Perayaan Alam dan Budaya di Trek Sukawana Bandung Barat

Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Ditulis oleh Eneng Reni Nuraisyah Jamil diterbitkan Senin 29 Des 2025, 20:33 WIB
Di tengah hiruk pikuk urbanisasi dan gaya hidup serba cepat, festival hiking muncul sebagai ruang alternatif bagi masyarakat Indonesia untuk kembali meneguhkan hubungan dengan alam. (Sumber: Hiking Fest 2025)

Di tengah hiruk pikuk urbanisasi dan gaya hidup serba cepat, festival hiking muncul sebagai ruang alternatif bagi masyarakat Indonesia untuk kembali meneguhkan hubungan dengan alam. (Sumber: Hiking Fest 2025)

AYOBANDUNG.ID -- Di tengah hiruk pikuk urbanisasi dan gaya hidup serba cepat, festival hiking muncul sebagai ruang alternatif bagi masyarakat Indonesia untuk kembali meneguhkan hubungan dengan alam.

Hiking Fest 2025 yang digelar Mahameru di Sukawana, kawasan Gunung Tangkuban Parahu, hanyalah satu contoh kecil dari fenomena yang lebih besar yakni perayaan keterhubungan manusia, budaya, dan alam yang kini menjadi tren sosial sekaligus kebutuhan ekologis.

Kondisi riil di lapangan menunjukkan antusiasme yang melampaui sekadar hobi. Sebanyak 150 peserta dari Jakarta, Bekasi, Sumedang, dan Bandung raya berkumpul sejak pagi. Mereka datang bukan hanya untuk menaklukkan jalur pendakian, tetapi juga untuk merasakan atmosfer kebersamaan yang jarang ditemukan di ruang-ruang urban.

Festival ini berlangsung dari pukul 07.00 WIB hingga menjelang senja. Udara sejuk Sukawana, aroma tanah basah, dan suara hutan menjadi latar yang kontras dengan kehidupan kota. Sebelum pendakian dimulai, peserta mengikuti safety talk dari pendaki berpengalaman dan tim medis. Detail ini penting: keselamatan menjadi bagian integral dari pengalaman, bukan sekadar formalitas.

Tema besar “Harmonizing Nature, People, and Purpose” bukan slogan kosong. Ia diterjemahkan dalam aktivitas nyata: pendakian, penanaman pohon, hingga workshop edukatif. Hiking Fest 2025 menegaskan bahwa festival outdoor bisa menjadi medium untuk menyatukan ekologi, sosial, dan ekonomi berkelanjutan. “Tujuan Hiking Fest 2025 adalah kembali lagi ke alam, mencintai alam,” kata Founder Mahameru, Muchammad Thofan.

Mahameru merancang festival ini dengan tiga dimensi utama. Pertama, ekologi: rehabilitasi kawasan, konservasi, dan literasi lingkungan. Kedua, sosial: keterlibatan komunitas lokal dan kolaborasi lintas pihak. Ketiga, ekonomi: pemberdayaan UMKM dan promosi produk ramah lingkungan. Tiga dimensi ini menjadikan Hiking Fest 2025 lebih dari sekadar acara hiburan.

Salah satu aksi nyata adalah penanaman pohon alpukat di ketinggian 1.000 mdpl. Aktivitas ini bukan simbolis belaka. Alpukat dipilih karena bernilai ekologis sekaligus ekonomis. Pohon yang ditanam diharapkan menjadi bagian dari agroforestry yang memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekitar.

Di tengah hiruk pikuk urbanisasi dan gaya hidup serba cepat, festival hiking muncul sebagai ruang alternatif bagi masyarakat Indonesia untuk kembali meneguhkan hubungan dengan alam. (Sumber: Hiking Fest 2025)
Di tengah hiruk pikuk urbanisasi dan gaya hidup serba cepat, festival hiking muncul sebagai ruang alternatif bagi masyarakat Indonesia untuk kembali meneguhkan hubungan dengan alam. (Sumber: Hiking Fest 2025)

“Menanam pohon alpukat yang menghasilkan buah ini salah satu upaya bertahan hidup atau survival soul. Mudah-mudahan ini menjadi percontohan di daerah dan semoga ke depan Mahameru bisa menyelenggarakan Hiking Fest di daerah lain dan menanam lebih banyak lagi pohon alpukat karena di Hiking Fest 2025 baru sebagian,” kata Thofan.

