Romantisme Membaca Majalah Monitor : Ketika TVRI Menjadi Jendela Hiburan Keluarga

9 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Majalah Monitor edisi perdana, Agustus 1980, menjadi salah satu bacaan panduan bagi penonton dan pemirsa TVRI untuk mengetahui beragam acara televisi yang ditayangkan pada masa itu. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Majalah Monitor edisi perdana, Agustus 1980, menjadi salah satu bacaan panduan bagi penonton dan pemirsa TVRI untuk mengetahui beragam acara televisi yang ditayangkan pada masa itu. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Perjalanan TVRI tidak dapat dilepaskan dari penyelenggaraan Asian Games IV di Jakarta pada 1962.

  • Bagi keluarga Indonesia pada dekade 1980-an, malam Minggu juga memiliki hiburan tersendiri di layar TVRI yaitu acara Musik Malam Minggu.

  • Kini, 46 tahun kemudian, lembarannya mungkin sudah menguning dan kertasnya mulai rapuh. Namun ingatan yang tersimpan di dalamnya tetap hidup.

Ada romantisme tersendiri ketika membuka kembali majalah lawas. Kertas yang mulai menguning, susunan huruf yang khas, foto-foto hitam-putih, iklan, hingga jadwal acara yang dahulu begitu akrab, seakan mengajak kita menyeberangi lorong waktu.

Salah satunya adalah Majalah Monitor Radio dan Televisi edisi Agustus 1980, majalah hiburan populer untuk seluruh keluarga. Edisi ini terbit menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-18 Televisi Republik Indonesia (TVRI), 24 Agustus 1980.

Membaca kembali majalah yang terbit 46 tahun silam itu, kita tidak sekadar menemukan berita artis, penyanyi, film, dan jadwal acara televisi. Di balik lembaran-lembarannya tersimpan potret kehidupan masyarakat Indonesia ketika TVRI menjadi bagian penting dari keseharian keluarga.

Bagi generasi yang tumbuh ketika televisi belum hadir di setiap ruang keluarga seperti sekarang, TVRI bukan sekadar stasiun televisi. Ia adalah jendela untuk mengenal dunia, tempat masyarakat memperoleh hiburan, informasi, musik, pertunjukan seni, berita, sekaligus mengenal wajah-wajah yang kemudian menjadi idola.

Perjalanan TVRI tidak dapat dilepaskan dari penyelenggaraan Asian Games IV di Jakarta pada 1962.

Pada 1961, pemerintah Indonesia memutuskan membangun penyelenggaraan televisi sebagai bagian dari proyek media massa untuk mendukung pelaksanaan Asian Games. Persiapan pun dilakukan agar siaran televisi dapat mengudara menjelang pesta olahraga Asia tersebut.

Tanggal 24 Agustus 1962 kemudian menjadi tonggak penting dalam sejarah pertelevisian Indonesia. Pada hari itu, bertepatan dengan pembukaan Asian Games IV di Jakarta, TVRI secara resmi mulai mengudara.

Namun, beberapa hari sebelumnya, tepatnya 17 Agustus 1962, TVRI telah melakukan siaran percobaan/perdana bertepatan dengan peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Dari sebuah proyek yang pada awalnya dipersiapkan untuk mendukung Asian Games, TVRI kemudian berkembang menjadi bagian penting dari sejarah kehidupan sosial dan budaya masyarakat Indonesia.

Delapan belas tahun kemudian, Monitor Radio dan Televisi edisi Agustus 1980 merekam suasana menjelang ulang tahun TVRI. Membaca kembali majalah tersebut hari ini, kita seperti diajak menyaksikan kembali sebuah masa ketika layar televisi perlahan menjadi pusat perhatian keluarga di rumah.

Salah satu sajian menarik dalam majalah ini adalah kisah Diah Iskandar dan Orkes Chandra Kirana.

Orkes Chandra Kirana didirikan oleh almarhum musikus Iskandar sekitar dekade 1960-an. Setelah sang ayah meninggal dunia, Diah Iskandar merasa memiliki tanggung jawab untuk meneruskan cita-cita ayahnya sekaligus ikut memajukan musik nasional.

