Lomba, Hadroh, dan Rajaban

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Minggu 18 Jan 2026, 09:27 WIB
Gebyar Isra Mi'raj di Kampus SD Darul Hikam Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Gebyar Isra Mi'raj di Kampus SD Darul Hikam Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Jumat (16/1/2026) pagi itu terasa begitu cerah dan menyejukkan hati. Dari kejauhan terdengar sayup-sayup nadoman, suara murotal dari masjid Al-Hidayah. Saling bersautan Kokok ayam milik tetangga.

Aa Akil, anak kedua sudah bangun lebih awal, mandi, lalu mengenakan baju muslim yang rapi. Padahal wanci murag ciibun hari itu Bocah berumur 11 tahun tidak berangkat ke sekolah karena bertepatan dengan libur peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Namun, meskipun jeda nyekolah, Aa tetap memiliki kegiatan yang sangat bermakna.

Inilah Gebyar Isra Mi'raj di Kampus SD Darul Hikam Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Inilah Gebyar Isra Mi'raj di Kampus SD Darul Hikam Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Mengobati Rindu, Peringati Isra Mikraj

Ya Aa yang berada di bangku kelas lima itu pergi ke Rumah Belajar Musi Babakan Dangdeur Pasir Biru Cibiru untuk mengikuti berbagai perlombaan Rajaban dalam rangka memperingati Isra Miraj.

Setibanya di sana yang berjarak 45 langkah, suasana sudah ramai dan penuh semangat. Anak-anak berkumpul dengan wajah ceria, siap mengikuti rangkaian acara.

Sebelum lomba dimulai, acara dibuka dengan bacaan barzanji yang dipimpin oleh Abah, Ustad Tono. Selesai itu diteruskan dengan bacaan selawat Qomarun. Tampilan Pildacil (Pidato Cilik) yang diawali oleh Musa dan diakhiri oleh Sakha.

Tibalah saatnya penampilan hadroh. Aa dan Farhan dipercaya menjadi vokalis. Kenji memainkan bass, Yasku dan Sakha memainkan rapak, Mustofa, Zijah, Kansa, dan Rafasya memainkan pipiringan. Iki megang darbuka dan Kenzie mainkan kecrekan. Mereka membawakan selawat Nabi dan Qomarun dengan penuh kekhusyukan, membuat suasana semakin syahdu dan meriah.

Setelah penampilan hadroh, perlombaan dakwah dimulai dari Aa. Dalam kesempatan itu, Akil menyampaikan dakwah tentang puasa, menjelaskan makna, manfaat, pentingnya puasa dalam kehidupan sehari-hari umat Islam.

Uniknya, Pildacil dan Pidato (Dakwah) semuanya menggunakan bahasa Sunda yang dibumbui pantun lucu, jenaka dan syarat makna.

Sesudah semua lomba selesai, seluruh peserta berkumpul untuk makan bersama, botram yang dibawa masing-masing dari rumahnya. Suasana penuh kebersamaan dan keakraban terasa hangat. Usai makan, balakecrakan, Aa pulang ke rumah dengan perasaan senang dan bangga karena telah mengikuti peringatan Isra Mikraj yang bermanfaat dan berkesan.

Saat menceritakan suasana Isra Miraj di Rumah Belajar Musi. Justru pikiranku melayang ke kampung halaman, Bungbulang Garut Pakidulan era 90-an. Terbayang dengan jelas berbagai perlombaan rajaban ala Kampung digelar serambi dan mesjid Darussalam mulai dari azan, ikomah hafalan surat-surat pendek, busana muslim.

Suasana tagonian, hadro (hadroh), ngareog, ceramah yang mengundang kiai dari luar kampung (daerah), sampai peristiwa tos ginding, eh kalah nincak tai munding.

Kesenian Hadro Alunan Selawat Bertabuh Rebana dari Bojong Bungbulang Garut Pakidulan (Sumber: Facebook Seputar Bungbulang | Foto: Tangkap Layar)
Kesenian Hadro Alunan Selawat Bertabuh Rebana dari Bojong Bungbulang Garut Pakidulan (Sumber: Facebook Seputar Bungbulang | Foto: Tangkap Layar)

Seni Alunan Selawat Bertabuh Rebana dari Bungbulang

Hadro (Hadroh) merupakan salah satu kesenian tradisional yang hidup dan berkembang di Desa Bojong, Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut. Dalam Kamus Umum Bahasa Sunda disebutkan, “Hadro nyaeta ngaran tatabeuhan nu diwangun ku terebang opat kendang hiji” (LBBS, 1981:159), yang berarti Hadro adalah nama alat musik yang terdiri atas empat buah terebang dan satu buah kendang.

Pertama kali diperkenalkan pada tahun 1917 oleh Kiai Haji Ahmad Sayuti bersama Pak Sura dan Pak Sastra, yang berasal dari Kampung Tanjung Singuru, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut. Pada masa awal kemunculannya, Hadro hanya dimainkan di lingkungan pesantren sebagai bagian dari aktivitas religius para santri setelah mempelajari ilmu agama Islam.