Senada, Steering Committee Hiking Fest 2025 Budhi Santosa menambahkan dimensi sosial-ekonomi dari program ini. “Dalam program Mahameru ini, kenapa menanam pohon alpukat, kami ingin menciptakan kawasan agroforestry yang tidak hanya memiliki nilai ekologi, tetapi juga sosial dan ekonomi yang manfaatnya dapat diserap juga oleh masyarakat setempat,” ujarnya.

Oleh karena itu,Agroforestry menjadi kata kunci yang jarang muncul dalam festival outdoor, namun di sini menjadi inti gagasan. Festival ini juga membagi jalur pendakian dalam tiga kategori: short trail 2 km, medium trail 8 km, dan long trail 12 km.

“Alhamdulillah peserta Hiking Fest 2025 sangat antusias dan happy serta diikuti berbagai usia, mulai dari usia sekolah hingga peserta berusia 70 tahun,” tutur General Manager Mahameru, Alex Iskandar.

Fakta ini menunjukkan inklusivitas: hiking bukan monopoli anak muda, melainkan lintas generasi. Long trail menawarkan pengalaman penuh: hutan, sungai, kebun teh, hingga panorama Gunung Tangkuban Parahu.

Medium trail memberi keseimbangan antara tantangan dan rekreasi, sementara short trail ramah bagi keluarga. Pembagian ini memperlihatkan keseriusan penyelenggara dalam merancang pengalaman yang sesuai dengan kapasitas peserta.

Selain pendakian, festival ini menghadirkan workshop dan talk show tentang sejarah geografis Gunung Tangkuban Parahu. Edukasi menjadi bagian penting, menghubungkan peserta dengan konteks budaya dan sejarah lokal. Hiking Fest 2025 tidak berhenti pada fisik, tetapi juga memperkaya pengetahuan.

Kondisi riil di lapangan memperlihatkan bagaimana festival outdoor mampu menggerakkan ekonomi lokal. UMKM yang menjual produk ramah lingkungan mendapat ruang promosi. Masyarakat sekitar terlibat aktif, bukan sekadar penonton. Ini menegaskan bahwa festival semacam ini bisa menjadi model pemberdayaan.

Di tengah hiruk pikuk urbanisasi dan gaya hidup serba cepat, festival hiking muncul sebagai ruang alternatif bagi masyarakat Indonesia untuk kembali meneguhkan hubungan dengan alam. (Sumber: Hiking Fest 2025)
Di tengah hiruk pikuk urbanisasi dan gaya hidup serba cepat, festival hiking muncul sebagai ruang alternatif bagi masyarakat Indonesia untuk kembali meneguhkan hubungan dengan alam. (Sumber: Hiking Fest 2025)

Lebih jauh, Hiking Fest 2025 mencerminkan tren nasional. Di berbagai daerah, kegiatan outdoor mulai dipandang sebagai sarana regenerasi ekologi dan sosial. Festival ini hanyalah contoh kecil, namun potensinya besar: membangun ekosistem berkelanjutan yang memberi manfaat bagi manusia, budaya, dan alam.

Indonesia, dengan karakter masyarakat yang gemar berkumpul dan berbagi pengalaman, menjadikan festival hiking sebagai wadah ideal. Energi kolektif yang tercipta di Sukawana menunjukkan bagaimana keterhubungan bisa menjadi kekuatan sosial.

Hiking Fest 2025 juga menegaskan bahwa tren outdoor tidak harus berakhir pada komodifikasi. Ia bisa diarahkan pada tujuan besar: pelestarian lingkungan, penguatan komunitas, dan pemberdayaan ekonomi. Inilah yang membedakan festival ini dari sekadar ajang rekreasi.

Dengan semangat keterhubungan manusia, budaya, dan alam, Hiking Fest 2025 menjadi contoh kecil dari arah besar yang sedang tumbuh di Indonesia. Festival ini menunjukkan bahwa perayaan bisa sekaligus menjadi gerakan: membangun harmoni berkelanjutan di tengah tantangan ekologi dan sosial.

“Dengan Hiking Fest 2025 kita membuka hati masyarakat untuk merawat alam dan mencintai alam lebih baik lagi sejalan dengan survival soul-nya Mahameru,” ujar Thofan.

