Jelantah, Sampah, dan Berkah

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Jumat 29 Agu 2025, 19:19 WIB
Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rosihon Anwar resmi meluncurkan UCOllect, mesin penukar minyak jelantah jadi rupiah di area parkir Gedung Pusat Pengembangan Bisnis (P2B), Rabu, (18/12/2024) (Sumber: Humas UIN SGD | Foto: Istimewa)

Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rosihon Anwar resmi meluncurkan UCOllect, mesin penukar minyak jelantah jadi rupiah di area parkir Gedung Pusat Pengembangan Bisnis (P2B), Rabu, (18/12/2024) (Sumber: Humas UIN SGD | Foto: Istimewa)

Pagi itu sekitar pukul 05.30 WIB, saat sedang mengantar istri berbelanja di warung Batak milik Abang Hotman, tiba-tiba datang rombongan berjumlah delapan orang berpakaian hitam-putih. Salah seorang di antaranya berteriak, “Salah bukan ke situ?” lalu bertanya, “Pak, maaf, kalau jalan ke kampus lewat gang ini benar, ya?”

Kujawab singkat, “Muhun.” Dari kejauhan terlihat ada yang membawa minyak jelantah dalam botol bekas minuman.

Meuni nyubuh kitu nya Bah!” komentar istri.

Alasannya jelas, sebagai mahasiswa baru tentu semangat dalam mencari ilmu, belajar, dan pengalaman. Mereka ingin berada di posisi terdepan. Apalagi suasana pagi yang segar sangat berpengaruh terhadap prestasi, bukan hanya merayakan selebrasi atas kelulusan diterima di kampus pilihannya.

Memang, bagi pejalan kaki (pengendara motor) dari RT 01 RW 04, akses menuju kampus UIN Bandung bisa melewati Masjid Al-Hidayah. Namun, untuk mobil, jalurnya harus lewat Erabarala yang sama-sama tembus ke Jalan Manis, lalu dilanjutkan mudun ke jalan Gang Lio Utara.

Dari sana melewati pintu Doraemon tepat di belakang Gedung Fakultas Sains dan Teknologi, rindangnya pohon mangga di sekitar Tugu Elektro, suasana asri di depan GOR Bulutangkis. Ya, hanya sekitar 100 langkah saat berjalan santai yang sedikit nanjak, di samping pos keamanan, terlihat megah Gedung Fakultas Syariah dan Hukum.

Minyak jelantah jadi rupiah di area parkir Gedung Pusat Pengembangan Bisnis (P2B) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Selasa (26/8/2025) (Sumber: Dokumentasi PBAK 2025 | Foto: Istimewa)
Minyak jelantah jadi rupiah di area parkir Gedung Pusat Pengembangan Bisnis (P2B) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Selasa (26/8/2025) (Sumber: Dokumentasi PBAK 2025 | Foto: Istimewa)

Siapkan Gunung Djati Muda

Rupanya, 7.310 mahasiswa baru tengah mengikuti Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung Tahun 2025. Ajang pengenalan tahunan kampus yang lebih terkenal IAIN bagi warga Cipadung ini berlangsung selama tiga hari, mulai 26–28 Agustus 2025, dari pukul 07.00 hingga 16.00 WIB.

Semacam Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek), PBAK tahun ini bertajuk “Gunung Djati Muda: Penggerak Literasi, Pelopor Ekoteologi Berbasis Rahmatan lil ‘Alamin.”

PBAK menjadi bagian penting dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tujuannya membentuk kecerdasan intelektual, kedewasaan berpikir dan bertindak, menumbuhkan jiwa nasionalisme di kalangan mahasiswa baru. Dengan berpedoman pada Keputusan Dirjen Pendidikan Islam Nomor 2939 Tahun 2024 tentang Pedoman Umum Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).

Sebelum memasuki Gedung Anwar Musaddad, Tugu Kujang, Abdjan Soelaiman, maupun Aula Utama eks Fakultas Bisnis dan Ekonomi Islam (FEBI), para panitia sudah berjaga sambil menyiapkan tumbler untuk setiap peserta. Aktivitas ini menjadi bukti nyata gerakan ekoteologi di kampus kebanggaan urang Bandung Timur.

