Memaknai Filosofi Warna Wayang Golek sebagai Cermin Karakter dan Arti Kehidupan

3 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Tatang Ruhiana dan koleksi wayan goleknya yang dijual di galeri Alan Ruchiat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Tatang Ruhiana dan koleksi wayan goleknya yang dijual di galeri Alan Ruchiat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Tokoh Si Cepot atau Arjuna tentu tidak asing di telinga masyarakat Jawa Barat. Keduanya merupakan bagian dari jagat wayang golek, yang setiap tokohnya memiliki ciri fisik sekaligus karakter yang khas. Bagi Tatang Heriana bin Alun Ruchiat, guratan pahat dan sapuan warna pada wayang golek bukan sekadar persoalan estetika. Di baliknya tersimpan perjalanan panjang meneruskan perjuangan sang ayah, Alun Ruchiat, dalam menjaga denyut hidup kesenian wayang golek. Perjalanan itu menorehkan banyak hikayat dan pelajaran hidup.

Alun Ruchiat dikenal sebagai dalang sekaligus pengrajin wayang golek di Kota Bandung. Berbekal latar belakang seni lukis, ia mendirikan Galeri Ruchiat pada tahun 1958 di kawasan Cibadak, Bandung. Setelah mengembuskan napas terakhir pada 1998, tongkat estafet Galeri Ruchiat beralih ke generasi kedua, yakni Tatang Heriana bin Alun Ruchiat.

Pada awal berdirinya, galeri ini berlokasi di Cibadak hingga tahun 1973. Kini, Galeri Ruchiat menetap di Jalan Pangarang Bawah, Kelurahan Cikawao, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung. Wayang golek yang dihasilkan terbuat dari kayu albasiyah dan dilapisi cat mobil. Dari tangan terampil Tatang, setiap tokoh menjelma sebagai representasi watak, nafsu, dan perjalanan hidup manusia.

Dalam ceritanya, Tatang menyampaikan pesan penting yang selalu diwariskan mendiang ayahnya kepada keluarga. Pesan itu berkaitan dengan bagaimana manusia seharusnya memosisikan diri dalam kehidupan, yang dianalogikan melalui pemakaian mahkota.

“Kayak siger atau mahkota. Jadi harus di tengah-tengah—otak kanan, otak kiri, otak tengah—harus seimbang,” ujar Tatang sambil menunjukkan siger yang dikenakan wayang Arjuna.

“Kalau berpijak atau melangkah itu harus tengah-tengah. Jangan ke kiri, jangan ke kanan,” lanjutnya.

Wayang golek di galeri Alan Ruchiat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wayang golek di galeri Alan Ruchiat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Filosofi Warna Wayang sebagai Bahasa Watak

Tak hanya posisi mahkota, warna pada wajah wayang juga menjadi kunci untuk memahami filosofi karakter. Bagi Tatang, warna-warna itu ibarat kamus sifat manusia yang diterjemahkan ke dalam rupa kayu.

“Kalau (wayang) putih itu good character, merah bad character, krem bijaksana, biru agamis dan nasionalis, kuning licik, pink semi-temperamen, hijau itu sehat,” jelasnya.

Filosofi warna tersebut tergambar jelas pada keluarga Punakawan—empat tokoh yang menjadi roh dalam pertunjukan wayang golek khas Sunda. Meski berasal dari satu keluarga, setiap tokoh membawa watak yang berbeda, tercermin dari warna wajah mereka.

“Tokohnya Semar yang putih sebagai ayahnya, Cepot merah, Dawala yang pink, Gareng yang kuning. Ketiganya anak dari Semar,” ujar Tatang.

Keunikan wayang golek Ruchiat tidak hanya terletak pada bentuk fisik, tetapi juga pada proses spiritual sebelum sebuah wayang dibuat. Pada masa Alun Ruchiat, wayang tidak dipahat begitu saja. Ada laku batin yang harus dijalani sang perajin agar karya yang dihasilkan memiliki kharisma dan wibawa. Tradisi inilah yang membedakan wayang sebagai karya seni dengan wayang yang sekadar menjadi produk industri.

“Kalau zaman almarhum Bapak, karena beliau dalang, harus ada rutinitas puasa Senin dan Kamis sebelum pembuatan. Supaya ada gaya seninya, ada wibawanya,” ungkap Tatang.

