Buruan Sae dan Gertaman sebagai Program Ketahanan Pangan Keluarga

kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan Selasa 06 Jan 2026, 15:42 WIB
Buruan Sae, memanfaatkan pekarangan dengan tanaman sayuran. (Sumber: Pemprov Jabar)

Buruan Sae, memanfaatkan pekarangan dengan tanaman sayuran. (Sumber: Pemprov Jabar)

Bulan Januari 2026 baru saja berjalan beberapa hari. Pergantian tahun kerap diikuti oleh kenaikan sejumlah bahan pokok, meskipun tidak selalu terjadi secara otomatis. Fenomena ini umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi cuaca, meningkatnya permintaan pasar, keterbatasan stok, hingga persoalan logistik dan transportasi.

Di Jawa Barat, daging sapi menjadi salah satu komoditas bahan pokok yang mengalami kenaikan harga di awal tahun. Sementara itu, beberapa komoditas lain seperti telur, ayam, minyak goreng, bawang merah dan bawang putih, serta cabai—yang sempat melonjak menjelang Natal dan akhir tahun—mengalami penurunan harga pada awal Januari. Namun, kondisi ini diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Memasuki bulan Februari, sejumlah komoditas pangan berpotensi kembali mengalami lonjakan harga seiring dengan semakin dekatnya bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

Kenaikan harga bahan pokok menjelang hari besar keagamaan bagi sebagian orang mungkin hanya soal menyesuaikan anggaran belanja. Namun bagi banyak keluarga, terutama kelompok menengah ke bawah, situasi ini menjadi ujian serius bagi ketahanan ekonomi sekaligus ketahanan pangan keluarga. Dapur rumah tangga menjadi ruang pertama yang merasakan dampak fluktuasi harga, bahkan sebelum kebijakan pengendalian pasar benar-benar terasa.

Ketahanan pangan keluarga sendiri dapat didefinisikan sebagai kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan pangan secara cukup, aman, bergizi, beragam, dan berkelanjutan bagi seluruh anggota keluarga. Ketahanan ini tidak semata-mata berbicara tentang ketersediaan makanan, tetapi juga mencakup akses, pemanfaatan, serta stabilitas pangan dalam jangka panjang, sehingga keluarga terbebas dari ancaman kelaparan dan kekurangan gizi.

Dalam konteks inilah, program Buruan Sae yang digagas Pemerintah Kota Bandung menjadi relevan untuk terus diperkuat sebagai bagian dari resolusi 2026 dalam membangun ketahanan pangan perkotaan. Melalui program ini, warga didorong untuk memanfaatkan pekarangan atau lahan sempit yang dimiliki untuk menanam sayuran, buah, tanaman obat keluarga, bahkan melakukan budidaya ikan atau ternak kecil. Tujuannya jelas, yakni membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga secara mandiri.

Peresmian Gerakan Mananami Halaman (Gertaman) di Kecamatan Soreang. (Sumber: Dinas Pertanian Kab. Bandung)
Peresmian Gerakan Mananami Halaman (Gertaman) di Kecamatan Soreang. (Sumber: Dinas Pertanian Kab. Bandung)

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bandung juga meluncurkan program Gertaman (Gerakan Menanami Halaman). Program ini mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran dan sumber pangan lainnya demi mewujudkan kemandirian pangan keluarga, sekaligus mendukung stabilitas inflasi dan visi pembangunan Bandung Bedas. Diluncurkan pada Desember lalu, Gertaman direncanakan melibatkan kader PKK di seluruh wilayah Kabupaten Bandung secara bertahap.

Kedua program tersebut menunjukkan upaya nyata pemerintah daerah dalam menjaga ketersediaan dan stabilitas pangan—sebuah tugas konstitusional yang memang menjadi tanggung jawab negara. Namun demikian, menggantungkan seluruh harapan pada kebijakan pemerintah tanpa disertai penguatan ketahanan pangan keluarga justru membuat masyarakat berada pada posisi rentan. Keluarga yang sepenuhnya bergantung pada pasar akan selalu menjadi pihak paling terdampak ketika terjadi gangguan distribusi, inflasi, atau bahkan krisis global.

Baca Juga: Meneguhkan Rumah Bersama

Padahal, upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga tidak selalu menuntut lahan luas atau modal besar. Menanam sayuran dan cabai di pot atau polybag, memelihara beberapa ekor ayam, atau membudidayakan ikan dalam ember merupakan langkah-langkah sederhana namun bermakna. Bukan semata soal jumlah hasil panen, melainkan tentang membangun kesadaran bahwa pangan bisa diupayakan, bukan hanya dibeli.

Dalam hal ini, pemerintah daerah tidak cukup berperan sebagai regulator, tetapi juga perlu terus hadir sebagai fasilitator. Program seperti Buruan Sae dan Gertaman—yang langsung menyentuh rumah tangga—akan jauh lebih berdampak dibandingkan program seremonial semata. Namun, sebaik apa pun sebuah program, ia akan kehilangan makna jika keluarga tidak merasa memiliki dan tidak terlibat secara aktif.

Pada akhirnya, pilihan kembali kepada masyarakat. Apakah akan terus menjadi konsumen pasif yang mudah panik setiap kali harga pangan naik, atau mulai bertransformasi menjadi keluarga yang lebih tangguh dan mandiri. Jika setiap keluarga mau berperan, sekecil apa pun kontribusinya, maka ketahanan pangan tidak lagi sekadar jargon kebijakan. Ia tumbuh nyata dari rumah, dari pekarangan, dan dari kebiasaan sehari-hari. Dari sanalah ketahanan pangan nasional pada akhirnya akan terwujud. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

kurniawan abuwijdan
Network Marketer dan Peternak Pemula

Berita Terkait

News Update

Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 12:03

Doktrin Pemikiran Manusia

Dalam konteks apapun, doktrin menjadikan sebuah pemikiran otak manusia menjadi lebih aktif dalam berbagai permasalahan.

Ilustrasi manusia. (Sumber: Pexels | Foto: beytlik)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)