Tren 'Peutik Panen' Tani Kota Bandung Ti Buruan, dari Beton Jadi Cuan!

Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan Jumat 16 Jan 2026, 10:43 WIB
Warga saat memeriksa tanaman hydroponik di Buruan Sae Kelurahan Cigondewah Kidul, Kota Bandung (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Warga saat memeriksa tanaman hydroponik di Buruan Sae Kelurahan Cigondewah Kidul, Kota Bandung (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bandung selalu punya cara untuk tampil keren tanpa kehilangan akar. Kalau dulu tren kota ini identik dengan distro, kopi, daarin musik indie, sekarang ada satu tren baru yang sama gaulnya tapi lebih green vibes: urban farming, alias bertani di tengah kota. Dan di Bandung, tren ini punya nama khas yang Sunda pisan: Buruan SAE — singkatan dari Sehat, Alami, Ekonomis.

Sekilas, Buruan SAE terdengar seperti program serius pemerintah, tapi kalau kamu lihat langsung, suasananya malah kayak gabungan antara kebun, taman bermain, dan terapi stres alami. Bayangkan: di tengah pemukiman padat, di antara tembok rumah dan jalan aspal, muncul lahan hijau dengan kangkung, tomat, cabai, daun bawang, bahkan lele di kolam mini.

Sebagai orang yang kuliah di UIN Bandung angkatan 2002 dan kembali ke kota ini tahun 2025, saya merasa seperti masuk versi baru Bandung yang lebih “lembur-minded”. Kota yang dulu dikenal macet dan sibuk, kini pelan-pelan menumbuhkan kebahagiaan baru lewat n Baun-daunan dan cangkul kecil di belakang rumah.

Dari Beton ke Daun Bandung

Bandung dikenal dengan beton, kafe, dan kendaraan. Tapi kini, di sela-sela itu, ada revolusi senyap. Di banyak sudut kota, warga mulai bercocok tanam di halaman rumah, di genting, bahkan di galon bekas.

Program Buruan SAE ini mulai menggeliat sekitar 2018, tapi benar-benar jadi gaya hidup setelah pandemi. Saat orang jenuh di rumah dan harga sayur naik, warga Bandung menemukan keajaiban baru: menanam dan peutik panen (memetik hasil sendiri).

Saya pernah mampir ke salah satu Buruan SAE di daerah Cibaduyut. Di sana, ibu-ibu PKK yang dulu terkenal dengan arisan dan tutorial kue bolu, kini berubah jadi petani urban. Mereka pakai topi caping, bawa gunting tanaman, dan ngobrol sambil memetik bayam. Suasananya bukan cuma produktif, tapi juga penuh tawa.

Satu ibu berkata sambil tertawa, “Ayeuna mah teu kudu ka pasar, cukup ka buruan!” (Sekarang nggak perlu ke pasar, cukup ke kebun sendiri!)

Dan saya langsung mikir, inilah versi Bandung dari kemandirian pangan: santai, guyub, tapi serius hasilnya.

Meski dikenal sebagai kota modern, Bandung sebenarnya punya DNA agraris. Dulu, di masa kolonial, Bandung dikelilingi lahan pertanian. Bahkan kawasan Cibiru, tempat kampus UIN berdiri, dulunya adalah sawah dan ladang.

Saya masih ingat tahun 2002–2007, waktu kuliah di UIN Bandung, udara Cibiru masih dingin, dan di belakang kampus masih banyak kebun sayur. Sekarang, sebagian sudah jadi perumahan. Tapi semangat bertani itu ternyata nggak hilang — cuma pindah bentuk.

Kini warga Bandung bertani bukan lagi di hektaran lahan, tapi di ember bekas cat, pipa paralon, dan rak vertikal. Semangatnya sama: menanam untuk hidup, bukan sekadar gaya.

Buruan Sae, memanfaatkan pekarangan dengan tanaman sayuran. (Sumber: Pemprov Jabar)
Buruan Sae, memanfaatkan pekarangan dengan tanaman sayuran. (Sumber: Pemprov Jabar)

Lucunya, kini bertani malah jadi tren Instagrammable. Orang upload foto sambil panen sawi, caption-nya: “Panen kale organik sendiri, bukan kale dari mantan.”

Di era digital, orang Bandung butuh tempat untuk healing selain kafe dan mall. Nah, Buruan SAE jadi solusi baru. Ia bukan cuma tempat tanam sayur, tapi juga ruang komunikasi sosial.