Keinginan tersebut semakin kuat ketika Diah mengikuti rekaman Telerama untuk memperingati setahun wafatnya sang ayah. Gagasan menghidupkan kembali Chandra Kirana kemudian mendapat dukungan dari ibundanya serta sejumlah musisi dari Bandung dan Jakarta, antara lain Elfa Secioria bersama Elfas Singer. Dukungan juga datang dari Direktur TVRI, Subrata.

Dari situlah Diah mulai memproduksi acara Chandra Kirana. Paket perdana ditayangkan pada awal Juni 1980 dan langsung menarik perhatian pemirsa TVRI.

Selama kurang lebih 45 menit, penonton disuguhi pertunjukan musik yang tampil berbeda dari acara musik TVRI pada umumnya.

Diah Iskandar, yang ketika itu mendapat julukan “Conny Francis-nya Indonesia”, tidak hanya bernyanyi, tetapi sekaligus memimpin Orkes Chandra Kirana.

Dengan gaun panjang berwarna merah, penampilan anggun dan suara melengking tinggi, Diah kembali menunjukkan pesonanya. Penyanyi yang populer sejak era 1960-an itu membawakan lagu Kecerahan Masa Depan.

Membaca kisah tersebut sekarang, kita tidak hanya menemukan cerita tentang seorang penyanyi, tetapi juga tentang usaha meneruskan warisan musikal keluarga melalui medium televisi.

Nama Idrus Alkhaf tentu tidak asing bagi pemirsa TVRI pada zamannya.

Pria kelahiran Bogor tahun 1944 itu dikenal sebagai penyiar dan pembaca berita TVRI. Suaranya yang lembut dan merdu, dipadukan dengan wajah simpatik serta tahi lalat di atas bibir, membuatnya memiliki banyak penggemar.

Monitor menggambarkan Idrus sebagai salah seorang penyiar idola. Popularitas seorang penyiar pada masa itu memang memiliki cerita tersendiri.

Ketika pilihan tontonan belum sebanyak sekarang, wajah dan suara penyiar yang muncul setiap hari di layar kaca dapat menjadi bagian dari keseharian keluarga Indonesia.

Idrus berasal dari keluarga Muslim yang kuat. Ayahnya, H.S. Umar, disebut sebagai ulama yang cukup dikenal di Kota Bogor. Idrus pun fasih mengumandangkan ayat-ayat suci.

Pada 1966 ia diterima sebagai karyawan RRI. Lima tahun kemudian, ia menjabat Kepala Bagian Produksi Siaran Luar Negeri dan diperbantukan sebagai penyiar TVRI bersama sejumlah rekannya dari RRI.

Pada 1972, Idrus menikah dengan Fadlun Shartry dan dikaruniai tiga orang anak.

Kisah Idrus memperlihatkan bahwa pada masa itu profesi penyiar televisi bukan hanya pekerjaan, melainkan juga profesi yang mampu melahirkan kedekatan emosional dengan pemirsanya.

Majalah ini juga membawa kabar dari dunia film. Elvy Sukaesih, yang kemudian dikenal luas sebagai Ratu Dangdut, diberitakan terlibat dalam film Perjuangan Walisanga, sebuah film yang mengangkat nuansa syiar Islam.

Film produksi PT Sembilan Wali milik Mas Agung tersebut diberitakan menelan biaya sekitar Rp1,2 miliar dengan durasi enam jam dan disutradarai Drs. Syuman Djaya.

Yang menarik perhatian pembaca saat itu adalah kabar mengenai honorarium Elvy Sukaesih yang disebut mencapai Rp30 juta, angka yang pada masa itu disebut setara dengan harga sebuah mobil Mercedes Tiger.

Bagi pembaca masa kini, angka tersebut menjadi potongan kecil dari sejarah ekonomi industri hiburan Indonesia sekaligus memperlihatkan besarnya nilai seorang bintang pada zamannya.

Dunia musik tidak selalu berisi panggung, tepuk tangan, dan popularitas.

Monitor juga memuat berita mengenai musisi Rinto Harahap yang ketika itu menjadi buah bibir setelah diberitakan terlibat keributan dengan dua pimpinan perusahaan rekaman, Remaco dan Sky Records, di kawasan Glodok Plaza.

Persoalannya berkaitan dengan tuntutan ganti rugi atas diperjualbelikannya hak cipta lagu-lagu The Mercy’s kepada Sky Records oleh Remaco. Pihak Rinto Harahap disebut telah beberapa kali melayangkan surat, tetapi tidak mendapat tanggapan.

