Merawat Empati Kemanusiaan

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Senin 06 Apr 2026, 09:37 WIB
Ilustrasi empati kemanusiaan, tim relawan sedang membantu evakuasi korban banjir (Sumber: Freepik)

Ilustrasi empati kemanusiaan, tim relawan sedang membantu evakuasi korban banjir (Sumber: Freepik)

Malam yang dingin. Hujan turun tanpa jeda, sejak sore membasahi langit Cibiru, Bandung. Sisa-sisa genangan air masih tampak jelas di jalan-jalan sekitar Manisi, Babakan Dangdeur.

Sebelum tidur, masih sempat membiasakan membaca. Walau satu halaman. Saat lembaran koran Pikiran Rakyat terbuka di tangan, sambil membuat mencatat kecil, sederhana agar ide, gagasan tidak hilang lenyap ditelan suara rintik-rintik.

Tiba-tiba di tengah keheningan itu, suara bocil memecah suasana.

“Bah, kalau Jumat Agung, Paskah itu apa?”

Pertanyaan itu datang dari Aa Akil, anak kedua, yang kini duduk di bangku kelas lima SD. Memang usianya baru sebelas tahun, tapi rasa ingin tahunya sering melampaui batas-batas umur.

Alih-alih tak langsung menjawab, malah refleks bertanya balik, “Aa terang ti mana eta?”

Sambil tersenyum lebar ketika menjawab dengan polosnya, “Dari buku, Bah. Terus pernah lihat tulisan Babah di koran… yang ada di tumpukan kliping itu.”

Ya memang buku, koran, tumpukan kliping (buletin, majalah, koran) tempo dulu terkadang tergeletak di perpustakaan alakadarnya.

Dulu, ketika koran, buku, majalah berada di puncak kejayaannya. Menulis adalah cara merawat gagasan. Bukan sekadar menuangkan kata-kata, gagasan, ide, melainkan menjaga kewarasan di tengah riuhnya dunia.

Tentunya, dengan keyakinan yang sederhana. Pikiran yang tidak ditulis, perlahan akan hilang dan gagasan yang tidak dirawat, (diikat) akan dilupakan.

Kristus bangkit membarui kemanusiaan kita (Sumber: www.pgi.or.id dan instagram @pgiofficial.or.id | Foto: Istimewa)
Kristus bangkit membarui kemanusiaan kita (Sumber: www.pgi.or.id dan instagram @pgiofficial.or.id | Foto: Istimewa)

Bukan Sekadar Merayakan Tri Hari Suci

Umat Kristiani menyakini kehadiran kematian Isa Almasih tidak hanya merayakan Tri Hari Suci; Kamis Suci (perjamuan terakhir Yesus), Jumat Agung (kematian Yesus), dan Sabtu Suci (saat Yesus dikubur) tetapi merupakan tonggak awal lahirnya peradaban Kristiani berbasis keimanan yang kukuh (penyayang, saling kasih, rela berkorban, dan mendidik).

Kerelaan Sang Mesias untuk disiksa, disakiti, diolok, dihina, ditelanjangi, dibuat tak berdaya, hingga akhirnya di salib pun menjadi pertanda peradaban Juru Selamat demi menegakkan keadilan dan kemerdekaan sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Ingat, pengorbanan Yesus di tiang salib yang dikhianati umatnya (Yudas) harus menjadi tonggak keteladanan yang mesti diserap dalam kesadaran (kehidupan) umat Kristiani sekaligus umat beragama di tengah konflik, peperangan dan pudarnya rasa bela negara.

Proses kematian Yesus ini erat kaitannya dengan penebusan, penghapus dan pengampunan dosa turunan (Imamat 4:29, 8:14 dan Matius 26:28); menegakan perdamaian dunia yang kacau (Imamat 1:4).

Kendati kesengsaraan dan kematian Yesus telah digariskan, ditentukan oleh Tuhan untuk menderita (Yesaya, 53) dan kita wajib mengimaninya supaya tidak binasa serta memperoleh kehidupan yang kekal (Roma 10:9 dan Yohanes 3:16). Ramalan sengsara (Markus 8:31, 9:31 dan 10:33-34) harus dimaknai sebagai refleksi gereja purba.

Pasalnya, keyakinan mengenai kematian yang akan menimpa Isa dengan pasti datang. Memang sulit di damaikan dengan fakta sampai akhir Yesus tetap mewartakan kedatangan kerajaan Allah di muka bumi dan menuntut bertobat. Kerajaan Allah ini tidak diwartakan sebagai hukuman dan pembinasaan, melainkan penawaran rahmat. (Tom Jacobs SJ, 1981:239).

