Parkir Kendaraan Konvensional di Area Pengisian Daya: Pelanggaran Etika dan Mengganggu Fungsi SPKLU

5 menit baca
Angga Marditama Sultan Sufanir
Ditulis oleh Angga Marditama Sultan Sufanir diterbitkan
Kendaraan konvensional yang parkir di area pengisian daya kendaraan listrik pada sebuah SPKLU di Kota Bandung. (Foto: Angga Marditama)
Kendaraan konvensional yang parkir di area pengisian daya kendaraan listrik pada sebuah SPKLU di Kota Bandung. (Foto: Angga Marditama)

Dalam perdebatan mengenai masa depan transportasi Indonesia, perhatian publik umumnya tertuju pada isu-isu besar seperti harga kendaraan listrik, kapasitas baterai, insentif pemerintah, atau pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Namun, pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan transisi menuju kendaraan listrik sering kali juga ditentukan oleh persoalan-persoalan yang tampak sederhana. Salah satunya adalah kendaraan berbahan bakar minyak yang parkir di area pengisian daya kendaraan listrik.

Bagi sebagian orang, tindakan tersebut mungkin hanya dianggap sebagai pelanggaran etika parkir yang tidak terlalu penting. Namun dari perspektif transportasi, persoalan ini memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang terlihat. Ketika akses terhadap fasilitas pengisian daya terganggu, keandalan infrastruktur menurun, kenyamanan pengguna berkurang, dan kepercayaan masyarakat terhadap ekosistem kendaraan listrik dapat ikut terdampak.

Fenomena ini dikenal secara internasional sebagai ICEing (Internal Combustion Engine-ing), yakni kondisi ketika kendaraan bermesin pembakaran internal menghalangi akses kendaraan listrik ke fasilitas pengisian daya. Walaupun terlihat sebagai masalah sehari-hari, implikasinya menyentuh salah satu aspek paling penting dalam transisi energi, yaitu kemampuan masyarakat untuk mengakses infrastruktur baru secara mudah dan andal.

Infrastruktur yang Ada Belum Tentu Dapat Digunakan

Indonesia tengah mempercepat pembangunan ekosistem kendaraan listrik. Hingga Maret 2026, jumlah SPKLU tercatat 4.892 unit yang telah beroperasi di 3.163 lokasi di seluruh Indonesia. Pada saat yang sama, populasi mobil listrik telah menembus lebih dari 100 ribu unit dan diperkirakan terus bertambah dalam beberapa tahun ke depan.

Perkembangan tersebut menunjukkan komitmen yang kuat untuk mendorong elektrifikasi transportasi. Namun dalam ilmu transportasi, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan infrastruktur, melainkan juga oleh aksesibilitas dan kualitas layanan yang dirasakan pengguna.

Bagi pengguna kendaraan listrik, area pengisian daya bukan sekadar fasilitas pelengkap. Ia merupakan bagian dari sistem energi yang memungkinkan perjalanan berlangsung dengan aman dan nyaman. Ketika sebuah SPKLU tidak dapat digunakan karena terhalang kendaraan lain, kapasitas layanan yang tersedia secara efektif berkurang. Infrastruktur yang secara fisik ada menjadi kehilangan fungsi operasionalnya.

Persoalan ini menjadi semakin penting karena jaringan pengisian daya masih berkembang. Setiap titik pengisian memiliki peran strategis dalam mendukung mobilitas pengguna kendaraan listrik. Berbeda dengan kendaraan berbahan bakar minyak yang didukung jaringan SPBU yang sangat luas, pengguna kendaraan listrik masih bergantung pada infrastruktur yang jumlahnya relatif terbatas.

Dalam kajian transportasi modern, kondisi tersebut berkaitan dengan konsep reliability atau keandalan layanan. Pengguna tidak hanya membutuhkan fasilitas yang tersedia, tetapi juga kepastian bahwa fasilitas tersebut dapat digunakan ketika dibutuhkan. Sebuah SPKLU yang sering terhalang kendaraan lain pada akhirnya dapat dipersepsikan sama buruknya dengan SPKLU yang rusak. Ketidakpastian akses semacam ini berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap kendaraan listrik dan memperlambat laju adopsinya.

Tragedi Ruang Publik dalam Era Kendaraan Listrik

Fenomena kendaraan konvensional yang parkir di area charger dapat dijelaskan melalui konsep tragedy of the commons. Konsep ini menggambarkan situasi ketika keputusan yang menguntungkan individu dalam jangka pendek justru mengurangi manfaat kolektif yang seharusnya dapat dinikmati bersama.

Bagi seorang pengemudi, menggunakan area pengisian daya yang sedang tidak dipakai mungkin dianggap tidak menimbulkan kerugian langsung. Namun ketika perilaku serupa dilakukan oleh banyak orang, fungsi publik dari infrastruktur pengisian daya menjadi terganggu. Akibatnya, manfaat yang seharusnya diperoleh masyarakat secara luas berkurang.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)

Fenomena serupa sebenarnya telah lama dikenal dalam pengelolaan transportasi perkotaan. Kendaraan yang berhenti di jalur bus, parkir di depan halte, atau menggunakan trotoar sebagai area parkir menghasilkan dampak yang jauh melampaui kepentingan individu. Satu kendaraan yang menghalangi jalur bus dapat memengaruhi perjalanan ratusan penumpang. Dengan cara yang sama, satu kendaraan yang menutup akses ke area pengisian daya dapat mengurangi efektivitas layanan bagi pengguna kendaraan listrik lainnya.

