan seperti ini terasa segar. Ia tidak menjanjikan keajaiban. Tapi ia menawarkan sesuatu yang lebih penting, yakni kendali, di mana warga bisa mengelola sampahnya sendiri, dengan cara yang sederhana, efektif, dan berkelanjutan.

"Kalau kita bisa ubah cara pandang terhadap sampah, dari beban jadi sumber, maka kota ini punya harapan. Sampah tidak harus menunggu teknologi besar. Ia bisa selesai di tangan warga, asal ada kemauan dan pengetahuan yang dibagikan," ujarnya.

Alternatif produk kebutuhan serupa dan UMKM:

  1. https://s.shopee.co.id/5fejaIyJuk
  2. https://s.shopee.co.id/2LOHcCRnBn
  3. https://s.shopee.co.id/70A7Apv4fS

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 13 Jan 2026, 18:04 WIB

Profesi dan Hobi Harus Seimbang: Seorang Guru SMA Membuktikan Ambisinya

Guru SMA Lisda Nurul Romdani sukses menaklukkan maraton dan trail run (35 km) di tengah jadwal padat, membuktikan ambisi, mental, dan konsistensi.
Lisda Nurul Romdani seorang guru SMA membuktikan hobinya sebanding dengan rutinitas mengajar saat mengikuti Half Marathon Pocari Sweat Run 2024 di Bandung. (Sumber: @lisdaanr | Foto: @fotoyu_official Pocari Sweet RUN 2024)
Ayo Biz 13 Jan 2026, 18:04 WIB

Kekurangan Vitamin D, Masalah Nutrisi Anak yang Masih Mengakar di Indonesia

Kekurangan vitamin D masih cukup sering ditemukan pada anak usia sekolah dan dapat berdampak pada kesehatan tulang dan gigi.
Ilustrasi kekurangan vitamin D masih menjadi masalah nutrisi yang cukup umum pada anak dan remaja, termasuk di Bandung. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 17:19 WIB

Resolusi 2026 Warga Bandung: Berharap Transportasi Umum yang Lebih Terintegrasi

Keluhan warga Bandung mengenai transportasi umum yang dinilai belum efisien dan kurang terintegrasi.
Suasana metro jabar trans dipenuhi penggunana di sore hari sepulang kerja (03/12/2025). (Sumber: Pribadi | Foto: M. Kamal Natanegara)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 16:18 WIB

Penyairan Masa Kini: Bahasa yang Mencari Rumah Baru

Penyair masa kini menjaga kedalaman di tengah riuh digital, merawat bahasa, melampaui klise, dan menghadirkan ruang hening saat dunia bergerak terlalu cepat.
Puisi mencari napas baru, sementara penyair menjaga jantung bahasanya. (Sumber: Pixnio/Bicanski)
Ayo Biz 13 Jan 2026, 16:06 WIB

Gen Z dari Scrolling ke Running, Gaya Hidup Baru yang Menggerakkan Pasar Kebugaran

Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru.
Ilustrasi. Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 14:34 WIB

'Doom Spending' dan Generasi yang Menyerah Membeli Masa Depan

Mengapa anak muda memilih "kebahagiaan kecil" yang mahal saat impian besar seperti rumah makin mustahil dicapai gaji UMR.
Ilustrasi dompet kosong. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 13:13 WIB

Bandung Makin Macet, Transportasi Umum Bisakah Jadi Penolong?

Kesenjangan Pusat Kota yang Diperhatikan dan Pinggiran Kota yang Terlupakan
Halte Cicaheum, Kota Bandung, yang sudah mulai usang dan banyak tumpukan sampah di belakang bangku, (3/12/25). (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Putriana Basar)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 11:37 WIB

Chopper: Sejarah dan Makna Desain Mesin Kebebasan Roda Dua

Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an.
Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an. (Sumber: Pexels | Foto: Rachel Claire)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 10:19 WIB

Tren Coffee Shop Jadi Markas Mahasiswa Bandung 'Ngebut Tugas' Menjelang UAS

Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 09:34 WIB

Menjadi Mahasiswa IKIP Bandung (Bagian Dua)

Di sekitar kampus IKIP Bandung (UPI), Jalan Setiabudhi dulu berjajar penjual pisang Lembang.
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 07:50 WIB

Ngopi, Duduk, dan Biarkan Pikiran Bernapas

Bagi Kopi menawarkan ruang sederhana dan hangat di tengah malam yang tenang.
Sederhana saja, secangkir kopi dan ketenangan di Bagi Kopi. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 20:01 WIB

Pentingnya Pengesahan RUU Perampasan Aset sebagai Upaya Memperkuat Sistem Tata Kelola Pemerintahan

RUU Perampasan Aset hadir sebagai instrumen yang dapat menutup celah tindak korupsi.
Ilustrasi kriminalitas. (Sumber: Pexels | Foto: Kindel Media)
Ayo Jelajah 12 Jan 2026, 19:17 WIB

Hikayat Perburuan Komplotan Komunis Bandung, Priangan dalam Kepungan Polisi Kolonial

Operasi besar polisi kolonial memburu komplotan komunis di Bandung dan Priangan pada 1927 yang membuat kota hidup dalam kecurigaan.
Berita tentang dugaan plot komunis di Bandung di koran De Avondpost edisi 19 Oktober 1927.
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 18:47 WIB

Menyelami Riuhnya Ekspresi Seniman Bandung: Dari Ruang Kreatif Hingga Panggung Kontemporer

Di balik hiruk-pikuk jalan dan lalu lintasnya, Bandung tak pernah kehabisan nada, warna, dan kisah. Kota ini bukan sekadar pusat kuliner dan fashion, tetapi juga menjadi ruang ekspresi generasi seni.
Suasana pembukaan Pasar Seni ITB. (Sumber: fsrd,itb)
Ayo Biz 12 Jan 2026, 18:27 WIB

Rumah Pertama Jadi Mimpi Jauh, 65 Pesimis Gen Z Pesimis Mampu Membeli

Memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z.
Ilustrasi memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 17:26 WIB

Tumbler Dan Gejala Sosial Baru

gejala sosial tentang gaya hidup membeli tumbler
Tumbler. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:49 WIB

Hafal Daftar Cicilan, tapi Lupa Impian

Gen Z sering dianggap generasi manja, padahal banyak dari mereka yang memikul beban finansial keluarga di pundaknya.
Ilustrasi cicilan. (Sumber: Pexels | Foto: Anna Shvets)
Ayo Biz 12 Jan 2026, 16:38 WIB

Saat Angka Pengangguran Masih Tinggi, Keterampilan Jadi Harapan Baru

Salah satu penyebab utama tingginya pengangguran adalah ketidaksesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan pasar.
Pelatihan perbaikan AC dan handphone Ini ditujukan bagi masyarakat tidak mampu agar mereka memiliki keterampilan praktis yang bisa langsung diaplikasikan. (Sumber: Dok BSI Maslahat)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:07 WIB

Es Pisang Ijo Saparua: Perpaduan Sederhana Rasa Luar Biasa

Rekomendasi es viral yang enak di Kota Bandung sambil olahraga pagi menjelang siang.
Foto diambil langsung di Saparua Sport sambil menikmati indahnya pemandangan. (Foto: Rizki Hidayat)