I’tikaf, Panggilan Keheningan dalam Kebisingan

Ridwan Rustandi
Ditulis oleh Ridwan Rustandi diterbitkan Kamis 12 Mar 2026, 14:25 WIB
Seorang laki-laki muslim sedang bermunajat dalam kesendirian di ujung senja (Sumber: pixabay | Foto: pixabay)

Seorang laki-laki muslim sedang bermunajat dalam kesendirian di ujung senja (Sumber: pixabay | Foto: pixabay)

Dunia modern sibuk menyuguhkan kebisingan-kebisingan yang kian membingungkan. Hiruk-pikuk dunia dengan berbagai fitur fatamorgananya menyeret manusia untuk menyibukkan diri dengan hal-hal yang terkadang tidak dia sadari. Ia bekerja namun tidak menjiwai, ia berpikir tapi tak termaknai. Umpama robot yang diprogram untuk melakukan sesuatu tanpa sebuah kesadaran.

Di Tengah notifikasi kemegahan duniawi, Islam memanggil manusia beriman untuk merasakan keheningan. Panggilan itu datang di sepuluh terakhir bulan ramadan. Mereka yang terpanggil, dengan sadar dan berani memasuki masjid, berdiam diri, menutup pintu dan memusatkan fokus pikiran serta kendali dirinya keharibaan Allah Swt. Mereka menunaikan amalan sunah di penghujung ramadan, melakukan i’tikaf.

Kata i’tikaf berasal dari akar kata akafa yang berarti menetap pada sesuatu, berdiam diri, memusatkan diri atau tekun pada sesuatu, dan mengabdikan diri pada sesuatu secara terus-menerus. Dalam al-Qur’an, Allah Swt menegaskan bahwa i’tikaf adalah aktivitas menarik diri dari kesibukan dunia dengan tujuan memusatkan kembali pikiran untuk membangun koneksi ilahiyyah. I’tikaf berarti berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah dalam jangka waktu tertentu (Qs. 02: 187).

Rasulullah Saw melaksanakan i’tikaf pada sepertiga terakhir di bulan ramadan (HR. Bukhori & Muslim). I’tikaf adalah sunah yang dianjurkannya dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah Swt. Secara syariat, i’tikaf dilakukan dengan berdiam diri di dalam masjid selama sepuluh hari terakhir di bulan ramadan. Ia adalah jeda bagi manusia untuk memutuskan kesibukan duniawi, memperbanyak ibadah seperti salat, zikir, doa, dan tilawah, serta mencari malam lailatul qadar. I’tikaf merupakan puncak latihan spiritual ramadan yang menghanyutkan manusia beriman dalam pangkuan Allah Swt. Ia membangun intimasi sekaligus sublimasi dengan Allah agar mampu menenangkan jiwa, membersihkan hati, dan memperdalam kedekatan dengan-Nya.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)

Psikologi Kedalaman dan Ruang Masjid

Secara teknis, I’tikaf adalah kombinasi antara isolasi fisik, peningkatan ibadah, dan pengurangan drastis interaksi dengan dunia luar. Tapi secara psikologis dan peradaban, ia adalah sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar ritual. I’tikaf bukan hanya sebatas ibadah, melainkan momentum jeda untuk membangkitkan kembali kedalaman akan pemaknaan kehidupan.

Bayangkan, seseorang yang ber-i’tikaf, ia secara sadar dan berani berdiam diri di masjid selama waktu tertentu dan kembali lagi dengan pikiran yang sudat direset, kendali diri yang sudah dilatih, keinginan yang diuji dengan kesabaran, serta mentalitas yang tumbuh dari dalam dengan penguatan keimanan. I’tikaf menjadi ruang kedalaman psikologis yang bertaut dengan kerinduan ilahiyyah. Ia memberi ruang kosong kepada manusia untuk memahami era paradoksal. Era di mana manusia semakin banyak terhubung dengan segalanya, tapi semakin jarang terhubung dengan dirinya sendiri. Era di mana kita memiliki lebih banyak informasi dari sebelumnya, tapi semakin miskin makna.