Melalui kesenian ini, para santri melantunkan selawat dan puji-pujian kepada Allah SWT yang bersumber dari kitab Al-Barzanji. Selain sebagai bentuk ungkapan rasa syukur, Hadro digunakan sebagai media dakwah dan sarana pembelajaran bahasa Arab. Dengan pendekatan seni, Kiai Haji Ahmad Sayuti dan Pak Sura berupaya menarik minat masyarakat untuk mengenal ajaran Islam secara lebih dekat.

Hadro adalah kesenian yang memadukan unsur musik, vokal, dan gerak bela diri. Pertunjukannya menampilkan para pemain yang mengenakan busana putih, celana hitam, selendang merah yang disilangkan di dada. Selawat dilantunkan sambil memperagakan jurus-jurus pencak silat, yang dimaknai sebagai simbol keteguhan dan perlawanan terhadap penindasan.

Secara kultural, kesenian Hadro dipengaruhi oleh budaya Persia dan Arab yang sudah berakulturasi dengan budaya Sunda. Unsur Arab tampak pada syair-syair selawatan, sementara nuansa Sunda terlihat jelas pada irama lagu, jenis tabuhan, alat musik yang digunakan, seperti rebana, kempring, kompeang, bangsing, terompet, dan bajidor.

Dalam perkembangannya, Hadro kerap ditampilkan pada berbagai acara, baik upacara hari besar nasional maupun kegiatan adat dan keagamaan, seperti pernikahan, khitanan, pesta panen, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW (Muludan), Rajaban, dan acara keagamaan lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu, kesenian ini mulai jarang dijumpai dalam acara-acara resmi di tingkat desa hingga kabupaten Garut.

Untuk di Bojong Bungbulang, Hadro dimainkan oleh kelompok seniman yang dikenal dengan nama Panca Mustika. Dengan memegang lima nilai utama sebagai pedoman moral dan pandangan hidup; tidak melanggar aturan (ulah ngarempug tugu), tidak mengingkari keputusan bersama (ulah ngarempak canar), tidak merasa paling benar (ulah ngaremak meulah pamali), tidak iri hati (ngukut anjing belang), dan tidak mencari kesalahan orang lain (ngukut ucing belang). (Vinny Silviany, 2015: 1-4 dan www.infogarut.id).

Kegiatan Gebyar Isra Mi'raj di Kampus SD Darul Hikam Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kegiatan Gebyar Isra Mi'raj di Kampus SD Darul Hikam Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Jejak Harmoni Islam dan Budaya Lokal

Tentunya sebagai warisan khazanah Nusantara yang syarat identitas lokal sekaligus media dakwah dan syiar risalah Islam, kesenian Hadro mencerminkan kekayaan akulturasi budaya dan nilai religius masyarakat Bungbulang yang patut dijaga dan dilestarikan.

Selama ini, saat menyambut bulan Rajab, masyarakat Muslim Sunda kerap merayakan tradisi Rajaban melalui berbagai bentuk kegiatan keagamaan. Tradisi ini menjadi momentum untuk meningkatkan rasa syukur serta mempererat kebersamaan antarwarga.

Secara umum dilakukan ziarah ke makam para wali, orang tua, atau ulama penyebar Islam; berkumpul di masjid (musala) untuk bersyukur; mengadakan zikir bersama di masjid maupun pondok pesantren; melaksanakan saum selama satu minggu.

Di wilayah Karangtawang, Kabupaten Kuningan, peringatan Isra Mikraj pada tanggal 27 Rajab menjadi momen penting bagi masyarakat untuk berkumpul di Masjid Nurul Islam. Untuk di Cirebon, tradisi Rajaban diwujudkan melalui upacara dan ziarah ke makam Pangeran Panjunan dan Pangeran Kejaksan di Plangon, yang biasanya dihadiri oleh para keturunan kedua tokoh tersebut.

Jamaah Tarekat Syahadatain di Cirebon ini secara rutin mengadakan zikir bersama setiap bulan Rajab di Masjid Asy-Syahadatain, Desa Panguragan, Kecamatan Panguragan. Ini dilengkapi dengan pengajian di Pondok Bunten Pesantren. Kitab Qissatul Mi’raj menjadi bacaan rutin para kiai muda, dan pada penghujung malam, hidangan ambeng yang berupa nasi dengan lauk pauk lengkap dan disajikan untuk para peserta pengajian.

Ingat, Islam yang hadir di tatar Sunda bukan datang untuk menghapus jati diri Ki Sunda. Justru sebaliknya, ajaran Islam memperkaya potensi kemanusiaan masyarakat Pasundan, dan pada saat yang sama budaya Sunda ikut memberi warna bagi peradaban Islam dengan caranya sendiri.

Hadroh dan gebyar lomba Isra Mikraj yang kita saksikan hari ini menjadi contoh nyata bagaimana Islam dan budaya Sunda berjalan berdampingan dengan harmonis, rukun dan saling melengkapi. Justru di sanalah terlihat identitas Muslim Jawa Barat yang tumbuh dari akar kearifan lokal, bukan tercerabut darinya.

