Galeri Ruchiat, Ruang Kecil di Gang Kota Bandung yang Menyimpan Napas Panjang Budaya Wayang Golek Sunda

3 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Tatang Heriana mengenang ayah dan masa mudanya lewat album foto yang masih hitam putih. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Tatang Heriana mengenang ayah dan masa mudanya lewat album foto yang masih hitam putih. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah padatnya aktivitas warga di sekitar kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, tersimpan sebuah warisan budaya Sunda yang masih terjaga hingga kini. Berada di dalam sebuah gang di Jalan Pangarang Bawah, Kelurahan Cikawao, Kecamatan Lengkong, Galeri Ruchiat berdiri sederhana di tengah pemukiman warga. Meski dikepung gedung-gedung tinggi dan kebisingan kota, galeri ini tetap bertahan sebagai ruang hidup budaya Sunda di tengah derasnya arus modernitas.

Galeri Ruchiat berdiri sejak 1958. Pendirinya, Alun Ruchiat, dikenal sebagai pengrajin wayang sekaligus dalang pada masanya. Kini, estafet pengelolaan galeri berada di tangan Tatang Heriana, anak kelima dari sebelas bersaudara keturunan Alun Ruchiat. Setelah bertahan selama 68 tahun dan diakui pemerintah setempat hingga wisatawan mancanegara, Galeri Ruchiat justru menghadapi ancaman yang lebih besar dari sekadar modernitas: ketiadaan generasi penerus.

“Ya, paling ditutup saja. Habis nggak ada yang ngelanjutin,” ucap Tatang dengan suara pelan, disertai senyum tipis yang bergetar, saat ditanya soal keberlanjutan galeri setelah generasinya.

“Anak saja, apalagi cucu. Cucu nggak senang. Anak juga dulu pernah di sini, cuma karena Covid dan punya anak, akhirnya pindah,” tambahnya.

Foto Alan Ruchiat kala muda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Foto Alan Ruchiat kala muda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Cerita Galeri Ruchiat

Sesuai namanya, galeri ini diambil dari nama sang pendiri, Alun Ruchiat. Sepeninggal Alun pada 1998, Tatang Heriana bin Alun Ruchiat meneruskan upaya pelestarian tradisi wayang golek yang telah dirintis ayahnya. Galeri ini awalnya berlokasi di kawasan Cibadak, sebelum akhirnya pindah ke Lengkong pada 1973. Koleksinya mencakup wayang golek khas Yogyakarta dan Cirebon.

“Awalnya tahun 1958. Basic Pak Alun itu melukis. Pindah ke sini tahun 1973, sebelumnya di Cibadak,” tutur Tatang.

Menjadi pengrajin wayang golek, menurut Tatang, bukan sekadar soal keterampilan tangan. Pada masa ayahnya, terdapat tuntutan spiritual untuk menjaga kesakralan setiap karakter wayang yang dibuat.

“Kalau saya nggak. Kalau zaman almarhum Bapak, karena beliau dalang, ada rutinitas puasa Senin-Kamis,” katanya.

“Itu dilakukan sebelum pembuatan wayang, supaya ada gaya seninya, ada wibawanya,” lanjut Tatang.

Galeri Ruchiat di Jalan Pangarang Bawah, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Galeri Ruchiat di Jalan Pangarang Bawah, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Jari Jemari Keturunan Ruchiat yang Masih Menekuni

Keberlangsungan Galeri Ruchiat selama puluhan tahun tak lepas dari pembagian peran di dalam keluarga. Setiap anggota memiliki keahlian masing-masing dalam proses pembuatan wayang golek.

“Ada kakak laki-laki yang fokus ke pakaian wanita, ada yang ke filosofi. Farida itu kakak Bapak. Ini adik Bapak, namanya Lilis Yulistiani, dulu yang ngecat,” ujar Tatang sambil menunjukkan foto-foto lawas yang tersimpan rapi dalam album perjalanan Galeri Ruchiat.

Dalam pengalamannya, Tatang menyebut wayang Hanoman sebagai salah satu yang paling sulit dibuat, terutama pada bagian rangkanya yang memakan waktu lama.

“Kalau wajah nggak terlalu susah. Yang susah itu ekornya. Dari badan sampai ke sini, itu yang paling lama,” ungkapnya sambil memperlihatkan lekukan ekor wayang Hanoman.

Untuk menghasilkan satu wayang golek berkualitas, proses pengerjaan dilakukan secara bergiliran oleh anggota keluarga. Mulai dari pemilihan kayu albasiah hingga pewarnaan akhir menggunakan cat mobil agar hasilnya lebih presisi.

“Bapak memahat satu hari, anak ngecat satu hari, Ibu bikin bajunya satu hari. Jadi satu wayang dikerjakan tiga orang, selesai dalam tiga hari,” jelas Tatang.

“Bahannya dari kayu albasiah. Bapak punya tanah di Soreang. Catnya pakai cat mobil,” tambahnya.

Meski dibuat secara tradisional, karya Galeri Ruchiat memiliki nilai ekonomi yang cukup kompetitif, terutama ketika mendapat pesanan dari luar negeri.

“Biasanya harga Rp100 ribu sampai Rp600 ribu. Pernah ada orang Amerika pesan wayang bentuk dirinya, harganya enam juta. Waktu pengerjaannya sekitar tiga minggu,” kata Tatang.

Sertifikat penghargaan kepada Alan Ruchiat yang diberikan oleh Gubernur Jawa Barat, Solihin Gautama Purwanegara, pada tahun 1971. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Sertifikat penghargaan kepada Alan Ruchiat yang diberikan oleh Gubernur Jawa Barat, Solihin Gautama Purwanegara, pada tahun 1971. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Ujung Tombak di Atas Pahat

Menariknya, ketika minat masyarakat lokal kian menurun, apresiasi justru datang dari wisatawan mancanegara yang memiliki selera spesifik terhadap bentuk dan karakter wayang.

“Orang-orang muda justru kebalikannya. Anak muda luar negeri malah senang budaya. Dari Belanda, Jerman. Kalau orang Prancis, sukanya yang mentah, kayak gini, nggak diwarnai,” beber Tatang.

Namun, di balik kebanggaan atas pengakuan dunia, tersimpan kegelisahan mendalam. Tatang tak bisa menutupi rasa cemasnya melihat kenyataan bahwa anak dan cucunya justru berjarak dengan warisan budaya leluhur.

“Ada ketakutan sendiri. Sekarang saja, kenapa cucu nggak ngerti. Justru yang tertarik itu dari luar negeri, Belanda, Italia, Prancis, begitu,” pungkasnya dengan nada getir.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)