Mengenang Majalah Hai serasa membuka kembali lembaran romantisme masa remaja pada era 1980-an hingga 1990-an. Selama empat dekade, Hai bukan sekadar majalah remaja, melainkan bagian dari perjalanan sebuah generasi. Ia hadir menemani pembacanya, mengisi waktu luang, sekaligus menjadi jendela untuk mengenal berbagai hal yang sedang tumbuh dan berkembang di dunia anak muda.
Pada masanya, Hai menjadi salah satu sumber informasi penting bagi remaja. Mulai dari sampul depan hingga halaman belakang, hampir semuanya lekat dengan kehidupan anak muda: gaya hidup, musik, film, olahraga, teknologi, festival, hingga cerita pendek dan komik.

Tak berlebihan jika kemudian Hai menjadi salah satu rujukan remaja dalam menentukan selera dan gaya hidup. Majalah ini mampu menangkap denyut kehidupan anak muda pada zamannya, lalu menyajikannya dalam bahasa yang ringan, akrab, dan mudah dicerna.
Majalah Hai pertama kali terbit pada 4 Januari 1977. Cikal bakalnya berasal dari Majalah MIDI, sebuah majalah muda-mudi yang juga diterbitkan oleh kelompok Kompas Gramedia.

Setelah melalui perjalanan panjang selama empat dasawarsa, Hai akhirnya mengakhiri kiprahnya sebagai majalah cetak pada Juni 2017. Meski demikian, jejaknya tidak serta-merta hilang. Nama Hai telanjur melekat dalam ingatan banyak orang yang pernah tumbuh bersamanya.
Keberhasilan Hai tentu tidak dapat dilepaskan dari sosok pendiri sekaligus pemimpin redaksinya, Arswendo Atmowiloto, yang akrab disapa Mas Wendo.
Melalui tulisan-tulisannya di Hai, media lainnya, maupun buku-buku cerita, Mas Wendo mampu menghadirkan gaya penulisan yang khas ringan, komunikatif, mudah dipahami, tetapi tetap memiliki kekuatan cerita.
Para remaja kala itu akrab dengan tokoh Imung, yang ditulis secara bersambung oleh Mas Wendo. Ada pula serial Kiki & Komplotannya, serta cerita silat Senopati Pamungkas. Cerita-cerita tersebut bukan sekadar hiburan, tetapi ikut membentuk imajinasi dan dunia bacaan remaja pada zamannya.
Kekuatan tulisan Mas Wendo terletak pada kemampuannya menghadirkan “roh” dalam sebuah tulisan. Ceritanya terasa hidup dan dekat dengan pembaca. Bahasa yang digunakannya pun sederhana, mengalir, dan mudah dipahami, sebuah pelajaran berharga bagi siapa saja yang sedang belajar menulis dan mengarang.

