Ojol dan Negara: Batas Kabur antara Pekerja dan Pengawas Kota

4 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Pengemudi ojol sedang berkumpul di Balai Kota Bandung, beberapa waktu lalu. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar Purta)
Pengemudi ojol sedang berkumpul di Balai Kota Bandung, beberapa waktu lalu. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar Purta)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Ojol, dengan mobilitas tinggi dan jam kerja yang panjang, berada dalam posisi yang hampir ideal sebagai pengamat lapangan real-time.

  • Dalam situasi tertentu, warga bukan hanya “mitra”, tetapi juga “sensor hidup” yang menanggung eksposur risiko lebih besar.

  • Di beberapa negara Barat, model keamanan kota yang melibatkan jejaring warga pernah diuji dalam bentuk neighborhood watch atau community policing.

DALAM beberapa tahun terakhir, model keamanan publik sejumlah kota di Indonesia mulai bergerak ke arah yang lebih cair. Model keamanan itu tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada institusi formal, tetapi melibatkan jejaring warga yang aktif di ruang sehari-hari. 

Program Polres Cimahi yang menggandeng pengemudi ojek online (ojol) sebagai “mata dan telinga” di jalanan Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat (KBB) adalah salah satu contoh paling konkret dari model ini.

Model tersebut memiliki logika sederhana, yakni semakin banyak orang yang bergerak di ruang kota, semakin besar pula peluang deteksi dini terhadap gangguan keamanan. 

Ojol, dengan mobilitas tinggi dan jam kerja yang panjang, berada dalam posisi yang hampir ideal sebagai pengamat lapangan real-time.

Namun demikian, di balik kesederhanaan logika tersebut, terdapat pertanyaan yang lebih dalam, yaitu apakah model ini merupakan inovasi efisiensi sistem keamanan, atau bentuk baru distribusi beban risiko dari negara kepada warga pekerja informal?

Berbagai aktor sosial

Dalam kajian soal keamanan modern, ada konsep bernama distributed security. Ini merujuk pada keamanan yang tidak lagi tersentralisasi pada aparat, melainkan tersebar ke berbagai aktor sosial. Model ini sering dipuji karena lebih cepat, adaptif, dan murah secara fiskal.

Tetapi, konsep yang sama juga mencatat risiko penting. Ketika keamanan menjadi tersebar, maka batas antara pelindung dan yang dilindungi menjadi kabur. Dalam situasi tertentu, warga bukan hanya “mitra”, tetapi juga “sensor hidup” yang menanggung eksposur risiko lebih besar.

Ojol berada di posisi yang unik dalam model keamanan seperti itu. Pasalnya, mereka bukan aparat. Juga bukan relawan keamanan. Mereka adalah pekerja platform ekonomi digital yang pendapatannya bergantung pada order, dan bukan pada fungsi sosial keamanan.

Nah, ketika mereka diminta melaporkan kejadian kriminal atau gangguan kamtibmas, secara praktis mereka sedang memasuki ruang kerja tambahan yang tidak sepenuhnya dihitung dalam struktur kerja mereka sendiri.

Dari sanalah muncul isu klasik dalam ekonomi tenaga kerja informal berupa eksternalisasi fungsi. Fungsi yang semestinya menjadi tanggung jawab institusi formal, secara bertahap melekat pada pekerja yang tidak memiliki perlindungan struktural setara.

Ditilik dari aspek kebijakan publik, hal ini bisa dibaca sebagai bentuk efisiensi sistem. Artinya, negara tidak perlu menambah personel dalam jumlah besar untuk memperluas jangkauan pengawasan, karena jaringan warga sudah menyediakan sensor sosial yang tersebar.

Akan tetapi, efisiensi fiskal tidak selalu sama dan sebagun dengan efisiensi sosial. Dalam banyak literatur terkait tata kelola pemerintahan (governance), pengurangan biaya institusi sering diimbangi dengan peningkatan risiko pada aktor di lapangan.

Sebagai contoh, seorang pengemudi ojol yang bekerja pada jam-jam rawan, dan menjadi mitra polisi dengan berperan sebagai  “mata dan telinga” di jalanan, dapat menghadapi situasi yang tidak terduga di jalan, tanpa perlindungan fisik maupun kepastian hukum yang memadai ketika terjadi eskalasi konflik di lapangan.

Salah satu driver ojol menunggu orderan di pinggir jalan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Salah satu driver ojol menunggu orderan di pinggir jalan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)

Jika kita melihatnya dari perspektif sosiologi kota, hal seperti itu menciptakan apa yang bisa disebut sebagai urban exposure layer, yakni lapisan masyarakat yang selalu berada di ruang publik, dan karena itu menjadi detektor paling awal dari ketegangan sosial.

Akan tetapi, menjadi detektor awal bukan tanpa konsekuensi. Dalam konteks kejahatan jalanan, intervensi dini bisa berarti keterlibatan langsung atau bahkan konfrontasi tidak disengaja.

Dan itu bisa memunculkan ketegangan antara fungsi informasi dan fungsi keamanan. Menginformasikan kejadian adalah satu hal, tetapi berada terlalu dekat dengan kejadian adalah hal lain yang bisa saja membawa risiko berbeda.

Pelaporan cepat

Dari sisi teknologi dan sistem komunikasi, penggunaan Call Center 110 dan pelaporan cepat mencerminkan transformasi menuju real-time policing system. Negara berusaha merespons kejadian hampir seketika, mengikuti ritme kota digital yang selalu aktif.

Kendati begitu, sistem real-time juga memiliki keterbatasan. Ia sangat bergantung pada kualitas input manusia di lapangan. Dalam kasus ini, input tersebut berasal dari pekerja yang tidak didesain sebagai bagian dari struktur keamanan formal.

Di beberapa negara Barat, model keamanan kota yang melibatkan jejaring warga pernah diuji dalam bentuk neighborhood watch atau community policing. Hasilnya beragam. Model ini efektif dalam memperluas jangkauan, tetapi rentan terhadap bias persepsi dan ketimpangan partisipasi.

Indonesia tentu memiliki karakter berbeda karena keberadaan ekonomi platform seperti ojol yang sangat masif. Ini menjadikan model keamanan yang melibatkan jejaring warga bukan sekadar program komunitas, tetapi bagian dari infrastruktur ekonomi harian.

Lantas, apakah kita saat ini sedang membangun sistem keamanan berbasis partisipasi warga, atau secara perlahan membentuk lapisan pekerja baru yang secara tidak resmi menjadi bagian dari sistem keamanan tanpa status formal?

Kebijakan model keamanan seperti ini bisa menjadi inovasi penting dalam keamanan perkotaan yang lebih responsif, tetapi juga bisa bergeser menjadi bentuk delegasi risiko jika tidak diimbangi dengan perlindungan, insentif, dan batas kerja yang jelas. 

Oleh sebab itu, yang diuji lewat model tersebut bukan hanya efektivitas sistem keamanan, tetapi juga bagaimana negara mendefinisikan ulang hubungan antara warga, pekerjaan, dan risikonya di ruang publik. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)