Bulan Januari 2026 baru saja berjalan beberapa hari. Pergantian tahun kerap diikuti oleh kenaikan sejumlah bahan pokok, meskipun tidak selalu terjadi secara otomatis. Fenomena ini umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi cuaca, meningkatnya permintaan pasar, keterbatasan stok, hingga persoalan logistik dan transportasi.
Di Jawa Barat, daging sapi menjadi salah satu komoditas bahan pokok yang mengalami kenaikan harga di awal tahun. Sementara itu, beberapa komoditas lain seperti telur, ayam, minyak goreng, bawang merah dan bawang putih, serta cabai—yang sempat melonjak menjelang Natal dan akhir tahun—mengalami penurunan harga pada awal Januari. Namun, kondisi ini diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Memasuki bulan Februari, sejumlah komoditas pangan berpotensi kembali mengalami lonjakan harga seiring dengan semakin dekatnya bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.
Kenaikan harga bahan pokok menjelang hari besar keagamaan bagi sebagian orang mungkin hanya soal menyesuaikan anggaran belanja. Namun bagi banyak keluarga, terutama kelompok menengah ke bawah, situasi ini menjadi ujian serius bagi ketahanan ekonomi sekaligus ketahanan pangan keluarga. Dapur rumah tangga menjadi ruang pertama yang merasakan dampak fluktuasi harga, bahkan sebelum kebijakan pengendalian pasar benar-benar terasa.
Ketahanan pangan keluarga sendiri dapat didefinisikan sebagai kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan pangan secara cukup, aman, bergizi, beragam, dan berkelanjutan bagi seluruh anggota keluarga. Ketahanan ini tidak semata-mata berbicara tentang ketersediaan makanan, tetapi juga mencakup akses, pemanfaatan, serta stabilitas pangan dalam jangka panjang, sehingga keluarga terbebas dari ancaman kelaparan dan kekurangan gizi.
Dalam konteks inilah, program Buruan Sae yang digagas Pemerintah Kota Bandung menjadi relevan untuk terus diperkuat sebagai bagian dari resolusi 2026 dalam membangun ketahanan pangan perkotaan. Melalui program ini, warga didorong untuk memanfaatkan pekarangan atau lahan sempit yang dimiliki untuk menanam sayuran, buah, tanaman obat keluarga, bahkan melakukan budidaya ikan atau ternak kecil. Tujuannya jelas, yakni membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga secara mandiri.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bandung juga meluncurkan program Gertaman (Gerakan Menanami Halaman). Program ini mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran dan sumber pangan lainnya demi mewujudkan kemandirian pangan keluarga, sekaligus mendukung stabilitas inflasi dan visi pembangunan Bandung Bedas. Diluncurkan pada Desember lalu, Gertaman direncanakan melibatkan kader PKK di seluruh wilayah Kabupaten Bandung secara bertahap.
Kedua program tersebut menunjukkan upaya nyata pemerintah daerah dalam menjaga ketersediaan dan stabilitas pangan—sebuah tugas konstitusional yang memang menjadi tanggung jawab negara. Namun demikian, menggantungkan seluruh harapan pada kebijakan pemerintah tanpa disertai penguatan ketahanan pangan keluarga justru membuat masyarakat berada pada posisi rentan. Keluarga yang sepenuhnya bergantung pada pasar akan selalu menjadi pihak paling terdampak ketika terjadi gangguan distribusi, inflasi, atau bahkan krisis global.
Baca Juga: Meneguhkan Rumah Bersama
Padahal, upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga tidak selalu menuntut lahan luas atau modal besar. Menanam sayuran dan cabai di pot atau polybag, memelihara beberapa ekor ayam, atau membudidayakan ikan dalam ember merupakan langkah-langkah sederhana namun bermakna. Bukan semata soal jumlah hasil panen, melainkan tentang membangun kesadaran bahwa pangan bisa diupayakan, bukan hanya dibeli.
Dalam hal ini, pemerintah daerah tidak cukup berperan sebagai regulator, tetapi juga perlu terus hadir sebagai fasilitator. Program seperti Buruan Sae dan Gertaman—yang langsung menyentuh rumah tangga—akan jauh lebih berdampak dibandingkan program seremonial semata. Namun, sebaik apa pun sebuah program, ia akan kehilangan makna jika keluarga tidak merasa memiliki dan tidak terlibat secara aktif.
Pada akhirnya, pilihan kembali kepada masyarakat. Apakah akan terus menjadi konsumen pasif yang mudah panik setiap kali harga pangan naik, atau mulai bertransformasi menjadi keluarga yang lebih tangguh dan mandiri. Jika setiap keluarga mau berperan, sekecil apa pun kontribusinya, maka ketahanan pangan tidak lagi sekadar jargon kebijakan. Ia tumbuh nyata dari rumah, dari pekarangan, dan dari kebiasaan sehari-hari. Dari sanalah ketahanan pangan nasional pada akhirnya akan terwujud. (*)
