Menelusuri Akar Maskulinitas Militer dalam Memori Pendudukan Jepang di Indonesia 1942-1945.

6 menit baca
Antik Naila Balqis
Ditulis oleh Antik Naila Balqis diterbitkan
Perkiraan jumlah perempuan bekas ianfu. (Sumber: Tempo, 25 Juli 1992)
Perkiraan jumlah perempuan bekas ianfu. (Sumber: Tempo, 25 Juli 1992)

Pergerakan perempuan dalam melawan patriarki telah berlangsung selama 200 tahun terakhir ini, tetapi nampaknya maskulinitas memiliki daya tahan dalam tatanan hidup masyarakat hingga saat ini. Dikutip dari artikel BBC News Indonesia, sejak terjadinya serangan Amerika Serikat (AS) bersama Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, telah menimbulkan banyak korban. Sebuah rudal Tomahawk milik Amerika Serikat menghantam pangkalan militer yang berada di dekat sekolah putri sehingga menewaskan 110 anak yang sedang belajar, tidak mengetahui apa-apa, dan kembali lagi menjadi korban.

Konflik tersebut memiliki sisi maskulinitas militeristik, karena menggunakan kekuatan dengan kekerasan untuk menyelesaikan masalah saat masih memiliki ruang untuk kompromi. Mengutip pemikirannya R.W. Connell dalam bukunya yang berjudul Masculinities (2005), ada satu standar yang dianggap paling benar oleh masyarakat saat ini mengenai laki-laki, di mana standar tersebut dibuat supaya kekuasaan laki-laki atas perempuan maupun terhadap kelompok laki-laki yang dianggap tidak memenuhi standar tetap terlihat wajar, dan itu disebut dengan maskulinitas hegemonik. Nah, standar sosial tersebut membuat maskulinitas menetapkan apa yang seharusnya menjadi seorang laki-laki, yakni sifat-sifat seperti ketangguhan, keganasan, keberanian, pengendalian, dan dominasi yang merupakan hasil dari maskulinitas yang demiliterisasi.

Sebenarnya, dalam konteks sedang berada di medan perang, standar yang ditetapkan oleh maskulinitas militeristik tentu diperlukan, tetapi seringkali diterapkan di luar ranah tersebut. Akibatnya, tumbuh kelanggengan perasaan dominan terhadap beberapa kelompok yang dianggap lemah oleh masyarakat sehingga penindasan terus terjadi. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kita kembali mengingat Masa Pendudukan Jepang di Indonesia pada tahun 1942 – 1945, yang di mana Jepang melancarkan ekspansi besar-besaran di Asia dalam konteks Perang Dunia II dan memulainya dengan serangan militer. Tentu dengan ambisi yang besar, pasukan militer Jepang melakukan segala cara untuk memenuhinya, bahkan dengan eksploitasi sekalipun. Setelah Jepang berhasil menduduki Indonesia, penerapan kebijakan-kebijakan di Indonesia bertujuan untuk mengeksploitasi sumber daya yang ada di Indonesia. Mengapa demikian? Jawabannya adalah Jepang memiliki sumber daya alam domestik yang terbatas, sehingga Indonesia dianggap sebagai sumber bahan baku strategis dan seluruh sektor produksi tunduk kepada kebutuhan militer.

Salah satu bentuk eksploitasi Jepang di Indonesia adalah menyediakan "hiburan seksual" untuk menjaga semangat pasukan , disini merefleksikan pandangan yang mereduksi perempuan menjadi objek. Jugun Ianfu memiliki arti perempuan penghibur yang ikut militer, padahal faktanya mereka dijadikan pelacur secara paksa. Hal tersebut dijelaskan dalam sistem perekrutannya, di mana militer Jepang membuat tipuan dengan memaksa ketua tonarigumi atau ketua RT untuk mengumpulkan perempuan yang dijanjikan akan dikirim untuk sekolah atau bekerja keluar negeri. Tidak hanya itu, ada pun paksaan dan ancaman dari aparat militer Jepang secara langsung dengan datang ke desa untuk mengambil secara paksa anak perempuan dari keluarganya sehingga diperkiran ada 60.000 perempuan yang dijadikan Jugun Ianfu. Mirisnya, para perempuan ini ditipu, karena mereka dimasukkan ke dalam ianjo, rumah militer Jepang untuk prostitusi. Dilihat dari perekrutannya pun ada suatu kesengajaan agar menghilangkan jejak pemaksaan dan intimidasi militer terhadap para perempuan yang menjadi Jugun Ianfu.

