Badai Belum Berlalu, Perlu Komitmen Menjaga Langit Biru

Totok Siswantara
Ditulis oleh Totok Siswantara diterbitkan Senin 06 Apr 2026, 13:16 WIB
Pohon tumbang akibat hujan deras disertai angin kencang di Kota Bandung memakan korban jiwa, Jumat (3/4/2026). (Sumber: Sumber : BPBD Kota Bandung)

Pohon tumbang akibat hujan deras disertai angin kencang di Kota Bandung memakan korban jiwa, Jumat (3/4/2026). (Sumber: Sumber : BPBD Kota Bandung)

Dahulu kukira langit Bandung itu terus membiru. Ternyata angkasa di atas cekungan danau purba itu tidak berbeda dengan kota besar lainnya.  Udara di sebagian besar sudut kota terasa panas. Udara yang terhisap ke paru-paru kita tidak lagi terasa segar. Bandung yang sejuk dan segar sudah menjadi cerita masa lalu.

Bahkan langit bisa dibilang tidak bersahabat lagi dengan wilayah yang pernah dijuluki Kota Kembang. Peristiwa hujan lebat yang disertai angin kencang yang menerjang Kota Bandung dan sekitarnya pada tanggal 3 April 2026 menyadarkan warga kota tentang misteri langit yang kian tidak bersahabat.

Dari langit kita bisa mengetahui tanda-tanda alam semesta. Hujan deras yang disertai angin kencang merobohkan pohon dan papan reklame. Bahkan telah memakan korban jiwa dan beberapa terluka. Kondisi langit pada musim hujan maupun kemarau mengandung petaka. Setelah diterjang banjir bertubi-tubi kini BMKG memperingatkan akan datangnya El Nino yang bisa mencekam langit jika tidak ada komitmen semua pihak untuk mencegah pencemaran udara diatas cekungan Bandung Raya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa saat ini kita semua sudah tidak lagi berada di era pemanasan global, melainkan telah memasuki era pendidihan global. Peningkatan temperatur global menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup umat manusia.

Ilustrasi fenomena awan hitam yang berbentuk corong (Sumber: Sumber: Twitter @be4utiful0nes)
Ilustrasi fenomena awan hitam yang berbentuk corong (Sumber: Sumber: Twitter @be4utiful0nes)

Waspada Awan Hitam Berbentuk Corong

Bulan April saat ini adalah musim pancaroba yang bisa menimbulkan hujan badai dan angin puting beliung sewaktu-waktu. Di bulan ini fenomena langit bisa berubah dengan cepat. Panas terik bisa berganti hujan lebat yang disertai dengan angin ribut.

Fenomena langit di atas rumah saya di minggu pertama bulan April ini sering tampak aliran angin yang membawa partikel dari arah barat menuju timur yang terlihat hitam pekat dengan kilatan petir. Sepertinya angin dari arah barat yang membawa aliran partikel itu “bertumbukan” dengan awan gelap di timur. Tampak dari kejauhan bidang awan yang berbentuk corong turun dari ketinggian.

Ini bisa terlihat karena rumah kami menghadap kearah timur, depan rumah kebetulan masih berupa sawah, jadi masih bisa melihat pemandangan langit yang luas. Sering terlihat awan gelap yang pekat di sebelah timur Rancaekek, khususnya di sepanjang Jalan Raya Cileunyi – Cicalengka – Garut yang di kiri kanan jalan tersebut adalah Kawasan industri, perdagangan dan perumahan.

Jika kita jeli akan terlihat awan hitam dan bentuk bidang corong tampak bergerak ke atas lalu menghilang dan langit menjadi terang Kembali. Tahun lalu, di perumahan Rancaekek sebelah timur, tidak jauh dari lokasi kejadian saat ini juga terjadi angin ribut yang sangat dahsyat. Menghancurkan genting, atap,kanopi di salah satu komplek perumahan dengan tingkat kerusakan yang parah. Sejak kami tinggal di Rancaekek, daerah ini memang tergolong daerah dengan hembusan angin yang kencang, meskipun musim kemarau. Selain itu intensitas sambaran petir juga cukup tinggi. Rancaekek adalah daerah aneka bencana, selain banjir yang terus melanda, kini juga lahir bencana bertajuk “Tornado Rancaekek”.