Kalau Habermas bilang “ruang publik” itu tempat orang bertukar ide, maka Buruan SAE adalah versi lokalnya — ruang publik hijau. Di sana, ibu-ibu ngobrol soal pupuk organik sambil gosip halus, bapak-bapak debat bibit unggul sambil ngopi, dan anak-anak belajar dari tanah, bukan dari layar.

Saya sempat duduk di salah satu Buruan SAE di kawasan Antapani. Anginnya sejuk, aroma tanahnya menenangkan. Seorang bapak berkata, “Dulu urang ngobrol di pos ronda, ayeuna mah di kebon.” (Dulu kami ngobrol di pos ronda, sekarang di kebun.)

Rasanya seperti Bandung menemukan kembali jati dirinya — kota yang ramah, guyub, dan dekat dengan alam.

Filosofi Peutik Panen, dari Tangan ke Pikiran

Kegiatan peutik panen (memetik hasil sendiri) ternyata bukan cuma soal sayur, tapi juga soal mentalitas. Banyak warga bilang mereka merasa lebih tenang setelah berkebun. Ada kepuasan batin ketika memetik kangkung hasil sendiri, seolah ikut tumbuh bersama tanahnya.

Sebagai mantan mahasiswa, saya melihat ini dari kacamata teori Habermas lagi: Buruan SAE menciptakan “tindakan komunikatif ekologis” — komunikasi antara manusia dan alam yang saling menguatkan. Tidak ada hierarki, hanya harmoni.

Dan di situlah letak kecerdasannya. Di tengah hiruk pikuk digital dan politik, Bandung menemukan cara untuk berdialog kembali dengan bumi — tanpa harus bikin seminar atau webinar.

Lucunya, kini bertani di kota malah jadi tren “gaul”. Dulu orang malu punya tangan kotor, sekarang justru pamer foto tangan berlumpur dengan caption: “Back to nature, cuy.”

Komunitas urban farming menjamur: dari Grow Up Bandung, Tani Kota Ceria, sampai kelompok ibu-ibu Buruan SAE Rancaekek Asri. Mereka bukan cuma tanam sayur, tapi juga jual hasilnya ke tetangga. Ada yang bikin minuman herbal, ada yang jual sambal organik.

Bandung, yang dulu dikenal dengan kreativitas fesyen dan kuliner, kini melangkah ke babak baru: kreativitas pangan.

Salah satu kawan saya, alumni UIN angkatan 2004, sekarang jadi influencer tani kota. Dia suka posting video tutorial bikin pupuk cair dari air cucian beras. Dalam salah satu videonya, dia bilang: “Bandung teh kudu jadi kota nu bisa ngeureunkeun lapar tanpa ngarusak alam.” (Bandung harus jadi kota yang bisa mengenyangkan tanpa merusak alam.)

Dan saya pikir, itu kalimat yang pantas jadi slogan peradaban.

Makin lama saya perhatikan, Buruan SAE bukan cuma soal pangan, tapi juga soal kesadaran ekologis. Ia mengingatkan warga kota bahwa makanan itu tidak datang dari supermarket, tapi dari tanah. Bahwa daun yang kita makan lahir dari proses panjang, bukan sekadar transaksi.

Dalam suasana global yang penuh krisis iklim, Bandung memberi contoh kecil tapi bermakna: perubahan bisa dimulai dari pekarangan rumah. Di kota ini, menanam tomat di pot bukan aksi kecil, tapi perlawanan lembut terhadap ketergantungan dan konsumsi berlebihan.

Dan tentu, karena ini Bandung, semua dilakukan dengan gaya santai. Kalau di kota lain urban farming itu proyek serius dengan investor, di Bandung sering dimulai dengan obrolan: “Coba ah tanam kangkung di ember, saha terang jadi rejeki.”

Kini, ketika saya berjalan menyusuri gang-gang Bandung, saya sering menemukan pemandangan yang bikin hati hangat: anak muda menyiram tanaman pagi-pagi, ibu-ibu menimbang hasil panen, bapak-bapak membetulkan pipa hidroponik.

Baca Juga: Meong Congkok Ditemukan Warga Masuk ke Halaman Rumah

Saya sadar, Bandung bukan hanya kota yang terus membangun, tapi juga kota yang menanam dirinya kembali.

Buruan SAE bukan sekadar kebun, tapi simbol harapan — bahwa di tengah beton dan asap kendaraan, masih ada ruang bagi daun muda untuk tumbuh.
Bahwa manusia, betapapun modernnya, tetap butuh tanah di bawah kaki dan hijau di depan mata.

