Ekspresi Tanpa Suara, Komunitas Karya Seni Tuli Bangun Jembatan antara Teman Tuli dan Dengar

4 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Suasana hangat pertemuan Karya Seni Tuli dipenuhi interaksi melalui bahasa isyarat, tawa, dan semangat berkarya bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Suasana hangat pertemuan Karya Seni Tuli dipenuhi interaksi melalui bahasa isyarat, tawa, dan semangat berkarya bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Refina Nuraini Ultari tersenyum hangat di depan spanduk Karya Seni Tuli, komunitas yang ia bangun dengan sepenuh hati. Di sini, komunikasi melampaui suara; bahasa yang digunakan adalah perpaduan gerak tangan, ekspresi wajah, dan gestur tubuh yang disatukan oleh rasa saling menghargai.

Komunitas ini lahir dari kegelisahan pribadi perempuan berusia 27 tahun tersebut. Lulusan Pendidikan Seni Rupa UPI ini mulai merintis Karya Seni Tuli sejak masih duduk di bangku kuliah sebagai jawaban atas keresahan yang ia rasakan.

Saat asyik menggambar bersama, ia justru merasa terasing karena terkendala dalam berkomunikasi.

“Saya hanya diam saja karena saya tidak bisa berbicara secara jelas. Dari situ muncul ide untuk membangun komunitas khusus teman-teman tuli,” kata Fina melalui bahasa isyarat.

Dari pengalaman tersebut, ia mulai membayangkan sebuah ruang yang ramah bagi teman tuli. Ruang yang memungkinkan mereka berekspresi, berkembang, dan merasa lebih inklusif.

Refina Nuraini Ultari adalah lulusan Seni Rupa UPI yang mendirikan komunitas Karya Seni Tuli sebagai wadah ekspresi yang inklusif. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Refina Nuraini Ultari adalah lulusan Seni Rupa UPI yang mendirikan komunitas Karya Seni Tuli sebagai wadah ekspresi yang inklusif. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Titik Temu Teman Tuli dan Teman Dengar

Karya Seni Tuli didirikan pada 6 Agustus 2023. Fina memulainya sendiri sebelum akhirnya berkembang dan memiliki tim. Kegiatan pertama bertajuk “Nongkrong Berkarya”, dengan niat awal menjadi wadah bagi teman tuli untuk berkarya dan berkembang.

“Saya sempat takut tidak ada yang datang, tetapi ternyata banyak sekali teman-teman tuli yang hadir,” ujar Fina, wajahnya sempat mengernyit sebelum berubah menjadi senyum tipis.

Sekitar 50 orang hadir pada pertemuan pertama. Seiring waktu, jumlah anggota terus meningkat. Hingga April 2026, tercatat sekitar 270 anggota bergabung dalam grup komunitas dari berbagai wilayah di Bandung.

“Sekarang justru lebih banyak teman dengar yang datang karena mereka ingin belajar BISINDO,” kata Fina.

BISINDO atau Bahasa Isyarat Indonesia merupakan bahasa isyarat alami yang digunakan teman tuli dalam komunikasi sehari-hari. Bahasa ini mengandalkan gerakan tangan, gestur tubuh, serta ekspresi wajah.

Komunitas ini tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga ruang belajar dan berkembang. Fina mengajarkan keterampilan dasar hingga mendorong kemandirian melalui karya seni.

“Saya ingin berbagi ilmu seni yang saya punya supaya teman-teman tuli bisa berkembang,” ujarnya.

Ia juga mengajarkan cara memproduksi dan menjual karya. Bagi Fina, seni bukan sekadar ekspresi, tetapi juga sarana menciptakan peluang hidup yang lebih mandiri.

Ruang Berkarya, Berekspresi, dan Berjuang

Nama Karya Seni Tuli dipilih untuk mencerminkan beragam potensi yang dimiliki teman tuli. Komunitas ini menjadi wadah berbagai bentuk ekspresi seni.

“Karya Seni Tuli adalah tempat bagi teman-teman tuli yang memiliki bakat dalam seni seperti menggambar, membatik, menari, hingga musik. Semuanya berpadu dalam satu tempat,” jelas Fina.

Selain kegiatan rutin, komunitas ini juga pernah mengadakan pameran bertajuk “Sunyi Berbicara” yang digelar di Orbital Dago pada Mei 2025. Beragam karya ditampilkan, mulai dari lukisan, ilustrasi, sketsa, hingga jaket lukis.

Pameran tersebut menjadi sarana bagi teman tuli untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat.

“Melalui pameran itu, masyarakat jadi lebih sadar bahwa karya teman tuli juga punya nilai,” kata Fina.

Berbagai kegiatan lain seperti workshop batik, melukis, pengolahan tanah liat, hingga pembelajaran bahasa isyarat juga rutin dilakukan. Seluruh kegiatan ini dirancang untuk membangun interaksi antara teman tuli dan teman dengar.

Bahasa, Akses, dan Perjuangan Inklusivitas

Di balik aktivitas kreatif tersebut, Fina melihat masih ada tantangan besar yang dihadapi komunitas tuli, terutama terkait pengakuan bahasa isyarat.

“Komunitas ini bukan hanya soal seni, tetapi juga memperjuangkan hak dan akses yang setara,” tegasnya.

“Tantangan terbesar sekarang adalah BISINDO belum diakui sebagai bahasa resmi,” tambah Fina.

Ia menjelaskan bahwa BISINDO berkembang dari budaya dan kebutuhan komunikasi teman tuli, sehingga lebih mudah dipahami.

Hal ini berbeda dengan SIBI atau Sistem Isyarat Bahasa Indonesia yang disusun mengikuti tata bahasa Indonesia.

Menurut Fina, SIBI tidak sepenuhnya merepresentasikan pengalaman teman tuli.

“Kalau BISINDO, itu dibuat oleh teman tuli sendiri dan mengikuti budaya mereka,” ujarnya.

“Berbeda dengan sistem yang dibuat oleh teman dengar, BISINDO lebih natural dan mudah dipahami,” lanjutnya.

Fina juga menekankan pentingnya peran guru tuli dalam dunia pendidikan, terutama dalam mengajarkan bahasa isyarat.

Menurutnya, bahasa ini seharusnya diajarkan oleh mereka yang menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Jika orang mendengar yang mengajarkan bahasa isyarat, itu berarti merampas hak teman-teman tuli,” jelas Fina.

Lingkungan Inklusif Butuh Akses yang Setara

Fina meyakini bahwa menciptakan inklusivitas adalah proses panjang. Ia terus berupaya meningkatkan kesadaran, baik di kalangan teman tuli maupun teman dengar.

“Saya harap teman-teman dengar tidak malu untuk berkomunikasi dengan teman tuli,” ucapnya.

Ia juga berharap adanya layanan publik yang lebih ramah bagi penyandang difabel, termasuk kehadiran juru bahasa isyarat di berbagai fasilitas seperti layanan pemerintahan, rumah sakit, dan transportasi publik.

Fina berharap Indonesia ke depan menjadi lebih inklusif dan ramah bagi teman tuli, karena kesetaraan akses merupakan kunci terwujudnya kehidupan yang inklusif.

Perjalanan yang ia jalani melalui komunitas ini mungkin masih panjang. Namun, langkah kecil yang berangkat dari kegelisahan pribadi kini telah tumbuh menjadi ruang inklusif yang terus berkembang.

“Kita semua punya hak yang sama, hanya cara komunikasinya yang berbeda,” tutup Fina.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)