Perselisihan tersebut akhirnya berkembang menjadi keributan yang menarik perhatian orang-orang yang sedang berada di pusat perdagangan tersebut.

Bagi pembaca masa kini, kisah itu sekaligus menjadi pengingat bahwa persoalan hak cipta dalam industri musik bukanlah perkara baru. Sejak era industri rekaman berkembang, kepemilikan karya dan hak ekonomi pencipta telah menjadi persoalan yang terus diperbincangkan.

Penyanyi senior Diana Nasution juga mendapat tempat dalam pemberitaan Monitor. Ia disebut memperoleh predikat sebagai Penyanyi Terpopuler dan meraih piringan emas.

Album Mungkinkah mendapat sambutan positif dari penggemarnya dan laku di pasaran.

Untuk mempertahankan prestasi, Diana berusaha tampil dengan gaya yang variatif agar penonton tidak merasa bosan ketika menyaksikannya di layar TVRI. Menariknya, ia juga membuka diri terhadap masukan dan koreksi dari media.

Jadwal acara TVRI yang memuat beragam program televisi yang banyak digemari dan dinikmati masyarakat. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Jadwal acara TVRI yang memuat beragam program televisi yang banyak digemari dan dinikmati masyarakat. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)

Dari kisah tersebut tampak bahwa upaya mempertahankan popularitas ternyata tidak banyak berubah. Penyanyi tetap dituntut kreatif, adaptif, dan mampu membaca selera penonton.

Suasana Lebaran juga hadir melalui program Minal Aidina Operetta '80 dengan judul Asrama Dara.

Titiek Puspa dan Mus Mualim melakukan rekaman musik untuk menyambut Lebaran. Produksi berlangsung selama tiga hari tiga malam, merekam dialog dan nyanyian para pendukung acara.

Ada suasana ringan di balik kesibukan studio. Titiek Puspa sibuk membantu Mus Mualim mengarahkan dialog Santi Sardi dan Tuty Kuncoro. Sementara itu, di sudut studio, Herlina Effendi tampak asyik membaca novel Kusni Kasdut sambil selonjoran menunggu giliran rekaman.

Gito Rollies yang mencoba mengusiknya pun tidak dihiraukan.

Adegan sederhana seperti ini justru terasa menarik ketika dibaca kembali. Ia memperlihatkan sisi manusiawi para artis di balik layar, bukan sekadar sosok yang selalu tampil gemerlap di depan kamera.

Meriahkan HUT TVRI ke-18 tanggal 24 Agustus 1980 menjadi momentum penting bagi TVRI karena genap berusia 18 tahun.

Untuk memperingatinya, TVRI menyiapkan acara khusus di Istora Senayan, Jakarta. Beragam pertunjukan disiapkan, mulai dari duet drum Sandy Luntungan dan Rudy Arifin, Drum Band Santa Ursula, Orkes Muis Radjab, Karawitan Anak-Anak, hingga Kuda Lumping Kumba Karna Gugur.

Ada pula acara menyanyi bersama yang dikoordinasikan Kak Seto dan Kak Henny Purwonegoro.

Nama-nama yang mengisi rangkaian acara tersebut pun cukup beragam, antara lain Lingga Binangkit, Band Tongkat Putih, Ully Siregar, Waldjinah, Mira Tania, Djatu Parmawati, Kris Biantoro, Koes Hendratmo, dan Totok Salman dalam acara Kembang Setaman.

Daftar panjang tersebut memperlihatkan betapa luas spektrum hiburan yang disuguhkan TVRI pada masa itu. Musik, tari, pertunjukan tradisional, penyanyi populer, hingga hiburan anak-anak hadir dalam satu rangkaian perayaan.

Bagi keluarga Indonesia pada dekade 1980-an, malam Minggu juga memiliki hiburan tersendiri di layar TVRI yaitu acara Musik Malam Minggu.

Edisi Agustus 1980 ini mencatat penampilan Ade Manuhutu, Melky Goeslaw, Jonas Souisa, Iis Sugianto, dan Christine Panjaitan yang diiringi Band Lollypop pimpinan Rinto Harahap.

Nama-nama tersebut kini menjadi bagian dari sejarah musik populer Indonesia. Namun pada zamannya, mereka adalah wajah dan suara yang menghiasi malam Minggu dari ruang keluarga melalui layar televisi.

