Self-Reward Anak Muda dan Jebakan Mental Accounting

6 menit baca
ANGELINA MARSCIANO NOVI ARJANTI
Ditulis oleh ANGELINA MARSCIANO NOVI ARJANTI diterbitkan
Ilustrasi self reward. (Sumber: Pexels | Foto: Kristina Paukshtite)
Ilustrasi self reward. (Sumber: Pexels | Foto: Kristina Paukshtite)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Self-reward sendiri memiliki arti dimana itu adalah sebuah bentuk apresiasi yang dilakukan oleh seseorang terhadap dirinya sendiri.

  • Konsep mental accounting dalam ilmu behavioral accounting, yang dicetuskan oleh ekonom peraih Nobel, Richard Thaler.

  • Sebenarnya yang membuat self-reward menjadi impulsif karena adanya dorongan dari faktor psikologis seperti rasa lelah atau stres yang dirasakan.

Bisa menghitung dan menyusun laporan keuangan orang lain dengan baik tapi keuangan sendiri saja kacau? Kebiasaan yang sering dilakukan ketika ujian berakhir justru langsung muncul pikiran “pergi ke mana ya habis ini?” atau “beli apa ya enaknya?” Tangan yang begitu cepat membuka handphone dan mencari referensi di google atau bahkan membuka platform belanja online yang kemudian melakukan berbagai transaksi dan tanpa sadar sudah banyak kas yang dihabiskan.

Kejadian inilah yang sering kali menjadi sebuah alasan untuk melakukan apresiasi terhadap diri sendiri. Entah dengan cara membeli sesuatu yang disukai setelah ujian, membeli makanan enak atau jajanan yang banyak setelah begadang mengerjakan tugas tugas yang menumpuk, atau bahkan membeli sesuatu yang tidak perlu hanya karena lapar mata. Padahal seharusnya merekalah yang paling paham bagaimana cara mengatur keuangan agar tetap aman terkendali dan stabil. Dari sini, muncul sebuah pertanyaan mengapa self-reward dirasa wajar untuk diterima, bahkan oleh mereka yang seharusnya paling tahu akan akibat terhadap keuangan?

Apa itu Self-Reward dan Kenapa Terasa "Wajar"

Self-reward sendiri memiliki arti dimana itu adalah sebuah bentuk apresiasi yang dilakukan oleh seseorang terhadap dirinya sendiri karena telah berhasil melalui perjalanan yang berat dalam menyelesaikan pekerjaannya atau karena telah mencapai sebuah target yang diharapkan. Bentuknya sendiri dapat dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang dalam bentuk menghabiskan uang seperti membeli barang yang diinginkan, membeli banyak jajanan enak, dan pergi jalan jalan ke tempat tempat hiburan. Ada pula dalam bentuk menghabiskan waktu untuk diri sendiri seperti menonton film dirumah, membaca sebuah buku, atau olahraga.

Dilansir dari artikel KPKNL Samarinda pada website DJKN dimana Devy Kusumaningrum selaku pelaksana pada KPKNL Samarinda mengatakan bahwa self-reward bukan hanya sekadar sebuah bentuk apresiasi saja, tetapi juga cara untuk lebih mencintai diri sendiri.

Di sisi lain, selain untuk manfaat psikologis, self-reward ini dapat dikaitkan dengan budaya hustle culture atau yang biasa kita dengar sebagai istilah gila kerja. Hustle culture adalah kondisi dimana seseorang menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk bekerja dengan waktu istirahat yang singkat. Hal ini yang kemudian membuat seseorang menggunakan waktu istirahat yang singkat itu dengan bersenang-senang. Adanya konten konten di media sosial yang mendukung atau membenarkan bahwa membeli sesuatu itu bukan pemborosan melainkan apresiasi terhadap diri sendiri untuk menghibur diri sendiri juga mempengaruhi psikologi seseorang sebagai validasi bahwa apresiasi diri adalah hal yang wajar dilakukan kapan pun kita merasa lelah. 

Self-reward yang dilakukan oleh anak muda kebanyakan berasal dari kebiasaan atau pola yang sudah terbentuk sejak lama. Berdasarkan hasil survey yang sempat saya lakukan terhadap 16 responden yang merupakan teman teman saya, kebanyakan dari mereka melakukan apresiasi diri ketika sudah menyelesaikan ujian dan ketika mereka merasa stress atau lelah tanpa alasan yang spesifik, yang di mana kebiasaan ini terkadang direncanakan tapi juga terkadang dilakukan secara spontan. Hal tersebut dapat memperlihatkan bahwa apresiasi terhadap diri sendiri sekarang jadi sulit dibedakan antara yang bener benar untuk diri sendiri atau semata mata hanya karena kalap mata karena dorongan emosional untuk melepas rasa lelah atau stress.