Alternatif kebutuhan hiking atau poduk serupa:

  1. https://s.shopee.co.id/8pf74KbuYJ
  2. https://s.shopee.co.id/80604q1Izx
  3. https://s.shopee.co.id/9pXeGEjH7R
  4. https://s.shopee.co.id/6VHCI8wSmI
  5. https://s.shopee.co.id/AUnL3W5r46

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Jan 2026, 13:38 WIB

Gali Potensi, Raih Prestasi

Pengalaman LDKB menjadi bekal berharga bagi kita untuk terus menggali potensi diri, memperbaiki diri, meraih prestasi
Sejumlah siswa SD Cirendeu saat bermain permainan tradisional. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Jan 2026, 11:05 WIB

Interior Bus Listrik Metro sebagai Pengalaman Ruang Bergerak di Kota Bandung

Transportasi publik dalam konteks ini, dipahami sebagai ruang interior bergerak yang dialami secara nyata oleh pengguna/penumpang.
Bus listrik metro. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Biz 24 Jan 2026, 21:30 WIB

Menyelami Dinamika Properti Indonesia: Antara Regulasi, Pasar, dan Integritas Developer

Industri properti kini bukan lagi sekadar urusan semen dan baja, melainkan pertarungan kecerdasan dalam menafsirkan naskah regulasi yang terus berganti.
Industri properti kini bukan lagi sekadar urusan semen dan baja, melainkan pertarungan kecerdasan dalam menafsirkan naskah regulasi yang terus berganti. (Sumber: Freepik)
Beranda 24 Jan 2026, 09:15 WIB

Memaknai Filosofi Warna Wayang Golek sebagai Cermin Karakter dan Arti Kehidupan

Tak hanya posisi mahkota, warna pada wajah wayang juga menjadi kunci untuk memahami filosofi karakter.
Tatang Ruhiana dan koleksi wayan goleknya yang dijual di galeri Alan Ruchiat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 22:10 WIB

Normalisasi Sungai Mandiri: Kepemimpinan RT/RW Menjawab Tantangan Banjir

Kabupaten Bandung termasuk wilayah yang hampir setiap musim penghujan mengalami banjir di sejumlah titik.
Ketua RT 02 dan warga membersihkan tumbuhan liar dan semak semak di aliran sungai. (Foto: Jumali indrayanto)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 20:43 WIB

Kualitas Perjalanan Warga Bandung Menurun, Evaluasi Infrastruktur Transportasi Mengemuka

Kemacetan di Bandung membuat perjalanan harian warga lebih lama, menurunkan produktivitas, dan menurunkan kenyamanan mobilitas. Perlu pengaturan lalu-lintas lebih baik.
Pengendara terjebak macet di Buah Batu Ketika hujan turun, Senin (01/12/2025). (Foto: Nabila Khairunnisa P)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 19:47 WIB

Lisa Blackpink di Bandung Barat: Antara Gengsi Global dan Ujian Tatakrama Kita

Lisa Blackpink syuting di Bandung Barat? Intip alasan Netflix memilih Citatah dan bagaimana warga menyikapi bocornya lokasi syuting tersebut.
Salah satu tebing karst yang terus dijaga bersama adalah Tebing Citatah 125 karena di sinilah sejarah panjat tebing Indonesia bermula. (Sumber: Eiger)
Ayo Biz 23 Jan 2026, 17:24 WIB

Industri Sepak Bola Putri Indonesia Sedang Bertumbuh di Tengah Kekosongan Liga Resmi

Dari Bandung, Tangerang hingga Samarinda, gairah sepak bola putri tumbuh dengan cepat, menghadirkan pemandangan baru yang beberapa tahun lalu masih jarang terlihat.
Dari Bandung, Tangerang hingga Samarinda, gairah sepak bola putri tumbuh dengan cepat, menghadirkan pemandangan baru yang beberapa tahun lalu masih jarang terlihat. (Sumber: MilkLife Soccer Challenge)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 16:58 WIB

Menata Ulang Wajah Transportasi Bandung

Lalu lintas Bandung yang terbilang sangat padat telah menjadi masalah bagi warga sejak tahun 2024.
Kemacetan Bandung Pada malam hari (21.52 WIB) di Jln. Terusan Buah Batu. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Muhammad Airell Fairuzia)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 16:24 WIB

