Dana Indonesiana Tertunda, Pelestari Budaya Ngada Alami Tekanan Mental

MSG
Ditulis oleh MSG diterbitkan Jumat 23 Jan 2026, 13:38 WIB
Desa Adat Bena. (Sumber: Arsip pribadi narasumber)

Desa Adat Bena. (Sumber: Arsip pribadi narasumber)

Di dataran tinggi Bajawa, kabut turun pelan setiap pagi. Di tengah kampung adat berdiri sepasang simbol tua: Ngadhu dan Bhaga — tiang leluhur laki-laki dan rumah rahim perempuan. Di sanalah nama keluarga diingat, doa dipanjatkan, dan sejarah diwariskan. Setiap tahun, saat musim Reba tiba, kampung-kampung seperti Bena, Tololela, Belaraghi kembali hidup. Gendang dipukul, tenun dibentang, cerita leluhur diulang dari mulut ke mulut. Bagi orang Ngada, adat bukan tontonan. Ia adalah napas.

Namun tahun ini, di tengah musim sakral itu, seorang pelestari budaya justru memilih lebih sering tinggal di rumah. Bukan karena tak cinta adat, melainkan karena tekanan yang terlalu berat. Program yang ia siapkan untuk menjaga warisan leluhur terhenti bahkan sebelum sempat berjalan.

Mimpi Besar dari Kampung Kecil

Program ini digagas oleh Varo (nama samaran), seorang pelaku budaya muda Ngada. Ia ingin budaya hadir dengan cara baru: anak-anak belajar lewat buku mewarnai rumah adat dan puzzle kampung, remaja lewat komik, TTS budaya, dan game edukasi, orang dewasa lewat majalah reflektif dan kamus digital. Sebuah website budaya terbuka disiapkan sebagai rumah arsip bersama. Bahkan sebuah game edukatif bertajuk GEU NUA (Menjaga Kampung) dikembangkan—game berbasis kampung asli Bajawa yang mengajarkan nilai adat melalui permainan. Budaya tak lagi terasa berat. Ia menyenangkan. Ia hidup.

Program ini dinyatakan lolos Dana Indonesiana 2025 yang dikelola LPDP dan Kementerian Kebudayaan. Pengumuman keluar sejak Agustus–September 2025 dan kegiatan semestinya segera dimulai. Namun sampai Januari 2026, pencairan dana tak kunjung terealisasi.

Masalahnya, budaya tak bisa menunggu. Musim Reba (Desember–Februari) adalah momen emas: para tetua lengkap, ritual berlangsung, cerita-cerita hidup. Inilah waktu terbaik untuk dokumentasi. “Kalau lewat, ya tunggu setahun lagi,” katanya. Tanpa dana, kamera belum terbeli, tim belum terbentuk, workshop batal. Momentum pelan-pelan hilang.

Dari Harapan Menjadi Kecurigaan

Di kota, orang paham ini soal administrasi. Di kampung, tidak sesederhana itu. Saat kabar kelulusan proposal menyebar, warga berharap besar. Namun bulan demi bulan berlalu tanpa realisasi. Bisik-bisik muncul. Tanya berubah jadi curiga. Ia mulai merasa tak nyaman keluar rumah.

Tekanan itu makin berat ketika ternaknya mati mendadak dan tanaman di ladangnya rusak. “Ayam, bebek, satu kandang habis. Tanaman dicabut. Saya tidak berani nuduh siapa-siapa… tapi mental saya jatuh sekali,” tuturnya. Kerugian materi bisa dihitung, tapi kepercayaan sosial sulit dipulihkan. Ia mengaku mulai menghindari pertemuan kampung, lebih banyak diam di rumah, cemas bertemu orang.

Lalu pada suatu malam, saat rasa lelah itu memuncak, ia mengirim pesan singkat kepada rekannya di kota. Bukan laporan, bukan kabar program, hanya curahan hati. “Kalau akhir Februari belum cair juga, saya benar-benar nggak kuat lagi, bang… berat sekali tekanan di kampung,” tulisnya. Kalimat itu sederhana, tapi menyimpan keputusasaan yang dalam.

Namun ia juga menegaskan bahwa situasi tersebut bukan gambaran sikap warga Ngada secara umum. Tekanan yang ia rasakan diyakini hanya datang dari satu-dua oknum. Selebihnya, masyarakat kampung tetap percaya dan mendukung. Kecurigaan yang muncul pun lebih lahir dari keterbatasan informasi dan akses, bukan niat buruk. Dalam keseharian, warga Ngada dikenal menjunjung tinggi persaudaraan, gotong royong, dan rasa satu leluhur—nilai yang justru menjadi alasan utama ia yakin program yang direncanakan akan diterima dan dijaga bersama.

Dana Indonesiana dirancang sebagai dukungan besar pemajuan kebudayaan nasional melalui Dana Abadi Kebudayaan. Namun di lapangan, keterlambatan pencairan berbulan-bulan berdampak nyata: kegiatan tertunda, kepercayaan warga menurun, pelaku budaya disalahpahami, tekanan psikologis meningkat. Bagi masyarakat adat, reputasi sosial sama pentingnya dengan uang. Sekali dicurigai, bebannya panjang.

Baca Juga: Catatan Awal Tahun dari Wargi Bandung

Meski tertekan, Varo belum menyerah. Ia masih membayangkan: anak-anak belajar budaya dengan gembira, remaja bermain game edukasi adat, guru mengakses materi digital, kampung-kampung menulis sejarahnya sendiri. “Mimpi saya sederhana,” katanya pelan. “Budaya kami jangan hilang. Cuma itu.”

Di bawah Ngadhu dan Bhaga, ia masih percaya: leluhur akan menjaga mereka yang menjaga adat. Tapi ia juga berharap satu hal: agar dana yang dijanjikan benar-benar tiba. Karena budaya adalah milik kita bersama: kekayaan bumi Indonesia. Dan pelestari budaya tak seharusnya berjuang sendirian. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

MSG
Tentang MSG
peaceful co-existence

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)