Pesona Bandung dan Luka di Kaki

4 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Gedung apartemen dan Tempat Penampungan Sampah. Satu sudut di Dago Elos (Foto: Elly Dzarrah)
Gedung apartemen dan Tempat Penampungan Sampah. Satu sudut di Dago Elos (Foto: Elly Dzarrah)

Bandung selalu punya cara untuk memikat. Sejak masa kolonial hingga kini, pesonanya tak pernah pudar—udara pegunungan yang dulu menenteramkan, jalan-jalan yang berliku penuh kenangan, serta ritme kota yang memadukan kesibukan dan kelembutan.

Namun di tengah hiruk-pikuk pariwisata yang terus diglorifikasi, Bandung seakan terperangkap dalam bayangan citranya sendiri. Ia ingin terus tampak muda, kreatif, dan memesona, tapi lupa bahwa pesona sejati tak pernah lahir dari pencitraan. Ia tumbuh dari kehidupan warga yang berakar di tanahnya sendiri.

Beberapa tahun terakhir, Bandung menjadi laboratorium pariwisata urban. Pemerintah daerah, korporasi, dan pelaku industri berlomba-lomba menjual narasi Bandung kota kreatif, kota kuliner, sebuah slogan yang begitu sering digaungkan hingga kehilangan maknanya.

Setiap akhir pekan, ribuan wisatawan datang mencari “pengalaman Bandung”: secangkir kopi di kafe estetik, foto di mural warna-warni, atau berbelanja di pasar yang dikurasi menjadi spot instagramable. Kota ini diperlakukan bukan sebagai ruang hidup, melainkan panggung visual tempat setiap sudutnya mesti menarik perhatian.

Namun di balik citra itu, ada warga yang perlahan kehilangan ruang. Naiknya harga tanah dan sewa tempat tinggal membuat banyak keluarga lama di kawasan Dago, Braga, Tamansari dan Cihampelas tersingkir ke pinggiran. Ruang publik yang dulu menjadi tempat berkumpul kini berubah menjadi ruang komersial, tempat orang lebih banyak membeli daripada bertegur sapa.

Bandung yang dahulu dikenal dengan kebersahajaan dan kedekatan sosialnya kini digantikan oleh hubungan transaksional yang serba cepat. Kota yang dulu menumbuhkan kreativitas kini justru mengubah kreativitas menjadi komoditas.

Kehidupan ekonomi kota pun bergeser. Pariwisata memang membuka banyak lapangan kerja baru - barista, penjaja suvenir, pemandu lokal, pengemudi ojek daring - namun sebagian besar berada di ranah ekonomi informal, tanpa jaminan sosial dan keberlanjutan. Bandung menjadi contoh klasik gig economy : semua orang bekerja, tapi sedikit yang benar-benar hidup dari pekerjaannya. Di satu sisi, geliat ekonomi wisata memberi napas baru bagi kota. Di sisi lain, ia memperdalam jurang ketimpangan dan menciptakan ilusi kesejahteraan yang rapuh.

Bus Wisata Bandros terjebak Macet di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Bus Wisata Bandros terjebak Macet di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)

Tetapi di balik geliat ekonomi yang tampak semarak, kota ini mulai menanggung beban yang tak ringan. Paling kasat mata dari industri wisata Bandung hari ini adalah beban ekologis dan infrastruktur yang tak lagi sanggup menampung hasrat konsumsi kota.

Setiap akhir pekan, ribuan mobil pribadi menyesaki jalan-jalan sempit di pusat kota dan kawasan utara. Lalu lintas macet menjadi pemandangan rutin; jarak dua kilometer bisa ditempuh dalam satu jam. Jalanan berlubang dibiarkan bertahun-tahun, seolah menjadi metafora keterlambatan tata kelola kota. Di beberapa titik, genangan air dan jalan rusak bahkan telah menelan korban, namun pemerintah tampak lebih sibuk menghias trotoar daripada memperbaiki fondasi.

Di sisi lain, sampah pariwisata tumbuh seperti bayangan yang tak pernah selesai disapu. Gunungan sampah dari hotel, kafe, dan wisata kuliner menjadi wajah baru Bandung di pagi hari setelah keramaian malam berlalu. Sungai Cikapundung - yang pernah menjadi kebanggaan kota - kini kembali tercemar oleh limbah rumah tangga dan sampah wisata. Ironisnya, banyak kampanye “kota hijau” justru berhenti pada poster dan festival. Seolah-olah keberlanjutan lingkungan bisa diciptakan melalui dekorasi, bukan kesadaran ekologis yang nyata.

