Merawat Empati Kemanusiaan

7 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Ilustrasi empati kemanusiaan, tim relawan sedang membantu evakuasi korban banjir (Sumber: Freepik)
Ilustrasi empati kemanusiaan, tim relawan sedang membantu evakuasi korban banjir (Sumber: Freepik)

Malam yang dingin. Hujan turun tanpa jeda, sejak sore membasahi langit Cibiru, Bandung. Sisa-sisa genangan air masih tampak jelas di jalan-jalan sekitar Manisi, Babakan Dangdeur.

Sebelum tidur, masih sempat membiasakan membaca. Walau satu halaman. Saat lembaran koran Pikiran Rakyat terbuka di tangan, sambil membuat mencatat kecil, sederhana agar ide, gagasan tidak hilang lenyap ditelan suara rintik-rintik.

Tiba-tiba di tengah keheningan itu, suara bocil memecah suasana.

“Bah, kalau Jumat Agung, Paskah itu apa?”

Pertanyaan itu datang dari Aa Akil, anak kedua, yang kini duduk di bangku kelas lima SD. Memang usianya baru sebelas tahun, tapi rasa ingin tahunya sering melampaui batas-batas umur.

Alih-alih tak langsung menjawab, malah refleks bertanya balik, “Aa terang ti mana eta?”

Sambil tersenyum lebar ketika menjawab dengan polosnya, “Dari buku, Bah. Terus pernah lihat tulisan Babah di koran… yang ada di tumpukan kliping itu.”

Ya memang buku, koran, tumpukan kliping (buletin, majalah, koran) tempo dulu terkadang tergeletak di perpustakaan alakadarnya.

Dulu, ketika koran, buku, majalah berada di puncak kejayaannya. Menulis adalah cara merawat gagasan. Bukan sekadar menuangkan kata-kata, gagasan, ide, melainkan menjaga kewarasan di tengah riuhnya dunia.

Tentunya, dengan keyakinan yang sederhana. Pikiran yang tidak ditulis, perlahan akan hilang dan gagasan yang tidak dirawat, (diikat) akan dilupakan.

Kristus bangkit membarui kemanusiaan kita (Sumber: www.pgi.or.id dan instagram @pgiofficial.or.id | Foto: Istimewa)
Kristus bangkit membarui kemanusiaan kita (Sumber: www.pgi.or.id dan instagram @pgiofficial.or.id | Foto: Istimewa)

Bukan Sekadar Merayakan Tri Hari Suci

Umat Kristiani menyakini kehadiran kematian Isa Almasih tidak hanya merayakan Tri Hari Suci; Kamis Suci (perjamuan terakhir Yesus), Jumat Agung (kematian Yesus), dan Sabtu Suci (saat Yesus dikubur) tetapi merupakan tonggak awal lahirnya peradaban Kristiani berbasis keimanan yang kukuh (penyayang, saling kasih, rela berkorban, dan mendidik).

Kerelaan Sang Mesias untuk disiksa, disakiti, diolok, dihina, ditelanjangi, dibuat tak berdaya, hingga akhirnya di salib pun menjadi pertanda peradaban Juru Selamat demi menegakkan keadilan dan kemerdekaan sesuai dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.

Ingat, pengorbanan Yesus di tiang salib yang dikhianati umatnya (Yudas) harus menjadi tonggak keteladanan yang mesti diserap dalam kesadaran (kehidupan) umat Kristiani sekaligus umat beragama di tengah konflik, peperangan dan pudarnya rasa bela negara.

Proses kematian Yesus ini erat kaitannya dengan penebusan, penghapus dan pengampunan dosa turunan (Imamat 4:29, 8:14 dan Matius 26:28); menegakan perdamaian dunia yang kacau (Imamat 1:4).

Kendati kesengsaraan dan kematian Yesus telah digariskan, ditentukan oleh Tuhan untuk menderita (Yesaya, 53) dan kita wajib mengimaninya supaya tidak binasa serta memperoleh kehidupan yang kekal (Roma 10:9 dan Yohanes 3:16). Ramalan sengsara (Markus 8:31, 9:31 dan 10:33-34) harus dimaknai sebagai refleksi gereja purba.

Pasalnya, keyakinan mengenai kematian yang akan menimpa Isa dengan pasti datang. Memang sulit di damaikan dengan fakta sampai akhir Yesus tetap mewartakan kedatangan kerajaan Allah di muka bumi dan menuntut bertobat. Kerajaan Allah ini tidak diwartakan sebagai hukuman dan pembinasaan, melainkan penawaran rahmat. (Tom Jacobs SJ, 1981:239).

