Buruan Sae dan Gertaman sebagai Program Ketahanan Pangan Keluarga

3 menit baca
kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan
Buruan Sae, memanfaatkan pekarangan dengan tanaman sayuran. (Sumber: Pemprov Jabar)
Buruan Sae, memanfaatkan pekarangan dengan tanaman sayuran. (Sumber: Pemprov Jabar)

Bulan Januari 2026 baru saja berjalan beberapa hari. Pergantian tahun kerap diikuti oleh kenaikan sejumlah bahan pokok, meskipun tidak selalu terjadi secara otomatis. Fenomena ini umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi cuaca, meningkatnya permintaan pasar, keterbatasan stok, hingga persoalan logistik dan transportasi.

Di Jawa Barat, daging sapi menjadi salah satu komoditas bahan pokok yang mengalami kenaikan harga di awal tahun. Sementara itu, beberapa komoditas lain seperti telur, ayam, minyak goreng, bawang merah dan bawang putih, serta cabai—yang sempat melonjak menjelang Natal dan akhir tahun—mengalami penurunan harga pada awal Januari. Namun, kondisi ini diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Memasuki bulan Februari, sejumlah komoditas pangan berpotensi kembali mengalami lonjakan harga seiring dengan semakin dekatnya bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

Kenaikan harga bahan pokok menjelang hari besar keagamaan bagi sebagian orang mungkin hanya soal menyesuaikan anggaran belanja. Namun bagi banyak keluarga, terutama kelompok menengah ke bawah, situasi ini menjadi ujian serius bagi ketahanan ekonomi sekaligus ketahanan pangan keluarga. Dapur rumah tangga menjadi ruang pertama yang merasakan dampak fluktuasi harga, bahkan sebelum kebijakan pengendalian pasar benar-benar terasa.

Ketahanan pangan keluarga sendiri dapat didefinisikan sebagai kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan pangan secara cukup, aman, bergizi, beragam, dan berkelanjutan bagi seluruh anggota keluarga. Ketahanan ini tidak semata-mata berbicara tentang ketersediaan makanan, tetapi juga mencakup akses, pemanfaatan, serta stabilitas pangan dalam jangka panjang, sehingga keluarga terbebas dari ancaman kelaparan dan kekurangan gizi.

Dalam konteks inilah, program Buruan Sae yang digagas Pemerintah Kota Bandung menjadi relevan untuk terus diperkuat sebagai bagian dari resolusi 2026 dalam membangun ketahanan pangan perkotaan. Melalui program ini, warga didorong untuk memanfaatkan pekarangan atau lahan sempit yang dimiliki untuk menanam sayuran, buah, tanaman obat keluarga, bahkan melakukan budidaya ikan atau ternak kecil. Tujuannya jelas, yakni membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga secara mandiri.

Peresmian Gerakan Mananami Halaman (Gertaman) di Kecamatan Soreang. (Sumber: Dinas Pertanian Kab. Bandung)
Peresmian Gerakan Mananami Halaman (Gertaman) di Kecamatan Soreang. (Sumber: Dinas Pertanian Kab. Bandung)

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bandung juga meluncurkan program Gertaman (Gerakan Menanami Halaman). Program ini mengajak masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran dan sumber pangan lainnya demi mewujudkan kemandirian pangan keluarga, sekaligus mendukung stabilitas inflasi dan visi pembangunan Bandung Bedas. Diluncurkan pada Desember lalu, Gertaman direncanakan melibatkan kader PKK di seluruh wilayah Kabupaten Bandung secara bertahap.

Kedua program tersebut menunjukkan upaya nyata pemerintah daerah dalam menjaga ketersediaan dan stabilitas pangan—sebuah tugas konstitusional yang memang menjadi tanggung jawab negara. Namun demikian, menggantungkan seluruh harapan pada kebijakan pemerintah tanpa disertai penguatan ketahanan pangan keluarga justru membuat masyarakat berada pada posisi rentan. Keluarga yang sepenuhnya bergantung pada pasar akan selalu menjadi pihak paling terdampak ketika terjadi gangguan distribusi, inflasi, atau bahkan krisis global.

Baca Juga: Meneguhkan Rumah Bersama

Padahal, upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga tidak selalu menuntut lahan luas atau modal besar. Menanam sayuran dan cabai di pot atau polybag, memelihara beberapa ekor ayam, atau membudidayakan ikan dalam ember merupakan langkah-langkah sederhana namun bermakna. Bukan semata soal jumlah hasil panen, melainkan tentang membangun kesadaran bahwa pangan bisa diupayakan, bukan hanya dibeli.

Dalam hal ini, pemerintah daerah tidak cukup berperan sebagai regulator, tetapi juga perlu terus hadir sebagai fasilitator. Program seperti Buruan Sae dan Gertaman—yang langsung menyentuh rumah tangga—akan jauh lebih berdampak dibandingkan program seremonial semata. Namun, sebaik apa pun sebuah program, ia akan kehilangan makna jika keluarga tidak merasa memiliki dan tidak terlibat secara aktif.

Pada akhirnya, pilihan kembali kepada masyarakat. Apakah akan terus menjadi konsumen pasif yang mudah panik setiap kali harga pangan naik, atau mulai bertransformasi menjadi keluarga yang lebih tangguh dan mandiri. Jika setiap keluarga mau berperan, sekecil apa pun kontribusinya, maka ketahanan pangan tidak lagi sekadar jargon kebijakan. Ia tumbuh nyata dari rumah, dari pekarangan, dan dari kebiasaan sehari-hari. Dari sanalah ketahanan pangan nasional pada akhirnya akan terwujud. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)