Jet Kembali ke Bandung: Kebangkitan Husein atau Euforia Sesaat? 

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Setelah beberapa tahun pesawat jet komersial tidak lagi menjadi pemandangan rutin di bandara tersebut, Husein kembali menerima pesawat berbadan sedang.

  • Ukuran keberhasilan Bandara Husein bukan hanya berapa banyak orang terbang pada 14 Agustus lalu, tetapi bagaimana perilaku penumpang setelah Agustus berlalu.

  • Kebangkitan Bandara Husein sebaiknya tidak dilihat sebagai perang melawan Whoosh, kereta api, jalan tol.

PESAWAT Boeing 737-800 Garuda Indonesia mendarat di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jumat, 14 Agustus 2026 silam. Setelah beberapa tahun pesawat jet komersial tidak lagi menjadi pemandangan rutin di bandara tersebut, Husein kembali menerima pesawat berbadan sedang. Layanan rute Bandung–Denpasar dibuka empat kali seminggu. Di penerbangan perdana, Garuda membawa 162 penumpang, sesuai kapasitas pesawat yang digunakan.

Pertanyaannya adalah: apa yang sesungguhnya yang sedang berubah? Apakah sekadar jenis pesawat yang kembali? Apakah Bandung kini benar-benar memiliki pasar penerbangan baru? Atau kita sedang menyaksikan euforia sesaat karena sebuah rute yang lama dinantikan akhirnya dibuka kembali?

Penerbangan perdana yang penuh penumpang tentu saja kabar baik. Tidak ada yang salah dengan merayakan hal ini. Tetapi, dalam bisnis penerbangan, satu pesawat penuh belum cukup untuk menyimpulkan sebuah rute akan sehat selamanya. Yang menentukan usia sebuah rute bukan tepuk tangan pada hari pertama, melainkan apakah kursi-kursi itu tetap terisi pada pagi-pagi berikutnya beberapa bulan kemudian, ketika tidak ada lagi seremoni, spanduk, dan water salute.

Rute bisa dibuka dengan keputusan bisnis. Tetapi, pasar harus dibangun oleh kebutuhan nyata. Maskapai harus melihat adanya arus penumpang yang cukup, tarif yang masuk akal, jadwal yang cocok, serta prospek pendapatan yang mampu menutup biaya operasional. Karena itu, ukuran keberhasilan Bandara Husein bukan hanya berapa banyak orang terbang pada 14 Agustus lalu, tetapi bagaimana perilaku penumpang setelah Agustus berlalu.

Bukan kota kecil

Sesungguhnya, Bandung bukan kota kecil yang sedang mencari pengunjung. Ekonomi Kota Bandung pada 2025 tumbuh 5,29 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 4,99 persen pada 2024. Bahkan, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 10,03 persen. Ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi ibukota Jawa Barat ini terus bergerak dan kebutuhan mobilitasnya juga berkembang.

Segmen pasarnya juga bukan hanya orang yang hendak berlibur. Bandung adalah kota pendidikan, perdagangan, jasa, industri kreatif, teknologi, kuliner, dan konferensi. Orang-orang datang ke Bandung untuk kuliah, bekerja, bertemu klien, menghadiri acara, mencari produk, atau sekadar menikmati kota. Karena itu, penerbangan langsung Bandung–Denpasar sebenarnya menjual sesuatu yang lebih mahal daripada sekadar tiket, yaitu waktu.

Selama ini, orang Bandung yang hendak terbang ke Bali memiliki pilihan bandara lain, yakni Soekarno-Hatta. Secara ekonomi, perjalanan menuju bandara ini bukan sekadar ongkos bensin atau tarif tol. Ada waktu yang hilang, ketidakpastian lalu lintas, kelelahan, dan risiko terlambat. Semua itu mempunyai nilai. Karena itu, penerbangan dari bandara yang lebih dekat dapat tetap menarik meskipun harga tiketnya tidak selalu menjadi yang paling murah.

Di sinilah keunggulan Husein sebenarnya. Bandara ini berada di dalam kawasan pusat Kota Bandung. Namun demikian, keunggulan geografis juga sekaligus menjadi keterbatasan. Kementerian Perhubungan mencatat Husein memiliki landasan pacu 2.220 x 45 meter, lahan yang terbatas karena dikelilingi permukiman, keterbatasan Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan, serta digunakan bersama dengan TNI Angkatan Udara. Karena itu, pengoperasian Boeing 737-800 -- juga Airbus A320 -- memerlukan peningkatan fasilitas dan pengaturan slot.

Artinya, Husein tidak mungkin diperlakukan seperti bandara yang mempunyai ruang tak terbatas untuk terus tumbuh. Pasalnya, ia mempunyai kapasitas alamiah. Dan justru karena itulah strategi pengembangannya harus benar-benar cerdas. Bandara Husein mungkin tidak perlu mengejar sebanyak mungkin penerbangan. Yang lebih penting adalah memilih rute yang memiliki permintaan cukup kuat, frekuensi yang tepat, serta nilai ekonomi yang tinggi bagi Bandung.

Rute Bandung–Denpasar sendiri merupakan pilihan yang masuk akal. Kedua daerah sama-sama mempunyai ekonomi pariwisata yang kuat. Pengelola Bandara I Gusti Ngurah Rai sendiri menyebut konektivitas Bandung–Bali memiliki potensi karena keduanya merupakan destinasi wisata sekaligus pusat aktivitas ekonomi. Pada penerbangan perdana 14 Agustus, pesawat dari Bali ke Bandung membawa 162 penumpang dan penerbangan sebaliknya dari Bandung ke Bali juga mengangkut 162 penumpang.