Ada anomali psikologis yang dirasakan oleh manusia abad 21. Mereka mengalami krisis diam di tengah kebisingan peradaban. Kita telah menjadi spesies yang tidak tahan dengan keheningan dirinya sendiri. Kita mengisi setiap celah waktu kosong dengan stimulasi seperti musik, podcast, media sosial, dan notifikasi. Otak kita telah terlatih untuk selalu dalam kondisi menerima input dari luar, dan ketika input itu dihentikan, yang kita rasakan bukan kedamaian melainkan kecemasan.

Memahami fenomena seperti ini, Marcus Raichle (2001) mengenalkan konsep Default Mode Network (DMN). Istilah ini merujuk pada konsep neurosains yang menemukan bahwa otak manusia akan aktif optimal pada saat tidak sedang melakukan aktivitas eksternal. Jaringan area otak akan melakukan pemrosesan mendalam dalam mode hening seperti saat melamun, merenung, mengingat masa lalu, atau memikirkan diri sendiri. Itu artinya, keheningan berdampak pada aktivasi kreativitas dan wawasan yang bermakna.

Beberapa tahun sebelumnya, Esther Buchholz (1997) mengenalkan konsep solitude, yakni kesendirian yang dipilih secara sadar. Menurutnya, manusia membutuhkan momen jeda seperti ini sebagai sebuah kebutuhan psikologis yang penting. Dalam kesendirian yang sehat, seseorang memperoleh ruang untuk merenung, memahami diri, mengelola emosi, dan menata kembali makna hidupnya.

Konsep kedalaman ini dikenalkan juga oleh Carl Gustav Jung (1916) melalui proses individuasi. Konsep ini menunjukkan sebuah perjalanan batin untuk menjadi diri yang utuh. Yaitu proses ketika seseorang secara bertahap menyadari, menerima, dan mengintegrasikan berbagai aspek kepribadiannya baik yang disadari maupun yang tersembunyi dalam alam bawah sadar. Individuasi menghendaki adanya kematangan jiwa dalam transformasi manusia yang berinteraksi dengan dirinya. Ia membutuhkan waktu, keheningan, dan keberanian untuk menghadapi diri sendiri tanpa topeng.

Baca Juga: Pensiun Jadi Pemburu THR: Selamat Datang Gen Z di Fase 'Berbagi Berkah' demi Senyum Keponakan

Beberapa konsep psikologi kedalaman tersebut menunjukkan sebuah kebutuhan manusia untuk menyepi dari keramaian, memenuhi panggilan keheningan dari ingar-bingar notifikasi duniawi. Empat belas abad yang lalu, ajaran Islam yang diturunkan Allah Swt kepada Muhammad Saw menuntun manusia untuk menjalankan ritual syariat yang terbukti bisa memenuhi kebutuhannya untuk membangun keintiman dengan dirinya dan sang pencipta. Berdiam diri di masjid melakukan i’tikaf dalam batas waktu tertentu memfasilitasi manusia untuk kembali ke kedalaman dirinya, mengheningkan cipta, rasa, dan karsanya untuk bangkit membangun peradaban. Dan masjid menjadi simbol penting bagi manusia dalam melakukan turning point (titik balik) perubahan dalam dirinya dan lingkungan sekitarnya.

Sama seperti proses tahannuts yang dilakukan Rasulullah Saw di Gua Hira. Ia adalah metafora yang dilakukan oleh seorang manusia untuk tenggelam dalam pemaknaan diri agar membawa perubahan besar dalam peradaban manusia. I’tikaf maupun tahannuts mensaratkan seseorang untuk berdiam diri di suatu tempat, mereset pikiran, melatih mental dan menguji kesabarannya dari keterfanaan duniawi.

Mereka berdiam diri dan menutup pintu dunia sesaat. Dalam diamnya ia tenggelam dalam ketaatan dan melepas diri dari kemaksiatan. Diamnya bukan kelemahan melainkan peradaban yang berpikir. I'tikaf adalah cara Islam mengingatkan bahwa setiap manusia dan setiap peradaban, sesekali perlu berhenti, masuk ke dalam dirinya sendiri, dan bertanya: Fa ayna tadhhabūn, ke mana sesungguhnya semua ini bergerak? (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ridwan Rustandi
Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 30 Apr 2026, 20:12

Tema Ayo Netizen Mei 2026: Bersabar, Bekerja, dan Berkorban demi Hidup di Bandung

Mei bukan sekadar bulan kelima dalam kalender. Di Bandung, Mei adalah bulan yang sesak.