Krisis ruang kota muncul bersamaan. Setiap sudut yang berpotensi menarik perhatian segera dikomersialisasi. Ruang publik menyusut, sementara estetika kota dikuasai oleh logika pasar. Alih-alih menjadi ruang pertemuan warga, Bandung menjelma menjadi etalase gaya hidup. Bahkan ruang-ruang kreatif yang dulu lahir dari semangat komunitas kini sering dijadikan bagian dari promosi - pariwisata diundang, ditampilkan, lalu dilupakan begitu saja setelah lampu-lampu padam.

Ironinya, yang paling kehilangan justru mereka yang membangun denyut kehidupan kota: warga biasa, komunitas akar rumput, dan seniman independen. Mereka yang dulu menghidupkan Bandung dengan gotong royong dan eksperimentasi kini berhadapan dengan tembok transparan bernama “branding kota”. Kreativitas yang lahir dari pergulatan sosial perlahan tersingkir oleh kreativitas yang disetir oleh pasar. Akibatnya, Bandung tampak semarak di permukaan, tapi hampa di kedalaman.

Namun tak semua harapan padam. Di tengah arus komersialisasi, masih banyak ruang yang berjuang menjaga ruh kota. Komunitas literasi seperti Lawang Buku dan Pasar Biru, inisiatif seni alternatif, serta gerakan warga di kampung-kampung kota menunjukkan bahwa kreativitas sejati tak bisa dibeli. Mereka membuktikan bahwa Bandung yang sejati bukan sekadar kota wisata, melainkan ruang belajar Bersama - tempat gagasan, solidaritas, dan imajinasi tumbuh dalam percakapan sehari-hari. Mereka mengajarkan bahwa kota kreatif sejati bukan kota yang penuh kafe dan mural semata, melainkan kota yang memberi ruang bagi warganya untuk berpikir dan berkarya tanpa harus tunduk pada logika pasar.

Pariwisata memang tak bisa dihapuskan; ia bagian dari dinamika kota modern. Tetapi yang perlu diingat, wisata yang berkelanjutan tidak hanya menghitung jumlah pengunjung, melainkan juga menghargai kehidupan warga dan keseimbangan ekologis. Bandung perlu menata ulang visinya: dari city of experience menjadi city of coexistence - kota yang bisa menampung berbagai lapisan kehidupan tanpa menindas satu sama lain. Kebijakan pariwisata seharusnya diarahkan pada pemberdayaan komunitas lokal, perlindungan ruang publik, perbaikan infrastruktur dasar, dan tata kelola sampah yang transparan.

Bandung memiliki kesempatan untuk menjadi contoh kota kreatif yang manusiawi. Tapi itu hanya mungkin jika ia berani menatap cermin dan mengakui luka-lukanya. Sebab kreativitas sejati tidak lahir dari citra, melainkan dari kesadaran dan empati. Barangkali Bandung memang akan selalu dirindukan oleh banyak orang. Namun kerinduan itu hanya bermakna bila kota ini juga masih bisa dirindukan oleh warganya sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

Ayo Netizen 17 Nov 2025, 15:22

Ambu Encuy

Ambu Encuy

News Update

Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 18:08

Menerapkan Pompa Submersible Tenaga Surya untuk Atasi Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) di berbagai wilayah dihadang masalah klasik yakni titik api jauh dari sumber air dan listrik.

Ilustrasi penggunaan sistem pompa untuk atasi karhutla (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 17:38

Alibasah Sentot Abdullah Mustafa Prawirodirdjo Menumpas Kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832

Kisah heroik Alibasah Sentot Prawirodirdjo saat memimpin pasukan menumpas kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832. Analisis sejarah mendalam tentang strategi dan dampaknya bagi kolonial.

Alibasah Sentot Prawirodirdjo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: G.L. Kepper: Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch leger)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 16:29

Romantisme Membaca Majalah Mangle Edisi Agustus 1962: Jejak Mojang Bandung Doeloe dan Kiwari

Ada romantisme tersendiri ketika membuka kembali sebuah majalah tua yang telah berusia puluhan tahun.

Majalah Mangle edisi Agustus 1962, menampilkan mojang Bandung, Tatty Kartika, sebagai wajah sampul. (Sumber: Dokumentasi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 15:52

Riwayat Cikao dan Cikaobandung Sejak Dahulu Hingga Sekarang

Riwayat Cikaobandung dari masa lalu hingga masa kini. Menelusuri jejak perkembangan wilayah, peran strategis, transformasi sosial dan budaya yang kaya nilai historis dalam narasi yang mendalam.

