Curug Anom Bandung: Mengaminkan Mitos dari Sebuah Perjalanan untuk Memaafkan

6 menit baca
Yayang Nanda Budiman
Ditulis oleh Yayang Nanda Budiman diterbitkan
Curug Anom Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Yayang Nanda Budiman)
Curug Anom Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Yayang Nanda Budiman)

Ketika hampir semua tujuan destinasi hanya untuk merayakan keindahan dengan ragam wahana yang ditawarkan, ada juga tempat lain yang memutuskan untuk tidak larut dalam sebuah popularitas, ia hanya menawarkan ketenangan, ruang untuk berharap sekaligus menyembuhkan.

Curug Anom yang terletak di kaki Natural Hill Lembang adalah salah satunya. Secara bahasa, nama “Anom” berasal dari bahasa Sunda yang dapat diterjemahkan sebagai “Muda”.

Menurut sebagian orang, mungkin Curug Anom tak nampak berbeda dengan air terjun pada umumnya. Ia hanyalah air terjun setinggi 30 meter, dengan air yang berjatuhan perlahan dari dinding cadas berlumut yang telah dilahap usia. 

Ketika mereka menyaksikan hanya dengan mata kepala, saya memutuskan untuk menyelaminya dalam perasaan. Ia tak hanya soal air yang jatuh dari ketinggian, tapi juga soal proses perjalanan panjang yang harus ditempuh hingga pengalaman eksistensial-spiritual dari semua yang telah dilalui.

Bagi saya, menyusuri Curug Anom serupa menuruni anak tangga waktu yang menuntun kembali pada versi diri yang dulu sempat percaya bahwa cinta adalah sesuatu yang abadi dan lestari. 

Memulai Langkah Berbekal Mitos

Perjalanan baru akan ditempuh, saya baru mengetahui sisi lain Curug Anom yang mungkin tidak banyak orang ketahui. Konon, Curug Anom mempunyai mitos yang cukup melegenda, bahkan mitos ini relevan dengan kondisi dinamika asmara yang dialami oleh anak muda.

Katanya, jika belum memiliki pasangan, hanya dengan membasuhkan wajah di air curug saja bisa mempercepat tibanya jodoh.

Sementara, jika sudah memiliki pasangan, katanya, hubungan yang dijalin akan semakin langgeng. Tak selesai soal jodoh, katanya juga, orang yang membasuh wajah di curug ini dipercaya akan membuat rupa makin awet muda. 

Saya tersenyum tipis ketika mendengar cerita itu. “Ketimbang harus berlangganan aplikasi kencan yang cukup menguras isi dompet, nampaknya mitos ini bisa menjadi solusi alternatif,” gurau saya sembari melanjutkan jumlah langkah. 

Setelah membeli tiket masuk seharga Rp 25.000, sekitar pukul 8 pagi perjalanan dimulai dari gerbang Natural Hill. Seperti hari biasanya, udara Lembang pagi itu tidak terlalu dingin dan sinar matahari tidak datang terlambat. Udara yang dingin dengan suasana yang hangat.

Air jernih dari tepian Curug Anom Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Yayang Nanda Budiman)
Air jernih dari tepian Curug Anom Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Yayang Nanda Budiman)

Di jalur treking yang saya lalui sebenarnya hanya memakan waktu perjalanan sekitar 15 sampai 20 menit, akan tetapi pada hari itu saya sengaja memilih jalur lain yang cukup memutar, menyusuri persawahan dan sungai-sungai kecil dengan arus air yang tenang dan jernih. 

Katanya, rute ini bisa memakan waktu hingga satu jam perjalanan. Mendengar informasi itu saya tidak merasa menyesal. Saya hanya tersenyum atas apa yang telah saya putuskan. Jalur ini akan memberi saya cukup waktu untuk berdialog dengan alam dan isi kepala saya sendiri.

Tanah lembab yang terinjak cukup licin di alas sepatu yang berdecit tiap kali kaki melangkah. Aroma lumpur dan dedaunan yang khas bercampur dengan wangi hutan yang diselimuti embun yang belum beranjak.

Hamparan sawah yang membentang luas mengitari sisi kiri langkah beriringan dengan angin yang berhembus membelai padi bergoyang serempak, seolah melambaikan tangan selamat datang. Sesekali, dari pucuk pepohonan kicauan burung-burung kecil bersahutan. 

Mengaminkan Mitos, Mendokumentasikan Perjalanan

Mitos Curug Anom terdengar manis jika didengar oleh orang yang sedang dilanda asmara, atau mereka yang masih berpetualang menelusuri cinta sejatinya. Tapi dari sisi orang yang baru mengalami patah dari luka yang belum sembuh, mitos ini serupa ujian. Apakah ia percaya dan mengaminkan bahwa air yang jatuh bisa menyembuhkan, atau ia hanya datang untuk menyaksikan air jatuh dan membiarkannya berlalu begitu saja, tanpa makna yang berarti? 

