Pagi itu sekitar pukul 05.30 WIB, saat sedang mengantar istri berbelanja di warung Batak milik Abang Hotman, tiba-tiba datang rombongan berjumlah delapan orang berpakaian hitam-putih. Salah seorang di antaranya berteriak, “Salah bukan ke situ?” lalu bertanya, “Pak, maaf, kalau jalan ke kampus lewat gang ini benar, ya?”
Kujawab singkat, “Muhun.” Dari kejauhan terlihat ada yang membawa minyak jelantah dalam botol bekas minuman.
“Meuni nyubuh kitu nya Bah!” komentar istri.
Alasannya jelas, sebagai mahasiswa baru tentu semangat dalam mencari ilmu, belajar, dan pengalaman. Mereka ingin berada di posisi terdepan. Apalagi suasana pagi yang segar sangat berpengaruh terhadap prestasi, bukan hanya merayakan selebrasi atas kelulusan diterima di kampus pilihannya.
Memang, bagi pejalan kaki (pengendara motor) dari RT 01 RW 04, akses menuju kampus UIN Bandung bisa melewati Masjid Al-Hidayah. Namun, untuk mobil, jalurnya harus lewat Erabarala yang sama-sama tembus ke Jalan Manis, lalu dilanjutkan mudun ke jalan Gang Lio Utara.
Dari sana melewati pintu Doraemon tepat di belakang Gedung Fakultas Sains dan Teknologi, rindangnya pohon mangga di sekitar Tugu Elektro, suasana asri di depan GOR Bulutangkis. Ya, hanya sekitar 100 langkah saat berjalan santai yang sedikit nanjak, di samping pos keamanan, terlihat megah Gedung Fakultas Syariah dan Hukum.

Siapkan Gunung Djati Muda
Rupanya, 7.310 mahasiswa baru tengah mengikuti Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung Tahun 2025. Ajang pengenalan tahunan kampus yang lebih terkenal IAIN bagi warga Cipadung ini berlangsung selama tiga hari, mulai 26–28 Agustus 2025, dari pukul 07.00 hingga 16.00 WIB.
Semacam Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek), PBAK tahun ini bertajuk “Gunung Djati Muda: Penggerak Literasi, Pelopor Ekoteologi Berbasis Rahmatan lil ‘Alamin.”
PBAK menjadi bagian penting dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Tujuannya membentuk kecerdasan intelektual, kedewasaan berpikir dan bertindak, menumbuhkan jiwa nasionalisme di kalangan mahasiswa baru. Dengan berpedoman pada Keputusan Dirjen Pendidikan Islam Nomor 2939 Tahun 2024 tentang Pedoman Umum Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).
Sebelum memasuki Gedung Anwar Musaddad, Tugu Kujang, Abdjan Soelaiman, maupun Aula Utama eks Fakultas Bisnis dan Ekonomi Islam (FEBI), para panitia sudah berjaga sambil menyiapkan tumbler untuk setiap peserta. Aktivitas ini menjadi bukti nyata gerakan ekoteologi di kampus kebanggaan urang Bandung Timur.
Suasana kampus perjuangan tampak lengang, tanpa lalu-lalang kendaraan roda dua (roda empat). Pasalnya, selama PBAK berlangsung, peserta dan pegawai memang dilarang membawa mobil, motor ke Kampus I. Bagi pegawai yang tinggal cukup jauh, kendaraan bisa dititipkan di Kampus II (Cimencerang, samping Polda Jabar), lalu melanjutkan perjalanan ke Kampus I (Cipadung) menggunakan bus.

Bila melewati area depan Masjid Ikomah Kampus I, tepatnya di Gedung Pusat Pengembangan Bisnis (P2B) samping Indomaret Point, yang dulunya Gedung Fakultas Ushuluddin, sejak tahun 2024 pindah ke Kampus II bersama Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Pascasarjana.
Hadirnya fasilitas UCOllect, inovasi mesin penampung minyak jelantah yang bisa ditukar menjadi uang. Sejak 2022, UCOllect memanfaatkan teknologi eksklusif berbasis AI untuk mengoptimalkan pengumpulan minyak goreng bekas dari rumah tangga maupun produsen kecil, dan memberikan insentif kepada mereka melalui pembagian keuntungan.