Tjikao Koffiepakhuis – Gudang Kopi Cikao, 1880. (Sumber: Koleksi Leiden University Libraries)
Linimasa 28 Agu 2026, 15:09

Riwayat Hitam Kebakaran Hutan di Kalimantan, 4 Dekade Kabut di Lahan Gambut

Kebakaran hutan berulang di Kalimantan sejak 1982. Ketahui riwayat karhutla besar, El Niño, lahan gambut, hingga peristiwa 2026.

Ilustrasi kebakaran hutan.
Sejarah 28 Agu 2026, 14:30

Sejarah Gempa NTT, Tercatat Sejak 1898

Sejarah gempa besar NTT berlangsung lebih dari satu abad, dengan sejumlah peristiwa disertai tsunami dan korban jiwa besar.

Dampak tsunami Lunyuk 1977. (Sumber: Pulau Sumba News)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 14:01

Peran Unpad Membantu Gen Z Raih LoA Universitas Top Dunia

Saat ini adalah momentum untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) agar setara dengan negara maju.

Ilustrasi peran Unpad membantu siswa memperoleh LoA dari universitas top dunia (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 12:42

Jangan Menjadikan ‘Pitbull’ sebagai Tersangka Tunggal

Dalam kasus pitbull di Arjasari, Anjing itu memang yang menyerang anak. Itu terlihat jelas dalam rekaman video yang sempat viral di media sosial. 

Ilustrasi anjing sebagai hewan peliharaan. (Sumber: Magnific)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 10:25

Motivasi dan Peluang Mahasiswa Wirausaha

Sebab di era digital dan era yang penuh ketidakpastian ini, mahasiswa sangat ditekankan untuk mengelola setiap keputusannya.

Ilustrasi mahasiswa (Sumber: Pexels | Foto: hartono subagio)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 20:20

Ayyuhal Walad: Kumpulan Nasihat Imam Al-Ghazali untuk Orang yang Sedang Mencari

Ayyuhal Walad merupakan kumpulan nasihat yang ditulis ketika Al-Ghazali mendapatkan surat dari salah satu murid kinasihnya.

Buku "Ayyuhal Walad". (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 18:34

Sudahkah Hukum Berpihak pada Korban Kekerasan Seksual Anak di Bawah Umur?

Mengangkat isu mengenai kekerasan seksual pada anak sebagai persoalan yang sensitif dan penting, memaparkan berbagai kekerasan seksual, dan membahas mengenai sulitnya bagi korban untuk bersuara.

Ilustrasi anak yang mengalami trauma kekerasan. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 17:25

Istilah Sunda untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Masyarakat Sunda memiliki lima istilah untuk menggambarkan tingkat guncangan gempabumi, dari riyeg hingga pralaya, yang berkaitan dengan skala MMI dan dampak kerusakannya.

Gambar tafsir baru mitologi gempabumi. Bola bumi berada di ujung tanduk sapi yang berdiri di atas paus. Bila paus dan sapi bergerak, terjadilah gempabumi. (Sumber: Dok. T Bachtiar)
Beranda 27 Agu 2026, 16:55

Kemenkes Temukan Jutaan Kasus PTM lewat Cek Kesehatan Gratis, Prioritaskan Tata Laksana demi Indonesia Emas 2045

Skrining Cek Kesehatan Gratis terhadap 73,8 juta peserta hingga Juli 2026 mengungkap jutaan kasus penyakit tidak menular yang selama ini tidak terdeteksi.

Pelaksanaan program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 27 Agu 2026, 16:20

73,8 Juta Peserta Jangkau Cek Kesehatan Gratis, Kemenkes Ubah Paradigma Menuju Indonesia Emas 2045

Generasi yang sakit akan sulit menjadi generasi unggul, sementara generasi yang sehat menjadi modal utama menuju Indonesia Emas 2045.

Program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 15:17

Selawatan, Muludan, dan Perdamaian 

Dari buku yang semula hanya tergeletak di rak sederhana tiba-tiba menjadi pintu masuk untuk membicarakan Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana mencintai Nabi, tetapi harus menjadi landasan bersama

Anak-anak tengah asyik diskusi sebelum belajar ngaji bersama. (Sumber: instagram @jaro_numoto)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 13:53

Nasib CFD Bandung yang Terjerat Audit Rp2,7 Miliar

BPK menemukan penggunaan anggaran sekitar Rp 2,7 miliar terkait CFD untuk membayar personel non-ASN tanpa dasar hukum yang memadai.

CFD di kawasan Dago. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ikon 27 Agu 2026, 13:40

Gedung Sate Cikajang Garut, Bangunan Unik di Tengah Perkebunan Teh

Di pelosok Cikajang, Garut, berdiri Gedung Sate Cikajang yang dibuat mirip ikon Jawa Barat dan digunakan untuk kegiatan warga.

Bangunan miniatur Gedung Sate di Cikajang, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)