Namun penting pula untuk memahami bahwa tidak semua pelanggaran terjadi karena kesengajaan. Di banyak lokasi, area pengisian daya masih belum dibedakan secara tegas dari ruang parkir biasa. Marka yang kurang mencolok, rambu yang terbatas, atau minimnya sosialisasi dapat menyebabkan sebagian pengguna kendaraan konvensional tidak memahami fungsi khusus fasilitas tersebut.

Karena itu, solusi yang efektif tidak hanya berfokus pada perilaku pengguna, tetapi juga pada desain sistem yang mampu memandu perilaku secara benar. Dalam ilmu transportasi, pendekatan tersebut dikenal sebagai forgiving system, yaitu sistem yang dirancang untuk meminimalkan kemungkinan kesalahan pengguna melalui desain yang jelas, intuitif, dan mudah dipahami.

Dari Infrastruktur ke Budaya Transportasi

Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan transisi menuju kendaraan listrik tidak hanya ditentukan oleh investasi teknologi dan pembangunan infrastruktur. Faktor yang tidak kalah penting adalah terbentuknya budaya penggunaan ruang transportasi yang tertib dan sesuai peruntukannya.

Karena itu, penyelesaian masalah ini tidak cukup mengandalkan imbauan moral atau sanksi semata. Pengelola pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, kawasan permukiman, dan fasilitas publik perlu memastikan adanya marka yang mudah dikenali, warna khusus pada area pengisian daya, papan informasi yang jelas, serta pengawasan yang memadai. Ketika desain fasilitas mampu mengomunikasikan fungsinya secara efektif, tingkat kepatuhan pengguna biasanya meningkat secara signifikan.

Di sisi lain, penegakan aturan tetap diperlukan untuk melindungi fungsi infrastruktur publik. Sebagaimana jalur bus, trotoar, atau fasilitas penyeberangan memerlukan perlindungan dari penggunaan yang tidak semestinya, area pengisian daya juga membutuhkan kepastian bahwa fasilitas tersebut dapat diakses oleh pengguna yang memang memerlukannya.

Pada akhirnya, transisi menuju transportasi rendah emisi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan besar, investasi bernilai triliunan rupiah, atau kemajuan teknologi baterai. Keberhasilannya juga bergantung pada hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian sehari-hari.

Memarkir kendaraan konvensional di area pengisian daya mungkin tampak sebagai persoalan sepele. Namun ketika tindakan tersebut mengurangi akses terhadap infrastruktur yang menjadi tulang punggung kendaraan listrik, dampaknya tidak lagi bersifat sepele. Dalam konteks itulah, menghormati fungsi area pengisian daya bukan sekadar persoalan kepatuhan terhadap aturan parkir, melainkan bagian dari upaya bersama untuk memastikan transisi kendaraan listrik di Indonesia dapat berjalan secara efektif, efisien, dan berkelanjutan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 16:22

Ketika Muhammad Ali Datang ke Indonesia

Di antara beragam berita yang tersaji, satu judul tampil mencolok dan menarik perhatian yaitu kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia.

Halaman muka surat kabar Swadesi edisi 20 Oktober 1973, yang menampilkan berita utama tentang kedatangan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, ke Indonesia. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 15:02

Membudayakan Berwisata ke Museum

Andai museum tidak didirikan, bagaimana kita bisa mengetahui sejarah kehidupan manusia?

Museum Sri Baduga menggelar Expo Pancarakén Sri Baduga 2023, Jalan BKR, Kota Bandung, Jumat, 23 Juni 2023. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Alfarisi)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 14:38

Tong Gengsi Atuh ... Berbahasa Sunda

Para keluarga muda Sunda sering terlihat menggunakan bahasa Indonesia dari pada bahasa Sunda saat berkomunikasi dengan anaknya sejak usia balita.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 13:05

Mabit, Camp, dan Al-Jabbar

Tugas orang tua bukan hanya memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, melainkan menemani (membersamai) mereka untuk menemukan makna terdalam dari setiap aktivitas pengalaman berharganya.

Foto bersama guru, siswa kelas 6 saat mengikuti Al-Amanah Spiritual Camp di Al Jabbar, Jumat-Sabtu. (16-17/10/2026). (Sumber: Grup WAG Kelas 6)
Linimasa 21 Okt 2026, 10:53

Jelajah Citarum Saat Musim Kemarau

Saat musim kemarau, debit Citarum susut drastis dengan warna air menghitam. Namun masih dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencari nafkah

Kondisi debit air Sungai Citarum yang menyusut disaat musim kemarau (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 08:01

Andai Kota Bandung Tidak Macet seperti Kota Cirebon

Pengalaman saya menjelajahi lalulintas di Kota Cirebon membawa saya kepada kerinduan terhadap Kota Bandung yang tertib dan minim kemacetan

Sebagian banyak Jalanan di Kota Cirebon terpantau lebih lancar. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 07:41

Mengapa Mahasiswa Pasundan Memberi Rapor Merah untuk Pemerintahan Prabowo-Gibran?

Rapor merah perlu dibaca sebagai desakan agar angka statistik pemerintah jangan sampai menutupi pengalaman warga yang belum ikut merasakan perbaikan kehidupan.

Mahasiswa melakukan aksi protes dua tahun kepemimpinan Presiden RI Prabowo Subianto. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)