Kejadian puting beliung dahsyat yang mirip dengan “anak” badai Tornado di Amerika Serikat, membuat saya penasaran dan langsung teringat kepada salah satu pakar di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yakni Peneliti Ahli Utama Klimatologi dan Perubahan Iklim, PRIMA-BRIN, Doktor Erma Yulihastin.

Peneliti BRIN Erma Yulihastin (Sumber: dokpri | Foto: Erma Yulihastin)
Peneliti BRIN Erma Yulihastin (Sumber: dokpri | Foto: Erma Yulihastin)

Mekanisme Cuaca Ekstrim

Saya mengikuti akun sosmed Dr.Erma yang sangat inten membahas perubahan cuaca ekstrim.

“Indonesia saat ini diancam oleh dua hal akibat dari cuaca ekstrim, yaitu kekeringan dan banjir karena hujan ekstrim. Keduanya adalah bentuk yang paling sederhana dari yang akan kita hadapi ketika suhu meningkat secara signifikan,” tutur Erma.

Dia menyampaikan perlunya inisiatif untuk membangun bangsa yang siaga terhadap cuaca, membangun kesadaran masyarakat agar siap dan tanggap pada cuaca. Perlunya pemerintah pusat dan daerah untuk membentuk komite cuaca ekstrim, untuk meminimalisir dampak buruk atau korban jiwa yang mungkin terjadi akibat dari cuaca ekstrim ini.

BRIN melakukan kajian perubahan iklim (2021-2050) khusus wilayah Benua Maritim Indonesia (BMI). Kajian yang menggunakan teknik dynamic downscaling resolusi tinggi dari tim periset BRIN tersebut, menunjukkan kekeringan dan hujan ekstrem mengalami peningkatan signifikan.

Menurut Erma riset-riset yang dikaji oleh BRIN adalah untuk mengetahui lebih dalam mekanisme-mekanisme cuaca ekstrim yang ada di Indonesia ketika terjadi perubahan iklim.

Terkait dengan badai dahsyat yang pernah melanda Rancaekek tahun lalu, Erma menyatakan lewat akun sosmednya, bahwa angin puting beliung dahsyat muncul wilayah Rancaekek, Kabupaten Bandung dan sebagian wilayah Sumedang,itu adalah mirip badai Tornado. Merusak sejumlah bangunan, pohon tumbang, truk terguling dan sepeda motor terjatuh. Kejadian itu juga menyebabkan 29 orang mengalami luka-luka.

Erma Yulihastin telah menyalakan alarm kewaspadaan badai dahsyat yang berpotensi melanda pelosok negeri ini. Tahun lalu Erma pernah menjadi perhatian publik karena ia juga menyalakan alarm kewaspadaan terkait potensi bencana hidrometeorologi. Akibatnya gaduh menggemuruh di seantero negeri karena masih banyak pihak belum ngeh dengan kajian Wanita kelahiran Lamongan Jatim itu.

Bagi saya Erma adalah sang pembaca tanda-tanda langit yang hebat, jujur dan lugas. Wanita peneliti itu lahir dari pasangan Misnur Syamin dan Umi Kulsum. Lahir pada tanggal 4 Juli 1979 di Lamongan, Jawa Timur. Bungsu dari dua bersaudara ini menamatkan sekolah hingga SMA di Lamongan. Pelajaran sekolah yang digemari adalah Fisika dan Matematika. Penyuka soto Lamongan ini juga senang menulis karangan dan puisi sejak masih di bangku SD.

Pada tahun 1997 ia melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung (ITB) Jurusan Geofisika dan Meteorologi. Semasa kuliah ia aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan seperti Keluarga Mahasiswa Islam ITB (Gamais ITB), Keluarga Mahasiswa ITB (KM ITB), dan sebagai aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Ketika menjadi mahasiswa, tulisan-tulisannya tersebar di Harian Umum Pikiran Rakyat dan media internal lainnya.