Dan seperti kata salah satu petani kota yang saya temui di Buahbatu, “Menanam teh lain ukur keur dapur, tapi keur nyageurkeun pikiran.” (Menanam itu bukan cuma buat dapur, tapi buat menyembuhkan pikiran.)

Mendengarnya, saya tersenyum. Karena di Bandung, bahkan kebun kecil di halaman rumah bisa jadi cara untuk menemukan diri sendiri — dengan humor, cinta, dan daun kangkung yang segar dipetik sore hari. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

News Update

Bandung 03 Mar 2026, 20:40

Sentuhan Estetika di Balik The Edit, Titik Temu Kurasi Fashion Muslim Premium di Bandung

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia.

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 03 Mar 2026, 19:24

Rumah Tumbuh, Akses Menguat: Ujian Transformasi BTN di Tengah Rekor Pembiayaan

Di tengah lanskap itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) tampil sebagai aktor sentral.

Pekerja merampungkan proyek rumah subsidi di El Hago Residence, Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang (3/12/2020). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Deni Suhendar/Magang)
Seni Budaya 03 Mar 2026, 16:37

Sejarah Batik Pekalongan, Warisan Budaya dari Pantura Sejak 1802

Sejak awal 1800-an, batik di Pekalongan berkembang dari perdagangan pesisir hingga diakui UNESCO sebagai bagian jejaring kota kreatif dunia.

Kain sarung motif batik Pekalongan tahun 1980-an di Museum Honolulu. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 03 Mar 2026, 15:06

Bisnis Parcel di Kota Bandung Lesu, Pedagang Putar Otak Jelang Lebaran

Bisnis parcel di Kota Bandung menghadapi tantangan jelang Idul Fitri. Penurunan hingga 50 persen membuat pedagang membatasi stok, menurunkan harga, dan memaksimalkan pemasaran digital.

Keranjang parcel tersusun rapi di kawasan Buah Batu, Kota Bandung. Pedagang kini harus putar otak demi mengatasi tren penjualan yang menurun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 03 Mar 2026, 14:21

Racikan Konsistensi dan Doa, Seni Membangun Kedai Kopi "Artisan" ala Makmur Jaya

Di balik kemasan yang estetik dan antrean pelanggan Makmur Jaya yang mengular, ada sosok Derry Kustiadihardjo yang membangun fondasi bisnis ini dengan filosofi yang sangat membumi.

Di balik kemasan yang estetik dan antrean pelanggan Makmur Jaya yang mengular, ada sosok Derry Kustiadihardjo yang membangun fondasi bisnis ini dengan filosofi yang sangat membumi. (Sumber: Ist)
Sejarah 03 Mar 2026, 13:07

Sejarah Revolusi Iran 1979 dan Jalan Panjang Khamenei sebagai Pimpinan Tertinggi

Khamenei adalah anak kandung Revolusi Iran 1979 yang menggulingkan rezim boneka AS pimpinan Shah terakhir Reza Pahlavi.

Ali Khamenei muda berpidato dalam demonstrasi Revolusi Iran 28 Januari 1979 di Universitas Teheran. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Biz 03 Mar 2026, 13:03

Rumah dan Harapan: Mendekatkan Mimpi Punya Hunian dalam Genggaman Tangan

balé by BTN bukan sekadar proyek teknologi. Aplikasi ini jadi bagian instrumen ekonomi.

Aplikasi balé by BTN. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Beranda 03 Mar 2026, 12:29

Lahir dari Kegelisahan Warga, @infobdgbaratcimahi Menjadi Ruang Solidaritas Digital

Ia membagikan cerita seorang penjual es keliling di akun Instagram pribadinya, dengan harapan sederhana—dagangan si penjual bisa lebih laris.

Tampilan konten @infobdgbaratcimahi. (Sumber: @infobdgbaratcimahi)
Beranda 03 Mar 2026, 10:40

1.500 Ton Sampah Sehari: Kota Bandung Butuh Aksi Nyata Warganya Sekarang Juga

Sebab jika produksi sampah terus berada di angka 1.500 ton per hari sementara yang mampu dikelola optimal baru sekitar 40 ton, maka persoalan ini bukan hanya milik pemerintah.

Jumlah keseluruhan sampah dari berbagai TPA di Kota Bandung mencapai 1.496 ton setiap hari atau setara 262 rit pengangkutan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Linimasa 03 Mar 2026, 08:15

Ngabuburit di Jembatan Tol Bandung

Jembatan perbatasan Bandung–Tegalluar jadi spot favorit remaja saat Ramadan, dengan pemandangan tol dan Kereta Cepat Whoosh.