Dengan slogan “Jelantah Jadi Rupiah!”, UCOllect hadir untuk menumbuhkan kepedulian lingkungan dan memberikan manfaat ekonomi, khususnya bagi civitas akademika kampus. Minyak goreng bekas (Used Cooking Oil/UCO) dikumpulkan untuk didaur ulang menjadi produk ramah lingkungan dan bernilai guna.
Cara penggunaannya sangat mudah. Cukup unduh aplikasi UCOllect, lakukan pendaftaran, lalu pindai kode QR di mesin. Setelah pintu mesin terbuka, minyak jelantah dapat langsung dituangkan ke wadah yang tersedia. Secara otomatis, saldo akan masuk ke akun aplikasi pengguna. (www.noovoleum.com dan instagram @noovoleumid).

Tepat di samping mesin UCOllect, hadir pula fasilitas Wahu Box. WAHU (Wahu Waste Hub), sistem pengelolaan sampah yang membawa kebaikan bagi sosial dan lingkungan dengan memberdayakan masyarakat untuk mengumpulkan sampah plastik serta memberikan keuntungan secara langsung.
Pencemaran dari sampah plastik sangat membahayakan kehidupan dan lingkungan kita yang berdampak tidak hanya bagi masyarakat, sungai, lautan, bahkan air dan makanan kita. 8 juta ton sampah plastik di Indonesia setiap tahunnya hanya 9% yang didaur ulang. Sisanya dapat mencemari dan merusak alam kita.
Ide sederhana ini sangat inovatif, dan semua orang bisa merasakan manfaatnya hanya dengan mengunduh aplikasi WAHU, lalu mulai mengumpulkan sampah plastik, serta menikmati bonus dalam bentuk uang elektronik.
Kita bisa ikut berkontribusi dengan cara mudah. Pertama, Pilah dan kumpulkan sampah plastik di rumah maupun lingkungan sekitar. Kedua, Bawa sampah plastik itu ke WAHU Poin Pengumpulan Sampah Plastik terdekat. Ketiga, Terima pembayaran langsung ke dompet elektronik yang sudah terdaftar!
Panduan praktis cara mengubah sampah jadi uang bersama WAHU:
- Identifikasi jenis sampah plastik yang dapat didaur ulang.
- Unduh aplikasi WAHU untuk memulai proses pengumpulan dan penukaran.
- Antar plastik bekas ke titik pengumpulan yang tersedia di aplikasi.
- Dapatkan pembayaran otomatis melalui aplikasi WAHU.
Dengan langkah sederhana ini, kita bisa mengubah sampah menjadi uang sekaligus membantu menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan. (www.wa-hu.com dan instagram @wahuwastehubs)

Produksi 1.500 Ton per Hari, Kuota TPA Hanya 981 Ton
Sekitar 1.500 meter kubik atau setara 600 ton sampah yang menumpuk di Pasar Gedebage berhasil diangkut dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat. Proses pengangkutan berlangsung selama dua hari, pada 28–29 April 2025.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengakui penanganan sampah di Kota Bandung masih menghadapi banyak tantangan. Salah satunya pembangunan insinerator yang hingga kini belum berjalan optimal. (detikJabar, Rabu 30 April 2025, 13:00 WIB)
Kondisi ini sebagai darurat sampah. Dari 1.560 rukun warga (RW) di Kota Kembang, baru sekitar 400 RW yang berstatus bebas sampah. Kondisi darurat sampah ini bukan yang pertama. Dalam 20 tahun terakhir, masalah serupa berulang kali terjadi di Kota Bandung.
Ini menjadi bukti nyata atas masalah sistemik dalam pengelolaan sampah di kota yang dijuluki Paris van Java. Faktor utama penyebabnya urbanisasi, meningkatnya jumlah penduduk baru, perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin konsumtif. (Kompas, 2 Mei 2025).
Kota Bandung menghasilkan sampah dengan volume mencapai 1.496,3 ton per hari. Namun, Pemerintah hanya mendapat kuota pengiriman ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti sebesar 981,3 ton per hari. Ya masih ada sekitar 500 ton sampah yang tidak terangkut setiap harinya. (Pikiran Rakyat, 27 Agustus 2025).