Tidak ada pilihan untuk memutar ulang acara. Tidak ada streaming, YouTube, atau rekaman digital. Jika acara terlewat, pemirsa harus menunggu kesempatan berikutnya.

Karena itulah, sebuah acara televisi pada masa itu sering kali terasa lebih istimewa.

Monitor menjadi panduan menonton televisi bagi keluarga.

Selain berita dan profil artis, Monitor Radio dan Televisi juga menyediakan jadwal acara RRI dan TVRI selama dua pekan.

Rubrik-rubrik tetapnya antara lain Dari Meja Redaksi, Dari Dapur Radio & TV, Profil Bintang, Hallo Monitor, Sebaiknya Anda Tahu, Cerita Untuk Anak, serta resensi film-film yang akan ditayangkan TVRI.

Dengan demikian, majalah ini bukan sekadar bacaan hiburan. Ia sekaligus menjadi semacam “panduan menonton” bagi keluarga Indonesia pada zamannya.

Belum ada internet, belum ada layanan streaming, apalagi televisi dengan ratusan kanal. Jadwal acara harus dibaca dari media cetak. Pemirsa menunggu acara favorit sesuai waktu yang telah ditentukan.

Justru di situlah letak romantismenya.

Televisi tidak hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga menciptakan kebiasaan baru: keluarga berkumpul di depan layar, menunggu acara yang telah dijadwalkan, dan kemudian membicarakannya setelah acara berakhir.

Membuka kembali Majalah Monitor Radio dan Televisi edisi Agustus 1980 seperti membuka jendela kecil menuju masa lalu.

Di dalamnya ada nama-nama artis, penyiar, musisi, jadwal acara, berita film, musik, serta berbagai program televisi yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Majalah lawas seperti ini sesungguhnya bukan hanya benda koleksi. Ia adalah dokumen sosial yang merekam selera hiburan, perkembangan industri musik dan televisi, serta cara masyarakat menikmati media pada zamannya.

Kini, 46 tahun kemudian, lembarannya mungkin sudah menguning dan kertasnya mulai rapuh. Namun ingatan yang tersimpan di dalamnya tetap hidup.

Dari lembaran itu kita dapat melihat betapa besar peran TVRI dalam membentuk pengalaman menonton sebuah generasi. Dari layar hitam-putih hingga televisi berwarna, dari satu-satunya pilihan hiburan hingga hadirnya ratusan kanal dan layanan digital, perjalanan televisi Indonesia telah berubah begitu jauh.

Namun satu hal tetap sama: kenangan yang tumbuh di depan layar televisi selalu memiliki tempat tersendiri dalam ingatan.

Maka, mengenang 24 Agustus 1962, bukan semata-mata mengenang sebuah tanggal dalam sejarah. Kita juga mengenang awal perjalanan sebuah lembaga penyiaran yang selama puluhan tahun hadir di ruang-ruang keluarga Indonesia.

Dan ketika lembaran Monitor Radio dan Televisi Agustus 1980 kembali dibuka, kita seakan mendengar lagi suara masa lalu, suara penyiar, denting musik, riuh acara hiburan, serta suasana sebuah keluarga yang duduk bersama menatap layar televisi.

Itulah romantisme membaca media lawas: bukan sekadar melihat masa lalu, melainkan menemukan kembali jejak sebuah zaman yang pernah begitu dekat dengan kehidupan kita.

Dirgahayu TVRI.

24 Agustus 1962–2026.

64 tahun menemani Indonesia.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 14:22

Masa Depan Podcast: Kemana Arah Komunikasi Digital Antara Manusia dan Akal Imitasi?

Perkembangan teknologi turut membuat podcast dengan pelbagai macam tema yang bisa diangkat. Maka tidak ada lagi batasan bahwa kita tidak bisa menyuarakan aspirasi melalui podcast.

Ilustrasi alat studio podcast. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 10:47

Peringati Bulan Bahasa dengan Membaca Indeks Literasi

Refleksi tingkat literasi Indonesia dalam momentum bulan bahasa tahun 2026.

Bulan Bahasa dan Literasi. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 09:59

KDM Mengingatkan Pers, tetapi Siapa yang Mengingatkan KDM?

KDM tidak perlu takut kepada wartawan yang kritis. Justru seorang gubernur memerlukan wartawan yang mampu menjadi semacam cermin yang tidak bisa diedit.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)