Zakat di Bandung Raya Abad ke-19

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Masjid Raya Bandung zaman baheula. (Sumber: Tropenmuseum)
Masjid Raya Bandung zaman baheula. (Sumber: Tropenmuseum)

Zakat Fitrah adalah salah satu dari rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh umat Islam setiap tahunnya menjelang hari raya Idul Fitri. Dari beberapa data tertulis kisah – kisah menarik tentang zakat yang dilakukan oleh warga masyarakat Tatar Bandung pada abad ke-19. Berikut adalah hasil rangkuman tentang kisah zakat di Bandung raya pada abad ke-19.

Dalam sebuah buku yang ditulis oleh H. Hasan Moestapa yang berjudul “Boekoe Leutik: Djadi Pertelaan Adatna Djalma-Djalma di Pasoendan” (Batavia, 1916) diterangkan juga tentang komoditas–komoditas  yang pada abad ke-19 digunakan sebagai komoditas untuk pembayaran zakat yang disetorkan ke Masjid Agung  Bandung pada saat itu. Komoditas tersebut berupa kopi, padi, jagung, ketela, kelapa serta komoditi lainnya yang menjadi tanaman utama dari usaha para warga di Tatar Bandung. 

Dalam buku “ Ramadan di Priangan” karya sang kuncen Bandung, bapak Haryoto Kunto pun disebutkan pada halaman 83, bahwa saking banyaknya hasil bumi yang disetorkan untuk zakat, sehingga pekarangan bahkan serambi depan Masjid Agung Bandung   dipenuhi oleh berbagai komoditas tersebut sehingga penuh sesak dan mengganggu lalu lintas para jamaah untuk keluar masuk Masjid. 

Dari zakat hasil bumi seperti jagung, ketela dan kelapa itulah, hidangan takjil dan jajabur disuguhkan kepada para hadirin para jemaah masjid. Begitu pula sebagian dari padi atau beras zakat, dimasak untuk memberi makan buka puasa bagi para fakir miskin, musafir kelana dan para puluhan islam mualaf. Yakni, orang islam non pribumi yang baru masuk islam yang kebanyakan adalah warga Tionghoa.

Awal abad ke-19, Dayeuh Bandung menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, biasanya ada tradisi ketika puasa mulai memasuki malam salikur, malam tilu likur, malam salawe, malam tujuh likur, malam salapan likur dan akhirnya Lebaran. Tradisi seperti ini telah jarang sekali kita temui di kota Bandung, namun masih dapat ditemui di pinggiran kota, namun jumlahnya sekarang semakin sedikit. 

Sejak malam salikur, sepanjang siang dan malam, puluhan pedati dihela kerbau, membawa setoran zakat dari seluruh distrik bawahan “ Nagorij Bandoeng”, seperti Timbanganten, Cikembulan, Ciponco, Banjaran, Cimahi, Nagara, Cilokotot, Kopo, Cisondari, Rongga, Cicalengka, Majalaya, Limbangan, Cipicung, Dangdeur, Rajamandala, Bangbayang, Ciheya, dan Ujungberung. Keterangan ini ditulis pula dalam De Preanger RegentSchappen op Java Gelegen, Amsterdam, 1830 oleh Dr. Andries de Wilde.

Ternyata tumpukan padi yang tadi saya ceritakan di awal, sempat tidak habis walau telah dibagikan selama satu tahun, sehingga para pengurus masjid tanpa ragu–ragu menanak nasi cukup banyak, guna dihidangkan kepada para pengunjung masjid yang berpuasa. Namun setelah ada teguran dari Asisten Residen Bandung, apalagi setelah pengumpulan zakat sempat berkurang, maka kebiasaan zakat bumi tidak dilakukan lagi di Mesjid Agung Bandung. Pengganti dari hal tersebut di atas adalah, untuk pembuatan takjil dan penganan di didatangkan dari sedekah warga yang berada di seputaran Masjid Agung Bandung saja.

Ada lagi kisah menarik dari zakat yang terjadi di kawasan Dayeuh Bandung pada abad ke-19 yang ditulis oleh Dr. Andries de Wilde pada tahun 1830. Andries  de Wilde adalah seorang tuan tanah yang memiliki setengah dari Tatar Bandung,  dari jalan raya pos hingga kaki Gunung Tangkuban Parahu. 

Pada saat itu Mesjid Agung Bandung juga ternyata menerima zakat berupa kerbau. Menurut ketentuan, bagi penduduk atau petani kaya, yang memiliki lebih dari 30 ekor kerbau, diluar jumlah kerbau penghela pedati kopi, harus membayar zakat sebesar 5 Rijksdaalders ( satu Rijksdaalders setara dengan Rp. 1,50) atau untuk setiap 10 ekor kerbau yang dimiliki, harus membayar zakat sebesar satu Dukat Emas setiap tahun.

Alun-alun bandung tahun 1900-an. (Sumber: Wikimedia)
Alun-alun bandung tahun 1900-an. (Sumber: Wikimedia)

Perjalanan dari berbagai onderdistrik ke Masjid Agung Bandung pada saat itu masih rawan sekali akan begal, sehingga para penzakat lebih suka membayar kewajiban zakatnya dengan kerbau hidup, karena dirasa lebih aman. 

Jadi, bisa dibayangkan betapa berdesakannya kerbau hasil pengumpulan zakat tersebut pada akhir bulan Ramadan. Tentu saja para pengurus masjid juga kebagian bonus berupa kotoran–kotoran kerbau yang terpampang nyata di sana sini. Padahal menjelang Lebaran lapangan Alun–alun tersebut akan dipakai untuk kepentingan sholat Idul Fitri. Maka, sibuklah para Marbot dalam membersihkan “ pupuk kandang” bonus Zakat Fitrah dari penduduk Tatar Bandung.

Baca Juga: Berburu Busana Lebaran Tahun 1980-an di Bandung

Dalam buku “ Ramadan di Priangan “ juga dituliskan aturan pembagian zakat pada saat itu yaitu 90% diperuntukan bagi para fakir miskin, yatim piatu dan musafir. Adapun yang 10%  lainnya kemudian dibagi untuk penghulu dan untuk amil zakat.

Berbeda dengan masa sekarang yang kebanyakan para warga menunaikan kewajiban zakatnya dengan membayar dengan uang atau beras, pada abad ke-19 hal–hal yang tak terbayangkan oleh kita sekarang adalah hal lumrah di masa itu. Sebuah tradisi yang hilang karena perkembangan zaman. Dapat kita bayangkan sekarang sehirup pikuk apa kawasan Masjid Agung Bandung saat menjelang Lebaran, bahkan kesibukan itu terasa hingga lapangan alun–alun. 

Berbeda dengan kehidupan kita sekarang dengan adanya kemajuan teknologi yang sangat mutakhir, kita dapat melakukan pembayaran zakat secara online, sehingga mempermudah akses, menghemat waktu dan tenaga. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)