Hampir setiap orang menggunakan minyak goreng untuk memasak. Sayangnya, belum banyak yang menyadari dengan membuang minyak goreng bekas (jelantah) secara sembarangan dapat menimbulkan dampak serius bagi lingkungan maupun kesehatan.
Minyak jelantah termasuk ke dalam kategori limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) rumah tangga. Sebab limbah B3 ini mengandung zat berbahaya dalam konsentrasi tertentu, sehingga bisa merusak lingkungan, mengganggu kesehatan, baik secara (tidak) langsung.
Dalam publikasi Indonesia Oilseeds and Products Annual 2019, konsumsi minyak goreng rumah tangga di Indonesia mencapai 13 juta ton. Betapak tidak, data United States Department of Agriculture (USDA), pada 2019 Indonesia menjadi negara dengan konsumsi minyak goreng tertinggi di dunia, diikuti oleh India, China, dan Malaysia.
Kurangnya edukasi mengenai bahaya minyak jelantah membuat sebagian masyarakat masih kerap mengonsumsinya kembali, (membuangnya) sembarangan. Padahal, ada enam bahaya minyak jelantah bila terus dikonsumsi (dibuang) begitu saja, mulai dari menyebabkan kolesterol tinggi, meningkatkan risiko penyakit jantung, memicu kanker, menyumbat saluran drainase, menyebabkan pencemaran air, sampai menimbulkan pencemaran tanah. (www.citarumharum.jabarprov.go.id)

Aksi Nyata Ekoteologi ala UIN Bandung
Sebagai kampus Islam yang berlokasi di kawasan Gedebage dan Cipadung dituntut berperan dalam mengurangi darurat sampah, UIN Sunan Gunung Djati Bandung menghadirkan aksi nyata melalui gerakan literasi dan ekoteologi. Sebanyak 7.310 mahasiswa baru mendeklarasikan komitmennya dalam “Deklarasi Aksara Lestari Gunung Djati Muda.”
Kami Gunung Djati Muda Menyatakan Tekad:
1. Menguatkan literasi sebagai pondasi peradaban melalui budaya membaca menulis dan berpikir kritis serta pemanfaatan teknologi digital sejalan dengan gerakan literasi nasional.
2. Mengembangkan ekoteologi berbasis rahmatan lil ‘alamin dengan menghayati ajaran agama sebagai pijakan dan mendukung program pemerintah dalam transisi energi hijau dan ekonomi berkelanjutan.
3. Mendorong toleransi dan kerukunan umat bergama menjadikan keberagaman sebagai rahmat serta menolak segala bentuk perpecahan yang mengancam persatuan bangsa.
4. Membangun gerakan sosial berbasis kolaborasi bergandeng tangan dalam mewujudkan masyarakat literat berkeadilan dan ramah lingkungan.
Kami Gunung Djati Muda siap menjadi penggerak literasi dan pelopor ekoteologi berbasis rahmatan lil ‘alamin.
Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rosihon Anwar, sangat mementingkan konsep ekoteologi, pendekatan keagamaan yang memadukan ajaran Islam dengan kepedulian lingkungan. Menurutnya, menjaga kelestarian alam itu bagian dari ibadah sekaligus bentuk pengabdian kepada Allah SWT.
UIN Bandung mengambil peran sebagai pelopor penggerak dalam mempraktikkan ajaran ekoteologi dan bertindak nyata mengatasi masalah lingkungan, mulai dari pencemaran, perubahan iklim, hingga eksploitasi berlebihan.
Sebagai wujud nyata, UIN Bandung telah bekerja sama dengan Novooleum dalam mengolah minyak jelantah menjadi energi terbarukan seperti bioavtur; menggandeng WAHU untuk mengelola limbah plastik agar bernilai guna. Menariknya, hasil pengelolaan limbah ini dialokasikan untuk dana beasiswa mahasiswa melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) kampus.
Sungguh aktivitas ini bersumber dari ekoteologi berbasis rahmatan lil ‘alamin. Perilaku sederhana, seperti menggunakan tumbler pengganti botol plastik sekali pakai, menjadi bentuk nyata kepedulian terhadap lingkungan.