Kota Wisata dengan Beban Mobilitas Tinggi: Tantangan Tata Transportasi Bandung

Pemerintah sudah mencoba menerapkan berbagai cara untuk mengatasi permasalahan kemacetan, namun masih tak kunjung menemukan solusi yang tepat.
Kemacetan arus lalu lintas di ruas jalan Buah Batu, Turangga, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, menjadi pemandangan sehari hari bagi warga yang melintas (03/12/2025). (Sumber: Ramadhan Dwiadya Nugraha)
Ayo Biz 23 Jan 2026, 15:58 WIB

Menjaga Pertumbuhan di Tengah Krisis Fiskal: Strategi Obligasi dan Sukuk Jawa Barat

Ekonomi Jawa Barat pada Triwulan II 2025 tumbuh solid sebesar 5,23% year-on-year. Namun, di balik angka yang tampak menjanjikan itu, terdapat bayangan tantangan fiskal yang semakin nyata.
Ilustrasi obligasi dan sukuk daerah memperluas inklusi keuangan. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 15:01 WIB

Ketika Mobilitas Tersendat, Kepercayaan Publik Ikut Tergerus

Kemacetan yang terus menerus terjadi membuat masyarakat Bandung semakin resah.
Pengendara mobil dan motor yang menunggu macet di malam hari (02/11/2025). (Foto: Sherina Khairunisa)
Ayo Jelajah 23 Jan 2026, 14:03 WIB

Kisah Para Warga Bandung yang Terjerat Tipu Daya Judi Online Kamboja

Judi online jaringan Kamboja menjalar hingga Bandung lewat iklan kerja digital. Anak muda direkrut sebagai operator dari rumah kontrakan atau luar negeri dengan janji gaji bulanan yang terlihat wajar.
Ilustrasi judi Kamboja.
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 13:38 WIB

Dana Indonesiana Tertunda, Pelestari Budaya Ngada Alami Tekanan Mental

Dana Indonesiana belum cair, program budaya Ngada tertunda, pelakunya menghadapi tekanan sosial dan mental di kampungnya sendiri.
Desa Adat Bena. (Sumber: Arsip pribadi narasumber)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 12:08 WIB

Catatan Awal Tahun dari Wargi Bandung

Januari 2026 tiba, udara Bandung terasa berbeda.
Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di dekat Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 10:07 WIB

Semestinya Kita Berefleksi dari Bencana Sumatra

Peristiwa ini bukan sekadar kabar duka dari satu wilayah, melainkan cermin rapuhnya kesiapsiagaan kita menghadapi bencana yang berulang.
Sisa banjir di Sumatra Barat pada awal Desember 2025. (Sumber: pkp.go.id)
Beranda 23 Jan 2026, 06:49 WIB

Konsistensi infoantapani Menyapa Warga Antapani Selama 12 Tahun, Bukan Cuma Urusan Algoritma dan Engagement

Akun ini tidak ingin dipandang sebagai media yang semata-mata mengutamakan kecepatan, namun juga tidak memilih gaya bahasa yang saklek, kaku, atau terlalu formal.
Owner dan founder @infoantapani, Venda Setya Nugraha. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 23 Jan 2026, 06:33 WIB

Bunderan Cibiru dan Tumpukan Kendaraan

Bunderan Cibiru menjadi salah satu titik macet yang ada di Bandung.
Macet menjelang Malam Natal dan Tahun Baru. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 22 Jan 2026, 21:00 WIB

Hanya 'Keajaiban' yang Bisa Menuntaskan Masalah Kemacetan di Kota Bandung

Macetnya Kota Bandung kerap menjadi sorotan, bagaimana cara mengatasinya?
Padatnya Kota Bandung pada sore hari, Rabu (3/12/2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Venecia Fiantika)
Ayo Biz 22 Jan 2026, 18:39 WIB

Industri Belajar Bernapas Hijau: Ketika Sustainability Jadi Nafas Baru

Dengan mengintegrasikan prinsip keberlanjutan, industri dapat menekan dampak negatif melalui efisiensi energi, pengelolaan limbah, dan pemanfaatan bahan baku ramah lingkungan.
Dengan mengintegrasikan prinsip keberlanjutan, industri dapat menekan dampak negatif melalui efisiensi energi, pengelolaan limbah, dan pemanfaatan bahan baku ramah lingkungan. (Sumber: Freepik)