AYOBANDUNG.ID -- Di Bandung, kota yang dikenal dengan udara sejuk dan aktivitas urban yang padat, fenomena kekurangan vitamin D pada anak justru semakin menonjol. Meski sinar matahari tersedia sepanjang tahun, anak-anak di kota ini lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan, baik di sekolah, kursus tambahan, maupun aktivitas digital di rumah. Paparan sinar matahari yang minim membuat sintesis vitamin D alami di tubuh mereka tidak optimal.
Sejalan dengan upaya mendukung pemenuhan nutrisi anak di masa pertumbuhan, sejumlah penelitian nasional hingga internasional menunjukkan bahwa kekurangan vitamin D masih menjadi masalah nutrisi yang cukup umum pada anak dan remaja, termasuk di Bandung.
Data South East Asian Nutrition Surveys (SEANUTS) II 2024 mencatat bahwa 92 persen anak Indonesia tidak memenuhi kebutuhan vitamin D harian. Sementara survei lokal yang dilakukan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran pada 2023 menemukan sebagian besar anak usia sekolah dasar di Bandung memiliki kadar vitamin D di bawah ambang normal.
Sekadar informasi, vitamin D berperan penting dalam membantu penyerapan kalsium, mendukung mineralisasi tulang, serta menunjang pertumbuhan dan perkembangan tulang selama masa kanak-kanak dan remaja. Kekurangan vitamin ini dapat berdampak pada kepadatan tulang, kesehatan gigi, hingga risiko osteoporosis di masa depan.
Kondisi ini semakin mengkhawatirkan ketika dikaitkan dengan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang menegaskan bahwa malnutrisi masih menjadi tantangan besar, dengan prevalensi stunting di Jawa Barat masih di atas rata-rata nasional.
Berbagai studi global melaporkan bahwa asupan vitamin D yang tidak mencukupi dapat berdampak pada kesehatan tulang dan pertumbuhan optimal anak, terutama jika tidak diimbangi dengan asupan kalsium dan protein yang memadai.
Di Bandung khususnya di pelosok kota, pola konsumsi anak-anak cenderung tinggi karbohidrat dan jajanan sekolah, namun rendah protein hewani dan produk fortifikasi. Susu fortifikasi memang tersedia di pasaran, tetapi tidak semua keluarga mampu menjadikannya konsumsi rutin karena faktor harga.
Dokter spesialis gizi klinik, dr. Cut, menjelaskan bahwa kekurangan vitamin D masih cukup sering ditemukan pada anak usia sekolah dan dapat berdampak pada kesehatan tulang dan gigi.
“Vitamin D berperan penting dalam membantu penyerapan kalsium dan proses pembentukan tulang serta gigi anak. Jika asupannya kurang, dalam jangka panjang dapat memengaruhi kepadatan tulang selama masa pertumbuhan," ungkap dr. Cut pada Selasa, 13 Januari 2026.
Di kawasan pinggiran Bandung misalnya, banyak keluarga muda yang mengandalkan makanan cepat saji atau jajanan sekolah sebagai menu harian anak. Kandungan gizi yang tidak seimbang membuat anak-anak rentan mengalami defisiensi vitamin D.
Beberapa orang tua mengaku bahwa anak mereka jarang minum susu atau produk fortifikasi karena lebih memilih minuman manis kemasan. Fenomena ini mencerminkan tantangan edukasi gizi yang nyata di masyarakat urban.
Supermarket besar sedianya kini menyediakan berbagai pilihan produk nutrisi anak dengan klaim fortifikasi vitamin D. Namun, distribusi produk ini belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama di pinggiran kota.
Kesenjangan akses ini memperlihatkan bahwa meski pasar nutrisi anak di Bandung bernilai besar, pemerataan distribusi masih menjadi pekerjaan rumah.
Tantangan lain muncul dari kebiasaan masyarakat yang masih menganggap paparan matahari pagi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin D. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang jarang beraktivitas di luar ruangan tetap mengalami defisiensi meski tinggal di daerah tropis. Hal ini menegaskan bahwa pola makan berperan besar dalam pemenuhan kebutuhan harian.
Industri susu nasional dan internasional melihat peluang besar dari kondisi ini. Produk dengan klaim “fortifikasi vitamin D” kini semakin banyak beredar, menjadi bagian dari strategi pemasaran yang menyasar keluarga muda.
Persaingan antarbrand semakin ketat, dengan perusahaan berlomba menghadirkan produk dengan kandungan nutrisi lengkap, harga terjangkau, dan distribusi luas. Namun, tantangan terbesar tetap pada edukasi konsumen.
Harga produk nutrisi masih menjadi hambatan bagi keluarga berpenghasilan rendah. Tanpa subsidi atau program pemerintah, akses terhadap nutrisi berkualitas akan tetap terbatas. Hal ini menciptakan kesenjangan gizi yang berpotensi memperburuk ketidaksetaraan kesehatan di masa depan.
Regulasi pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mendorong program edukasi gizi dan fortifikasi pangan. Namun, implementasi di lapangan menghadapi kendala pengawasan kualitas produk dan keterbatasan sumber daya. Tanpa pengawasan ketat, klaim fortifikasi vitamin D pada produk pangan bisa menjadi sekadar strategi pemasaran tanpa dampak nyata bagi kesehatan anak.
Kondisi riil di masyarakat salah satunya Bandung memperlihatkan bahwa masalah kekurangan vitamin D bukan sekadar isu medis, melainkan juga sosial-ekonomi. Anak-anak dari keluarga menengah ke atas mungkin lebih mudah mengakses produk nutrisi modern, sementara anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap bergantung pada pola makan sederhana yang minim kandungan vitamin D.
Apalgi, dr. Cut menegaskan, pemenuhan vitamin D, protein, dan kalsium sebagai bagian dari pola makan seimbang menjadi sangat penting. "Susu dapat menjadi salah satu sumber praktis untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tersebut, terutama bagi anak dengan aktivitas yang padat,” ujarnya.
Jika pemerintah, industri, dan masyarakat dapat bersinergi, Bandung berpeluang besar menjadi contoh kota yang berhasil menekan angka defisiensi vitamin D. Edukasi gizi yang berkelanjutan, distribusi produk fortifikasi yang merata, serta kebijakan subsidi bagi keluarga berpenghasilan rendah menjadi kunci keberhasilan demi pemerataan akses dan kesadaran masyarakat.
Alternatif kebutuhan nutrisi dan vitamin harian atau produk serupa:
