AYOBANDUNG.ID -- Di tengah hiruk pikuk urbanisasi dan gaya hidup serba cepat, festival hiking muncul sebagai ruang alternatif bagi masyarakat Indonesia untuk kembali meneguhkan hubungan dengan alam.
Hiking Fest 2025 yang digelar Mahameru di Sukawana, kawasan Gunung Tangkuban Parahu, hanyalah satu contoh kecil dari fenomena yang lebih besar yakni perayaan keterhubungan manusia, budaya, dan alam yang kini menjadi tren sosial sekaligus kebutuhan ekologis.
Kondisi riil di lapangan menunjukkan antusiasme yang melampaui sekadar hobi. Sebanyak 150 peserta dari Jakarta, Bekasi, Sumedang, dan Bandung raya berkumpul sejak pagi. Mereka datang bukan hanya untuk menaklukkan jalur pendakian, tetapi juga untuk merasakan atmosfer kebersamaan yang jarang ditemukan di ruang-ruang urban.
Festival ini berlangsung dari pukul 07.00 WIB hingga menjelang senja. Udara sejuk Sukawana, aroma tanah basah, dan suara hutan menjadi latar yang kontras dengan kehidupan kota. Sebelum pendakian dimulai, peserta mengikuti safety talk dari pendaki berpengalaman dan tim medis. Detail ini penting: keselamatan menjadi bagian integral dari pengalaman, bukan sekadar formalitas.
Tema besar “Harmonizing Nature, People, and Purpose” bukan slogan kosong. Ia diterjemahkan dalam aktivitas nyata: pendakian, penanaman pohon, hingga workshop edukatif. Hiking Fest 2025 menegaskan bahwa festival outdoor bisa menjadi medium untuk menyatukan ekologi, sosial, dan ekonomi berkelanjutan. “Tujuan Hiking Fest 2025 adalah kembali lagi ke alam, mencintai alam,” kata Founder Mahameru, Muchammad Thofan.
Mahameru merancang festival ini dengan tiga dimensi utama. Pertama, ekologi: rehabilitasi kawasan, konservasi, dan literasi lingkungan. Kedua, sosial: keterlibatan komunitas lokal dan kolaborasi lintas pihak. Ketiga, ekonomi: pemberdayaan UMKM dan promosi produk ramah lingkungan. Tiga dimensi ini menjadikan Hiking Fest 2025 lebih dari sekadar acara hiburan.
Salah satu aksi nyata adalah penanaman pohon alpukat di ketinggian 1.000 mdpl. Aktivitas ini bukan simbolis belaka. Alpukat dipilih karena bernilai ekologis sekaligus ekonomis. Pohon yang ditanam diharapkan menjadi bagian dari agroforestry yang memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekitar.

“Menanam pohon alpukat yang menghasilkan buah ini salah satu upaya bertahan hidup atau survival soul. Mudah-mudahan ini menjadi percontohan di daerah dan semoga ke depan Mahameru bisa menyelenggarakan Hiking Fest di daerah lain dan menanam lebih banyak lagi pohon alpukat karena di Hiking Fest 2025 baru sebagian,” kata Thofan.
Senada, Steering Committee Hiking Fest 2025 Budhi Santosa menambahkan dimensi sosial-ekonomi dari program ini. “Dalam program Mahameru ini, kenapa menanam pohon alpukat, kami ingin menciptakan kawasan agroforestry yang tidak hanya memiliki nilai ekologi, tetapi juga sosial dan ekonomi yang manfaatnya dapat diserap juga oleh masyarakat setempat,” ujarnya.
Oleh karena itu,Agroforestry menjadi kata kunci yang jarang muncul dalam festival outdoor, namun di sini menjadi inti gagasan. Festival ini juga membagi jalur pendakian dalam tiga kategori: short trail 2 km, medium trail 8 km, dan long trail 12 km.
“Alhamdulillah peserta Hiking Fest 2025 sangat antusias dan happy serta diikuti berbagai usia, mulai dari usia sekolah hingga peserta berusia 70 tahun,” tutur General Manager Mahameru, Alex Iskandar.
Fakta ini menunjukkan inklusivitas: hiking bukan monopoli anak muda, melainkan lintas generasi. Long trail menawarkan pengalaman penuh: hutan, sungai, kebun teh, hingga panorama Gunung Tangkuban Parahu.
Medium trail memberi keseimbangan antara tantangan dan rekreasi, sementara short trail ramah bagi keluarga. Pembagian ini memperlihatkan keseriusan penyelenggara dalam merancang pengalaman yang sesuai dengan kapasitas peserta.
Selain pendakian, festival ini menghadirkan workshop dan talk show tentang sejarah geografis Gunung Tangkuban Parahu. Edukasi menjadi bagian penting, menghubungkan peserta dengan konteks budaya dan sejarah lokal. Hiking Fest 2025 tidak berhenti pada fisik, tetapi juga memperkaya pengetahuan.
Kondisi riil di lapangan memperlihatkan bagaimana festival outdoor mampu menggerakkan ekonomi lokal. UMKM yang menjual produk ramah lingkungan mendapat ruang promosi. Masyarakat sekitar terlibat aktif, bukan sekadar penonton. Ini menegaskan bahwa festival semacam ini bisa menjadi model pemberdayaan.

Lebih jauh, Hiking Fest 2025 mencerminkan tren nasional. Di berbagai daerah, kegiatan outdoor mulai dipandang sebagai sarana regenerasi ekologi dan sosial. Festival ini hanyalah contoh kecil, namun potensinya besar: membangun ekosistem berkelanjutan yang memberi manfaat bagi manusia, budaya, dan alam.
Indonesia, dengan karakter masyarakat yang gemar berkumpul dan berbagi pengalaman, menjadikan festival hiking sebagai wadah ideal. Energi kolektif yang tercipta di Sukawana menunjukkan bagaimana keterhubungan bisa menjadi kekuatan sosial.
Hiking Fest 2025 juga menegaskan bahwa tren outdoor tidak harus berakhir pada komodifikasi. Ia bisa diarahkan pada tujuan besar: pelestarian lingkungan, penguatan komunitas, dan pemberdayaan ekonomi. Inilah yang membedakan festival ini dari sekadar ajang rekreasi.
Dengan semangat keterhubungan manusia, budaya, dan alam, Hiking Fest 2025 menjadi contoh kecil dari arah besar yang sedang tumbuh di Indonesia. Festival ini menunjukkan bahwa perayaan bisa sekaligus menjadi gerakan: membangun harmoni berkelanjutan di tengah tantangan ekologi dan sosial.
“Dengan Hiking Fest 2025 kita membuka hati masyarakat untuk merawat alam dan mencintai alam lebih baik lagi sejalan dengan survival soul-nya Mahameru,” ujar Thofan.
Alternatif kebutuhan hiking atau poduk serupa:
