Tak Perlu Saling Menyalahkan, Ruang Publik Perlu Budaya Saling Menghargai

4 menit baca
Toni Hermawan
Ditulis oleh Toni Hermawan diterbitkan
Warga melakukan aktivitas lari pagi di kawasan Dago, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Djoko Subinarto)
Warga melakukan aktivitas lari pagi di kawasan Dago, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Djoko Subinarto)

AYOBANDUNG.ID - Kondisi pejalan kaki di Kota Bandung dinilai semakin terpinggirkan. Sejumlah warga mengeluhkan kondisi trotoar yang rusak, sempit, dan kerap tidak ramah bagi pengguna, sehingga menyulitkan aktivitas berjalan kaki.

Tak hanya pejalan kaki, para pecinta olahraga lari pun menghadapi persoalan serupa. Mereka kerap harus berbagi ruang dengan sepeda motor dan mobil yang melintas di jalan raya karena keterbatasan ruang aman untuk berlari.

Di sisi lain, layanan transportasi publik seperti angkutan kota dan bus masih menghadapi berbagai keterbatasan, baik dari segi kenyamanan, keterjangkauan, maupun kualitas pelayanan. Kondisi ini membuat masyarakat semakin bergantung pada kendaraan pribadi.

Meski sejumlah moda transportasi baru seperti Trans Metro Bandung serta layanan angkutan berbasis aplikasi telah dihadirkan sebagai alternatif, keberadaannya dinilai belum mampu mengimbangi kuatnya dominasi kendaraan pribadi di jalanan Kota Bandung.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung menunjukkan ketimpangan tersebut terjadi secara konsisten dari tahun ke tahun. Pada 2020, jumlah angkutan umum tercatat kurang dari 12 ribu unit, sementara kendaraan pribadi telah melampaui 1,5 juta unit. Ketimpangan ini berlanjut hingga data terbaru BPS tahun 2024, yang mencatat jumlah penduduk Kota Bandung mencapai sekitar 2,5 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 40 persen direpresentasikan oleh kendaraan pribadi yang beroperasi di jalanan kota, atau setara dengan sekitar 1,52 juta unit.

Kendaraan pribadi mendominasi arus lalu lintas di Kota Bandung, Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Kendaraan pribadi mendominasi arus lalu lintas di Kota Bandung, Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Dalam rentang waktu 2019 hingga 2024, rata-rata akumulasi kendaraan pribadi berada di angka sekitar 1,5 juta unit, sedangkan jumlah transportasi umum hanya berkisar 11 ribu unit. Artinya, transportasi umum hanya menguasai sekitar 0,8 persen dari total lalu lintas di Kota Bandung. Angka ini mencerminkan lemahnya peran angkutan umum dalam sistem transportasi perkotaan.

Beragam aktivitas masyarakat berlangsung setiap hari di ruang kota, mulai dari berjalan kaki, berangkat ke sekolah dan kantor, hingga menuju pusat perbelanjaan dan kawasan kuliner. Aktivitas bersepeda dan olahraga lari pun kian marak sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

Namun, di tengah padatnya aktivitas tersebut, ruang aman dan nyaman bagi pelari justru semakin terbatas. Kondisi ini membuat pejalan kaki, khususnya pelari, kian terpinggirkan di ruang publik Kota Bandung.

Salah seorang pelari, Muhammad Fayyadh Dzaki Mawardi (23), mengaku telah rutin menjalani olahraga lari di Bandung selama sekitar dua setengah tahun terakhir. Ia memilih berbagai lokasi sebagai rute lari, baik di pusat kota maupun kawasan permukiman.

“Aku lari di Bandung sudah sekitar 2,5 tahun, dari akhir 2023 sampai sekarang. Biasanya lari di Jalan L.R.E. Martadinata, GOR Saparua, kawasan Podomoro Park Bojongsoang, atau daerah Dago dan Sultan Agung,” ujarnya.

Menurut Dzaki, dalam menggunakan ruang publik, diperlukan kesadaran dari seluruh pengguna jalan untuk saling berbagi demi kenyamanan dan keselamatan bersama.

“Kalau harus berbagi dengan kendaraan, sebenarnya itu soal inisiatif. Kita sama-sama pakai fasilitas umum, jadi harus saling mengerti,” katanya.

Ia mengungkapkan, pelari kerap harus menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan. Namun, berlari di trotoar yang tidak rata membuat aktivitas lari menjadi kurang nyaman.

“Trotoar itu jalurnya naik-turun, jadi mengganggu ritme lari. Kalau terus-terusan lari di trotoar, form larinya jadi kurang nyaman,” ujarnya.

Dzaki menambahkan, berlari di jalan raya juga memiliki risiko tersendiri karena pelari harus lebih waspada terhadap lalu lintas yang padat.

“Kalau di jalan harus ekstra hati-hati, lihat kanan kiri karena ada motor, mobil, angkot, dan bus,” ucapnya.

Ia menilai, idealnya tersedia jalur khusus jogging agar pelari dapat beraktivitas dengan aman. Namun, pada praktiknya, jalur khusus sering kali tidak difungsikan sebagaimana mestinya.

“Jogging track sebenarnya bisa dibuat, tapi kendalanya mirip jalur sepeda. Sudah dibuat, tapi masih dipakai motor atau jadi tempat parkir liar,” katanya.

Dzaki berharap pemerintah dapat menyediakan fasilitas publik yang lebih mendukung aktivitas olahraga, seperti jalur khusus lari yang jelas dan aman.

“Alangkah baiknya kalau ada jogging track tersendiri di sepanjang jalan raya, dibatasi jelas supaya pengguna kendaraan tahu itu area pelari atau pesepeda,” ungkapnya.

Pengalaman serupa dirasakan Duta Zrief Manaf (24). Ia mengatakan, berlari di pinggir jalan kerap terasa lebih nyaman dibandingkan di trotoar yang kondisinya tidak rata.

“Biasanya lari di pinggir jalan. Kalau di trotoar jalannya nggak stabil, sedangkan di pinggir jalan tumpuan kaki dan grip sepatu lebih enak,” ujarnya.

Manaf menilai keberadaan transportasi umum cukup membantu pelari, terutama setelah menempuh jarak lari yang jauh. Ia bisa memanfaatkan angkutan umum untuk kembali ke rumah tanpa harus kelelahan.

Angkutan umum di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Angkutan umum di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

“Saya sering lari dari Bojongsoang ke Dago lalu turun ke kota. Pulangnya butuh transportasi umum, jadi itu cukup membantu,” katanya.

Ia menekankan pentingnya edukasi dan sosialisasi dari pihak berwenang agar seluruh pengguna jalan dapat memanfaatkan fasilitas publik secara tertib.

“Menurut saya perlu sosialisasi dari wali kota atau pihak terkait, supaya transportasi umum dan pengguna jalan bisa tertib dan tidak saling mengganggu,” ujarnya.

Menurut Manaf, kunci utama agar aktivitas di ruang publik berjalan aman adalah saling pengertian antara pelari dan pengguna jalan lainnya.

“Semoga bisa berdampingan. Lari itu olahraga yang baik dan sekarang lagi naik daun, tapi jangan sampai saling menyalahkan,” tuturnya.

Ia berharap ke depan tercipta budaya saling menghargai di ruang publik Kota Bandung, sehingga semua pihak dapat berbagi ruang dengan aman dan nyaman.

“Saling respect saja ke depannya. Jangan hanya menyalahkan pelari atau transportasi umum, tapi sama-sama saling memahami,” pungkasnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)