Kekurangan Vitamin D, Masalah Nutrisi Anak yang Masih Mengakar di Indonesia

Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Ditulis oleh Eneng Reni Nuraisyah Jamil diterbitkan Selasa 13 Jan 2026, 18:04 WIB
Ilustrasi kekurangan vitamin D masih menjadi masalah nutrisi yang cukup umum pada anak dan remaja, termasuk di Bandung. (Sumber: Freepik)

Ilustrasi kekurangan vitamin D masih menjadi masalah nutrisi yang cukup umum pada anak dan remaja, termasuk di Bandung. (Sumber: Freepik)

AYOBANDUNG.ID -- Di Bandung, kota yang dikenal dengan udara sejuk dan aktivitas urban yang padat, fenomena kekurangan vitamin D pada anak justru semakin menonjol. Meski sinar matahari tersedia sepanjang tahun, anak-anak di kota ini lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan, baik di sekolah, kursus tambahan, maupun aktivitas digital di rumah. Paparan sinar matahari yang minim membuat sintesis vitamin D alami di tubuh mereka tidak optimal.

Sejalan dengan upaya mendukung pemenuhan nutrisi anak di masa pertumbuhan, sejumlah penelitian nasional hingga internasional menunjukkan bahwa kekurangan vitamin D masih menjadi masalah nutrisi yang cukup umum pada anak dan remaja, termasuk di Bandung.

Data South East Asian Nutrition Surveys (SEANUTS) II 2024 mencatat bahwa 92 persen anak Indonesia tidak memenuhi kebutuhan vitamin D harian. Sementara survei lokal yang dilakukan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran pada 2023 menemukan sebagian besar anak usia sekolah dasar di Bandung memiliki kadar vitamin D di bawah ambang normal.

Sekadar informasi, vitamin D berperan penting dalam membantu penyerapan kalsium, mendukung mineralisasi tulang, serta menunjang pertumbuhan dan perkembangan tulang selama masa kanak-kanak dan remaja. Kekurangan vitamin ini dapat berdampak pada kepadatan tulang, kesehatan gigi, hingga risiko osteoporosis di masa depan.

Kondisi ini semakin mengkhawatirkan ketika dikaitkan dengan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang menegaskan bahwa malnutrisi masih menjadi tantangan besar, dengan prevalensi stunting di Jawa Barat masih di atas rata-rata nasional.

Berbagai studi global melaporkan bahwa asupan vitamin D yang tidak mencukupi dapat berdampak pada kesehatan tulang dan pertumbuhan optimal anak, terutama jika tidak diimbangi dengan asupan kalsium dan protein yang memadai.

Di Bandung khususnya di pelosok kota, pola konsumsi anak-anak cenderung tinggi karbohidrat dan jajanan sekolah, namun rendah protein hewani dan produk fortifikasi. Susu fortifikasi memang tersedia di pasaran, tetapi tidak semua keluarga mampu menjadikannya konsumsi rutin karena faktor harga.

Dokter spesialis gizi klinik, dr. Cut, menjelaskan bahwa kekurangan vitamin D masih cukup sering ditemukan pada anak usia sekolah dan dapat berdampak pada kesehatan tulang dan gigi.

“Vitamin D berperan penting dalam membantu penyerapan kalsium dan proses pembentukan tulang serta gigi anak. Jika asupannya kurang, dalam jangka panjang dapat memengaruhi kepadatan tulang selama masa pertumbuhan," ungkap dr. Cut pada Selasa, 13 Januari 2026.

Di kawasan pinggiran Bandung misalnya, banyak keluarga muda yang mengandalkan makanan cepat saji atau jajanan sekolah sebagai menu harian anak. Kandungan gizi yang tidak seimbang membuat anak-anak rentan mengalami defisiensi vitamin D.

Beberapa orang tua mengaku bahwa anak mereka jarang minum susu atau produk fortifikasi karena lebih memilih minuman manis kemasan. Fenomena ini mencerminkan tantangan edukasi gizi yang nyata di masyarakat urban.

Supermarket besar sedianya kini menyediakan berbagai pilihan produk nutrisi anak dengan klaim fortifikasi vitamin D. Namun, distribusi produk ini belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama di pinggiran kota.

Kesenjangan akses ini memperlihatkan bahwa meski pasar nutrisi anak di Bandung bernilai besar, pemerataan distribusi masih menjadi pekerjaan rumah.

Tantangan lain muncul dari kebiasaan masyarakat yang masih menganggap paparan matahari pagi sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin D. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang jarang beraktivitas di luar ruangan tetap mengalami defisiensi meski tinggal di daerah tropis. Hal ini menegaskan bahwa pola makan berperan besar dalam pemenuhan kebutuhan harian.