Aksi Solidaritas bagi Kemanusiaan (Sumber: www.pgi.or.id | Foto: Istimewa)
Aksi Solidaritas bagi Kemanusiaan (Sumber: www.pgi.or.id | Foto: Istimewa)

Jalan Pembaruan Berpikir, Bersikap, dan Bertindak

Saat ini kita memasuki Paskah 2026, seperti yang ditulis atas nama Majelis Pekerja Harian PGI, Pdt. Jacklevyn F. Manuputty (Ketua Umum), Pdt. Darwin Darmawan (Sekretaris Umum).

Tema Paskah PGI bertajuk “Kristus bangkit membarui kemanusiaan kita” berdasarkan 2 Korintus 5:17: “Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang“.

Pesan ini mengajak kita untuk merayakan dengan penuh syukur dan sukacita prakarsa dan karya Ilahi yang digerakkan cinta kasih untuk menghadirkan jalan baru menerobos kebuntuan dan kekacauan yang diakibatkan ulah manusia.

Di dalam Kristus yang adalah gambar-Nya (Kol 1:15), Allah telah hadir sepenuhnya di dalam sejarah untuk memulihkan ciptaan-Nya.

Tak terkecuali, manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya diciptakan “ulang“ menjadi manusia baru. Ketika yang lama berlalu dan yang baru tiba, tercipta realitas kehidupan baru yang diarahkan kembali pada tujuan Allah.

Dalam persekutuan dengan Kristus (Yunani: en Christo), terjadi transformasi manusia seutuhnya, mulai dari kedalaman eksistensinya yang paling personal hingga perubahan orientasi hidup dan perilakunya yang berdampak bagi keluarga, masyarakat dan lingkungan hidup.

Paskah adalah peristiwa kemenangan iman saat Kristus yang bangkit memperdamaikan manusia dengan diri-Nya. Ia yang adalah Allah telah mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa sebagai seorang hamba, menjadi seperti manusia, yang merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib (bnd. Fil. 2:7-8).

Ketika bangkit, melunasi semua utang dosa yang melekat dalam diri manusia dan menjadikan manusia itu sungguh-sungguh ciptaan baru. Kebangkitan Kristus membuka jalan bagi pembaruan cara berpikir, bersikap, dan bertindak.

Kemanusiaan yang dibarui itu berlandaskan kasih, keadilan, perdamaian, solidaritas, dan penghormatan terhadap martabat setiap orang tanpa kecuali.

Kristus yang bangkit memanggil kita keluar dari pola hidup lama yang menyuburkan sikap egois, kebencian, ketidakpedulian, ketidakadilan, dan kekerasan, menuju kepada kehidupan baru yang memancarkan kasih dan memanusiakan sesama serta menghargai seluruh ciptaan.

Proses ini dimulai dari komunitas terkecil, keluarga sebagai ecclesia domestica (gereja rumah tangga). Di dalam keluargalah iman dipelihara, kasih dipraktikkan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang dibarui ditanamkan sejak dini.

Di dalam ecclesia domestica, kebangkitan Kristus menjadi nyata melalui doa bersama, pendidikan iman, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama serta ciptaan.

Pada saat yang sama, kebangkitan Kristus merupakan tanda penyembuhan terhadap luka-luka kemanusiaan sekaligus terhadap jeritan penderitaan seluruh ciptaan. Luka kemanusiaan itu tampak dalam konflik berkepanjangan, kekerasan struktural, kemiskinan, diskriminasi, dan ketidakadilan sosial.

Semua luka ini terhubung erat dengan krisis ekologis yang semakin mengancam keberlangsungan hidup bersama. Kerusakan lingkungan seperti deforestasi masif, pencemaran air dan tanah, krisis iklim, bencana ekologis, serta hilangnya keanekaragaman hayati, bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri melainkan akibat dari keserakahan manusia, gaya hidup konsumtif dan hedonis, serta kebijakan pembangunan yang mengabaikan keadilan ekologis.

Visi kebangkitan Kristus menuntut pembaruan relasi manusia dengan alam dan tanggung jawab etis untuk merawat bumi sebagai rumah bersama. Pembaruan kemanusiaan tidak dapat dipisahkan dari pertobatan ekologis. Perubahan cara pandang, gaya hidup, dan praktik sosial-ekonomi yang lebih adil, lestari, dan berpihak pada kehidupan.

Dalam terang kebangkitan-Nya, kita dengan tegas mengecam setiap pelaku perusakan lingkungan, baik individu, korporasi, maupun kebijakan negara yang abai terhadap keadilan ekologis. Perbuatan merusak bumi adalah dosa yang menolak kasih Allah dan mengkhianati panggilan manusia sebagai penatalayan ciptaan.

PGI menyampaikan keprihatinan mendalam atas eskalasi kekerasan di Timur Tengah dan Asia Selatan. Kekerasan militer yang melibatkan berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Israel, Iran, Pakistan, dan Afghanistan, telah menimbulkan penderitaan bagi warga sipil dan mengancam perdamaian dunia.

