Dana Indonesiana Tertunda, Pelestari Budaya Ngada Alami Tekanan Mental

3 menit baca
MSG
Ditulis oleh MSG diterbitkan
Desa Adat Bena. (Sumber: Arsip pribadi narasumber)
Desa Adat Bena. (Sumber: Arsip pribadi narasumber)

Di dataran tinggi Bajawa, kabut turun pelan setiap pagi. Di tengah kampung adat berdiri sepasang simbol tua: Ngadhu dan Bhaga — tiang leluhur laki-laki dan rumah rahim perempuan. Di sanalah nama keluarga diingat, doa dipanjatkan, dan sejarah diwariskan. Setiap tahun, saat musim Reba tiba, kampung-kampung seperti Bena, Tololela, Belaraghi kembali hidup. Gendang dipukul, tenun dibentang, cerita leluhur diulang dari mulut ke mulut. Bagi orang Ngada, adat bukan tontonan. Ia adalah napas.

Namun tahun ini, di tengah musim sakral itu, seorang pelestari budaya justru memilih lebih sering tinggal di rumah. Bukan karena tak cinta adat, melainkan karena tekanan yang terlalu berat. Program yang ia siapkan untuk menjaga warisan leluhur terhenti bahkan sebelum sempat berjalan.

Mimpi Besar dari Kampung Kecil

Program ini digagas oleh Varo (nama samaran), seorang pelaku budaya muda Ngada. Ia ingin budaya hadir dengan cara baru: anak-anak belajar lewat buku mewarnai rumah adat dan puzzle kampung, remaja lewat komik, TTS budaya, dan game edukasi, orang dewasa lewat majalah reflektif dan kamus digital. Sebuah website budaya terbuka disiapkan sebagai rumah arsip bersama. Bahkan sebuah game edukatif bertajuk GEU NUA (Menjaga Kampung) dikembangkan—game berbasis kampung asli Bajawa yang mengajarkan nilai adat melalui permainan. Budaya tak lagi terasa berat. Ia menyenangkan. Ia hidup.

Program ini dinyatakan lolos Dana Indonesiana 2025 yang dikelola LPDP dan Kementerian Kebudayaan. Pengumuman keluar sejak Agustus–September 2025 dan kegiatan semestinya segera dimulai. Namun sampai Januari 2026, pencairan dana tak kunjung terealisasi.

Masalahnya, budaya tak bisa menunggu. Musim Reba (Desember–Februari) adalah momen emas: para tetua lengkap, ritual berlangsung, cerita-cerita hidup. Inilah waktu terbaik untuk dokumentasi. “Kalau lewat, ya tunggu setahun lagi,” katanya. Tanpa dana, kamera belum terbeli, tim belum terbentuk, workshop batal. Momentum pelan-pelan hilang.

Dari Harapan Menjadi Kecurigaan

Di kota, orang paham ini soal administrasi. Di kampung, tidak sesederhana itu. Saat kabar kelulusan proposal menyebar, warga berharap besar. Namun bulan demi bulan berlalu tanpa realisasi. Bisik-bisik muncul. Tanya berubah jadi curiga. Ia mulai merasa tak nyaman keluar rumah.

Tekanan itu makin berat ketika ternaknya mati mendadak dan tanaman di ladangnya rusak. “Ayam, bebek, satu kandang habis. Tanaman dicabut. Saya tidak berani nuduh siapa-siapa… tapi mental saya jatuh sekali,” tuturnya. Kerugian materi bisa dihitung, tapi kepercayaan sosial sulit dipulihkan. Ia mengaku mulai menghindari pertemuan kampung, lebih banyak diam di rumah, cemas bertemu orang.

Lalu pada suatu malam, saat rasa lelah itu memuncak, ia mengirim pesan singkat kepada rekannya di kota. Bukan laporan, bukan kabar program, hanya curahan hati. “Kalau akhir Februari belum cair juga, saya benar-benar nggak kuat lagi, bang… berat sekali tekanan di kampung,” tulisnya. Kalimat itu sederhana, tapi menyimpan keputusasaan yang dalam.

Namun ia juga menegaskan bahwa situasi tersebut bukan gambaran sikap warga Ngada secara umum. Tekanan yang ia rasakan diyakini hanya datang dari satu-dua oknum. Selebihnya, masyarakat kampung tetap percaya dan mendukung. Kecurigaan yang muncul pun lebih lahir dari keterbatasan informasi dan akses, bukan niat buruk. Dalam keseharian, warga Ngada dikenal menjunjung tinggi persaudaraan, gotong royong, dan rasa satu leluhur—nilai yang justru menjadi alasan utama ia yakin program yang direncanakan akan diterima dan dijaga bersama.

Dana Indonesiana dirancang sebagai dukungan besar pemajuan kebudayaan nasional melalui Dana Abadi Kebudayaan. Namun di lapangan, keterlambatan pencairan berbulan-bulan berdampak nyata: kegiatan tertunda, kepercayaan warga menurun, pelaku budaya disalahpahami, tekanan psikologis meningkat. Bagi masyarakat adat, reputasi sosial sama pentingnya dengan uang. Sekali dicurigai, bebannya panjang.

Baca Juga: Catatan Awal Tahun dari Wargi Bandung

Meski tertekan, Varo belum menyerah. Ia masih membayangkan: anak-anak belajar budaya dengan gembira, remaja bermain game edukasi adat, guru mengakses materi digital, kampung-kampung menulis sejarahnya sendiri. “Mimpi saya sederhana,” katanya pelan. “Budaya kami jangan hilang. Cuma itu.”

Di bawah Ngadhu dan Bhaga, ia masih percaya: leluhur akan menjaga mereka yang menjaga adat. Tapi ia juga berharap satu hal: agar dana yang dijanjikan benar-benar tiba. Karena budaya adalah milik kita bersama: kekayaan bumi Indonesia. Dan pelestari budaya tak seharusnya berjuang sendirian. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)