AYOBANDUNG.ID - Suatu siang di sebuah kafe itu tampak sekumpulan orang duduk melingkar. Mereka sepertinya sedang berkomunikasi namun hampir tidak terdengar percakapan suaranya.
Meski demikian, suasana tetap hidup oleh gerakan tangan yang saling bersahutan, tatapan mata yang saling menangkap makna, serta ekspresi wajah yang berbicara tanpa kata. Keheningan itu justru terasa hangat karena orang orang di dalamnya tetap terhubung lewat cara yang berbeda.
Di kafe tersebut terlihat sebuah spanduk bertuliskan “Komunitas Karya Seni Tuli” lengkap dengan gambar dan penjelasan singkat di bawahnya
Penghubung Teman Tuli dan Teman Dengar
Acara “Nongkrong Berkarya” yang diprakarsai Komunitas Karya Seni Tuli menjadi ruang pertemuan antara teman tuli dan teman dengar. Tidak sekadar berkumpul, kegiatan ini juga membuka kesempatan bagi peserta untuk belajar BISINDO atau Bahasa Isyarat Indonesia, bahasa alami yang digunakan oleh teman tuli dalam kehidupan sehari hari.
Ruang ini bukan hanya tempat belajar bahasa, tetapi juga jembatan untuk memahami dunia yang selama ini terasa jauh bagi sebagian orang.
“Waktu masuk ke sini aku sempat bingung harus seperti apa,” ujar Hasni Fadiyah, 19 tahun, salah satu peserta.

Namun, kebingungan itu tidak berlangsung lama. Sambutan hangat dari komunitas membuatnya perlahan merasa diterima dan mulai terlibat.
“Tapi teman teman langsung ngajakin, jadi akhirnya ikut,” tambahnya dengan riang pada Minggu siang, 5 April 2026.
Berbeda dengan Hasni, Nira Nur Inayah, 22 tahun, datang dengan sedikit gambaran. Ia sebelumnya telah mengikuti aktivitas komunitas ini melalui media sosial.
“Yang aku bayangkan kita berkumpul dan belajar bareng. Soalnya sebelumnya sudah lihat di Instagram,” jelasnya.
Keduanya sepakat, rasa ingin tahu dan keinginan mencoba hal baru menjadi alasan utama mereka hadir. Di tengah rutinitas akhir pekan, kegiatan ini menjadi pengalaman yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga bermakna.
Dalam sesi pembelajaran, peserta dikenalkan pada dasar dasar BISINDO, mulai dari huruf abjad hingga ungkapan sehari hari. Proses ini tidak selalu mudah, terutama bagi pemula.
“Yang paling sulit itu menghafal, karena banyak sekali yang harus diingat,” kata Nira.
Hasni menambahkan bahwa ekspresi juga menjadi bagian penting dalam berkomunikasi.
“Ekspresi harus pas, itu yang kadang bikin bingung,” ujarnya.

Kesulitan tersebut justru membuka pemahaman baru bahwa bahasa isyarat tidak hanya soal gerakan tangan, tetapi juga melibatkan emosi dan ekspresi yang mendalam.
Dari pengalaman itu, keduanya mulai melihat perspektif berbeda tentang teman tuli.
“Ternyata cara komunikasinya sama saja, tidak ada yang berbeda walaupun mereka punya keterbatasan,” kata Hasni.
“Menurut aku mereka malah lebih hebat, karena harus mengingat banyak gerakan,” timpal Nira.
Kesadaran ini perlahan mengubah cara pandang mereka, dari sekadar melihat perbedaan menjadi memahami kemampuan dan perjuangan yang ada di baliknya.
Dari Keresahan Menjadi Ruang Inklusif
Di balik kegiatan ini, ada kisah dari pendiri komunitas, Refina Nuraini Ultari, 27 tahun, yang akrab disapa Fina. Ia membangun komunitas ini dari pengalaman pribadinya saat kesulitan berkomunikasi dalam kegiatan menggambar di kampus.
“Saya hanya diam karena tidak bisa berbicara dengan jelas, hanya bisa berisyarat. Dari situ muncul ide membangun komunitas untuk teman tuli,” ujar Fina melalui bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh rekan komunitasnya.
Komunitas ini berdiri pada Agustus 2023 dan sejak awal menjadi ruang bagi teman tuli untuk berkarya dan mengekspresikan diri. Seiring waktu, semakin banyak teman dengar yang tertarik untuk belajar.
“Sekarang justru lebih banyak teman dengar yang datang karena ingin belajar BISINDO,” jelas Fina.


Perkembangan ini menunjukkan perubahan fungsi komunitas, dari ruang aman bagi teman tuli menjadi jembatan interaksi yang inklusif.
Fina juga merasakan dampak besar dari kegiatan ini, terutama dalam hal kepercayaan diri.
“Teman tuli jadi lebih berani berkomunikasi, dan teman dengar juga mulai berani belajar,” ujarnya.
Kegiatan ini juga membuka wawasan tentang keberagaman bahasa isyarat di Indonesia.
“Ternyata bahasa isyarat berbeda di setiap daerah,” kata Nira.
Hal tersebut dibenarkan Fina. Ia bahkan memperagakan perbedaan isyarat huruf tertentu antara Jakarta dan Jawa Barat.
“Kita saling menghormati perbedaan bahasa isyarat di setiap daerah, sama seperti bahasa lisan,” jelasnya.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa bahasa, dalam bentuk apa pun, selalu tumbuh dari budaya dan lingkungan.
Pada akhirnya, “Nongkrong Berkarya” bukan sekadar tempat belajar bahasa baru. Ia menjadi ruang pertemuan, tempat empati tumbuh, dan batas komunikasi perlahan memudar.
Di tengah keterbatasan yang sering disalahpahami, muncul kesadaran sederhana bahwa untuk saling memahami tidak selalu dibutuhkan suara, melainkan kemauan untuk melihat, merasakan, dan belajar bersama.