Wakil Rektor III, Husnul Qodim, menegaskan seluruh mahasiswa baru peserta PBAK 2025 menerima tumbler sebagai simbol aksi nyata peduli lingkungan. Tempat minum ini menjadi pengganti botol plastik sekali pakai yang sering kali langsung dibuang.
Perilaku kecil ini sejatinya menjadi wujud ekoteologi berbasis rahmatan lil ‘alamin. Dari mahasiswa, untuk mahasiswa, dan untuk bumi. Terkadang sering dianggap sederhana, tetapi penuh makna. (www.uinsgd.ac.id dan www.kemenag.go.id).
Dalam video berjudul “Wujudkan Ekoteologi, Momen PBAK UIN Bandung Gandeng Novooleum dan WAHU” yang dipublikasikan di YouTube, menggambarkan langkah bersama sebagai bukti nyata perguruan tinggi dapat berperan aktif menghadirkan solusi atas tantangan lingkungan dan mendorong pembangunan berkelanjutan.
Pernahkah kamu berpikir… minyak jelantah dan botol plastik yang selama ini kita buang begitu saja, ternyata punya nilai yang besar! Nilai untuk bumi, dan nilai untuk sesama.
Kini, UIN Sunan Gunung Djati Bandung hadir dengan komitmen nyata menjaga kelestarian lingkungan. Melalui mesin UCOllect, minyak jelantah yang kita setor akan ditampung dan diolah oleh Noovoleum menjadi energi ramah lingkungan. Sementara itu, botol plastik dan sampah lainnya dikelola oleh WAHU agar dapat didaur ulang, kembali bermanfaat, dan tidak lagi mencemari lingkungan.
Caranya pun mudah. Cukup kumpulkan minyak jelantah dalam botol atau jerigen bekas, lalu setor melalui mesin UCOllect. Masukkan juga botol plastik ke bank sampah. Semua tercatat otomatis, dan setiap langkah kecil kita menambah tabungan kebaikan.
Yang lebih istimewa, hasil dari pengelolaan ini tidak berhenti di sini. Dana yang terkumpul akan disalurkan melalui Unit Pelayanan Zakat UIN Bandung, untuk membantu mahasiswa yang membutuhkan. Dari mahasiswa, untuk mahasiswa.
Bayangkan… dari minyak jelantah yang kita bawa, dari botol plastik yang kita simpan, bukan hanya lingkungan yang lestari, tetapi juga lahir senyum dan harapan baru bagi sesama.
Inilah langkah baru UIN Bandung. Gerakan bersama untuk bumi, untuk literasi, dan untuk kemanusiaan. Dari sampah jadi tabungan, dari minyak jelantah jadi keberkahan.
Tentunya, gerakan ini menjadi ikhtiar bersama dalam mewujudkan zero waste di lingkungan kampus. Mari memanfaatkan limbah plastik agar tidak berakhir di tempat pembuangan, justru bernilai ekonomi. Kolaborasi antara teknologi digital dengan kepedulian lingkungan ini sangat mendukung komitmen UIN Sunan Gunung Djati Bandung menuju kampus ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Dengan demikian, keberadaan UCOllect untuk minyak jelantah dan Wahu Box untuk sampah plastik, di kawasan Masjid Ikomah dan area parkir Gedung Pusat Pengembangan Bisnis (P2B) UIN Bandung harus menjadi ruang edukasi pentingnya menjaga lingkungan, merawat bumi, mencintai alam. Caranya dengan terus mengajak sivitas akademika dan masyarakat sekitar agar lebih peduli pada pengelolaan limbah, sampah yang bernilai ekonomi dan mendapat keberkahan. Ya mulai dari sekarang, mulai dari sederhana, demi bumi yang lebih lestari, asri.
Saat asyik menonton video “Wujudkan Ekoteologi” bersama Aa Akil (10 tahun), tiba-tiba bocah kelas 5 ini bergegas ke dapur dan kembali sambil membawa minyak jelantah. Dengan polosnya berkata, “Bah, ayo ke kampus biar minyak jelantahnya jadi rupiah?” (*)