Memaknai Filosofi Warna Wayang Golek sebagai Cermin Karakter dan Arti Kehidupan

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Sabtu 24 Jan 2026, 09:15 WIB
Tatang Ruhiana dan koleksi wayan goleknya yang dijual di galeri Alan Ruchiat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Tatang Ruhiana dan koleksi wayan goleknya yang dijual di galeri Alan Ruchiat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Tokoh Si Cepot atau Arjuna tentu tidak asing di telinga masyarakat Jawa Barat. Keduanya merupakan bagian dari jagat wayang golek, yang setiap tokohnya memiliki ciri fisik sekaligus karakter yang khas. Bagi Tatang Heriana bin Alun Ruchiat, guratan pahat dan sapuan warna pada wayang golek bukan sekadar persoalan estetika. Di baliknya tersimpan perjalanan panjang meneruskan perjuangan sang ayah, Alun Ruchiat, dalam menjaga denyut hidup kesenian wayang golek. Perjalanan itu menorehkan banyak hikayat dan pelajaran hidup.

Alun Ruchiat dikenal sebagai dalang sekaligus pengrajin wayang golek di Kota Bandung. Berbekal latar belakang seni lukis, ia mendirikan Galeri Ruchiat pada tahun 1958 di kawasan Cibadak, Bandung. Setelah mengembuskan napas terakhir pada 1998, tongkat estafet Galeri Ruchiat beralih ke generasi kedua, yakni Tatang Heriana bin Alun Ruchiat.

Pada awal berdirinya, galeri ini berlokasi di Cibadak hingga tahun 1973. Kini, Galeri Ruchiat menetap di Jalan Pangarang Bawah, Kelurahan Cikawao, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung. Wayang golek yang dihasilkan terbuat dari kayu albasiyah dan dilapisi cat mobil. Dari tangan terampil Tatang, setiap tokoh menjelma sebagai representasi watak, nafsu, dan perjalanan hidup manusia.

Dalam ceritanya, Tatang menyampaikan pesan penting yang selalu diwariskan mendiang ayahnya kepada keluarga. Pesan itu berkaitan dengan bagaimana manusia seharusnya memosisikan diri dalam kehidupan, yang dianalogikan melalui pemakaian mahkota.

“Kayak siger atau mahkota. Jadi harus di tengah-tengah—otak kanan, otak kiri, otak tengah—harus seimbang,” ujar Tatang sambil menunjukkan siger yang dikenakan wayang Arjuna.

“Kalau berpijak atau melangkah itu harus tengah-tengah. Jangan ke kiri, jangan ke kanan,” lanjutnya.

Wayang golek di galeri Alan Ruchiat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wayang golek di galeri Alan Ruchiat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Filosofi Warna Wayang sebagai Bahasa Watak

Tak hanya posisi mahkota, warna pada wajah wayang juga menjadi kunci untuk memahami filosofi karakter. Bagi Tatang, warna-warna itu ibarat kamus sifat manusia yang diterjemahkan ke dalam rupa kayu.

“Kalau (wayang) putih itu good character, merah bad character, krem bijaksana, biru agamis dan nasionalis, kuning licik, pink semi-temperamen, hijau itu sehat,” jelasnya.

Filosofi warna tersebut tergambar jelas pada keluarga Punakawan—empat tokoh yang menjadi roh dalam pertunjukan wayang golek khas Sunda. Meski berasal dari satu keluarga, setiap tokoh membawa watak yang berbeda, tercermin dari warna wajah mereka.

“Tokohnya Semar yang putih sebagai ayahnya, Cepot merah, Dawala yang pink, Gareng yang kuning. Ketiganya anak dari Semar,” ujar Tatang.

Keunikan wayang golek Ruchiat tidak hanya terletak pada bentuk fisik, tetapi juga pada proses spiritual sebelum sebuah wayang dibuat. Pada masa Alun Ruchiat, wayang tidak dipahat begitu saja. Ada laku batin yang harus dijalani sang perajin agar karya yang dihasilkan memiliki kharisma dan wibawa. Tradisi inilah yang membedakan wayang sebagai karya seni dengan wayang yang sekadar menjadi produk industri.

“Kalau zaman almarhum Bapak, karena beliau dalang, harus ada rutinitas puasa Senin dan Kamis sebelum pembuatan. Supaya ada gaya seninya, ada wibawanya,” ungkap Tatang.

Galeri Ruchiat di Jalan Pangarang Bawah, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Galeri Ruchiat di Jalan Pangarang Bawah, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Akulturasi dan Simbolisme Kematian

Meski pewayangan berakar dari India, dalam tangan perajin lokal, tokoh-tokohnya mengalami akulturasi dan transformasi. Hal ini terlihat dari perbedaan karakter seperti Hanoman dalam pewayangan Sunda dengan Sun Go Kong dari tradisi Tiongkok.

Di antara seluruh koleksi yang dimilikinya, Wayang Bima menjadi yang paling sakral bagi Tatang. Tokoh ini menyimpan filosofi mendalam tentang akhir kehidupan manusia. Lilitan ular di leher Wayang Bima dimaknai sebagai simbol waktu dan kematian.

“Ular itu umpama waktu kematian. Dililit-lilit waktu. Setiap manusia dilahirkan dan meninggal. Jadi kalau orang-orang yang dililit ular itu sudah tahu kapan meninggal,” jelas Tatang.

“Kayak almarhum Bapak. Banyak kejadian yang orang lain enggak percaya, tapi beliau yakin itu akan terjadi,” tambahnya.

Setelah berdiri selama 68 tahun, Galeri Ruchiat kini berada pada fase yang sunyi. Ada ironi yang dirasakan Tatang ketika justru masyarakat mancanegara datang untuk belajar dan mengagumi kejujuran urat kayu wayang yang tak berwarna, sementara generasi penerus di sekitarnya mulai menjauh.

“Ada ketakutan sendiri. Tadi kepikiran, kok cucu enggak ngerti, ya? Justru yang tertarik itu dari luar negeri—Belanda, Italia, Prancis, Jerman, Swedia. Mereka sengaja datang ke sini untuk belajar dan membeli,” tutup Tatang.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)