Kata “Self Reward” sudah sangat nyaman dikenal oleh telinga para Gen Z. (Sumber: Pexels/Porapak Apichodilok)
Kata “Self Reward” sudah sangat nyaman dikenal oleh telinga para Gen Z. (Sumber: Pexels/Porapak Apichodilok)

Konsep Mental Accounting

Konsep mental accounting dalam ilmu behavioral accounting, yang dicetuskan oleh ekonom peraih Nobel, Richard Thaler, menyatakan bahwa kebanyakan orang akan melakukan pemisahan atau mengategorikan ke dalam akun-akun yang berbeda berdasarkan sumber dana yang didapatkan dan penggunaan dana tersebut. Menurutnya ada 3 komponen utama, yaitu (1) untung atau rugi yang dirasakan seseorang tergantung pada hasil yang diperoleh dibandingkan harapan awalnya (bukan hanya nominal akhir yang didapatkan). (2) bagaimana seseorang mengelompokkan atau mengategorikan dana yang masuk dan keluar ke dalam beberapa akun yang berbeda berdasarkan sumber dan penggunaannya dan (3) bagaimana seseorang menentukan jangka waktu untuk melakukan evaluasi atas transaksi yang dilakukan.

Berdasarkan hasil survei yang saya lakukan terhadap 16 teman saya, mayoritas dari mereka memilih “ya” sebanyak 68,8% yang dimana mereka memperlakukan uang secara berbeda tergantung sumbernya, adapun sebanyak 18,8% yang memilih “mungkin” dan sebanyak 12,5% memilih “tidak” yang berarti mereka tidak melihat dari mana sumber uang itu berasal dan memperlakukannya sama saja. Hal ini membuktikan bahwa teori mental accounting memang terjadi di kalangan anak muda zaman sekarang. Kebanyakan dari mereka melakukan pengategorian terhadap uang yang didapat meskipun tidak menutup kemungkinan terhadap celah untuk melakukan self-reward secara impulsif. Bagaimana mereka memutuskan untuk melakukan pembelian lah yang menjadi penentunya.

Tahu Teori tapi Gagal Praktik

Adanya kesenjangan antara teori serta praktik nyata ini memiliki istilah sendiri dalam kajian behavioral economics, yaitu knowledge-behavior gap yang merupakan kondisi di mana ada ketidaksesuaian antara wawasan yang mencukupi atau memadai akan tetapi dalam menjalankan praktik nyatanya sangat berbeda. Padahal mereka tau apa yang seharusnya dilakukan, tetapi cara mereka bertindak tidak sesuai dengan apa yang sudah mereka pelajari di perkuliahan.

Hal tersebut semakin terlihat jika diteliti lebih dalam, tidak sedikit dari mereka yang mempelajari teori akuntansi, tetapi belum melakukan pencatatan secara rutin atas transaksi yang mereka lakukan. Kondisi tersebut menunjukan bahwa knowledge-behavior gap dapat terjadi di kalangan anak muda dalam kasus ini adalah anak akuntansi. Meskipun mereka diajari tentang bagaimana mengelola pencatatan keuangan dengan baik, justru mereka tidak menerapkannya kebiasaan tersebut kepada keuangan mereka sendiri.

Adapun dari hasil survei lainnya yang saya lakukan yang menunjukan bahwa mayoritas memilih kalau mereka melakukan apresiasi pada dirinya sendiri minimal sekali dalam setiap bulannya, ada yang dalam 1 bulan dapat melakukannya lebih dari 1x atau bahkan hampir setiap minggu melakukannya. Jika digabungkan secara keseluruhan, hampir 68,8% responden melakukan self-reward lumayan rutin di setiap bulannya. Hal tersebut menunjukan bahwa seberapa seringnya frekuensi yang dilakukan memperlihatkan kebiasaan yang dilakukan bukan hanya sekedar di momen atau kondisi yang istimewa melainkan kebiasaan rutin minimal sebulan sekali. Hal ini diperkuat pada temuan sebelumnya bahwa kebiasaan yang dilakukan kebanyakan ketika mereka merasa stress atau lelah tanpa alasan yang spesifik.

Dapat kita lihat bahwa sebenarnya yang membuat self-reward menjadi impulsif karena adanya dorongan dari faktor psikologis seperti rasa lelah atau stres yang dirasakan yang dapat mengalahkan keputusan finansial rasional seseorang. Contohnya adanya tekanan dari teori hustle culture yang kemudian membuat self-reward terasa bebas dilakukan dan emosional sementara untuk melepas rasa lelah dan stress yang kemudian memunculkan knowledge-behavior gap. Inilah yang perlu direnungkan secara pribadi dengan lebih dalam dan teliti supaya kelak ketika kita dihadapkan oleh tanggung jawab finansial dan konsekuensi yang jauh lebih besar, kita sudah memiliki kebiasaan disiplin dalam mencatat dan mengelola keuangan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini membuktikan bahwa ilmu akuntansi yang dipelajari di ruang kelas tidak serta-merta membuat seseorang rasional secara finansial, karena yang dibutuhkan bukan hanya sebuah wawasan yang memadai, melainkan kesadaran untuk mempraktikannya dalam kehidupan nyata. Sebab, tidak ada artinya jika kita dapat mengelola keuangan orang lain dengan baik jika tidak dapat diterapkan pada diri sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

ANGELINA MARSCIANO NOVI ARJANTI
Seorang mahasiswi aktif unpar di bidang akuntansi

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)