Industri susu nasional dan internasional melihat peluang besar dari kondisi ini. Produk dengan klaim “fortifikasi vitamin D” kini semakin banyak beredar, menjadi bagian dari strategi pemasaran yang menyasar keluarga muda.

Persaingan antarbrand semakin ketat, dengan perusahaan berlomba menghadirkan produk dengan kandungan nutrisi lengkap, harga terjangkau, dan distribusi luas. Namun, tantangan terbesar tetap pada edukasi konsumen.

Harga produk nutrisi masih menjadi hambatan bagi keluarga berpenghasilan rendah. Tanpa subsidi atau program pemerintah, akses terhadap nutrisi berkualitas akan tetap terbatas. Hal ini menciptakan kesenjangan gizi yang berpotensi memperburuk ketidaksetaraan kesehatan di masa depan.

Regulasi pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mendorong program edukasi gizi dan fortifikasi pangan. Namun, implementasi di lapangan menghadapi kendala pengawasan kualitas produk dan keterbatasan sumber daya. Tanpa pengawasan ketat, klaim fortifikasi vitamin D pada produk pangan bisa menjadi sekadar strategi pemasaran tanpa dampak nyata bagi kesehatan anak.

Kondisi riil di masyarakat salah satunya Bandung memperlihatkan bahwa masalah kekurangan vitamin D bukan sekadar isu medis, melainkan juga sosial-ekonomi. Anak-anak dari keluarga menengah ke atas mungkin lebih mudah mengakses produk nutrisi modern, sementara anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap bergantung pada pola makan sederhana yang minim kandungan vitamin D.

Apalgi, dr. Cut menegaskan, pemenuhan vitamin D, protein, dan kalsium sebagai bagian dari pola makan seimbang menjadi sangat penting. "Susu dapat menjadi salah satu sumber praktis untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi tersebut, terutama bagi anak dengan aktivitas yang padat,” ujarnya.

Jika pemerintah, industri, dan masyarakat dapat bersinergi, Bandung berpeluang besar menjadi contoh kota yang berhasil menekan angka defisiensi vitamin D. Edukasi gizi yang berkelanjutan, distribusi produk fortifikasi yang merata, serta kebijakan subsidi bagi keluarga berpenghasilan rendah menjadi kunci keberhasilan demi pemerataan akses dan kesadaran masyarakat.

Alternatif kebutuhan nutrisi dan vitamin harian atau produk serupa:

  1. https://s.shopee.co.id/60LJSZgNKs
  2. https://s.shopee.co.id/806NqI2kfE
  3. https://s.shopee.co.id/4LD5TZCBKD
  4. https://s.shopee.co.id/5L5cfQC5zC
  5. https://s.shopee.co.id/2g4rUXzEbg

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 13 Jan 2026, 19:48 WIB

Kenapa Americano Jadi Favorit Baru Anak Muda? Ini Manfaatnya!

Americano lagi viral karena rasanya ringan, dan kalorinya rendah.
Ini dia manfaat dari kopi Americano yang perlu kamu ketahui! (Sumber: Freepik)
Ayo Jelajah 13 Jan 2026, 18:47 WIB

Riwayat Bandung Tiris, saat Hawa Dingin Kepung Kota Cekungan

Letak geografis Bandung membuat udara dingin mudah terperangkap dan menciptakan sensasi sejuk hingga menggigil sejak dulu.
Ilustrasi cuaca dingin Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 18:04 WIB

Profesi dan Hobi Harus Seimbang: Seorang Guru SMA Membuktikan Ambisinya

Guru SMA Lisda Nurul Romdani sukses menaklukkan maraton dan trail run (35 km) di tengah jadwal padat, membuktikan ambisi, mental, dan konsistensi.
Lisda Nurul Romdani seorang guru SMA membuktikan hobinya sebanding dengan rutinitas mengajar saat mengikuti Half Marathon Pocari Sweat Run 2024 di Bandung. (Sumber: @lisdaanr | Foto: @fotoyu_official Pocari Sweet RUN 2024)
Ayo Biz 13 Jan 2026, 18:04 WIB

Kekurangan Vitamin D, Masalah Nutrisi Anak yang Masih Mengakar di Indonesia

Kekurangan vitamin D masih cukup sering ditemukan pada anak usia sekolah dan dapat berdampak pada kesehatan tulang dan gigi.
Ilustrasi kekurangan vitamin D masih menjadi masalah nutrisi yang cukup umum pada anak dan remaja, termasuk di Bandung. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 17:19 WIB

