Apakah Kita Sudah Benar-Benar Merdeka untuk Bersuara?

3 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung Raya melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, Rabu 17 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung Raya melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, Rabu 17 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Tak hanya di ruang keluarga, bersuara di lingkungan pendidikan pun kerap menuai kontroversi atau menciptakan ruang-ruang perundungan.

  • Menelisik kepada kenyataan yang terjadi di negara kita, suara masyarakat seringkali menjadi ancaman bagi segelintir pemangku kebijakan.

Setiap tahun sebagian besar masyarakat Indonesia selalu menyambut 17 Agustus dengan penuh antusias. Semangat itu terlihat dari bagaimana masyarakat merayakannya melalui acara karnaval, berbagai macam perlombaan seperti lomba makan kerupuk, balap karung, panjat pinang dan serangkaian acara yang dimeriahkan dengan cara yang beragam dari setiap daerah. Sejak kecil saya juga termasuk dari masyarakat yang senang untuk merayakan hari kemerdekaan tanpa memahami sebenar-benarnya makna dari kemerdekaan itu sendiri.

Sejak saya tertarik dengan beberapa tulisan dari Tan Malaka—di mulai sejak itu saya banyak mempertanyakan tentang makna kemerdekaan itu sendiri. Melalui tulisannya saya merasa bahwa sejatinya kemerdekaan yang kita dapatkan selama 81 tahun hanya serangkaian seremonial yang dirayakan tanpa memahami benar apa itu esensi dari kemerdekaan itu sendiri. Mungkin kita memang sudah Merdeka dari para penjajah kolonial tapi bagaimana dengan penjajahan dari negara tempat kita bernaung dan berdiri? Bagaimana penjajahan yang dilakukan para pemangku kebijakan kepada rakyatnya? Tentang janji-janji yang tak pernah tertunaikan dengan baik dan benar tapi mereka berlindung dibalik peduli kepada rakyat?

Mungkin kita bisa mulai merunutkan dari hal yang paling sederhana yaitu apakah kita benar-benar sudah merdeka untuk bersuara? Sejak kecil sebagian besar dari masyarakat kita hidup dalam lingkungan keluarga yang tidak banyak memberikan ruang kepada anaknya untuk berbicara dan sekedar menyampaikan pendapat yang berbeda.Orang tua kerap menganggap bahwa berani berbicara dan menyampaikan pendapat adalah sebagai bentuk perlawanan sehingga tak jarang anak mendapat label pembangkang atau di cap sebagai anak yang durhaka.

Semenjak itu banyak dari anak-anak tumbuh menjadi pendiam—penakut – memilih bungkam ketika melihat atau mengalami hal-hal yang menyimpang—ketidakadilan hingga segala bentuk ucapan atau perlakuan yang merugikan dirinya. Saya rasa juga kenapa hingga saat ini masalah pelecehan dan kekerasan seksual masih tetap terjadi di masyarakat, salah satunya karena korban seringkali harus diam dan manut kepada pelaku meski tahu hal tersebut adalah suatu kesalahan.

Tak hanya di ruang keluarga, bersuara di lingkungan pendidikan pun kerap menuai kontroversi atau menciptakan ruang-ruang perundungan. Ketika ada yang berani menyuarakan pendapat atau pandangan tentang suatu hal yang tidak ada dalam terori seringkali dilabeli dengan “anak sok pintar”. Sementara bagi mereka yang kritis untuk bertanya atau bersuara seringkali menciptakan ruang perundungan karena merasa terancam dengan kenyamanan yang terusik karena pertanyaan kritis tersebut.

Berlanjut dengan kebebasan bersuara yang juga dibatasi di lingkungan pekerjaan. Ketika seorang bawahan memberikan tata cara yang seusuai kepada senior kerap kali dimusuhi karena dianggap ingin mencari perhatian. Sementara ketika seorang karyawan meminta hak yang harus dipenuhi kepada atasan seringkali dianggap sebagai orang yang melewati batas kewenangan.

Di negara kita yang menganut sistem demokrasi seharusnya suara adalah bentuk dari aspirasi masyarakat. Suara masyarakat seharusnya bisa menjadi bagian dari bertumbuhnya negara demokrasi. Suara adalah bentuk kepedulian masyarakat meski sering dianggap sebagai makar. Tapi lewat suara itulah masyarakat seringkali dimusuhi, dibungkam hingga dianggap sebagai antek-antek asing.

Negara kita selalu menggaungkan kemerdekaan tapi apakah kita benar-benar merdeka untuk bersuara? Kita semua pasti sudah memiliki jawabannya entah mengiyakan atau dalam keragu-raguan. Menelisik kepada kenyataan yang terjadi di negara kita, suara masyarakat seringkali menjadi ancaman bagi segelintir pemangku kebijakan. Beberapa kali masyarakat yang berani bersuara juga para influencer yang sadar dengan isu politik di teror dengan berbagai ancaman. Tak hanya itu sejumlah wartawan dan aktivis yang vokal pun tak hanya diancam tapi juga mendapatkan bentuk kekerasan yang merusak hidup mereka seperti penyiraman air keras hingga pembunuhan.

Lantas apakah perayaan kemerdekaan tidak wajib dilaksanakan ? tentu saja tidak. Perayaan masyarakat di hari kemerdekaan tentu saja bisa tetap dilaksanakan untuk mengenang dan merayakan kemenangan para pejuang yang telah mengusir para penjajah dari bumi Nusantara. Namun perayaan itu juga tak seharusnya membuat kita menutup mata, hati dan pikiran bahwa secara substansi negara ini khususnya masyarakatnya belum sepenuhnya merdeka karena kehilangan kebebasannya untuk bersuara.

Kenapa kepala negara kita bebas bersuara hingga menyakiti masyarakat, bersuara dengan seenak jidat bahkan menyampaikan hal-hal yang memicu asumsi bagi masyarakatnya—misalnya upah 1 kg pengupas bawang adalah Rp.700.000. Namun kita sebagai masyarakat justru dianggapnya antek-antek asing padahal hanya ingin membawa perubahan bagi negara ke arah yang lebih baik. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)