Mengenang Majalah Hai, Ikon Remaja di Era 80–90an

5 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Majalah Remaja Hai era 1980–1990-an Majalah Hai era 1980–1990-an, bacaan populer yang lekat dengan kehidupan remaja dan menjadi bagian dari kenangan sebuah generasi.
Majalah Remaja Hai era 1980–1990-an Majalah Hai era 1980–1990-an, bacaan populer yang lekat dengan kehidupan remaja dan menjadi bagian dari kenangan sebuah generasi.
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Majalah Hai serasa membuka kembali lembaran romantisme masa remaja pada era 1980-an hingga 1990-an.

  • Hai seolah menjadi jembatan bagi remaja Indonesia untuk mengenal perkembangan musik dunia.

  • Majalah Hai menghadirkan kisah para tokoh sejarah dan pahlawan bangsa, seperti Tjut Nyak Dhien, R.A. Kartini, Dewi Sartika, H.R. Rasuna Said, Ki Hadjar Dewantara, Adi Sucipto, Pattimura, Dr. Sardjito, dan sejumlah tokoh perjuangan lainnya pernah diperkenalkan kepada pembaca.

Mengenang Majalah Hai serasa membuka kembali lembaran romantisme masa remaja pada era 1980-an hingga 1990-an. Selama empat dekade, Hai bukan sekadar majalah remaja, melainkan bagian dari perjalanan sebuah generasi. Ia hadir menemani pembacanya, mengisi waktu luang, sekaligus menjadi jendela untuk mengenal berbagai hal yang sedang tumbuh dan berkembang di dunia anak muda.

Pada masanya, Hai menjadi salah satu sumber informasi penting bagi remaja. Mulai dari sampul depan hingga halaman belakang, hampir semuanya lekat dengan kehidupan anak muda: gaya hidup, musik, film, olahraga, teknologi, festival, hingga cerita pendek dan komik.

Logo Majalah Hai dari era 1970 hingga tahun 2000-an Majalah Hai hadir dengan sajian yang mengikuti perkembangan zaman dan dekat dengan anak muda penuh kreativitas. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Logo Majalah Hai dari era 1970 hingga tahun 2000-an Majalah Hai hadir dengan sajian yang mengikuti perkembangan zaman dan dekat dengan anak muda penuh kreativitas. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)

Tak berlebihan jika kemudian Hai menjadi salah satu rujukan remaja dalam menentukan selera dan gaya hidup. Majalah ini mampu menangkap denyut kehidupan anak muda pada zamannya, lalu menyajikannya dalam bahasa yang ringan, akrab, dan mudah dicerna.

Majalah Hai pertama kali terbit pada 4 Januari 1977. Cikal bakalnya berasal dari Majalah MIDI, sebuah majalah muda-mudi yang juga diterbitkan oleh kelompok Kompas Gramedia.

Setelah melalui perjalanan panjang selama empat dasawarsa, Hai akhirnya mengakhiri kiprahnya sebagai majalah cetak pada Juni 2017. Meski demikian, jejaknya tidak serta-merta hilang. Nama Hai telanjur melekat dalam ingatan banyak orang yang pernah tumbuh bersamanya.

Keberhasilan Hai tentu tidak dapat dilepaskan dari sosok pendiri sekaligus pemimpin redaksinya, Arswendo Atmowiloto, yang akrab disapa Mas Wendo.

Melalui tulisan-tulisannya di Hai, media lainnya, maupun buku-buku cerita, Mas Wendo mampu menghadirkan gaya penulisan yang khas ringan, komunikatif, mudah dipahami, tetapi tetap memiliki kekuatan cerita.

Para remaja kala itu akrab dengan tokoh Imung, yang ditulis secara bersambung oleh Mas Wendo. Ada pula serial Kiki & Komplotannya, serta cerita silat Senopati Pamungkas. Cerita-cerita tersebut bukan sekadar hiburan, tetapi ikut membentuk imajinasi dan dunia bacaan remaja pada zamannya.

Kekuatan tulisan Mas Wendo terletak pada kemampuannya menghadirkan “roh” dalam sebuah tulisan. Ceritanya terasa hidup dan dekat dengan pembaca. Bahasa yang digunakannya pun sederhana, mengalir, dan mudah dipahami, sebuah pelajaran berharga bagi siapa saja yang sedang belajar menulis dan mengarang.

Kin Sanubary bersama Irwan Iskandar, Pemimpin Redaksi Majalah Hai Kin Sanubary bersama Irwan Iskandar, Pemimpin Redaksi Majalah Hai. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Kin Sanubary bersama Irwan Iskandar, Pemimpin Redaksi Majalah Hai Kin Sanubary bersama Irwan Iskandar, Pemimpin Redaksi Majalah Hai. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)

Berkat tradisi kepenulisan yang dibangun Mas Wendo, Hai juga menjadi semacam ruang belajar bagi penulis-penulis pemula. Rubrik seperti “Menulis Itu Gampang”, “Mengarang Novel Itu Gampang”, “Melawak Itu Layak”, “Bimbingan Karir”, dan “Pergaulan Sehat” turut memperkaya wawasan para pembacanya.

