Tren 'Peutik Panen' Tani Kota Bandung Ti Buruan, dari Beton Jadi Cuan!

6 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
Warga saat memeriksa tanaman hydroponik di Buruan Sae Kelurahan Cigondewah Kidul, Kota Bandung (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Warga saat memeriksa tanaman hydroponik di Buruan Sae Kelurahan Cigondewah Kidul, Kota Bandung (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bandung selalu punya cara untuk tampil keren tanpa kehilangan akar. Kalau dulu tren kota ini identik dengan distro, kopi, daarin musik indie, sekarang ada satu tren baru yang sama gaulnya tapi lebih green vibes: urban farming, alias bertani di tengah kota. Dan di Bandung, tren ini punya nama khas yang Sunda pisan: Buruan SAE — singkatan dari Sehat, Alami, Ekonomis.

Sekilas, Buruan SAE terdengar seperti program serius pemerintah, tapi kalau kamu lihat langsung, suasananya malah kayak gabungan antara kebun, taman bermain, dan terapi stres alami. Bayangkan: di tengah pemukiman padat, di antara tembok rumah dan jalan aspal, muncul lahan hijau dengan kangkung, tomat, cabai, daun bawang, bahkan lele di kolam mini.

Sebagai orang yang kuliah di UIN Bandung angkatan 2002 dan kembali ke kota ini tahun 2025, saya merasa seperti masuk versi baru Bandung yang lebih “lembur-minded”. Kota yang dulu dikenal macet dan sibuk, kini pelan-pelan menumbuhkan kebahagiaan baru lewat n Baun-daunan dan cangkul kecil di belakang rumah.

Dari Beton ke Daun Bandung

Bandung dikenal dengan beton, kafe, dan kendaraan. Tapi kini, di sela-sela itu, ada revolusi senyap. Di banyak sudut kota, warga mulai bercocok tanam di halaman rumah, di genting, bahkan di galon bekas.

Program Buruan SAE ini mulai menggeliat sekitar 2018, tapi benar-benar jadi gaya hidup setelah pandemi. Saat orang jenuh di rumah dan harga sayur naik, warga Bandung menemukan keajaiban baru: menanam dan peutik panen (memetik hasil sendiri).

Saya pernah mampir ke salah satu Buruan SAE di daerah Cibaduyut. Di sana, ibu-ibu PKK yang dulu terkenal dengan arisan dan tutorial kue bolu, kini berubah jadi petani urban. Mereka pakai topi caping, bawa gunting tanaman, dan ngobrol sambil memetik bayam. Suasananya bukan cuma produktif, tapi juga penuh tawa.

Satu ibu berkata sambil tertawa, “Ayeuna mah teu kudu ka pasar, cukup ka buruan!” (Sekarang nggak perlu ke pasar, cukup ke kebun sendiri!)

Dan saya langsung mikir, inilah versi Bandung dari kemandirian pangan: santai, guyub, tapi serius hasilnya.

Meski dikenal sebagai kota modern, Bandung sebenarnya punya DNA agraris. Dulu, di masa kolonial, Bandung dikelilingi lahan pertanian. Bahkan kawasan Cibiru, tempat kampus UIN berdiri, dulunya adalah sawah dan ladang.

Saya masih ingat tahun 2002–2007, waktu kuliah di UIN Bandung, udara Cibiru masih dingin, dan di belakang kampus masih banyak kebun sayur. Sekarang, sebagian sudah jadi perumahan. Tapi semangat bertani itu ternyata nggak hilang — cuma pindah bentuk.

Kini warga Bandung bertani bukan lagi di hektaran lahan, tapi di ember bekas cat, pipa paralon, dan rak vertikal. Semangatnya sama: menanam untuk hidup, bukan sekadar gaya.

Buruan Sae, memanfaatkan pekarangan dengan tanaman sayuran. (Sumber: Pemprov Jabar)
Buruan Sae, memanfaatkan pekarangan dengan tanaman sayuran. (Sumber: Pemprov Jabar)

Lucunya, kini bertani malah jadi tren Instagrammable. Orang upload foto sambil panen sawi, caption-nya: “Panen kale organik sendiri, bukan kale dari mantan.”

Di era digital, orang Bandung butuh tempat untuk healing selain kafe dan mall. Nah, Buruan SAE jadi solusi baru. Ia bukan cuma tempat tanam sayur, tapi juga ruang komunikasi sosial.

Kalau Habermas bilang “ruang publik” itu tempat orang bertukar ide, maka Buruan SAE adalah versi lokalnya — ruang publik hijau. Di sana, ibu-ibu ngobrol soal pupuk organik sambil gosip halus, bapak-bapak debat bibit unggul sambil ngopi, dan anak-anak belajar dari tanah, bukan dari layar.

