Ada romantisme tersendiri ketika membuka kembali majalah lawas. Kertas yang mulai menguning, susunan huruf yang khas, foto-foto hitam-putih, iklan, hingga jadwal acara yang dahulu begitu akrab, seakan mengajak kita menyeberangi lorong waktu.
Salah satunya adalah Majalah Monitor Radio dan Televisi edisi Agustus 1980, majalah hiburan populer untuk seluruh keluarga. Edisi ini terbit menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-18 Televisi Republik Indonesia (TVRI), 24 Agustus 1980.
Membaca kembali majalah yang terbit 46 tahun silam itu, kita tidak sekadar menemukan berita artis, penyanyi, film, dan jadwal acara televisi. Di balik lembaran-lembarannya tersimpan potret kehidupan masyarakat Indonesia ketika TVRI menjadi bagian penting dari keseharian keluarga.
Bagi generasi yang tumbuh ketika televisi belum hadir di setiap ruang keluarga seperti sekarang, TVRI bukan sekadar stasiun televisi. Ia adalah jendela untuk mengenal dunia, tempat masyarakat memperoleh hiburan, informasi, musik, pertunjukan seni, berita, sekaligus mengenal wajah-wajah yang kemudian menjadi idola.
Perjalanan TVRI tidak dapat dilepaskan dari penyelenggaraan Asian Games IV di Jakarta pada 1962.
Pada 1961, pemerintah Indonesia memutuskan membangun penyelenggaraan televisi sebagai bagian dari proyek media massa untuk mendukung pelaksanaan Asian Games. Persiapan pun dilakukan agar siaran televisi dapat mengudara menjelang pesta olahraga Asia tersebut.
Tanggal 24 Agustus 1962 kemudian menjadi tonggak penting dalam sejarah pertelevisian Indonesia. Pada hari itu, bertepatan dengan pembukaan Asian Games IV di Jakarta, TVRI secara resmi mulai mengudara.
Namun, beberapa hari sebelumnya, tepatnya 17 Agustus 1962, TVRI telah melakukan siaran percobaan/perdana bertepatan dengan peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Dari sebuah proyek yang pada awalnya dipersiapkan untuk mendukung Asian Games, TVRI kemudian berkembang menjadi bagian penting dari sejarah kehidupan sosial dan budaya masyarakat Indonesia.
Delapan belas tahun kemudian, Monitor Radio dan Televisi edisi Agustus 1980 merekam suasana menjelang ulang tahun TVRI. Membaca kembali majalah tersebut hari ini, kita seperti diajak menyaksikan kembali sebuah masa ketika layar televisi perlahan menjadi pusat perhatian keluarga di rumah.
Salah satu sajian menarik dalam majalah ini adalah kisah Diah Iskandar dan Orkes Chandra Kirana.
Orkes Chandra Kirana didirikan oleh almarhum musikus Iskandar sekitar dekade 1960-an. Setelah sang ayah meninggal dunia, Diah Iskandar merasa memiliki tanggung jawab untuk meneruskan cita-cita ayahnya sekaligus ikut memajukan musik nasional.
Keinginan tersebut semakin kuat ketika Diah mengikuti rekaman Telerama untuk memperingati setahun wafatnya sang ayah. Gagasan menghidupkan kembali Chandra Kirana kemudian mendapat dukungan dari ibundanya serta sejumlah musisi dari Bandung dan Jakarta, antara lain Elfa Secioria bersama Elfas Singer. Dukungan juga datang dari Direktur TVRI, Subrata.
Dari situlah Diah mulai memproduksi acara Chandra Kirana. Paket perdana ditayangkan pada awal Juni 1980 dan langsung menarik perhatian pemirsa TVRI.
Selama kurang lebih 45 menit, penonton disuguhi pertunjukan musik yang tampil berbeda dari acara musik TVRI pada umumnya.
Diah Iskandar, yang ketika itu mendapat julukan “Conny Francis-nya Indonesia”, tidak hanya bernyanyi, tetapi sekaligus memimpin Orkes Chandra Kirana.
Dengan gaun panjang berwarna merah, penampilan anggun dan suara melengking tinggi, Diah kembali menunjukkan pesonanya. Penyanyi yang populer sejak era 1960-an itu membawakan lagu Kecerahan Masa Depan.
Membaca kisah tersebut sekarang, kita tidak hanya menemukan cerita tentang seorang penyanyi, tetapi juga tentang usaha meneruskan warisan musikal keluarga melalui medium televisi.
Nama Idrus Alkhaf tentu tidak asing bagi pemirsa TVRI pada zamannya.
Pria kelahiran Bogor tahun 1944 itu dikenal sebagai penyiar dan pembaca berita TVRI. Suaranya yang lembut dan merdu, dipadukan dengan wajah simpatik serta tahi lalat di atas bibir, membuatnya memiliki banyak penggemar.
Monitor menggambarkan Idrus sebagai salah seorang penyiar idola. Popularitas seorang penyiar pada masa itu memang memiliki cerita tersendiri.