Resolusi 2026 Warga Bandung: Berharap Transportasi Umum yang Lebih Terintegrasi

Keluhan warga Bandung mengenai transportasi umum yang dinilai belum efisien dan kurang terintegrasi.
Suasana metro jabar trans dipenuhi penggunana di sore hari sepulang kerja (03/12/2025). (Sumber: Pribadi | Foto: M. Kamal Natanegara)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 16:18 WIB

Penyairan Masa Kini: Bahasa yang Mencari Rumah Baru

Penyair masa kini menjaga kedalaman di tengah riuh digital, merawat bahasa, melampaui klise, dan menghadirkan ruang hening saat dunia bergerak terlalu cepat.
Puisi mencari napas baru, sementara penyair menjaga jantung bahasanya. (Sumber: Pixnio/Bicanski)
Ayo Biz 13 Jan 2026, 16:06 WIB

Gen Z dari Scrolling ke Running, Gaya Hidup Baru yang Menggerakkan Pasar Kebugaran

Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru.
Ilustrasi. Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 14:34 WIB

'Doom Spending' dan Generasi yang Menyerah Membeli Masa Depan

Mengapa anak muda memilih "kebahagiaan kecil" yang mahal saat impian besar seperti rumah makin mustahil dicapai gaji UMR.
Ilustrasi dompet kosong. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 13:13 WIB

Bandung Makin Macet, Transportasi Umum Bisakah Jadi Penolong?

Kesenjangan Pusat Kota yang Diperhatikan dan Pinggiran Kota yang Terlupakan
Halte Cicaheum, Kota Bandung, yang sudah mulai usang dan banyak tumpukan sampah di belakang bangku, (3/12/25). (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Putriana Basar)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 11:37 WIB

Chopper: Sejarah dan Makna Desain Mesin Kebebasan Roda Dua

Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an.
Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an. (Sumber: Pexels | Foto: Rachel Claire)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 10:19 WIB

Tren Coffee Shop Jadi Markas Mahasiswa Bandung 'Ngebut Tugas' Menjelang UAS

Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 09:34 WIB

Menjadi Mahasiswa IKIP Bandung (Bagian Dua)

Di sekitar kampus IKIP Bandung (UPI), Jalan Setiabudhi dulu berjajar penjual pisang Lembang.
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 07:50 WIB

Ngopi, Duduk, dan Biarkan Pikiran Bernapas

Bagi Kopi menawarkan ruang sederhana dan hangat di tengah malam yang tenang.
Sederhana saja, secangkir kopi dan ketenangan di Bagi Kopi. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 20:01 WIB

Pentingnya Pengesahan RUU Perampasan Aset sebagai Upaya Memperkuat Sistem Tata Kelola Pemerintahan

RUU Perampasan Aset hadir sebagai instrumen yang dapat menutup celah tindak korupsi.
Ilustrasi kriminalitas. (Sumber: Pexels | Foto: Kindel Media)
Ayo Jelajah 12 Jan 2026, 19:17 WIB

Hikayat Perburuan Komplotan Komunis Bandung, Priangan dalam Kepungan Polisi Kolonial

Operasi besar polisi kolonial memburu komplotan komunis di Bandung dan Priangan pada 1927 yang membuat kota hidup dalam kecurigaan.
Berita tentang dugaan plot komunis di Bandung di koran De Avondpost edisi 19 Oktober 1927.
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 18:47 WIB

Menyelami Riuhnya Ekspresi Seniman Bandung: Dari Ruang Kreatif Hingga Panggung Kontemporer

Di balik hiruk-pikuk jalan dan lalu lintasnya, Bandung tak pernah kehabisan nada, warna, dan kisah. Kota ini bukan sekadar pusat kuliner dan fashion, tetapi juga menjadi ruang ekspresi generasi seni.
Suasana pembukaan Pasar Seni ITB. (Sumber: fsrd,itb)
Ayo Biz 12 Jan 2026, 18:27 WIB

Rumah Pertama Jadi Mimpi Jauh, 65 Pesimis Gen Z Pesimis Mampu Membeli

Memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z.
Ilustrasi memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 17:26 WIB

Tumbler Dan Gejala Sosial Baru

gejala sosial tentang gaya hidup membeli tumbler
Tumbler. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:49 WIB

Hafal Daftar Cicilan, tapi Lupa Impian

Gen Z sering dianggap generasi manja, padahal banyak dari mereka yang memikul beban finansial keluarga di pundaknya.
Ilustrasi cicilan. (Sumber: Pexels | Foto: Anna Shvets)