Sebagai periset klimatologi, konsentrasi studi yang Erma lakukan selama ini adalah mengenai perilaku hujan yang memicu extreme event dengan dampak meluas, seperti: banjir di Jakarta/Jabodetabek yang bisa dipicu oleh perilaku hujan ekstrem yang persisten (lebih dari 6 jam).

Menurut Erma, dirinya sering memakai istilah "badai dahsyat" untuk menggantikan istilah ilmiah dua jenis badai yang sedang intensif terjadi di Laut Jawa (badai MCC) dan Samudra Hindia (badai derecho/squall line) dan keduanya bergerak mendekati kawasan Jabodetabek. Langit sering kali menggambarkan suasana hati kita, juga suasana kebangsaan. Tengadahlah ke langit, agar komitmen untuk menjaga angkasa tetap ada.

Ilustrasi langit hitam di atas Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ilustrasi langit hitam di atas Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Enigma Sepanjang Zaman

Selama ini kita sering menjadikan langit sumber tawakal dan ikon imajinasi yang luasnya tiada tanding. Alam memberi sinyal yang tergambar di langit kepada manusia jika akan terjadi hal-hal yang luar biasa. Baik yang menyangkut bencana maupun perubahan cuaca.

Hanya saja, sinyal tersebut belum semuanya dapat diterjemahkan oleh sensor buatan manusia. Meskipun teknologi sensor atau transduser dan teknologi big data pada saat ini sudah cukup canggih serta memiliki tingkat akurasi yang tinggi, namun masih banyak sinyal dari alam yang belum mampu diterjemahkan kedalam bahasa ilmu pengetahuan. Sehingga menjadi enigma atau teka-teki sepanjang zaman. Langit biru yang lestari tentunya menjadi Impian segenap warga kota. Sirnanya langit biru dan buruknya kualitas udara disebabkan beberapa faktor. Pertama, asap dari transportasi. Kedua, asap dan debu industri atau pabrik ikut berkontribusi. Ketiga, penggunaan energi batu bara, dan keempat bisa karena pembakaran hutan, ladang dan semak belukar.

Sebaiknya kita sering menengok langit. Karena langit adalah cermin yang tidak pernah dusta. Disana juga ada tanda-tanda yang seharusnya membuat para pemimpin bangsa dan segenap warga kota mawas diri. Salah satu tanda yang bisa disimak adalah betapa mengerikan bahaya pencemaran udara yang kian mencekam seisi kota . Apalagi beberapa kawasan di negeri ini, seperti misalnya Bandung Raya yang secara geografis seperti kaldera, karena dikelilingi oleh pegunungan kondisi lingkungannya semakin terdegradasi.

Belum lagi eksistensi Perda Pengendalian Pencemaran Udara (PPU) kurang memberikan arti dan krisis implementasi. Pada musim pancaroba berbagai fenomena difusi cahaya di langit akibat pekatnya kabut polusi akan sering muncul. Menjadi sinyal yang memberikan peringatan adanya pencemaran udara yang serius. Kesadaran ilmiah masyarakat mesti ditumbuhkan. Bencana pencemaran udara karena ulah manusia tidak kalah gawatnya dengan bencana gempa bumi. Kita tidak bisa mengingkari bahwa sampah kota yang beratnya mencapai ribuan ton tersebut sudah pindah ke udara akibat proses pembakaran.

Sekarang ini sumber pencemaran udara di beberapa kawasan sulit dikendalikan lagi. Diperlukan pemimpin yang memiliki tangan besi untuk menegakkan Perda PPU tanpa pandang bulu. Pentingnya komitmen  yang kuat dari pemimpin daerah yang menyangkut hak rakyat untuk menghirup udara bersih. Rakyat juga harus selalu menuntut kepedulian Pemkot Bandung terhadap penanggulangan pencemaran udara. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Totok Siswantara
Penulis lepas, pemulia tanaman, lulusan Program Profesi Insinyur

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Apr 2026, 03:31

Doa Manusia, Semesta, dan Tuhan

Di dalam perspektif manusia, bahwa setiap ucapan adalah doa, dan karma terkadang menjadi sesuatu hal yang memabukkan.

Ilustrasi umat Islam sedang berdoa. (Sumber: Ayobandung.com)
Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)