Ketika pilihan tontonan belum sebanyak sekarang, wajah dan suara penyiar yang muncul setiap hari di layar kaca dapat menjadi bagian dari keseharian keluarga Indonesia.
Idrus berasal dari keluarga Muslim yang kuat. Ayahnya, H.S. Umar, disebut sebagai ulama yang cukup dikenal di Kota Bogor. Idrus pun fasih mengumandangkan ayat-ayat suci.
Pada 1966 ia diterima sebagai karyawan RRI. Lima tahun kemudian, ia menjabat Kepala Bagian Produksi Siaran Luar Negeri dan diperbantukan sebagai penyiar TVRI bersama sejumlah rekannya dari RRI.
Pada 1972, Idrus menikah dengan Fadlun Shartry dan dikaruniai tiga orang anak.
Kisah Idrus memperlihatkan bahwa pada masa itu profesi penyiar televisi bukan hanya pekerjaan, melainkan juga profesi yang mampu melahirkan kedekatan emosional dengan pemirsanya.
Majalah ini juga membawa kabar dari dunia film. Elvy Sukaesih, yang kemudian dikenal luas sebagai Ratu Dangdut, diberitakan terlibat dalam film Perjuangan Walisanga, sebuah film yang mengangkat nuansa syiar Islam.
Film produksi PT Sembilan Wali milik Mas Agung tersebut diberitakan menelan biaya sekitar Rp1,2 miliar dengan durasi enam jam dan disutradarai Drs. Syuman Djaya.
Yang menarik perhatian pembaca saat itu adalah kabar mengenai honorarium Elvy Sukaesih yang disebut mencapai Rp30 juta, angka yang pada masa itu disebut setara dengan harga sebuah mobil Mercedes Tiger.
Bagi pembaca masa kini, angka tersebut menjadi potongan kecil dari sejarah ekonomi industri hiburan Indonesia sekaligus memperlihatkan besarnya nilai seorang bintang pada zamannya.
Dunia musik tidak selalu berisi panggung, tepuk tangan, dan popularitas.
Monitor juga memuat berita mengenai musisi Rinto Harahap yang ketika itu menjadi buah bibir setelah diberitakan terlibat keributan dengan dua pimpinan perusahaan rekaman, Remaco dan Sky Records, di kawasan Glodok Plaza.
Persoalannya berkaitan dengan tuntutan ganti rugi atas diperjualbelikannya hak cipta lagu-lagu The Mercy’s kepada Sky Records oleh Remaco. Pihak Rinto Harahap disebut telah beberapa kali melayangkan surat, tetapi tidak mendapat tanggapan.
Perselisihan tersebut akhirnya berkembang menjadi keributan yang menarik perhatian orang-orang yang sedang berada di pusat perdagangan tersebut.
Bagi pembaca masa kini, kisah itu sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan hak cipta dalam industri musik bukanlah perkara baru. Sejak era industri rekaman berkembang, kepemilikan karya dan hak ekonomi pencipta telah menjadi persoalan yang terus diperbincangkan.
Penyanyi senior Diana Nasution juga mendapat tempat dalam pemberitaan Monitor. Ia disebut memperoleh predikat sebagai Penyanyi Terpopuler dan meraih piringan emas.
Album Mungkinkah mendapat sambutan positif dari penggemarnya dan laku di pasaran.
Untuk mempertahankan prestasi, Diana berusaha tampil dengan gaya yang variatif agar penonton tidak merasa bosan ketika menyaksikannya di layar TVRI. Menariknya, ia juga membuka diri terhadap masukan dan koreksi dari media.

Dari kisah tersebut tampak bahwa upaya mempertahankan popularitas ternyata tidak banyak berubah. Penyanyi tetap dituntut kreatif, adaptif, dan mampu membaca selera penonton.
Suasana Lebaran juga hadir melalui program Minal Aidina Operetta '80 dengan judul Asrama Dara.
Titiek Puspa dan Mus Mualim melakukan rekaman musik untuk menyambut Lebaran. Produksi berlangsung selama tiga hari tiga malam, merekam dialog dan nyanyian para pendukung acara.
Ada suasana ringan di balik kesibukan studio. Titiek Puspa sibuk membantu Mus Mualim mengarahkan dialog Santi Sardi dan Tuty Kuncoro. Sementara itu, di sudut studio, Herlina Effendi tampak asyik membaca novel Kusni Kasdut sambil selonjoran menunggu giliran rekaman.
Gito Rollies yang mencoba mengusiknya pun tidak dihiraukan.
Adegan sederhana seperti ini justru terasa menarik ketika dibaca kembali. Ia memperlihatkan sisi manusiawi para artis di balik layar, bukan sekadar sosok yang selalu tampil gemerlap di depan kamera.
Meriahkan HUT TVRI ke-18 tanggal 24 Agustus 1980 menjadi momentum penting bagi TVRI karena genap berusia 18 tahun.