Namun demikian, jangan menganggap seluruh penumpang sebagai wisatawan. Pesawat bisa penuh karena berbagai alasan. Ada wisatawan, pebisnis, keluarga, mahasiswa, peserta konferensi, pekerja, dan orang yang mempunyai kepentingan pribadi. Justru campuran penumpang semacam ini yang membuat sebuah rute lebih sehat. Ketergantungan pada wisatawan saja membuat permintaan mudah mengalami fluktuasi mengikuti musim.

Basis wisatawan domestik

Petugas membersihkan salahsatu fasilitas Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Rabu 25 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Petugas membersihkan salahsatu fasilitas Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Rabu 25 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bandung sendiri mempunyai basis wisatawan domestik yang sangat besar. Badan Pusat Statistik mencatat perjalanan wisatawan nusantara yang menjadikan tujuan Kota Bandung mencapai sekitar 2,278 juta perjalanan pada Desember 2025. Tingkat penghunian kamar hotel pada bulan yang sama mencapai 64,14 persen. Angka ini menunjukkan bahwa arus manusia menuju Bandung memang besar. Tetapi, data tersebut juga mengingatkan kita pada satu hal, bahwa banyaknya orang datang ke Bandung tidak otomatis berarti banyak orang akan naik pesawat dari Bandung.

Wisatawan umumnya memilih moda transportasi berdasarkan harga, waktu, kenyamanan, jarak, dan tujuan perjalanan. Untuk perjalanan dari Jakarta ke Bandung, misalnya, kereta cepat mengubah kalkulasi waktu secara signifikan. Pesawat tidak mungkin bersaing pada semua jenis perjalanan. Pesawat memiliki keunggulan terutama ketika tujuan berada cukup jauh dan biaya waktu menjadi penting.

Karena itu, kebangkitan Bandara Husein sebaiknya tidak dilihat sebagai perang melawan Whoosh, kereta api, jalan tol. Transportasi modern justru bekerja dengan prinsip berbeda, yakni setiap moda mengisi kebutuhan yang berbeda. Kereta cepat menghubungkan Bandung dengan Jakarta. Jalan raya melayani pergerakan regional. Pesawat menghubungkan Bandung dengan kota-kota yang terlalu jauh untuk ditempuh secara efisien melalui darat.

Masalahnya, selama ini perencanaan transportasi sering terjebak dalam cara berpikir sektoral. Bandara berbicara soal penerbangan. Kereta berbicara soal transportasi berbasis rel. Pemerintah kota berbicara soal jalan raya. Padahal, penumpang tidak berpikir seperti itu. Ia hanya ingin berangkat dari rumah dan tiba di tujuan dengan waktu, biaya, dan kerepotan seminimal mungkin.

Oleh sebab itu, ukuran keberhasilan Bandara Husein kelak bukan hanya load factor alias tingkat keterisian kursi. Pemerintah dan maskapai seharusnya melihat lebih banyak lagi indikator, mulai dari ketepatan waktu, frekuensi penerbangan, harga rata-rata tiket, jumlah penumpang berulang, kestabilan permintaan di luar musim liburan, hingga pertumbuhan penumpang dari waktu ke waktu. Kalau penumpang datang kembali karena rute itu memang berguna, di situlah pasar sesungguhnya mulai terbentuk.

Masalah jadwal

Empat penerbangan Bandung–Denpasar seminggu adalah permulaan yang wajar. Tetapi, bagi pebisnis, frekuensi menentukan apakah sebuah rute benar-benar berguna. Penerbangan yang hanya tersedia pada hari tertentu bisa membuat seseorang tetap memilih Jakarta jika jadwalnya tidak sesuai kebutuhan. Dalam transportasi, frekuensi bukan sekadar jumlah penerbangan. Ia menentukan fleksibilitas.

Karena itu, jika empat kali seminggu terbukti sehat, pertanyaan berikutnya bukan lagi apakah rute ini harus ada, melainkan apakah frekuensinya perlu ditambah. Sebaliknya, jika tingkat keterisian turun tajam setelah musim liburan, misalnya, maskapai harus berani membaca data dan mengambil keputusan. Jangan mempertahankan rute hanya karena alasan simbolik bahwa Bandung harus memiliki penerbangan jet.

Pemerintah tentu berkepentingan agar Bandung terkoneksi. Tetapi, maskapai juga mempunyai perhitungan sendiri. Pesawat adalah aset mahal yang harus terus bergerak. Kursi kosong adalah kapasitas yang tidak bisa dijual kembali setelah pesawat terbang. Karena itu, keberlanjutan rute penerbangan pada akhirnya harus memiliki fondasi ekonomi, dan bukan sekadar kehendak politik. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 14:22

Masa Depan Podcast: Kemana Arah Komunikasi Digital Antara Manusia dan Akal Imitasi?

Perkembangan teknologi turut membuat podcast dengan pelbagai macam tema yang bisa diangkat. Maka tidak ada lagi batasan bahwa kita tidak bisa menyuarakan aspirasi melalui podcast.

Ilustrasi alat studio podcast. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 10:47

Peringati Bulan Bahasa dengan Membaca Indeks Literasi

Refleksi tingkat literasi Indonesia dalam momentum bulan bahasa tahun 2026.

Bulan Bahasa dan Literasi. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 09:59

KDM Mengingatkan Pers, tetapi Siapa yang Mengingatkan KDM?

KDM tidak perlu takut kepada wartawan yang kritis. Justru seorang gubernur memerlukan wartawan yang mampu menjadi semacam cermin yang tidak bisa diedit.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)