Suasana kampus perjuangan tampak lengang, tanpa lalu-lalang kendaraan roda dua (roda empat). Pasalnya, selama PBAK berlangsung, peserta dan pegawai memang dilarang membawa mobil, motor ke Kampus I. Bagi pegawai yang tinggal cukup jauh, kendaraan bisa dititipkan di Kampus II (Cimencerang, samping Polda Jabar), lalu melanjutkan perjalanan ke Kampus I (Cipadung) menggunakan bus.

UCOllect, mesin penukar minyak jelantah jadi rupiah di area parkir Gedung Pusat Pengembangan Bisnis (P2B) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Selasa (26/8/2025) (Sumber: Dokumentasi PBAK 2025 | Foto: Istimewa)
UCOllect, mesin penukar minyak jelantah jadi rupiah di area parkir Gedung Pusat Pengembangan Bisnis (P2B) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Selasa (26/8/2025) (Sumber: Dokumentasi PBAK 2025 | Foto: Istimewa)

Bila melewati area depan Masjid Ikomah Kampus I, tepatnya di Gedung Pusat Pengembangan Bisnis (P2B) samping Indomaret Point, yang dulunya Gedung Fakultas Ushuluddin, sejak tahun 2024 pindah ke Kampus II bersama Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Pascasarjana.

Hadirnya fasilitas UCOllect, inovasi mesin penampung minyak jelantah yang bisa ditukar menjadi uang. Sejak 2022, UCOllect memanfaatkan teknologi eksklusif berbasis AI untuk mengoptimalkan pengumpulan minyak goreng bekas dari rumah tangga maupun produsen kecil, dan memberikan insentif kepada mereka melalui pembagian keuntungan.

Dengan slogan “Jelantah Jadi Rupiah!”, UCOllect hadir untuk menumbuhkan kepedulian lingkungan dan memberikan manfaat ekonomi, khususnya bagi civitas akademika kampus. Minyak goreng bekas (Used Cooking Oil/UCO) dikumpulkan untuk didaur ulang menjadi produk ramah lingkungan dan bernilai guna.

Cara penggunaannya sangat mudah. Cukup unduh aplikasi UCOllect, lakukan pendaftaran, lalu pindai kode QR di mesin. Setelah pintu mesin terbuka, minyak jelantah dapat langsung dituangkan ke wadah yang tersedia. Secara otomatis, saldo akan masuk ke akun aplikasi pengguna. (www.noovoleum.com dan instagram @noovoleumid).

WAHU, sistem pengelolaan sampah yang membawa kebaikan bagi sosial dan lingkungan di area parkir Gedung Pusat Pengembangan Bisnis (P2B) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Selasa (26/8/2025). (Sumber: Istimewa | Foto: Dokumentasi PBAK 2025)
WAHU, sistem pengelolaan sampah yang membawa kebaikan bagi sosial dan lingkungan di area parkir Gedung Pusat Pengembangan Bisnis (P2B) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Selasa (26/8/2025). (Sumber: Istimewa | Foto: Dokumentasi PBAK 2025)

Tepat di samping mesin UCOllect, hadir pula fasilitas Wahu Box. WAHU (Wahu Waste Hub), sistem pengelolaan sampah yang membawa kebaikan bagi sosial dan lingkungan dengan memberdayakan masyarakat untuk mengumpulkan sampah plastik serta memberikan keuntungan secara langsung.

Pencemaran dari sampah plastik sangat membahayakan kehidupan dan lingkungan kita yang berdampak tidak hanya bagi masyarakat, sungai, lautan, bahkan air dan makanan kita. 8 juta ton sampah plastik di Indonesia setiap tahunnya hanya 9% yang didaur ulang. Sisanya dapat mencemari dan merusak alam kita.

Ide sederhana ini sangat inovatif, dan semua orang bisa merasakan manfaatnya hanya dengan mengunduh aplikasi WAHU, lalu mulai mengumpulkan sampah plastik, serta menikmati bonus dalam bentuk uang elektronik.