Saya sempat meyakini bahwa cinta serupa arus sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Tapi ternyata saya keliru. Air tak selamanya deras dan meluap, ia pun bisa surut kapan saja tanpa harus menunggu musim kemarau tiba. Dan di Curug Anom, saya belajar bahwa yang bertahan hanyalah cadas bebatuan yang menopang air jatuh saban hari. Meski ia terkikis oleh waktu, digenggam lumut dan dihempaskan angin, ia bertahan dalam keabadian. 

Setelah hampir menghabiskan waktu satu jam berjalan santai, suara deru air yang jatuh dan samar di antara desir angin mulai terdengar. Semakin banyak langkah, harmoni alam semakin dekat dan jelas terdengar. Menjelang anak tangga terakhir membawa saya ke bibir kolam kecil tepat di bawah air terjun. 

Tidak ada hingar yang sesak di sini. Hanya ada saya, debur suara air dan dedaunan yang saling berjatuhan. Dinding tebing bebatuan di belakang air terjun itu serupa tembok tua yang menyimpan segudang cerita yang larut terbawa arus. Lumut pekat menempel di sela-sela batu, layaknya garis-garis usia di wajah seseorang yang kian menua.

Saya duduk di salah satu batu besar menghadap tebing, menanggalkan ransel, lalu membasuhkan lengan dan muka bergantian. Begitu dingin sampai terasa memasuki setiap celah pori-pori kulit. Sudah cukup lama wajah terbenam dalam air, bukan hanya untuk mengaminkan mitos, tapi karena ingin meyakinkan diri bahwa setiap luka dan kekecewaan yang diterima akan pergi dan hanyut seiring dengan air yang berangsur pergi. 

Jernih Curug Anom dan Kesalahan yang Dihanyutkan

Setelah cukup lama wajah tenggelam dalam arus, timbul sensasi yang berbeda. Seakan-akan setiap tetes air yang membasuh wajah kusam menghanyutkan beban yang selama ini mengendap dalam isi kepala. Meski tidak semua, tapi ia cukup membuat saya menarik napas jauh lebih panjang dan dalam dari biasanya. 

Tak sedikit orang yang berkunjung ke tempat ini pulang membawa isi kepala dengan sesuatu yang diharapkan seperti pasangan, keberuntungan, atau sekedar konten yang bagus. Sementara itu, saya bertamu dan pulang dengan sesuatu yang lain, yakni tentang kesadaran bahwa penyembuhan bukanlah proses yang instan. Ia serupa rute terjal, kadang berliku, licin dan tak jarang memaksa kita untuk menyerah dan kalah. 

Kondisi jalan menuju Curug Anom Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Yayang Nanda Budiman)
Kondisi jalan menuju Curug Anom Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Yayang Nanda Budiman)

Katanya “hanya waktu yang akan menyembuhkan”. Tapi ia tidak meneruskan kalimatnya, bahwa waktu tak pernah berputar cepat, bahkan terkesan lambat dan membosankan, sementara itu kita harus berjalan bersamanya. 

Setelah menghabiskan waktu hampir 4 jam lamanya, saya memperoleh banyak hal bahkan dari yang tak pernah dipertanyakan. Air terjun tidak berusaha untuk menutupi apa yang ada di baliknya. Jatuhnya bukan karena ia kalah, tapi untuk melanjutkan perjalanan menuju hilir yang ia rindukan kepulangannya. Mungkin penyembuhan pun berlaku demikian. Kita tidak boleh berhenti karena terjatuh, lanjutkan perjalanan, susuri setiap lika-likunya, meski tak jarang tertahan oleh bebatuan, teruskan hingga kebahagiaan tiba di suatu masa. 

Pulang dan Perjalanan Memaafkan

Ketika badan berbalik hendak meninggalkan Curug Anom, anak tangga menuntun saya untuk kembali pulang. Matahari mulai naik tepat di atas pucuk kepala, cahayanya menembus rongga dedaunan. Dari kejauhan, petakan sawah yang sempat saya lewati kembali melambaikan tangkainya, seperti hendak mengucapkan selamat jalan. 

Bukan hanya perihal jodoh, hubungan yang kekal, atau segudang foto yang menyesaki galeri dan beranda media sosial. Tapi ada satu hal yang paling berharga yang telah saya bawa dari sana yakni perasaan tenang untuk lapang memaafkan atas semua perjalanan hidup yang telah saya selesaikan.

Kadangkala, kita berkunjung ke suatu tempat bukan untuk memperoleh sesuatu, melainkan untuk meninggalkan sesuatu seperti ada yang membekas.

Di Curug Anom, sesaknya isi kepala yang sebelumnya saya pikul, telah hanyut terbawa deras air yang berjatuhan. Tidak semua, tapi sudah cukup membuat pikiran lebih jernih dan tenang dari sebelumnya. Dan itu sangat lebih dari cukup. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)