Berkat tradisi kepenulisan yang dibangun Mas Wendo, Hai juga menjadi semacam ruang belajar bagi penulis-penulis pemula. Rubrik seperti “Menulis Itu Gampang”, “Mengarang Novel Itu Gampang”, “Melawak Itu Layak”, “Bimbingan Karir”, dan “Pergaulan Sehat” turut memperkaya wawasan para pembacanya.
Kekuatan lain Hai adalah keberaniannya menampilkan cerita bergambar dan komik, baik karya komikus mancanegara maupun Indonesia.
Sejumlah komikus Indonesia yang pernah mengisi halaman Hai antara lain Jan Mintaraga, Teguh Santosa, Ganes Th, Wid NS, Yudah Noor, Hasmi, dan Joni Andrean.
Sementara itu, komik-komik mancanegara yang digemari pembaca Hai antara lain Trigan, Storm, Rahan, Arad & Maya, Roel Dijkstra, Coki Si Pelukis Cepat, Deni Manusia Ikan, dan The Beatles Story.
Kehadiran komik-komik tersebut turut mendobrak anggapan lama bahwa komik hanyalah bacaan ringan yang tidak mendidik. Sebaliknya, Hai menunjukkan bahwa komik dapat menjadi bacaan yang menghibur, menarik, merangsang imajinasi, sekaligus mendorong kreativitas remaja.
Di balik cerita dan komik yang menarik, jangan pula dilupakan peran para ilustrator dan juru gambar Hai. Nama Wedha, Kochis, dan Aries Tanjung menjadi bagian penting dari kekuatan visual majalah ini.
Coretan kuas, sketsa, dan ilustrasi karya mereka mampu menghidupkan tokoh serta cerita yang ditampilkan. Gambar-gambar tersebut bukan sekadar penghias halaman, tetapi menjadi bagian dari identitas Hai yang membuatnya mudah dikenali dan dikenang.
Hampir semua tokoh fiktif yang hadir melalui serial cerita maupun komik Hai memiliki tempat tersendiri di hati pembacanya. Sebagian bahkan terus melekat dalam ingatan hingga bertahun-tahun kemudian.
Pendek kata, Hai dan tokoh-tokohnya telah menjadi teman setia bagi para remaja Indonesia, khususnya mereka yang tumbuh pada era 1980-an dan 1990-an.
Melalui Majalah Hai pula, para remaja kala itu memperoleh informasi mengenai musisi dan grup musik pujaan mereka. Nama-nama besar seperti The Beatles, The Rolling Stones, Scorpions, Queen, Jimi Hendrix, Jim Morrison, Janis Joplin, hingga Boy George menjadi bagian dari wawasan musik yang diperkenalkan kepada pembaca.
Hai seolah menjadi jembatan bagi remaja Indonesia untuk mengenal perkembangan musik dunia. Sebelum internet dan media sosial hadir seperti sekarang, halaman-halaman majalah menjadi salah satu pintu utama untuk mengetahui siapa musisi yang sedang populer, bagaimana perjalanan karier mereka, dan musik seperti apa yang tengah berkembang.
Namun Hai tidak hanya berbicara tentang musik dan hiburan. Majalah ini juga sesekali menghadirkan kisah para tokoh sejarah dan pahlawan bangsa.
Nama-nama seperti Tjut Nyak Dhien, R.A. Kartini, Dewi Sartika, H.R. Rasuna Said, Ki Hadjar Dewantara, Adi Sucipto, Pattimura, Dr. Sardjito, dan sejumlah tokoh perjuangan lainnya pernah diperkenalkan kepada pembaca.
Dengan demikian, Hai tidak hanya menjadi bacaan untuk mengisi waktu luang, tetapi juga menjadi salah satu media yang memperluas wawasan generasi muda tentang musik, budaya, sejarah, teknologi, pergaulan, hingga kehidupan sosial.
Kini, zaman telah berubah. Majalah cetak tidak lagi menjadi sumber informasi utama bagi generasi muda. Internet, media sosial, dan berbagai platform digital telah mengambil alih banyak fungsi yang dahulu dijalankan majalah seperti Hai.
Namun, bagi mereka yang pernah tumbuh bersama Hai, majalah ini tentu bukan sekadar tumpukan kertas yang pernah terbit dan kemudian berhenti dicetak. Hai adalah bagian dari kenangan masa muda, tentang musik yang pertama kali dikenal, komik yang ditunggu-tunggu, tokoh cerita yang membekas, hingga gaya hidup dan mimpi-mimpi masa remaja.
Menariknya, tulisan ini hadir bertepatan dengan bulan Agustus, Bulan Kemerdekaan Indonesia. Maka, rasanya belum lengkap mengenang Hai tanpa mengingat semangat anak muda Indonesia yang selalu menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa.
Dari halaman-halaman Hai, kita pernah belajar tentang musik, kreativitas, persahabatan, keberanian bermimpi, bahkan tentang sejarah dan para pejuang bangsa.
Dan ketika lembar terakhir majalah itu akhirnya ditutup, kenangannya ternyata tidak ikut berakhir.
Mahalah Hai pernah menjadi suara, jendela, sekaligus teman bagi sebuah generasi.