Setengah Abad Hidup di Atas Rel Mati: Warga Maleer Pasrah Jika Rumah Mereka Harus Digusur

7 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Warga beraktifitas di rel kereta api rute Cikudapateuh-Ciwidey yang sudah tidak aktif, Jalan Ciparay, Kelurahan Kujangsari, Kec. Bandung Kidul, Kota Bandung, Senin 28 April 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Warga beraktifitas di rel kereta api rute Cikudapateuh-Ciwidey yang sudah tidak aktif, Jalan Ciparay, Kelurahan Kujangsari, Kec. Bandung Kidul, Kota Bandung, Senin 28 April 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Setengah abad lalu, rel kereta api jalur Bandung–Ciwidey berhenti beroperasi. Namun bagi sejumlah warga yang membangun rumah di atasnya, itu justru menjadi awal dari perubahan besar dalam gaya hidup mereka.

Di atas besi yang mulai ditelan karat dan di sekitarnya, berdiri rumah-rumah penuh cerita. Di dalam salah satunya, Enik Supriyati sedang berbincang dengan kerabatnya.

Keluarga Enik telah tinggal di kawasan tersebut sejak ia masih balita. Rumahnya berada di Kampung Maleer Utara, RT 6 RW 4, Kelurahan Maleer, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung.

Bangunan rumahnya sederhana: ada halaman, ruang tamu, dapur, kamar mandi, dan dua kamar tidur. Luasnya hanya sekitar tiga kali enam meter persegi. Tapi cukup untuk menampung tiga generasi keluarganya.

Perempuan berusia 63 tahun itu bercerita bahwa sang ayah dulu merupakan pekerja di Direktorat Jenderal Kereta Api (DJKA). Sekitar tahun 1960-an, ayahnya memutuskan tinggal di kawasan tersebut.

Lokasi rumahnya hanya berjarak sekitar tujuh meter dari sisi rel. Saat itu, kereta masih aktif berlalu-lalang di jalur Bandung–Ciwidey. Kereta yang lewat kebanyakan mengangkut hasil bumi seperti teh dan kopi, meski kadang juga membawa penumpang.

Enik Supriyati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

“Dulu kalau ayah lewat naik kereta saya suka dadah-dadah ke dia. Kalau hari Minggu saya suka diajak naik kereta,” kenang Enik sambil tersenyum.

Pada tahun 1960-an, Kampung Maleer Utara belum menjadi kawasan padat. Perkebunan, sawah, dan tanah kosong masih mendominasi pemandangan. Hanya ada beberapa rumah yang jaraknya berjauhan satu sama lain.

Enik bercerita, sebagian warga tidak langsung membangun rumah di kawasan gang tersebut. Awalnya mereka hanya mendirikan kandang ayam atau tempat menjemur pakaian. Seiring waktu, bangunan-bangunan itu disulap menjadi rumah permanen.

Lahan tempat rumah Enik berdiri dulunya merupakan tanah kosong milik DJKA. Sang ayah meminta izin kepada pemilik lahan untuk membangun rumah. Kini, rumah itu menjadi tempat tinggal Enik bersama dua anak dan empat cucunya.

Sebelumnya, rumah itu sempat ditempati adiknya yang juga bekerja di DJKA. Enik sempat pindah ke rumah mertuanya setelah menikah. Namun ketika hamil anak pertama, ia memutuskan kembali dan membeli rumah itu dari sang adik dengan harga sekitar Rp1–3 juta.

Sekitar tahun 2007, Enik sempat menangis histeris saat mendengar kabar akan ada pembongkaran rumah di sekitar rel. Ia panik, karena tak tahu harus tinggal di mana jika digusur.

“Saya nangis ke adik saya, kenapa dibongkar. Katanya jalur mau aktif lagi. Terus ada pengukuran juga, satu meternya kalau enggak salah Rp250 ribu,” tuturnya.

Untungnya, rencana itu tak pernah terealisasi. Rumahnya dan rumah-rumah warga lainnya masih berdiri hingga hari ini. Ia juga rutin membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) kepada pemerintah.

Enik menunjukkan enam lembar surat bukti pembayaran PBB kepada AyoBandung. Bukti pembayaran tertua berasal dari tahun 2022, dan yang terbaru dari tahun 2024.

Puluhan Rumah Tanpa Sertifikat

Belakangan, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyuarakan wacana reaktivasi jalur kereta Bandung–Ciwidey. Jika wacana ini direalisasikan, rumah Enik berpotensi digusur. Meski ada kekhawatiran, Enik mengaku pasrah.

Ia sadar, tanah tempat rumahnya berdiri bukan miliknya secara sah. Ia tidak memiliki sertifikat atau bukti hak kepemilikan.

