Galeri Ruchiat, Ruang Kecil di Gang Kota Bandung yang Menyimpan Napas Panjang Budaya Wayang Golek Sunda

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Kamis 22 Jan 2026, 09:34 WIB
Tatang Heriana mengenang ayah dan masa mudanya lewat album foto yang masih hitam putih. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Tatang Heriana mengenang ayah dan masa mudanya lewat album foto yang masih hitam putih. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah padatnya aktivitas warga di sekitar kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, tersimpan sebuah warisan budaya Sunda yang masih terjaga hingga kini. Berada di dalam sebuah gang di Jalan Pangarang Bawah, Kelurahan Cikawao, Kecamatan Lengkong, Galeri Ruchiat berdiri sederhana di tengah pemukiman warga. Meski dikepung gedung-gedung tinggi dan kebisingan kota, galeri ini tetap bertahan sebagai ruang hidup budaya Sunda di tengah derasnya arus modernitas.

Galeri Ruchiat berdiri sejak 1958. Pendirinya, Alun Ruchiat, dikenal sebagai pengrajin wayang sekaligus dalang pada masanya. Kini, estafet pengelolaan galeri berada di tangan Tatang Heriana, anak kelima dari sebelas bersaudara keturunan Alun Ruchiat. Setelah bertahan selama 68 tahun dan diakui pemerintah setempat hingga wisatawan mancanegara, Galeri Ruchiat justru menghadapi ancaman yang lebih besar dari sekadar modernitas: ketiadaan generasi penerus.

“Ya, paling ditutup saja. Habis nggak ada yang ngelanjutin,” ucap Tatang dengan suara pelan, disertai senyum tipis yang bergetar, saat ditanya soal keberlanjutan galeri setelah generasinya.

“Anak saja, apalagi cucu. Cucu nggak senang. Anak juga dulu pernah di sini, cuma karena Covid dan punya anak, akhirnya pindah,” tambahnya.

Foto Alan Ruchiat kala muda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Foto Alan Ruchiat kala muda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Cerita Galeri Ruchiat

Sesuai namanya, galeri ini diambil dari nama sang pendiri, Alun Ruchiat. Sepeninggal Alun pada 1998, Tatang Heriana bin Alun Ruchiat meneruskan upaya pelestarian tradisi wayang golek yang telah dirintis ayahnya. Galeri ini awalnya berlokasi di kawasan Cibadak, sebelum akhirnya pindah ke Lengkong pada 1973. Koleksinya mencakup wayang golek khas Yogyakarta dan Cirebon.

“Awalnya tahun 1958. Basic Pak Alun itu melukis. Pindah ke sini tahun 1973, sebelumnya di Cibadak,” tutur Tatang.

Menjadi pengrajin wayang golek, menurut Tatang, bukan sekadar soal keterampilan tangan. Pada masa ayahnya, terdapat tuntutan spiritual untuk menjaga kesakralan setiap karakter wayang yang dibuat.

“Kalau saya nggak. Kalau zaman almarhum Bapak, karena beliau dalang, ada rutinitas puasa Senin-Kamis,” katanya.

“Itu dilakukan sebelum pembuatan wayang, supaya ada gaya seninya, ada wibawanya,” lanjut Tatang.

Galeri Ruchiat di Jalan Pangarang Bawah, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Galeri Ruchiat di Jalan Pangarang Bawah, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Jari Jemari Keturunan Ruchiat yang Masih Menekuni

Keberlangsungan Galeri Ruchiat selama puluhan tahun tak lepas dari pembagian peran di dalam keluarga. Setiap anggota memiliki keahlian masing-masing dalam proses pembuatan wayang golek.

“Ada kakak laki-laki yang fokus ke pakaian wanita, ada yang ke filosofi. Farida itu kakak Bapak. Ini adik Bapak, namanya Lilis Yulistiani, dulu yang ngecat,” ujar Tatang sambil menunjukkan foto-foto lawas yang tersimpan rapi dalam album perjalanan Galeri Ruchiat.

Dalam pengalamannya, Tatang menyebut wayang Hanoman sebagai salah satu yang paling sulit dibuat, terutama pada bagian rangkanya yang memakan waktu lama.

“Kalau wajah nggak terlalu susah. Yang susah itu ekornya. Dari badan sampai ke sini, itu yang paling lama,” ungkapnya sambil memperlihatkan lekukan ekor wayang Hanoman.

Untuk menghasilkan satu wayang golek berkualitas, proses pengerjaan dilakukan secara bergiliran oleh anggota keluarga. Mulai dari pemilihan kayu albasiah hingga pewarnaan akhir menggunakan cat mobil agar hasilnya lebih presisi.

“Bapak memahat satu hari, anak ngecat satu hari, Ibu bikin bajunya satu hari. Jadi satu wayang dikerjakan tiga orang, selesai dalam tiga hari,” jelas Tatang.

“Bahannya dari kayu albasiah. Bapak punya tanah di Soreang. Catnya pakai cat mobil,” tambahnya.

Meski dibuat secara tradisional, karya Galeri Ruchiat memiliki nilai ekonomi yang cukup kompetitif, terutama ketika mendapat pesanan dari luar negeri.

“Biasanya harga Rp100 ribu sampai Rp600 ribu. Pernah ada orang Amerika pesan wayang bentuk dirinya, harganya enam juta. Waktu pengerjaannya sekitar tiga minggu,” kata Tatang.

Sertifikat penghargaan kepada Alan Ruchiat yang diberikan oleh Gubernur Jawa Barat, Solihin Gautama Purwanegara, pada tahun 1971. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Sertifikat penghargaan kepada Alan Ruchiat yang diberikan oleh Gubernur Jawa Barat, Solihin Gautama Purwanegara, pada tahun 1971. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Ujung Tombak di Atas Pahat

Menariknya, ketika minat masyarakat lokal kian menurun, apresiasi justru datang dari wisatawan mancanegara yang memiliki selera spesifik terhadap bentuk dan karakter wayang.

“Orang-orang muda justru kebalikannya. Anak muda luar negeri malah senang budaya. Dari Belanda, Jerman. Kalau orang Prancis, sukanya yang mentah, kayak gini, nggak diwarnai,” beber Tatang.

Namun, di balik kebanggaan atas pengakuan dunia, tersimpan kegelisahan mendalam. Tatang tak bisa menutupi rasa cemasnya melihat kenyataan bahwa anak dan cucunya justru berjarak dengan warisan budaya leluhur.

“Ada ketakutan sendiri. Sekarang saja, kenapa cucu nggak ngerti. Justru yang tertarik itu dari luar negeri, Belanda, Italia, Prancis, begitu,” pungkasnya dengan nada getir.

Berita Terkait

News Update

Beranda 04 Feb 2026, 09:42 WIB

Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 09:39 WIB

Aan Merdeka Permana Penulis Spesialis Tema Padjadjaran

Yayasan Kebudayaan Rancagé menetapkan sastrawan Sunda senior Aan Merdeka Permana sebagai peraih Hadiah Jasa 2026.
Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 08:04 WIB

Ngabuburit dari Masa ke Masa

Ngabuburit di kota Bandung mengalami pergeseran nilai dan aktifitas serta cara melakukannya.
Masjid Al-Jabar di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Andry Sasongko)
Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 17:43 WIB

Quo Vadis BKKBN dalam Kepungan Patologi Sosial

Jika fenomena YOLO, FOMO, dan FOPO dihubungkan, muncul gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana komunikasi digital mempengaruhi kesehatan mental individu.
Ilustrasi perubahan perilaku generasi milenial dan Z. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)