Bersama-sama, kita menegaskan bahwa gereja berpihak kepada mereka yang paling rentan, warga sipil, keluarga yang tercerai-berai, serta anak-anak yang hidup dalamketakutan. Karena itu, kita menyerukan penghentian semua aksi militer, mendorong dialog yang adil, serta mengajak umat untuk mendoakan perdamaian, menunjukkan solidaritas bagi para korban, dan menghindari ujaran kebencian.

Paskah adalah awal kehidupan yang baru. kehidupan yang dimenangkan oleh kasih dan harapan. Kebangkitan Kristus memanggil orang percaya untuk membangun kehidupan dengan hati yang dibarui, iman yang diteguhkan, serta kasih yang semakin nyata dalam tindakan.

Dengan demikian, hidup kita menjadi kesaksian tentang harapan yang tidak pernah padam. Harapan akan kemanusiaan yang dipulihkan, masyarakat yang adil dan damai, serta ciptaan yang dirawat dan dihargai bagi kemuliaan Allah. (www.pgi.or.id).

Mari terus bergandengan tangan, merawat kerukunan, dan menebar kasih di tengah keberagaman Indonesia (Sumber: Instagram @kemenag_ri | Foto: Istimewa)
Mari terus bergandengan tangan, merawat kerukunan, dan menebar kasih di tengah keberagaman Indonesia (Sumber: Instagram @kemenag_ri | Foto: Istimewa)

Pererat Persaudaraan, Jaga Harmoni

Saat membaca pesan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Paskah 2026 kepada umat Kristiani di Indonesia.

Dengan terus mengajak umat untuk mendoakan kedamaian, ketenteraman, dan keharmonisan bagi bangsa Indonesia.

Pasalnya, Paskah tidak hanya menjadi momentum perayaan keagamaan, tetapi penguatan nilai-nilai spiritual yang dapat diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Mari jadikan semangat Paskah sebagai landasan untuk mempererat persaudaraan dan menjaga harmoni sosial agar masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia tetap hidup dalam suasana damai, tenteram, sejuk, dan penuh harmoni.

Tentunya, perayaan Paskah membawa keberkahan bagi seluruh umat dan bangsa. Semua pihak untuk terus merawat kebersamaan dalam keberagaman demi Indonesia yang rukun dan damai.

Umat Kristiani telah menjalani masa Prapaskah selama 40 hari, yang dilanjutkan dengan peringatan Minggu Palma serta Trihari Suci, yakni Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Vigili, hingga tiba Perayaan Paskah.

Seluruh rangkaian ibadah ini semakin meneguhkan umat Kristiani dalam sukacita iman, pengharapan, dan kasih Tuhan. (www.kemenag.go.id)

Setiap praktik dan upacara keagamaannya tidak boleh hadir sekadar sebagai legitimasi kekuasaan, sebab hal itu akan menghilangkan daya kritisnya.

Sejatinya, agama harus tampil sebagai kekuatan kritik sosial, terutama ketika nilai-nilai kemanusiaan tidak lagi menjadi bagian utama dalam kehidupan beragama.

Dengan demikian, agama mesti hadir untuk membela kemanusiaan dalam realitas kehidupan, tanpa memandang perbedaan agama, suku, etnis, golongan, kelompok, maupun jenis kelamin.

Sudah semestinya agama berdiri di pihak yang tertindas, karena di sanalah fungsi kritik agama harus terus dijaga, digelorakan, dan ditegakkan. Inilah saatnya menegakkan keadilan, kebenaran, dan kemerdekaan, sejalan dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

Ayo Netizen 05 Apr 2026, 12:13

Dakwah Urban

Dakwah Urban

News Update

Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)
Beranda 22 Mei 2026, 15:02

Hutan di Papua Selatan yang Dincar untuk PSN Seluas 3,5 Juta Lapangan Sepakbola Standar FIFA

Film dokumenter Pesta Babi menyoroti 2,5 juta hektare hutan Papua yang masuk proyek pangan dan energi, setara 3,5 juta lapangan bola.

Tayangan di film Pesta Babi. (Sumber: Jubi TV)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 13:08

Urban Legend Rel Kereta Api: Bukan Setannya yang Budeg tapi Manusianya yang Bebal

Kadang manusia lebih setan dari setan itu sendiri. Satu tindakan impulsif atas pilihan pribadi sering kali justru mengkambinghitamkan mahluk di dunia lain.

Kereta Rel Listrik (KRL). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: TyewongX)
Wisata & Kuliner 22 Mei 2026, 11:14

Jelajah Pesona Green Canyon Karawang, Sungai Jernih di Tengah Tebing Lumut Hijau

Green Canyon Karawang menawarkan sungai jernih, tebing lumut hijau, canyoning, dan suasana alam sejuk di kawasan Pangkalan.