Saya sempat duduk di salah satu Buruan SAE di kawasan Antapani. Anginnya sejuk, aroma tanahnya menenangkan. Seorang bapak berkata, “Dulu urang ngobrol di pos ronda, ayeuna mah di kebon.” (Dulu kami ngobrol di pos ronda, sekarang di kebun.)

Rasanya seperti Bandung menemukan kembali jati dirinya — kota yang ramah, guyub, dan dekat dengan alam.

Filosofi Peutik Panen, dari Tangan ke Pikiran

Kegiatan peutik panen (memetik hasil sendiri) ternyata bukan cuma soal sayur, tapi juga soal mentalitas. Banyak warga bilang mereka merasa lebih tenang setelah berkebun. Ada kepuasan batin ketika memetik kangkung hasil sendiri, seolah ikut tumbuh bersama tanahnya.

Sebagai mantan mahasiswa, saya melihat ini dari kacamata teori Habermas lagi: Buruan SAE menciptakan “tindakan komunikatif ekologis” — komunikasi antara manusia dan alam yang saling menguatkan. Tidak ada hierarki, hanya harmoni.

Dan di situlah letak kecerdasannya. Di tengah hiruk pikuk digital dan politik, Bandung menemukan cara untuk berdialog kembali dengan bumi — tanpa harus bikin seminar atau webinar.

Lucunya, kini bertani di kota malah jadi tren “gaul”. Dulu orang malu punya tangan kotor, sekarang justru pamer foto tangan berlumpur dengan caption: “Back to nature, cuy.”

Komunitas urban farming menjamur: dari Grow Up Bandung, Tani Kota Ceria, sampai kelompok ibu-ibu Buruan SAE Rancaekek Asri. Mereka bukan cuma tanam sayur, tapi juga jual hasilnya ke tetangga. Ada yang bikin minuman herbal, ada yang jual sambal organik.

Bandung, yang dulu dikenal dengan kreativitas fesyen dan kuliner, kini melangkah ke babak baru: kreativitas pangan.

Salah satu kawan saya, alumni UIN angkatan 2004, sekarang jadi influencer tani kota. Dia suka posting video tutorial bikin pupuk cair dari air cucian beras. Dalam salah satu videonya, dia bilang: “Bandung teh kudu jadi kota nu bisa ngeureunkeun lapar tanpa ngarusak alam.” (Bandung harus jadi kota yang bisa mengenyangkan tanpa merusak alam.)

Dan saya pikir, itu kalimat yang pantas jadi slogan peradaban.

Makin lama saya perhatikan, Buruan SAE bukan cuma soal pangan, tapi juga soal kesadaran ekologis. Ia mengingatkan warga kota bahwa makanan itu tidak datang dari supermarket, tapi dari tanah. Bahwa daun yang kita makan lahir dari proses panjang, bukan sekadar transaksi.

Dalam suasana global yang penuh krisis iklim, Bandung memberi contoh kecil tapi bermakna: perubahan bisa dimulai dari pekarangan rumah. Di kota ini, menanam tomat di pot bukan aksi kecil, tapi perlawanan lembut terhadap ketergantungan dan konsumsi berlebihan.

Dan tentu, karena ini Bandung, semua dilakukan dengan gaya santai. Kalau di kota lain urban farming itu proyek serius dengan investor, di Bandung sering dimulai dengan obrolan: “Coba ah tanam kangkung di ember, saha terang jadi rejeki.”

Kini, ketika saya berjalan menyusuri gang-gang Bandung, saya sering menemukan pemandangan yang bikin hati hangat: anak muda menyiram tanaman pagi-pagi, ibu-ibu menimbang hasil panen, bapak-bapak membetulkan pipa hidroponik.

Baca Juga: Meong Congkok Ditemukan Warga Masuk ke Halaman Rumah

Saya sadar, Bandung bukan hanya kota yang terus membangun, tapi juga kota yang menanam dirinya kembali.

Buruan SAE bukan sekadar kebun, tapi simbol harapan — bahwa di tengah beton dan asap kendaraan, masih ada ruang bagi daun muda untuk tumbuh.
Bahwa manusia, betapapun modernnya, tetap butuh tanah di bawah kaki dan hijau di depan mata.

Dan seperti kata salah satu petani kota yang saya temui di Buahbatu, “Menanam teh lain ukur keur dapur, tapi keur nyageurkeun pikiran.” (Menanam itu bukan cuma buat dapur, tapi buat menyembuhkan pikiran.)

Mendengarnya, saya tersenyum. Karena di Bandung, bahkan kebun kecil di halaman rumah bisa jadi cara untuk menemukan diri sendiri — dengan humor, cinta, dan daun kangkung yang segar dipetik sore hari. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)