Kita bisa ikut berkontribusi dengan cara mudah. Pertama, Pilah dan kumpulkan sampah plastik di rumah maupun lingkungan sekitar. Kedua, Bawa sampah plastik itu ke WAHU Poin Pengumpulan Sampah Plastik terdekat. Ketiga, Terima pembayaran langsung ke dompet elektronik yang sudah terdaftar!

Panduan praktis cara mengubah sampah jadi uang bersama WAHU:

- Identifikasi jenis sampah plastik yang dapat didaur ulang.

- Unduh aplikasi WAHU untuk memulai proses pengumpulan dan penukaran.

- Antar plastik bekas ke titik pengumpulan yang tersedia di aplikasi.

- Dapatkan pembayaran otomatis melalui aplikasi WAHU.

Dengan langkah sederhana ini, kita bisa mengubah sampah menjadi uang sekaligus membantu menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan. (www.wa-hu.com dan instagram @wahuwastehubs)

Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menetapkan darurat sampah di Bandung Raya menyusul peristiwa kebakaran di TPA Sarimukti. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menetapkan darurat sampah di Bandung Raya menyusul peristiwa kebakaran di TPA Sarimukti. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Produksi 1.500 Ton per Hari, Kuota TPA Hanya 981 Ton

Sekitar 1.500 meter kubik atau setara 600 ton sampah yang menumpuk di Pasar Gedebage berhasil diangkut dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat. Proses pengangkutan berlangsung selama dua hari, pada 28–29 April 2025.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengakui penanganan sampah di Kota Bandung masih menghadapi banyak tantangan. Salah satunya pembangunan insinerator yang hingga kini belum berjalan optimal. (detikJabar, Rabu 30 April 2025, 13:00 WIB)

Kondisi ini sebagai darurat sampah. Dari 1.560 rukun warga (RW) di Kota Kembang, baru sekitar 400 RW yang berstatus bebas sampah. Kondisi darurat sampah ini bukan yang pertama. Dalam 20 tahun terakhir, masalah serupa berulang kali terjadi di Kota Bandung.

Ini menjadi bukti nyata atas masalah sistemik dalam pengelolaan sampah di kota yang dijuluki Paris van Java. Faktor utama penyebabnya urbanisasi, meningkatnya jumlah penduduk baru, perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin konsumtif. (Kompas, 2 Mei 2025).

Kota Bandung menghasilkan sampah dengan volume mencapai 1.496,3 ton per hari. Namun, Pemerintah hanya mendapat kuota pengiriman ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti sebesar 981,3 ton per hari. Ya masih ada sekitar 500 ton sampah yang tidak terangkut setiap harinya. (Pikiran Rakyat, 27 Agustus 2025).

Hampir setiap orang menggunakan minyak goreng untuk memasak. Sayangnya, belum banyak yang menyadari dengan membuang minyak goreng bekas (jelantah) secara sembarangan dapat menimbulkan dampak serius bagi lingkungan maupun kesehatan.

Minyak jelantah termasuk ke dalam kategori limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) rumah tangga. Sebab limbah B3 ini mengandung zat berbahaya dalam konsentrasi tertentu, sehingga bisa merusak lingkungan, mengganggu kesehatan, baik secara (tidak) langsung.

Dalam publikasi Indonesia Oilseeds and Products Annual 2019, konsumsi minyak goreng rumah tangga di Indonesia mencapai 13 juta ton. Betapak tidak, data United States Department of Agriculture (USDA), pada 2019 Indonesia menjadi negara dengan konsumsi minyak goreng tertinggi di dunia, diikuti oleh India, China, dan Malaysia.

Kurangnya edukasi mengenai bahaya minyak jelantah membuat sebagian masyarakat masih kerap mengonsumsinya kembali, (membuangnya) sembarangan. Padahal, ada enam bahaya minyak jelantah bila terus dikonsumsi (dibuang) begitu saja, mulai dari menyebabkan kolesterol tinggi, meningkatkan risiko penyakit jantung, memicu kanker, menyumbat saluran drainase, menyebabkan pencemaran air, sampai menimbulkan pencemaran tanah. (www.citarumharum.jabarprov.go.id)