Kekuatan lain Hai adalah keberaniannya menampilkan cerita bergambar dan komik, baik karya komikus mancanegara maupun Indonesia.

Sejumlah komikus Indonesia yang pernah mengisi halaman Hai antara lain Jan Mintaraga, Teguh Santosa, Ganes Th, Wid NS, Yudah Noor, Hasmi, dan Joni Andrean.

Sementara itu, komik-komik mancanegara yang digemari pembaca Hai antara lain Trigan, Storm, Rahan, Arad & Maya, Roel Dijkstra, Coki Si Pelukis Cepat, Deni Manusia Ikan, dan The Beatles Story.

Kehadiran komik-komik tersebut turut mendobrak anggapan lama bahwa komik hanyalah bacaan ringan yang tidak mendidik. Sebaliknya, Hai menunjukkan bahwa komik dapat menjadi bacaan yang menghibur, menarik, merangsang imajinasi, sekaligus mendorong kreativitas remaja.

Di balik cerita dan komik yang menarik, jangan pula dilupakan peran para ilustrator dan juru gambar Hai. Nama Wedha, Kochis, dan Aries Tanjung menjadi bagian penting dari kekuatan visual majalah ini.

Coretan kuas, sketsa, dan ilustrasi karya mereka mampu menghidupkan tokoh serta cerita yang ditampilkan. Gambar-gambar tersebut bukan sekadar penghias halaman, tetapi menjadi bagian dari identitas Hai yang membuatnya mudah dikenali dan dikenang.

Hampir semua tokoh fiktif yang hadir melalui serial cerita maupun komik Hai memiliki tempat tersendiri di hati pembacanya. Sebagian bahkan terus melekat dalam ingatan hingga bertahun-tahun kemudian.

Pendek kata, Hai dan tokoh-tokohnya telah menjadi teman setia bagi para remaja Indonesia, khususnya mereka yang tumbuh pada era 1980-an dan 1990-an.

Melalui Majalah Hai pula, para remaja kala itu memperoleh informasi mengenai musisi dan grup musik pujaan mereka. Nama-nama besar seperti The Beatles, The Rolling Stones, Scorpions, Queen, Jimi Hendrix, Jim Morrison, Janis Joplin, hingga Boy George menjadi bagian dari wawasan musik yang diperkenalkan kepada pembaca.

Hai seolah menjadi jembatan bagi remaja Indonesia untuk mengenal perkembangan musik dunia. Sebelum internet dan media sosial hadir seperti sekarang, halaman-halaman majalah menjadi salah satu pintu utama untuk mengetahui siapa musisi yang sedang populer, bagaimana perjalanan karier mereka, dan musik seperti apa yang tengah berkembang.

Namun Hai tidak hanya berbicara tentang musik dan hiburan. Majalah ini juga sesekali menghadirkan kisah para tokoh sejarah dan pahlawan bangsa.

Nama-nama seperti Tjut Nyak Dhien, R.A. Kartini, Dewi Sartika, H.R. Rasuna Said, Ki Hadjar Dewantara, Adi Sucipto, Pattimura, Dr. Sardjito, dan sejumlah tokoh perjuangan lainnya pernah diperkenalkan kepada pembaca.

Dengan demikian, Hai tidak hanya menjadi bacaan untuk mengisi waktu luang, tetapi juga menjadi salah satu media yang memperluas wawasan generasi muda tentang musik, budaya, sejarah, teknologi, pergaulan, hingga kehidupan sosial.

Kini, zaman telah berubah. Majalah cetak tidak lagi menjadi sumber informasi utama bagi generasi muda. Internet, media sosial, dan berbagai platform digital telah mengambil alih banyak fungsi yang dahulu dijalankan majalah seperti Hai.

Namun, bagi mereka yang pernah tumbuh bersama Hai, majalah ini tentu bukan sekadar tumpukan kertas yang pernah terbit dan kemudian berhenti dicetak. Hai adalah bagian dari kenangan masa muda, tentang musik yang pertama kali dikenal, komik yang ditunggu-tunggu, tokoh cerita yang membekas, hingga gaya hidup dan mimpi-mimpi masa remaja.

Menariknya, tulisan ini hadir bertepatan dengan bulan Agustus, Bulan Kemerdekaan Indonesia. Maka, rasanya belum lengkap mengenang Hai tanpa mengingat semangat anak muda Indonesia yang selalu menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa.

Dari halaman-halaman Hai, kita pernah belajar tentang musik, kreativitas, persahabatan, keberanian bermimpi, bahkan tentang sejarah dan para pejuang bangsa.

Dan ketika lembar terakhir majalah itu akhirnya ditutup, kenangannya ternyata tidak ikut berakhir.

Mahalah Hai pernah menjadi suara, jendela, sekaligus teman bagi sebuah generasi.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)