Zakat di Bandung Raya Abad ke-19

Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan Rabu 11 Mar 2026, 15:28 WIB
Masjid Raya Bandung zaman baheula. (Sumber: Tropenmuseum)

Masjid Raya Bandung zaman baheula. (Sumber: Tropenmuseum)

Zakat Fitrah adalah salah satu dari rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh umat Islam setiap tahunnya menjelang hari raya Idul Fitri. Dari beberapa data tertulis kisah – kisah menarik tentang zakat yang dilakukan oleh warga masyarakat Tatar Bandung pada abad ke-19. Berikut adalah hasil rangkuman tentang kisah zakat di Bandung raya pada abad ke-19.

Dalam sebuah buku yang ditulis oleh H. Hasan Moestapa yang berjudul “Boekoe Leutik: Djadi Pertelaan Adatna Djalma-Djalma di Pasoendan” (Batavia, 1916) diterangkan juga tentang komoditas–komoditas  yang pada abad ke-19 digunakan sebagai komoditas untuk pembayaran zakat yang disetorkan ke Masjid Agung  Bandung pada saat itu. Komoditas tersebut berupa kopi, padi, jagung, ketela, kelapa serta komoditi lainnya yang menjadi tanaman utama dari usaha para warga di Tatar Bandung. 

Dalam buku “ Ramadan di Priangan” karya sang kuncen Bandung, bapak Haryoto Kunto pun disebutkan pada halaman 83, bahwa saking banyaknya hasil bumi yang disetorkan untuk zakat, sehingga pekarangan bahkan serambi depan Masjid Agung Bandung   dipenuhi oleh berbagai komoditas tersebut sehingga penuh sesak dan mengganggu lalu lintas para jamaah untuk keluar masuk Masjid. 

Dari zakat hasil bumi seperti jagung, ketela dan kelapa itulah, hidangan takjil dan jajabur disuguhkan kepada para hadirin para jemaah masjid. Begitu pula sebagian dari padi atau beras zakat, dimasak untuk memberi makan buka puasa bagi para fakir miskin, musafir kelana dan para puluhan islam mualaf. Yakni, orang islam non pribumi yang baru masuk islam yang kebanyakan adalah warga Tionghoa.

Awal abad ke-19, Dayeuh Bandung menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, biasanya ada tradisi ketika puasa mulai memasuki malam salikur, malam tilu likur, malam salawe, malam tujuh likur, malam salapan likur dan akhirnya Lebaran. Tradisi seperti ini telah jarang sekali kita temui di kota Bandung, namun masih dapat ditemui di pinggiran kota, namun jumlahnya sekarang semakin sedikit. 

Sejak malam salikur, sepanjang siang dan malam, puluhan pedati dihela kerbau, membawa setoran zakat dari seluruh distrik bawahan “ Nagorij Bandoeng”, seperti Timbanganten, Cikembulan, Ciponco, Banjaran, Cimahi, Nagara, Cilokotot, Kopo, Cisondari, Rongga, Cicalengka, Majalaya, Limbangan, Cipicung, Dangdeur, Rajamandala, Bangbayang, Ciheya, dan Ujungberung. Keterangan ini ditulis pula dalam De Preanger RegentSchappen op Java Gelegen, Amsterdam, 1830 oleh Dr. Andries de Wilde.

Ternyata tumpukan padi yang tadi saya ceritakan di awal, sempat tidak habis walau telah dibagikan selama satu tahun, sehingga para pengurus masjid tanpa ragu–ragu menanak nasi cukup banyak, guna dihidangkan kepada para pengunjung masjid yang berpuasa. Namun setelah ada teguran dari Asisten Residen Bandung, apalagi setelah pengumpulan zakat sempat berkurang, maka kebiasaan zakat bumi tidak dilakukan lagi di Mesjid Agung Bandung. Pengganti dari hal tersebut di atas adalah, untuk pembuatan takjil dan penganan di didatangkan dari sedekah warga yang berada di seputaran Masjid Agung Bandung saja.

Ada lagi kisah menarik dari zakat yang terjadi di kawasan Dayeuh Bandung pada abad ke-19 yang ditulis oleh Dr. Andries de Wilde pada tahun 1830. Andries  de Wilde adalah seorang tuan tanah yang memiliki setengah dari Tatar Bandung,  dari jalan raya pos hingga kaki Gunung Tangkuban Parahu. 

Pada saat itu Mesjid Agung Bandung juga ternyata menerima zakat berupa kerbau. Menurut ketentuan, bagi penduduk atau petani kaya, yang memiliki lebih dari 30 ekor kerbau, diluar jumlah kerbau penghela pedati kopi, harus membayar zakat sebesar 5 Rijksdaalders ( satu Rijksdaalders setara dengan Rp. 1,50) atau untuk setiap 10 ekor kerbau yang dimiliki, harus membayar zakat sebesar satu Dukat Emas setiap tahun.

Alun-alun bandung tahun 1900-an. (Sumber: Wikimedia)
Alun-alun bandung tahun 1900-an. (Sumber: Wikimedia)

Perjalanan dari berbagai onderdistrik ke Masjid Agung Bandung pada saat itu masih rawan sekali akan begal, sehingga para penzakat lebih suka membayar kewajiban zakatnya dengan kerbau hidup, karena dirasa lebih aman. 

Jadi, bisa dibayangkan betapa berdesakannya kerbau hasil pengumpulan zakat tersebut pada akhir bulan Ramadan. Tentu saja para pengurus masjid juga kebagian bonus berupa kotoran–kotoran kerbau yang terpampang nyata di sana sini. Padahal menjelang Lebaran lapangan Alun–alun tersebut akan dipakai untuk kepentingan sholat Idul Fitri. Maka, sibuklah para Marbot dalam membersihkan “ pupuk kandang” bonus Zakat Fitrah dari penduduk Tatar Bandung.

Baca Juga: Berburu Busana Lebaran Tahun 1980-an di Bandung

Dalam buku “ Ramadan di Priangan “ juga dituliskan aturan pembagian zakat pada saat itu yaitu 90% diperuntukan bagi para fakir miskin, yatim piatu dan musafir. Adapun yang 10%  lainnya kemudian dibagi untuk penghulu dan untuk amil zakat.

Berbeda dengan masa sekarang yang kebanyakan para warga menunaikan kewajiban zakatnya dengan membayar dengan uang atau beras, pada abad ke-19 hal–hal yang tak terbayangkan oleh kita sekarang adalah hal lumrah di masa itu. Sebuah tradisi yang hilang karena perkembangan zaman. Dapat kita bayangkan sekarang sehirup pikuk apa kawasan Masjid Agung Bandung saat menjelang Lebaran, bahkan kesibukan itu terasa hingga lapangan alun–alun. 

Berbeda dengan kehidupan kita sekarang dengan adanya kemajuan teknologi yang sangat mutakhir, kita dapat melakukan pembayaran zakat secara online, sehingga mempermudah akses, menghemat waktu dan tenaga. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)