Sebagai aksi nyata dalam mewujudkan penggerak literasi dan pelopor ekoteologi, 7.310 mahasiswa baru UIN Bandung melakukan “Deklarasi Aksara Lestari Gunung Djati Muda” saat PBAK 2025, Selasa (26/8/2025) (Sumber: Humas UIN SGD | Foto: Istimewa)
Sebagai aksi nyata dalam mewujudkan penggerak literasi dan pelopor ekoteologi, 7.310 mahasiswa baru UIN Bandung melakukan “Deklarasi Aksara Lestari Gunung Djati Muda” saat PBAK 2025, Selasa (26/8/2025) (Sumber: Humas UIN SGD | Foto: Istimewa)

Aksi Nyata Ekoteologi ala UIN Bandung

Sebagai kampus Islam yang berlokasi di kawasan Gedebage dan Cipadung dituntut berperan dalam mengurangi darurat sampah, UIN Sunan Gunung Djati Bandung menghadirkan aksi nyata melalui gerakan literasi dan ekoteologi. Sebanyak 7.310 mahasiswa baru mendeklarasikan komitmennya dalam “Deklarasi Aksara Lestari Gunung Djati Muda.”

Kami Gunung Djati Muda Menyatakan Tekad:

1. Menguatkan literasi sebagai pondasi peradaban melalui budaya membaca menulis dan berpikir kritis serta pemanfaatan teknologi digital sejalan dengan gerakan literasi nasional.

2. Mengembangkan ekoteologi berbasis rahmatan lil ‘alamin dengan menghayati ajaran agama sebagai pijakan dan mendukung program pemerintah dalam transisi energi hijau dan ekonomi berkelanjutan.

3. Mendorong toleransi dan kerukunan umat bergama menjadikan keberagaman sebagai rahmat serta menolak segala bentuk perpecahan yang mengancam persatuan bangsa.

4. Membangun gerakan sosial berbasis kolaborasi bergandeng tangan dalam mewujudkan masyarakat literat berkeadilan dan ramah lingkungan.

Kami Gunung Djati Muda siap menjadi penggerak literasi dan pelopor ekoteologi berbasis rahmatan lil ‘alamin.

Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rosihon Anwar, sangat mementingkan konsep ekoteologi, pendekatan keagamaan yang memadukan ajaran Islam dengan kepedulian lingkungan. Menurutnya, menjaga kelestarian alam itu bagian dari ibadah sekaligus bentuk pengabdian kepada Allah SWT.

UIN Bandung mengambil peran sebagai pelopor penggerak dalam mempraktikkan ajaran ekoteologi dan bertindak nyata mengatasi masalah lingkungan, mulai dari pencemaran, perubahan iklim, hingga eksploitasi berlebihan.

Sebagai wujud nyata, UIN Bandung telah bekerja sama dengan Novooleum dalam mengolah minyak jelantah menjadi energi terbarukan seperti bioavtur; menggandeng WAHU untuk mengelola limbah plastik agar bernilai guna. Menariknya, hasil pengelolaan limbah ini dialokasikan untuk dana beasiswa mahasiswa melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) kampus.

Sungguh aktivitas ini bersumber dari ekoteologi berbasis rahmatan lil ‘alamin. Perilaku sederhana, seperti menggunakan tumbler pengganti botol plastik sekali pakai, menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap lingkungan.

Wakil Rektor III, Husnul Qodim, menegaskan seluruh mahasiswa baru peserta PBAK 2025 menerima tumbler sebagai simbol aksi nyata peduli lingkungan. Tempat minum ini menjadi pengganti botol plastik sekali pakai yang sering kali langsung dibuang.

Perilaku kecil ini sejatinya menjadi wujud ekoteologi berbasis rahmatan lil ‘alamin. Dari mahasiswa, untuk mahasiswa, dan untuk bumi. Terkadang sering dianggap sederhana, tetapi penuh makna. (www.uinsgd.ac.id dan www.kemenag.go.id).

Dalam video berjudul “Wujudkan Ekoteologi, Momen PBAK UIN Bandung Gandeng Novooleum dan WAHU” yang dipublikasikan di YouTube, menggambarkan langkah bersama sebagai bukti nyata perguruan tinggi dapat berperan aktif menghadirkan solusi atas tantangan lingkungan dan mendorong pembangunan berkelanjutan.