Ngabuburit di Jembatan Cimincrang. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 03 Mar 2026, 08:03

Ai Takeshita Menemukan Persahabatan Lintas Budaya di Bandung 

Kali ini ada tamu dari Jepang, Ai Takeshita, akademisi yang selama bertahun-tahun meneliti seni dan budaya Indonesia.

Obrolan hangat bersama Ai Takeshita di lobi Hotel Savoy Homann, Bandung. Percakapan lintas budaya mengalir santai menjelang waktu berbuka puasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 19:56

Mudik kepada 'Basa Lemes'

Perubahan gaya bahasa ini bukan sekadar soal kosakata, melainkan perubahan kerangka relasi sosial.

Ilustrasi mudik. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Seni Budaya 02 Mar 2026, 18:26

Hikayat Kuda Lumping, Jejak Panjang Warisan Budaya Tanah Jawa yang Tak Lekang oleh Waktu

Sejarah kuda lumping berakar pada kosmologi agraris Jawa, lalu bertransformasi menjadi tontonan rakyat hingga identitas diaspora di Malaysia dan Suriname.

Kesenian Kuda Lumping. (Sumber: Kemenparekraf)
Bandung 02 Mar 2026, 17:43

Rahasia Bacang Jando Anne Bertahan di Tengah Lonjakan Harga Bahan Baku

Di balik usaha kuliner bacang jando Anne dan gerobaknya, ada berbagai macam memori yang mengembalikan kenangan di masa lampau.

Di balik usaha kuliner bacang jando Anne dan gerobaknya, ada berbagai macam memori yang mengembalikan kenangan di masa lampau. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 16:07

Pentas Buku Foto 2026 Ngabuburit Sambil Menyelami Narasi Visual di Red Raws Center

Di tempat yang dikenal sebagai ruang pertemuan para pegiat seni, buku, dan barang antik ini, digelar Pentas Buku Foto 2026.

Suasana pengunjung pada pameran Pentas Buku Foto 2026. Kegiatan ini banyak menarik minat generasi muda yang datang untuk melihat, membaca, dan berdiskusi seputar buku foto. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Linimasa 02 Mar 2026, 15:06

Dari Saddam Hussein hingga Khamenei, Hikayat Para Pemimpin Timur Tengah yang Dibunuh di Bawah Komando AS

Dari invasi Irak 2003 hingga serangan Teheran 2026, Amerika Serikat sudah beberapa kali terlibat dalam operasi pembunuhan sejumlah pemimpin di Timur Tengah.

Dari Saddam Hussein hingga Khamenei, Hikayat Para Pemimpin Timur Tengah yang Dibunuh di Bawah Komando AS
Beranda 02 Mar 2026, 14:47

Wali Kota Bandung Ultimatum PT BII Bereskan Proyek Galian Jalanan Kota Bandung Sebelum 5 Maret

Proyek galian ducting atau kabel bawah tanah belakangan menjadi sorotan karena dinilai memicu kemacetan hingga kecelakaan di sejumlah titik jalan.

Wali kota Bandung, Muhammad Farhan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar Putra)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 14:31

Syawal dan Arus Kehidupan Baru: Perkotaan Indonesia di Uji Zaman

Syawal menjadi fase transisi perkotaan Indonesia. Pasca-Lebaran, migrasi musiman, perubahan konsumsi, dan tekanan ekonomi global menguji ketahanan sosial-ekonomi kota.

Sejumlah kendaraan pemudik memadati Jalan Raya Nagreg, Cikaledong, Kabupaten Bandung pada Jumat, 28 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 13:15

Mencari Hening di Tengah Ramadhan

“Melalui api itu akan membakar seribu hijab dalam sekejap, kau akan melesat naik seribu derajat dalam jalan dan cita-citamu.” - Jalaluddin Rumi

Menara Mesjid Agung Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 02 Mar 2026, 11:31

Lautze, Cheng Ho, dan Gus Dur

Bila di Surabaya menghadirkan skala besar, puluhan ribu warga menerima zakat, Bandung menghadirkan kedekatan menjadi ruang (pertemuan) kecil yang mempersatukan beragam manusia dalam satu saf berbuka.

Tempat yang sangat ingin aku kunjungi. Tapi tiap kali mau mampir pasti nyasar ujung2nya putus asa. Dan Allah kasih kesempatan melalui cara yang lain. (Sumber: Instagram/@chenghoosby)