Aksi Solidaritas bagi Kemanusiaan (Sumber: www.pgi.or.id | Foto: Istimewa)
Aksi Solidaritas bagi Kemanusiaan (Sumber: www.pgi.or.id | Foto: Istimewa)

Jalan Pembaruan Berpikir, Bersikap, dan Bertindak

Saat ini kita memasuki Paskah 2026, seperti yang ditulis atas nama Majelis Pekerja Harian PGI, Pdt. Jacklevyn F. Manuputty (Ketua Umum), Pdt. Darwin Darmawan (Sekretaris Umum).

Tema Paskah PGI bertajuk “Kristus bangkit membarui kemanusiaan kita” berdasarkan 2 Korintus 5:17: “Jadi, siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: Yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang“.

Pesan ini mengajak kita untuk merayakan dengan penuh syukur dan sukacita prakarsa dan karya Ilahi yang digerakkan cinta kasih untuk menghadirkan jalan baru menerobos kebuntuan dan kekacauan yang diakibatkan ulah manusia.

Di dalam Kristus yang adalah gambar-Nya (Kol 1:15), Allah telah hadir sepenuhnya di dalam sejarah untuk memulihkan ciptaan-Nya.

Tak terkecuali, manusia yang diciptakan menurut gambar-Nya diciptakan “ulang“ menjadi manusia baru. Ketika yang lama berlalu dan yang baru tiba, tercipta realitas kehidupan baru yang diarahkan kembali pada tujuan Allah.

Dalam persekutuan dengan Kristus (Yunani: en Christo), terjadi transformasi manusia seutuhnya, mulai dari kedalaman eksistensinya yang paling personal hingga perubahan orientasi hidup dan perilakunya yang berdampak bagi keluarga, masyarakat dan lingkungan hidup.

Paskah adalah peristiwa kemenangan iman saat Kristus yang bangkit memperdamaikan manusia dengan diri-Nya. Ia yang adalah Allah telah mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa sebagai seorang hamba, menjadi seperti manusia, yang merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib (bnd. Fil. 2:7-8).

Ketika bangkit, melunasi semua utang dosa yang melekat dalam diri manusia dan menjadikan manusia itu sungguh-sungguh ciptaan baru. Kebangkitan Kristus membuka jalan bagi pembaruan cara berpikir, bersikap, dan bertindak.

Kemanusiaan yang dibarui itu berlandaskan kasih, keadilan, perdamaian, solidaritas, dan penghormatan terhadap martabat setiap orang tanpa kecuali.

Kristus yang bangkit memanggil kita keluar dari pola hidup lama yang menyuburkan sikap egois, kebencian, ketidakpedulian, ketidakadilan, dan kekerasan, menuju kepada kehidupan baru yang memancarkan kasih dan memanusiakan sesama serta menghargai seluruh ciptaan.

Proses ini dimulai dari komunitas terkecil, keluarga sebagai ecclesia domestica (gereja rumah tangga). Di dalam keluargalah iman dipelihara, kasih dipraktikkan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang dibarui ditanamkan sejak dini.

Di dalam ecclesia domestica, kebangkitan Kristus menjadi nyata melalui doa bersama, pendidikan iman, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama serta ciptaan.

Pada saat yang sama, kebangkitan Kristus merupakan tanda penyembuhan terhadap luka-luka kemanusiaan sekaligus terhadap jeritan penderitaan seluruh ciptaan. Luka kemanusiaan itu tampak dalam konflik berkepanjangan, kekerasan struktural, kemiskinan, diskriminasi, dan ketidakadilan sosial.

Semua luka ini terhubung erat dengan krisis ekologis yang semakin mengancam keberlangsungan hidup bersama. Kerusakan lingkungan seperti deforestasi masif, pencemaran air dan tanah, krisis iklim, bencana ekologis, serta hilangnya keanekaragaman hayati, bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri melainkan akibat dari keserakahan manusia, gaya hidup konsumtif dan hedonis, serta kebijakan pembangunan yang mengabaikan keadilan ekologis.

Visi kebangkitan Kristus menuntut pembaruan relasi manusia dengan alam dan tanggung jawab etis untuk merawat bumi sebagai rumah bersama. Pembaruan kemanusiaan tidak dapat dipisahkan dari pertobatan ekologis. Perubahan cara pandang, gaya hidup, dan praktik sosial-ekonomi yang lebih adil, lestari, dan berpihak pada kehidupan.