Galeri Ruchiat di Jalan Pangarang Bawah, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Galeri Ruchiat di Jalan Pangarang Bawah, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Akulturasi dan Simbolisme Kematian

Meski pewayangan berakar dari India, dalam tangan perajin lokal, tokoh-tokohnya mengalami akulturasi dan transformasi. Hal ini terlihat dari perbedaan karakter seperti Hanoman dalam pewayangan Sunda dengan Sun Go Kong dari tradisi Tiongkok.

Di antara seluruh koleksi yang dimilikinya, Wayang Bima menjadi yang paling sakral bagi Tatang. Tokoh ini menyimpan filosofi mendalam tentang akhir kehidupan manusia. Lilitan ular di leher Wayang Bima dimaknai sebagai simbol waktu dan kematian.

“Ular itu umpama waktu kematian. Dililit-lilit waktu. Setiap manusia dilahirkan dan meninggal. Jadi kalau orang-orang yang dililit ular itu sudah tahu kapan meninggal,” jelas Tatang.

“Kayak almarhum Bapak. Banyak kejadian yang orang lain enggak percaya, tapi beliau yakin itu akan terjadi,” tambahnya.

Setelah berdiri selama 68 tahun, Galeri Ruchiat kini berada pada fase yang sunyi. Ada ironi yang dirasakan Tatang ketika justru masyarakat mancanegara datang untuk belajar dan mengagumi kejujuran urat kayu wayang yang tak berwarna, sementara generasi penerus di sekitarnya mulai menjauh.

“Ada ketakutan sendiri. Tadi kepikiran, kok cucu enggak ngerti, ya? Justru yang tertarik itu dari luar negeri—Belanda, Italia, Prancis, Jerman, Swedia. Mereka sengaja datang ke sini untuk belajar dan membeli,” tutup Tatang.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Jul 2026, 09:54

Membangun Integritas sebagai DNA Utama Aparatur

Integritas benar-benar meresap menjadi DNA dalam setiap urat nadi Aparatur Sipil Negara (ASN) kita.

Ilustrasi ASN. (Sumber: Dok. Kemenpan)
Ayo Netizen 14 Jul 2026, 08:56

Pesan Tersembunyi dari Empat Semifinalis Piala Dunia 2026

Prancis, Argentina, Spanyol, dan Inggris memiliki satu kesamaan: mereka tidak hanya memiliki sebelas pemain hebat.

Ilustrasi semifinalis Piala Dunia 2026. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 19:03

Ketika Kebebasan Ber-(SUARA) Disalahpahami

Katanya Silahkan jadi Penulis yang Kritis tapi jangan abcd

Ilustrasi kebebasan berpendapat. (Sumber: Pexels | Foto: Dany Kurniawan)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 18:39

Anak Cerdas Tak Bisa Kuliah

Ribuan anak cerdas terancam gagal kuliah karena biaya. Persoalan bermuara pada paradigma pendidikan, bukan hanya UKT.

Ilustrasi topi wisuda saat simbolisasi lulus kuliah. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Wisata & Kuliner 13 Jul 2026, 17:25

Jelajah Leuwi Raksamala Ciamis, Lubuk Tersembunyi di Kawasan Curug Jami

Cari hidden gem di Ciamis? Leuwi Raksamala dekat Curug Jami menawarkan kolam alami, air jernih, dan suasana tenang. Cek panduan wisata lengkapnya di sini.

Leuwi Raksamala Ciamis. (Sumber: TikTok @heru_montana2)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 17:00

Tumbal Pembangunan Halus Berupa Pengusiran Pedagang Cicaheum demi Depo Bus Modern

Kios pedagang Terminal Cicaheum akan dibongkar demi depo BRT. Kompensasi Rp2-3 juta dinilai jauh dari nilai puluhan tahun mata pencaharian mereka.

Tak lagi dipadati penumpang, Terminal Cicaheum kini menyisakan cerita dan kenangan di setiap sudutnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 16:40

Selebrasi Ikonik Piala Dunia

Pertandingan Piala Dunia menghadirkan beberapa selebrasi gol ikonik yang masih menjadi perhatian masyarakat dunia sampai saat ini

Selebrasi khas Brian Laudrup di Piala Dunia 1998. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 16:06

Mengintip Strategi Public Relations Writing dalam Kampanye Brand Olahraga di Piala Dunia 2026

Analisis strategi public relations writing Adidas dalam kampanye “Backyard Legends” menjelang Piala Dunia 2026 melalui website dan Instagram untuk memperkuat citra brand.