Mendiang ayahnya juga pernah berpesan agar ia tidak keberatan jika sewaktu-waktu lahan itu diminta kembali oleh pemiliknya.

“Kalau saya mah legowo aja kalau mau ada reaktivasi. Soalnya ini bukan tanah kita, tanah DJKA,” katanya sambil memandang halaman depan rumah.

Meski begitu, Enik berharap ada ganti rugi dari pemerintah jika rumahnya dibongkar. Berapa pun jumlahnya, asal pantas dan layak, ia akan merelakannya.

Puluhan bangunan berdiri di atas rel kereta api rute Cikudapateuh-Ciwidey yang sudah tidak aktif. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Rel kereta di Gang Maleer Utara membentang sekitar 450 meter. Di beberapa titik, rel telah tertutup oleh bangunan—mulai dari rumah, gudang, kontrakan, hingga kandang ayam.

Gang hanya bisa dilalui dua sepeda motor secara bersamaan. Kawasan ini kini padat penduduk. Saat AyoBandung menyusuri lokasi, tampak anak-anak bermain, bapak-bapak nongkrong, dan ibu-ibu merumpi di warung sayur.

Kehidupan di sana mencerminkan dinamika khas kota besar. Pagi hari, orang dewasa bekerja, anak-anak bersekolah, dan ibu-ibu mengurus rumah. Bangunan di sana bervariasi—ada yang dari bata merah, bata ringan, hingga triplek.

Tak semua bangunan difungsikan sebagai rumah. Beberapa dimanfaatkan untuk usaha seperti warung dan depot air minum isi ulang. Kebutuhan pokok pun tersedia di dalam kawasan.

Di sisi barat gang, berdiri salah satu mal ternama di Kota Bandung. Suasana di dalam mal kontras dengan kehidupan warga di sekitarnya: pengunjung makan enak, sementara warga berjuang menyambung hidup.

Ketua RT 6, Sopian (42), menyebut ada 88 Kepala Keluarga (KK) tinggal di wilayah itu. Sebagian besar rumah dibangun sejak awal 2000-an, dengan konstruksi semi permanen. Namun tak satu pun warga memiliki sertifikat tanah.

“Warga nggak ada yang punya sertifikat,” ujarnya saat ditemui di lokasi.

Sebagian besar penghuni bekerja sebagai buruh pabrik, buruh toko, atau ojek online. Beberapa juga membuka usaha kecil di rumah.

Rel kereta api rute Cikudapateuh-Ciwidey yang sudah tidak aktif di Kelurahan Cibangkong, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Saat ditanya tentang reaktivasi rel Bandung–Ciwidey, Sopian mengaku tak keberatan. Ia menyadari bahwa mereka menempati lahan yang bukan milik pribadi.

“Ya enggak apa-apa, saya setuju aja. Ini kan bukan lahan kita,” ujarnya.

Paini (60), warga lama lainnya, juga tumbuh besar di kawasan itu. Ia mengenang masa kecilnya saat rel masih aktif. Banyak anak-anak senang menyambut kereta yang lewat sambil melambai.

Dulu kawasan ini belum ramai. Lebih banyak tumbuhan liar dan sawah ketimbang rumah. Kini, sawah dan ladang berganti menjadi toko, rumah, bahkan mal.

“Sekarang mah anak-anak kalau mau main tempatnya sempit, enggak kayak dulu,” katanya.

Terkait reaktivasi rel, Paini hanya tersenyum kecil lalu berkata, “Enggak apa-apa, kan ini juga bukan tanah kita.”

Baik Sopian maupun Paini berharap, jika reaktivasi benar-benar terjadi, pemerintah memberikan ganti rugi yang layak.

Jalur rel Bandung–Ciwidey membentang dari pusat kota menuju lembah-lembah di selatan Bandung, berkelok melewati sawah dan hutan. Dibangun lebih dari seabad lalu, rel ini nyaris hilang di balik beton dan aspal.

Ironisnya, ketika proyek infrastruktur modern kini terkendala biaya dan birokrasi, rel tua peninggalan kolonial justru membuktikan bahwa ambisi besar pernah benar-benar diwujudkan.

Jalur ini dibangun oleh Staatsspoorwegen (SS) pada 1917, bukan untuk mobilitas warga, melainkan menunjang industri perkebunan yang saat itu menguasai Bandung Selatan.

Dari Stasiun Cikudapateuh, rel membentang melalui Buah Batu, Bojongsoang, Soreang, hingga Ciwidey. Biaya pembangunan segmen Bandung–Soreang mencapai 1,5 juta gulden, sementara Soreang–Ciwidey sekitar 1,7 juta gulden. Di Sadu, jembatan dibangun dari besi bekas Karawang—hemat biaya tapi tetap kokoh hingga kini.