Dalam terang kebangkitan-Nya, kita dengan tegas mengecam setiap pelaku perusakan lingkungan, baik individu, korporasi, maupun kebijakan negara yang abai terhadap keadilan ekologis. Perbuatan merusak bumi adalah dosa yang menolak kasih Allah dan mengkhianati panggilan manusia sebagai penatalayan ciptaan.

PGI menyampaikan keprihatinan mendalam atas eskalasi kekerasan di Timur Tengah dan Asia Selatan. Kekerasan militer yang melibatkan berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Israel, Iran, Pakistan, dan Afghanistan, telah menimbulkan penderitaan bagi warga sipil dan mengancam perdamaian dunia.

Bersama-sama, kita menegaskan bahwa gereja berpihak kepada mereka yang paling rentan, warga sipil, keluarga yang tercerai-berai, serta anak-anak yang hidup dalamketakutan. Karena itu, kita menyerukan penghentian semua aksi militer, mendorong dialog yang adil, serta mengajak umat untuk mendoakan perdamaian, menunjukkan solidaritas bagi para korban, dan menghindari ujaran kebencian.

Paskah adalah awal kehidupan yang baru. kehidupan yang dimenangkan oleh kasih dan harapan. Kebangkitan Kristus memanggil orang percaya untuk membangun kehidupan dengan hati yang dibarui, iman yang diteguhkan, serta kasih yang semakin nyata dalam tindakan.

Dengan demikian, hidup kita menjadi kesaksian tentang harapan yang tidak pernah padam. Harapan akan kemanusiaan yang dipulihkan, masyarakat yang adil dan damai, serta ciptaan yang dirawat dan dihargai bagi kemuliaan Allah. (www.pgi.or.id).

Mari terus bergandengan tangan, merawat kerukunan, dan menebar kasih di tengah keberagaman Indonesia (Sumber: Instagram @kemenag_ri | Foto: Istimewa)
Mari terus bergandengan tangan, merawat kerukunan, dan menebar kasih di tengah keberagaman Indonesia (Sumber: Instagram @kemenag_ri | Foto: Istimewa)

Pererat Persaudaraan, Jaga Harmoni

Saat membaca pesan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyampaikan ucapan Selamat Hari Raya Paskah 2026 kepada umat Kristiani di Indonesia.

Dengan terus mengajak umat untuk mendoakan kedamaian, ketenteraman, dan keharmonisan bagi bangsa Indonesia.

Pasalnya, Paskah tidak hanya menjadi momentum perayaan keagamaan, tetapi penguatan nilai-nilai spiritual yang dapat diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Mari jadikan semangat Paskah sebagai landasan untuk mempererat persaudaraan dan menjaga harmoni sosial agar masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia tetap hidup dalam suasana damai, tenteram, sejuk, dan penuh harmoni.

Tentunya, perayaan Paskah membawa keberkahan bagi seluruh umat dan bangsa. Semua pihak untuk terus merawat kebersamaan dalam keberagaman demi Indonesia yang rukun dan damai.

Umat Kristiani telah menjalani masa Prapaskah selama 40 hari, yang dilanjutkan dengan peringatan Minggu Palma serta Trihari Suci, yakni Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Vigili, hingga tiba Perayaan Paskah.

Seluruh rangkaian ibadah ini semakin meneguhkan umat Kristiani dalam sukacita iman, pengharapan, dan kasih Tuhan. (www.kemenag.go.id)

Setiap praktik dan upacara keagamaannya tidak boleh hadir sekadar sebagai legitimasi kekuasaan, sebab hal itu akan menghilangkan daya kritisnya.

Sejatinya, agama harus tampil sebagai kekuatan kritik sosial, terutama ketika nilai-nilai kemanusiaan tidak lagi menjadi bagian utama dalam kehidupan beragama.

Dengan demikian, agama mesti hadir untuk membela kemanusiaan dalam realitas kehidupan, tanpa memandang perbedaan agama, suku, etnis, golongan, kelompok, maupun jenis kelamin.

Sudah semestinya agama berdiri di pihak yang tertindas, karena di sanalah fungsi kritik agama harus terus dijaga, digelorakan, dan ditegakkan. Inilah saatnya menegakkan keadilan, kebenaran, dan kemerdekaan, sejalan dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)