Sunda di Mata Eropa: Membaca Catatan Penjelajahan (Penjajahan) Paling Awal tentang Kita

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Minggu 18 Jan 2026, 15:46 WIB
Suasana Pasar Kosambi, Bandung, tahun 1938. (Sumber: KITLV)

Suasana Pasar Kosambi, Bandung, tahun 1938. (Sumber: KITLV)

Suma Oriental (1512-1515) mahakarya dari Tome Pires. Diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Armando Cortesao dan diterbitkan oleh Robert MacLehose and Co. Ltd., The University Press, Glasgow (1944), menarik.

Ia adalah arsip kolonial awal, panduan strategis bagi Portugis, sekaligus jendela pertama bagi Eropa untuk memetakan potensi kita. Di balik catatan detail yang kaya dengan daya eksplorasinya, ada sayup-sayup superioritas kolonial.

Sunda digambarkan sebagai medan liar yang eksotis, megah, tapi tetap berada dalam bingkai yang subaltern. Membaca ulang Pires Si Apoteker dan Penjelajah ulung hari ini melalui lensa pascakolonial bukan sekadar sejarah, tapi praktik kritik. Kita akan menelisik kuasa, melihat soal narasi yang dibentuk, dan menyadari bagaimana sejarah masa lalu membentuk persepsi hari ini.

Inilah yang Dituliskannya

Pires membuka narasinya dengan mendeskripsikan kota Dayo, tempat raja sering tinggal, dan pelabuhan Calapa. Tiap tiang rumah raja setinggi lima fathoms, lima ratus kayu menopang rumah besar, ukiran indah menghias puncak tiang. Semua tercatat dengan presisi Portugis.

Raja digambarkan sebagai penguasa gagah, atlet berburu, dikelilingi dua permaisuri dan ribuan selir, punya ribuan kuda dan puluhan gajah. Dalam catatan Pires, Sunda tampak memukau, meskipun pada akhirnya dibingkai juga sebagai “heathen”. Sebuah ungkapan yang menaklukan ala kolonial. Eksotika selalu jadi alasan untuk intervensi. Ini adalah siasat kuasa yang menegaskan posisi Portugis. Kemegahan Sunda dilihat sebagai sebagai peluang eksploitasi.

Lihatlah cara Pires mencatat Sunda sebagai pusat perdagangan yang kaya. Lada berkualitas lebih baik dari Malaka, beras melimpah hingga sepuluh junk per tahun, emas delapan mate, kain kasar, dan budak dari Maladewa. Ekonomi lokal hanya menjadi soal komoditas, dicatat guna kepentingan kolonial. Narasi yang mempertontonkan soal kuasa ekonomi yang membentuk pengetahuan.

Jalan Braga tahun 1930-an. (Sumber: KITLV)
Jalan Braga tahun 1930-an. (Sumber: KITLV)

Pelabuhan-pelabuhan Sunda, dituliskan seperti Bantam, Pontang, Cheguide, Tamgara, Calapa diuraikan rinci. Jalur pelayaran, letak sungai, kota-kota perdagangan. Catatannya melampaui geografi, diam-diam Pires menunjukkan di mana Eropa bisa menancapkan dirinya. Nama-nama tempat disesuaikan dengan peta Portugis, ia membentuk simbol kolonial atas ruang Sunda. Inilah laut dan perdagangan, sebuah inti dari kolonialisme awal.

Pires juga menyoal ritual pembakaran diri istri dan elit lokal ketika raja mangkat. Catatan itu, meskipun detil, dibingkai sebagai keanehan yang mengagumkan sekaligus memicu jarak moral antara Eropa dan “heathen”.

Orang Sunda digambarkan gagah, jujur, dan tangkas, sementara tetangganya Jawa disebut licik dan diabolik. Nada ini tentunya menegaskan binaritas kolonial. Berkali-kali kita diobjektivikasi menjadi sumber pengamatan dan strategi penaklukan.

Relevansi Hari Ini

Membaca Suma Oriental hari ini penting bukan hanya untuk memahami logika kolonial masa lalu, tetapi juga untuk bercermin pada praktik representasi kita sendiri di masa kini.

Jika pada abad ke-16 catatan Tome Pires jelas berfungsi sebagai pengetahuan untuk membuka gerbang penjajahan fisik, dengan memetakan ruang, ekonomi, dan budaya demi kontrol. Maka hari ini bias serupa bisa muncul dalam bentuk yang lebih senyap. Ia tidak selalu datang dari orang asing, tetapi justru dari kita sendiri, ketika menuliskan kebudayaan Sunda (atau kebudayaan sesama orang Sunda) dengan cara merendahkan, mengerdilkannya. Bukan lagi untuk penaklukan wilayah, melainkan untuk kontrol simbolik. Menentukan siapa yang dianggap maju, siapa yang dianggap tertinggal.

Di titik inilah bacaan pascakolonial menjadi praksis etis. Kita diajak untuk tidak menjadi pelaku maupun korban, tidak menjadi penjajah baru dalam bahasa, pengetahuan, dan kebijakan, sekaligus tidak pasrah sebagai yang terjajah secara simbolik.

Penting bagi komunitas terutama yang berada dalam posisi rentan untuk berani berbicara, unjuk diri secara tepat, dan membuka ruang-ruang representasi yang asertif.

Pesan Suma Oriental justru terletak pada kehalusannya. Tentang cara kuasa penjajahan yang beroperasi melalui deskripsi yang tampak netral atas nama penjelajahan.

Karena itulah, membaca Pires secara kritis juga berarti waspada terhadap narasi-narasi tentang Sunda yang berkembang hari ini. Yang hadir dari diri sendiri maupun  orang lain, agar kita tidak mengulang logika kolonial dalam wajah yang berbeda, dan mampu memaknai sejarah serta kebudayaan kita dengan martabat dan kesadaran kritis. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)