Perkiraan jumlah perempuan bekas ianfu (Sumber: Tempo, 25 Juli 1992)
Perkiraan jumlah perempuan bekas ianfu (Sumber: Tempo, 25 Juli 1992)

Bayangkan, para perempuan tersebut telah memiliki harapan dan semangat untuk menempuh pendidikan atau memperbaiki ekonomi keluarganya harus hancur seketika, dan digantikan dengan trauma seumur hidup. Selama menjadi Jugun Ianfu, mereka harus melayani 10 sampai 30 orang per hari, belum lagi dengan kekerasan fisik dan psikis dari tentara militer Jepang maupun pengelola ianjo. Dalam dunia militer, melakukan pemerkosaan terhadap perempuan Jugun Ianfu itu legal. Apalagi, pendorong utamanya adalah untuk menutupi skandal Nanjing (1937), di mana tentara Jepang melakukan pemerkosaan masal yang menghancurkan citra Jepang sehingga dibuatnya lah bentuk kejahatan yang terorganisir, yaitu Jugun Ianfu. Pihak militer pun merasa yang terpenting berjalannya konsep penyediaan perempuan untuk layanan kebutuhan biologis mereka, mereka berdalih untuk mencegah penyakit menular seksual, padahal para Jugun Ianfu lah yang paling rentan untuk terkena penyakitnya.

Setelah Jepang menyerah kepada sekutu, Jugun Ianfu ditinggalkan begitu saja, rasanya campur aduk antara senang terlepas dari cengkraman militer dan kebingungan akan nasib mereka selanjutnya, karena kehidupan ekonomi sulit dan terasing dari keluarga. Bahkan, sebagian besar dibunuh oleh militer Jepang untuk menghilangkan bukti, ada juga yang meninggal akibat penyakit, kekurangan gizi, dan kekerasan. Kisah penderitaan perempuan- perempuan mantan Jugun Ianfu terdapat dalam buku Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer. Buku tersebut menceritakan bahwa setelah perang berakhir, di Pulau Buru ditemui banyak perempuan dari Jawa, yang dulunya dijadikan Jugun Ianfu. Akibat stigma sosial masyarakat kepada Jugun Ianfu, di mana mereka dipandang cacat moral karena menjadi ‘bekas pelacur’ membuat para perempuan ini menolak untuk kembali menginjak tanah Jawa, tempat kelahirannya. Disini, seakan-akan para perempuan tersebut menjadi buangan yang tidak punya masa lalu lagi dan tak ada yang memperhatikan nasib mereka.

Tentara-tentara Jepang dan wanita di daerah pasifik (Sumber: Tempo, 8 Agustus 1992)
Tentara-tentara Jepang dan wanita di daerah pasifik (Sumber: Tempo, 8 Agustus 1992)

Ketika mendengar kata perang, tentu identik dengan sistem militer sangat kuat, dan Jugun Ianfu merupakan salah satu bentuk penindasannya. Dengan standar yang dibentuk oleh masyarakat, laki-laki menganggap diri mereka sebagai kelas yang lebih kuat, dan karena itu, mereka menganggap diri mereka memiliki lebih kuat daripada kelas perempuan. Dibuktikan penggunaan kekuatannya dalam sistem perekrutan yang menggunakan ancaman dan teror, hal tersebut menyebabkan perempuan terancam dan tidak mempunyai pilihan. Disini dapat ditegaskan pula bahwa tidak hanya perempuan yang ditindas, tetapi kalangan yang dianggap tidak memenuhi standar, yaitu ketua RT dan kepala keluarga yang diancam sehingga terpaksa menyerahkan anak perempuannya kepada tentara militer Jepang.

Berpuluh-puluh tahun telah berlalu sejak berakhirnya Perang Dunia II, kebijakan yang dulunya erat dengan militer kini telah dipisahkan ke dalam wadahnya masing-masing. Namun, sisa-sisa maskulinitas militeristik yang kuat saat itu masih tersisa dan mengakar dalam kehidupan sehari-hari. Standar tersebut menjadi pengaruh dalam pola asuh keluarga, merambat ke bangku sekolah, dunia kerja, hingga pemerintah suatu negara. Isu terkini yang merupakan hasil dari penjelasan sebelumnya adalah konflik Iran dan AS, di mana mereka cenderung menggunakan kekuasaan dan kekuatannya untuk melibatkan konflik bersenjata, hasilnya pun warga sipil membayar harga tertinggi yang mengakibatkan kematian, kehancuran, dan penderitaan manusia. Mirisnya dalam kondisi perang, apabila angka kematian telah menyentuh ribuan cenderung dilihat hanya sebagai angka, tidak melihat bahwa angka tersebut merupakan nyawa manusia yang menjadi korban dalam perang.

Patriarki telah mengakar dari tingkatan paling kecil yaitu keluarga hingga pemerintah itu sendiri, akibat dari dominasi salah satu pihak pun seringkali merugikan pihak lain yang dikategorikan lebih lemah. Penyelesaian konflik dengan menggunakan kekuatan tidak akan menyelesaikan masalah secara instan, dilihat dari sejarah peperangan dunia pun hanya akan merugikan dan menindas warga sipil dari berbagai sisi. Saatnya memperlakukan manusia selayaknya manusia, dengan tidak melihatnya lewat stigma gender yang telah dibentuk oleh masyarakat, karena kita semua berhak untuk hidup dengan merasa aman. Siapa yang setara? Siapa yang berhak untuk memiliki kebebasan dan hidup tanpa rasa takut? Setiap orang berhak mendapatkannya dan tentu kita masih memiliki perjalanan panjang untuk mewujudkannya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Antik Naila Balqis
Mahasiswi Ilmu Sejarah Unpad yang memiliki ketertarikan dalam bidang sejarah, kesetaraan gender, dan film.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)