Kampanye Piala Dunia 2026. (Sumber: .adidas.com/world-cup-2026)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 15:25

Saya, Lapar, dan Knut Hamsun

Entah ini memang takdir, atau kesengajaan yang konyol. Saya membaca Lapar (Sult/Hunger) karangan Knut Hamsun dalam keadaan lapar, benar-benar lapar.

Buku "Hunger" (Lapar) karya Knut Hamsun. (Sumber: oldsovereignpublishing.com)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 15:08

Politik Bandung Terlalu Sibuk Mencari Ikon

Politik perkotaan kerap bergerak di antara dua kepentingan: yang pertama adalah membangun citra kota, yang kedua adalah mengelola kehidupan kota sehari-hari. 

Sejumlah warga Bandung, dibantu sanggota Satlantas Polresta Bandung, sedang antre air bersih.
sedang mengantre air bersih, (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 13:19

Merayakan Keragaman, Memupuk Kerukunan 

Keragaman, kerukunan, toleransi sejatinya tidak hanya lahir dari ruang-ruang dialog, seminar, regulasi negara.

Warga mengikuti Upacara Adat Tutup Taun 1956 Ngemban Taun 1 Sura 1957 Saka Sunda di Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Kota Cimahi, Sabtu 5 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 13 Jul 2026, 11:48

Museum Kretek Kudus: Sejarah, Harga Tiket, Koleksi, dan Jam Buka

Museum Kretek Kudus merupakan satu-satunya museum rokok di Indonesia. Simak sejarah, koleksi, harga tiket, jam buka, dan daya tariknya di sini.

Museum Kretek Kudus. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 11:15

Budaya NG.O.P.I Anak Muda Sekarang: NGeluarin Opini 'Pragmatis vs Idealis'

Ketika pola pikir pragmatis dan idealis pada generasi muda yang memengaruhi orientasi dalam proses beropini.

Ilustrasi ngopi. (Sumber: Pexels | Foto: Thanh Bui)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 10:59

Pengaruh Pembangunan Rel Kereta di Ciwidey untuk Mata Pencaharian Pribumi (1917-1924)

Sedikit gambaran mengenai mata pencaharian masyarakat ketika pembangunan rel kereta di Ciwidey.

 (Sumber: ebay.com | Foto: ebay.com)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 09:07

Perjuangan Pustakawan Menghadirkan Buku Bergizi Gratis

Pustakawan tidak bisa dianggap sebagai profesi yang mudah.

Ilustrasi buku-buku di perpustakaan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Jul 2026, 08:58

Urgensi Koperasi untuk Sektor Mekanisasi Pertanian Berkelanjutan

KDMP mestinya tumbuh menjadi koperasi yang mendukung peningkatan produksi pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan.

Ilustrasi Peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 (Sumber: Kreasi dengan bantuan Gemini | Foto: dokpri Totok Siswantara)
Ayo Netizen 12 Jul 2026, 18:01

Dekonstruksi Strategi Komunikasi Persib dan Teka Teki Kedatangan Peralta

Persib kenalkan 6 pemain baru lewat kampanye 'positive movement' yang inovatif. Kini, Bobotoh menanti kejutan pamungkas: Peralta!

Mariano Peralta. (Sumber: Ileague)
Ayo Netizen 12 Jul 2026, 16:11

Koperasi Desa Merah Putih, Akankah Menjadi Solusi Pemerataan Ekonomi Tingkat Desa?

Program nasional Koperasi Desa Merah Putih resmi diluncurkan pemerintah sebagai upaya percepatan kemandirian ekonomi desa. Namun, program ini dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan masyarakat.

Koperasi Desa Merah Putih. (Sumber: blorakab.go.id)
Ayo Netizen 12 Jul 2026, 12:11

Di Tengah Kenaikan Harga Bahan Bakar: Strategi Komunikasi Digital Perusahaan Energi Menjaga Kepercayaan Konsumen

Kenaikan harga bahan bakar minyak yang terjadi pada 4 Mei 2026 menjadi perhatian masyarakat karena berdampak langsung terhadap kebutuhan sehari-hari.

banner ilustrasi kenaikan harga bbm.
Ayo Netizen 12 Jul 2026, 10:13

Bandung Utama Bagja Sararea: Inovasi Memperkuat Layanan Psikis Warga

Mengapa layanan psikologi klinis penting untuk masyarakat kota Bandung? Sederhana jawabannya, masyarakat membutuhkan kesehatan mentalnya.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)