Pernahkah kamu berpikir… minyak jelantah dan botol plastik yang selama ini kita buang begitu saja, ternyata punya nilai yang besar! Nilai untuk bumi, dan nilai untuk sesama.

Kini, UIN Sunan Gunung Djati Bandung hadir dengan komitmen nyata menjaga kelestarian lingkungan. Melalui mesin UCOllect, minyak jelantah yang kita setor akan ditampung dan diolah oleh Noovoleum menjadi energi ramah lingkungan. Sementara itu, botol plastik dan sampah lainnya dikelola oleh WAHU agar dapat didaur ulang, kembali bermanfaat, dan tidak lagi mencemari lingkungan.

Caranya pun mudah. Cukup kumpulkan minyak jelantah dalam botol atau jerigen bekas, lalu setor melalui mesin UCOllect. Masukkan juga botol plastik ke bank sampah. Semua tercatat otomatis, dan setiap langkah kecil kita menambah tabungan kebaikan.

Yang lebih istimewa, hasil dari pengelolaan ini tidak berhenti di sini. Dana yang terkumpul akan disalurkan melalui Unit Pelayanan Zakat UIN Bandung, untuk membantu mahasiswa yang membutuhkan. Dari mahasiswa, untuk mahasiswa.

Bayangkan… dari minyak jelantah yang kita bawa, dari botol plastik yang kita simpan, bukan hanya lingkungan yang lestari, tetapi juga lahir senyum dan harapan baru bagi sesama.

Inilah langkah baru UIN Bandung. Gerakan bersama untuk bumi, untuk literasi, dan untuk kemanusiaan. Dari sampah jadi tabungan, dari minyak jelantah jadi keberkahan.

Tentunya, gerakan ini menjadi ikhtiar bersama dalam mewujudkan zero waste di lingkungan kampus. Mari memanfaatkan limbah plastik agar tidak berakhir di tempat pembuangan, justru bernilai ekonomi. Kolaborasi antara teknologi digital dengan kepedulian lingkungan ini sangat mendukung komitmen UIN Sunan Gunung Djati Bandung menuju kampus ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Dengan demikian, keberadaan UCOllect untuk minyak jelantah dan Wahu Box untuk sampah plastik, di kawasan Masjid Ikomah dan area parkir Gedung Pusat Pengembangan Bisnis (P2B) UIN Bandung harus menjadi ruang edukasi pentingnya menjaga lingkungan, merawat bumi, mencintai alam. Caranya dengan terus mengajak sivitas akademika dan masyarakat sekitar agar lebih peduli pada pengelolaan limbah, sampah yang bernilai ekonomi dan mendapat keberkahan. Ya mulai dari sekarang, mulai dari sederhana, demi bumi yang lebih lestari, asri.

Saat asyik menonton video “Wujudkan Ekoteologi” bersama Aa Akil (10 tahun), tiba-tiba bocah kelas 5 ini bergegas ke dapur dan kembali sambil membawa minyak jelantah. Dengan polosnya berkata, “Bah, ayo ke kampus biar minyak jelantahnya jadi rupiah?” (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Beranda 04 Feb 2026, 11:56 WIB

Ironi Co-firing Biomassa PLTU di Jawa Barat, Klaim Transisi Energi dan Dampaknya bagi Warga

Skema yang diklaim lebih ramah lingkungan ini dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar, terutama dampak lingkungan dan kesehatan warga yang hidup berdampingan dengan PLTU.
Ilustrasi PLTU. (Sumber: Bruno Miguel / Unsplash)
Beranda 04 Feb 2026, 09:42 WIB

Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 09:39 WIB

Aan Merdeka Permana Penulis Spesialis Tema Padjadjaran

Yayasan Kebudayaan Rancagé menetapkan sastrawan Sunda senior Aan Merdeka Permana sebagai peraih Hadiah Jasa 2026.
Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 08:04 WIB

Ngabuburit dari Masa ke Masa

Ngabuburit di kota Bandung mengalami pergeseran nilai dan aktifitas serta cara melakukannya.
Masjid Al-Jabar di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Andry Sasongko)
Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)