Untuk memperingatinya, TVRI menyiapkan acara khusus di Istora Senayan, Jakarta. Beragam pertunjukan disiapkan, mulai dari duet drum Sandy Luntungan dan Rudy Arifin, Drum Band Santa Ursula, Orkes Muis Radjab, Karawitan Anak-Anak, hingga Kuda Lumping Kumba Karna Gugur.
Ada pula acara menyanyi bersama yang dikoordinasikan Kak Seto dan Kak Henny Purwonegoro.
Nama-nama yang mengisi rangkaian acara tersebut pun cukup beragam, antara lain Lingga Binangkit, Band Tongkat Putih, Ully Siregar, Waldjinah, Mira Tania, Djatu Parmawati, Kris Biantoro, Koes Hendratmo, dan Totok Salman dalam acara Kembang Setaman.
Daftar panjang tersebut memperlihatkan betapa luas spektrum hiburan yang disuguhkan TVRI pada masa itu. Musik, tari, pertunjukan tradisional, penyanyi populer, hingga hiburan anak-anak hadir dalam satu rangkaian perayaan.
Bagi keluarga Indonesia pada dekade 1980-an, malam Minggu juga memiliki hiburan tersendiri di layar TVRI yaitu acara Musik Malam Minggu.
Edisi Agustus 1980 ini mencatat penampilan Ade Manuhutu, Melky Goeslaw, Jonas Souisa, Iis Sugianto, dan Christine Panjaitan yang diiringi Band Lollypop pimpinan Rinto Harahap.
Nama-nama tersebut kini menjadi bagian dari sejarah musik populer Indonesia. Namun pada zamannya, mereka adalah wajah dan suara yang menghiasi malam Minggu dari ruang keluarga melalui layar televisi.
Tidak ada pilihan untuk memutar ulang acara. Tidak ada streaming, YouTube, atau rekaman digital. Jika acara terlewat, pemirsa harus menunggu kesempatan berikutnya.
Karena itulah, sebuah acara televisi pada masa itu sering kali terasa lebih istimewa.
Monitor menjadi panduan menonton televisi bagi keluarga.
Selain berita dan profil artis, Monitor Radio dan Televisi juga menyediakan jadwal acara RRI dan TVRI selama dua pekan.
Rubrik-rubrik tetapnya antara lain Dari Meja Redaksi, Dari Dapur Radio & TV, Profil Bintang, Hallo Monitor, Sebaiknya Anda Tahu, Cerita Untuk Anak, serta resensi film-film yang akan ditayangkan TVRI.
Dengan demikian, majalah ini bukan sekadar bacaan hiburan. Ia sekaligus menjadi semacam “panduan menonton” bagi keluarga Indonesia pada zamannya.
Belum ada internet, belum ada layanan streaming, apalagi televisi dengan ratusan kanal. Jadwal acara harus dibaca dari media cetak. Pemirsa menunggu acara favorit sesuai waktu yang telah ditentukan.
Justru di situlah letak romantismenya.
Televisi tidak hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga menciptakan kebiasaan baru: keluarga berkumpul di depan layar, menunggu acara yang telah dijadwalkan, dan kemudian membicarakannya setelah acara berakhir.
Membuka kembali Majalah Monitor Radio dan Televisi edisi Agustus 1980 seperti membuka jendela kecil menuju masa lalu.
Di dalamnya ada nama-nama artis, penyiar, musisi, jadwal acara, berita film, musik, serta berbagai program televisi yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Majalah lawas seperti ini sesungguhnya bukan hanya benda koleksi. Ia adalah dokumen sosial yang merekam selera hiburan, perkembangan industri musik dan televisi, serta cara masyarakat menikmati media pada zamannya.
Kini, 46 tahun kemudian, lembarannya mungkin sudah menguning dan kertasnya mulai rapuh. Namun ingatan yang tersimpan di dalamnya tetap hidup.
Dari lembaran itu kita dapat melihat betapa besar peran TVRI dalam membentuk pengalaman menonton sebuah generasi. Dari layar hitam-putih hingga televisi berwarna, dari satu-satunya pilihan hiburan hingga hadirnya ratusan kanal dan layanan digital, perjalanan televisi Indonesia telah berubah begitu jauh.
Namun satu hal tetap sama: kenangan yang tumbuh di depan layar televisi selalu memiliki tempat tersendiri dalam ingatan.
Maka, mengenang 24 Agustus 1962, bukan semata-mata mengenang sebuah tanggal dalam sejarah. Kita juga mengenang awal perjalanan sebuah lembaga penyiaran yang selama puluhan tahun hadir di ruang-ruang keluarga Indonesia.
Dan ketika lembaran Monitor Radio dan Televisi Agustus 1980 kembali dibuka, kita seakan mendengar lagi suara masa lalu, suara penyiar, denting musik, riuh acara hiburan, serta suasana sebuah keluarga yang duduk bersama menatap layar televisi.

Itulah romantisme membaca media lawas: bukan sekadar melihat masa lalu, melainkan menemukan kembali jejak sebuah zaman yang pernah begitu dekat dengan kehidupan kita.
Dirgahayu TVRI.
24 Agustus 1962–2026.
64 tahun menemani Indonesia.