Pasalnya, bangsa yang besar tidak akan melupakan tradisi dan budayanya sendiri. Budaya daerah, identitas lokal, termasuk Sunda bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan pilar penting yang menjadi penyangga atas keberlangsungan Indonesia yang kita cintai dan rawat bersama. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)
Beranda 13 Feb 2026, 08:13 WIB

Di Saat Media Arus Utama Tersandera Iklan, Zine Menemukan Jalannya Sendiri

Fenomena tersebut bukan sekadar nostalgia, melainkan bentuk perlawanan terhadap kejenuhan dunia digital yang serba cepat dan penuh ketidakpastian.
Salah satu karya yang ditampilkan di Bandung Zine Fest 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 07:36 WIB

Distraksi Massal: Alasan Mengapa Kita Sengaja Dibuat Sibuk dengan Skandal

Melalui analogi novel Tere Liye, artikel ini mengajak pembaca untuk berhenti terjebak dalam debat kusir dan kembali fokus pada navigasi diri di ambang bulan Ramadan.
Salah satu buku novel karya Tere Liye. (Dokumentasi Penulis)
Bandung 12 Feb 2026, 21:44 WIB

Tren Lebaran 2026: J&C Cookies Usung Konsep "Kukis Kalcer" dan Camilan Gluten Free

Tradisi mudik dan silaturahmi Idul Fitri 2026 diprediksi akan semakin berwarna dengan munculnya tren kuliner baru yang lebih inklusif.
J&C Cookies memperkenalkan lini produk terbaru mereka yang dirancang untuk memenuhi selera generasi masa kini tanpa meninggalkan cita rasa autentik yang telah melegenda. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 12 Feb 2026, 21:22 WIB

Bandung Zine Fest 2026, Ruang Kolektif Media Alternatif dari Shanghai Hingga Garut

Lebih dari sekadar ajang pameran, festival ini menjadi ruang silaturahmi bagi penerbit mandiri yang tidak bergantung pada modal besar.
Suasana Bandung Zine Fest 2026 di Gedung Tjap Sahabat di Cibadak, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 20:22 WIB

Ramadan Tanpa Petasan, Bermain Lodong dan Belesong pun Jadi

Sejak dahulu petasan dan lodong selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan.
Lodong selalu jadi pertanda datangnya Bulan Ramadan di sejumlah daerah Indonesia. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 16:22 WIB

Kartu Mati, Pengobatan Terhenti

Penonaktifan jutaan peserta PBI BPJS membuat warga Bandung kehilangan akses berobat. Padahal Islam punya cara pandang yang khas terkait kesehatan masyarakat.
Kartu Indonesia Sehat (KIS) merupakan kartu peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 13:43 WIB

Komunikasi Keluarga dalam Mengatasi Bunuh Diri

Bunuh diri pada anak menandakan terputusnya saluran komunikasi antara anak dan orang tua.
Bunuh diri pada anak menandakan terputusnya saluran komunikasi antara anak dan orang tua. (Sumber: Unsplash | Foto: K. Mitch Hodge)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 11:18 WIB

Tradisi ‘Nglabur’ Rumah saat Ramadan, Filosofi Bersih Diri dan Mencerahkan Suasana Hati

Melabur alias mengecat tembok dengan gamping menciptakan hasil akhir yang artistik, bertekstur, alami, dan ramah lingkungan.
Ilustrasi melabur rumah dengan batu kapur atau gamping. (Sumber: Pexels | Foto: Sergey Meshkov)
Ayo Netizen 12 Feb 2026, 08:49 WIB

3 Jejak Heroik K.H. Anwar Musaddad yang Terlupakan 

Ketua Kokesin di Makkah, Kepala Syuumuka dan Pendiri Hizbullah Priangan menjadi novelty dalam kajian tokoh KH Anwar Musaddad yang membuktikan jasa, kiprah dan perjuangan (pahlawan) kemanusiaan.
Cover buku KH. Anwar Musaddad: Ketua Kokesin dan Pendiri Hizbullah Priangan karya Iip D. Yahya, terbitan Lakpesdam PWNU Jawa Barat (2025). (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Mayantara 12 Feb 2026, 07:04 WIB

Keranjingan Info Bites Konten Religi 

Jelang Ramadan, salah satu fenomena yang terus menguat adalah keranjingan scrolling video pendek religi.
Ilustrasi muslimah sedang memandang smartphone. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Ayo Netizen 11 Feb 2026, 21:40 WIB

Ngabuburit di Bandung Tahun 1980-an

Tentang awal Ramadan dan ngabuburit warga Kota Bandung tahun 1980-an.
Gedung de Majestic, salah satu bioskop tertua di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Bandung 11 Feb 2026, 20:08 WIB

Rahasia Putu Ayu Simpang Dago Bertahan 18 Tahun di Tengah Gempuran Dessert Kekinian

Lapak kaki lima yang menjual putu ayu ini berhasil bertahan dengan pakem kualitas rasa yang mengembalikan memori sejak kecil pada indera perasa para konsumennya.
Lapak kaki lima yang menjual putu ayu ini berhasil bertahan dengan pakem kualitas rasa yang mengembalikan memori sejak kecil pada indera perasa para konsumennya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)