Green Canyon Karawang. (Sumber: KCIC)
Komunitas 22 Mei 2026, 08:47

Cara Anti Leumpunk Club Susur Sudut Tersembunyi Kota Bandung Pakai GPS Sungut dan Modal Tawa

Menatap Bandung dari gang sempit bersama Anti Leumpunk Club. Modal tanya warga dan saling ledek, jalan kaki 8 km jadi ruang sehat yang penuh tawa.

Ayu dan Meiyama bersama rekannya di Anti Leumpunk Club di Lapangan Saparua, Kamis 21 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 08:35

Buku, Keluarga, dan Literasi

Buku menjadi jendela dunia yang pertama kali dikenalkan dari rumah, sebelum anak mengenal ruang belajar yang lebih luas, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.

Seseorang sedang asyik membaca (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Beranda 21 Mei 2026, 21:21

Ekosistem Digital Kian Bising, Media Lokal Didorong Kembali ke Publik

Media lokal didorong kembali mengutamakan kepentingan publik di tengah ancaman AI, hilangnya trafik klik, dan maraknya buzzer di ruang digital.

Pembukaan Jateng Media Summit 2026, Kamis (21/5/2026). (Sumber: Suara.com | Foto: Budi Arista Romadhoni)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 20:34

Reformasi Dibungkam, Otoritarianisme Gaya Baru Bangkit Kembali

Pembatalan sepihak kegiatan peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta bukan lagi sekadar persoalan administrasi hotel.

Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)
Beranda 21 Mei 2026, 19:31

Papua Bukan Tanah Kosong, Tapi Terus Dianggap Tanah Tanpa Suara

Film Pesta Babi memperlihatkan Papua dari sudut yang jarang terlihat: ketakutan, kehilangan tanah, dan pembangunan yang meninggalkan luka.

Hofni Sibetai mahasiswa asal Papua menyampaikan pandangannya seusai nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 19:03

Malam Jum’at Bukan Sekadar Baca Yasin: Menyelami Kedalaman Ritual Spiritual Warga NU

Ritual kebanyakan warga Nu membaca yasin pada malam jumat sudah menjadi sebuat tradisi

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 17:17

Cintapada, Padasuka, Padaasih, Toponim yang Merekam Kekayaan Alam dan Kekhawatiran

Kata 'pada' terdapat dalam berbagai kata dan sering terkait dengan makna alam, tempat, atau daerah.

Kampung Cipadakati di Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Peta: Google maps)
Wisata & Kuliner 21 Mei 2026, 16:00

Jelajah Kuliner Roti Bandung, dari Bakery Viral Kekinian hingga Toko Jadul Legendaris

Bandung punya banyak bakery populer, mulai dari artisan sourdough modern hingga toko roti jadul dengan resep yang hampir tidak berubah.

Ilustrasi roti hits di Bandung.
Ayo Biz 21 Mei 2026, 15:38

Ketika QRIS Jadi ‘Game Changer’ Ekosistem Pembayaran Nasional, UMKM Terbantu Signifikan

QRIS adalah game changer dalam ekosistem pembayaran nasional.

Pegawai Cikopi Mang Eko saat melayani konsumen di Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 21 Mei 2026, 14:48

Dari Tragedi Sampah ke Konservasi, Wajah Baru Eks TPA Leuwigajah

Dua dekade setelah longsor maut 2005, eks TPA Leuwigajah kini dijadikan area konservasi di Cimahi.

Lahan eks TPA Leuwigajah. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 12:20

Ketika Reformasi Mulai Bergulir

Di tengah tekanan Orde Baru yang masih terasa, pers mulai tampil lebih berani.

Sejumlah surat kabar menyoroti gelombang demonstrasi pada era Reformasi Mei 1998. (Sumber: Surat kabar Kedaulatan Rakyat dan Berita Buana | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 09:21

Siswa Tahun 1980-an adalah Generasi Tangguh

Ketangguhan para siswa tahun 1980-an adalah jawaban dalam menangani bebagai permasalahan generasinya.

Ilustrasi siswa. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 08:32

Bandung Review, Membangun Kesadaran Kolektif

Hegemoni sosial seharusnya menjadi semangat untuk membangun kesadaran kolektif, dengan mengadopsi nilai-nilai lokal seperti someah, silih asah, silih asih dan silih asuh untuk membangun kota inklusif

Keramaian kawasan Cikapundung Bandung yang menjadi salah satu pusat aktivitas kota. (Foto: Agus Wahyudi)
Wisata & Kuliner 21 Mei 2026, 08:00

Panduan Wisata ke Kampung Turis Karawang, Oase Pedesaan di Balik Kota Industri

Kampung Turis Karawang menawarkan wisata alam, sawah terasering, waterpark, kuliner Sunda, hingga villa dan camping di kawasan Tegalwaru.

Kampung Turis Karawang.