Rencana reaktivasi jalur ini kembali dibahas. Rel itu bukan hanya warisan logistik dan penumpang, melainkan jejak ekonomi kolonial. Rel dibangun untuk mempercepat distribusi hasil bumi: teh, kina, kopi, dan kayu rasamala dari lahan milik pengusaha Eropa seperti Kerkhoven dan Bosscha.

Di Banjaran saja, tercatat ada 27 persil perkebunan seluas 5.904 bau—setara 4.130 hektare. Di Majalaya dan Cisondari, lahan perkebunan membentang luas.

Rel Jadi Gang

Kini semua itu tinggal cerita. Rel tua yang dulunya urat nadi perdagangan kini terkubur oleh beton dan waktu. Namun ingatan tentang kejayaannya masih hidup di benak warga seperti Nono Gunawan, warga RT 6 RW 2 Jalan Ciparay, Kelurahan Kujangsari, Kecamatan Bandung Kidul.

Saat SMP, Nono sering naik kereta tanpa tiket hanya untuk iseng.

“Iseng aja, naik dari Cibangkong atau Buahbatu sampai sini (Kujangsari) atau ke kabupaten,” katanya sambil menghembuskan asap rokok.

Ia menjelaskan, jalan gang di Jalan Ciparay dibangun tepat di atas rel. Paving block ditata di atas rel, sehingga besi masih tampak menyembul.

Rel kereta api rute Cikudapateuh-Ciwidey yang sudah tidak aktif di Jalan Ciparay, Kelurahan Kujangsari, Kec. Bandung Kidul, Kota Bandung, jadi gang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Dulu, kawasan sekitar rel dipenuhi sawah dan hanya segelintir rumah. Saat rel berhenti beroperasi, rumah mulai bermunculan. Termasuk rumah Nono yang dibangun sejak 1970-an.

“Jarak rumah ke rel cuma satu meter. Kalau masih aktif, mungkin rumah ini udah kesenggol kereta,” ujarnya.

Sejak awal 2000-an, kawasan ini makin padat. Rumah dibangun dari bata atau triplek. Usaha kecil pun menjamur.

“Nggak ada sertifikat resmi. Kan ini bukan tanah kita,” katanya di halaman rumah yang nyaris menempel pada rel.

Warga lain, Dakri (64), juga menyimpan nostalgia. Ia masih ingat suara peluit kereta dan getaran tanah setiap pagi.

“Dulu suka lihat petani bawa panen dari sawah. Sekarang, sawah sudah jadi rumah semua,” ujarnya pelan.

Meski kawasan berkembang, jejak rel tak hilang. Besi rel yang menyembul jadi saksi bisu sejarah. Beberapa warga bahkan menjadikannya pembatas halaman atau tempat menjemur pakaian.

Nono dan Dakri telah mendengar wacana reaktivasi. Keduanya mengaku tak keberatan.

Rencana ini memunculkan pro dan kontra. Sebagian warga berharap reaktivasi menggairahkan ekonomi lokal, sebagian lain khawatir kehilangan rumah yang telah mereka tempati puluhan tahun.

“Kalau jadi reaktivasi, entah rumah saya masih berdiri atau enggak,” ujar Nono sambil tersenyum.

“Saya mah legowo aja,” sambungnya.

Hingga kini, belum ada kepastian dari pemerintah terkait kelanjutan proyek. Tapi bagi warga seperti Enik, Sopian, Paini, Nono, dan Dakri, rel tua itu bukan sekadar lintasan kereta. Ia adalah bagian dari perjalanan hidup yang tak tergantikan. (*)

Jika Anda memiliki informasi lainnya terkait rumah atau bangunan yang akan digusur akibat reaktivasi jalur rel kereta Bandung-Ciwidey sampaikan kepada kami melalui [email protected]

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 18:09

Pandemi Senyap Kapitalisme dalam Industri Gula dan Obat-obatan

Membongkar masalah ketimpangan yang serius di balik industri gula dan obat-obatan. Keduanya berkolaborasi dalam industri kematian yang mengancam masyarakat berpenghasilan rendah.

Pabrik gula. (Sumber: Pexels | Foto: Deepak Sharma)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 17:07

Mengapa Kampanye Mi Nyemek Jogja Mudah Diingat?

Menganalisis bagaimana Mi Nyemek Ala Jogja Rasa Rendang dipublikasikan dengan pesan yang konsisten, sehingga informasi produk dapat diterima publik secara luas dan jelas.

Ilustrasi mie nyemek Jogja. (Sumber: Youtube | Foto: DewiRistiyaniKitchen)