Keluarga korban longsor Cisarua menangis usai mendengar informasi salah satu keluarganya ditemukan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Mayantara 30 Apr 2026, 18:41

Kehidupan Sehari-hari sebagai ‘Arsip’

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari.

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari. (Sumber: Pexels | Foto: Şevval Pirinççi)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 18:00

Panduan Wisata Curug Citambur, Eksotisme Tersembunyi di Cianjur Selatan

Panduan wisata Curug Citambur, air terjun 130 meter di Cianjur Selatan, lengkap rute, tiket, dan tips berkunjung.

Curug Citambur. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 17:12

Menakar Geliat Inovasi di Lereng Subang: Tinjauan Kritis atas Transformasi Ekonomi Berbasis Kopi

Dalam konstelasi perdagangan global, kopi bukan sekadar komoditas penyegar, melainkan instrumen strategis yang menentukan posisi tawar sebuah negara.

Buku "Geliat Desa Membangun Inovasi Kopi Subang: Status Quo" (Sumber: BRIN)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 15:30

Jalan Nasional Rasa Jalan Lokal: Mengapa Macet dan Kecelakaan Terus Terjadi di Koridor Caringin–Cimahi?

Kemacetan dan kecelakaan bukan sekadar ulah pengguna, tetapi akibat kegagalan sistem: akses tak terkendali, hambatan samping tinggi, dan simpang tanpa pengaturan yang andal.

Kepadatan arus lalu lintas di Jalan Raya Cimareme, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.com/Restu Nugraha)
Beranda 30 Apr 2026, 14:59

Hadapi Kemarau Panjang dan Risiko Kebakaran, Diskar Kota Bandung Fokus Perkuat Sumber Air

Diskar PB Kota Bandung perkuat akses sumber air melalui pemetaan hidran dan kolam retensi guna pastikan penanganan kebakaran yang cepat dan efektif selama musim kemarau panjang.

Petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung melakukan pendinginan pada kios material barang bekas yang terbakar di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Kamis 26 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 11:30

Panduan Lengkap Penggunaan Partikel dalam Bahasa Indonesia

Panduan praktis agar tidak lagi ragu saat menuliskan partikel-partikel bahasa.

Partikel dalam bahasa Indonesia. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 11:17

Kuliner Soto Bongko Sumedang, Sarapan Ratusan Tahun yang Bertahan di Balik Bayang Tahu

Sarapan khas Sumedang ini menawarkan kuah santan gurih, lontong besar, dan tahu Sumedang dalam tradisi pagi yang bertahan sejak ratusan tahun.

Kuliner Soto Bongko Sumedang. (Sumber: Instagram @sajiansedap)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 11:17

Hikayat Opak, Camilan Tradisional yang Masih Bertahan Bahkan Menjadi Ciri Khas

Opak Sukamanah dibuat turun-temurun dengan resep rahasia. Pulen, gurih, dan jadi andalan oleh-oleh khas Bandung.

Opak di Kampun Sukamanah, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 09:27

Dari Bekasi untuk Evaluasi: Keselamatan KRL Bukan Soal Posisi Gerbong

Tragedi di Stasiun Bekasi Timur menyoroti bahwa keselamatan KRL bukan soal posisi gerbong, melainkan tentang keandalan sistem perkeretaapian dalam mencegah kecelakaan dan melindungi seluruh penumpang.

Stasiun Bekasi Timur. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Fikri RA)
Wisata & Kuliner 29 Apr 2026, 20:34

Wisata Pantai Karangsong, Tamasya Santai di Pesisir Utara Jawa Barat

Panduan lengkap Pantai Karangsong Indramayu dengan info lokasi, biaya masuk, wisata mangrove, serta pengalaman menikmati pantai di pesisir utara.

Pantai Karangsong Indramayu. (Sumber: Ayomedia)
Beranda 29 Apr 2026, 18:48

Mereka yang Agamanya Pernah ‘Dihapus’ dari KTP, Kini Gencar Menebar Hal Baik

Hidup pada masa Orde Baru tidaklah mudah. Terutama jika keturunan Tionghoa dan beragama Konghucu.

Fam Kiun Fat yang akrab disapa Akiun, salah satu tokoh Tionghoa dan Konghucu ternama di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 16:54

Kota ini Tak Lagi Sama(Pah) Tanpamu

Tidak ada langkah yang lebih realistis untuk mengatasi masalah sampah di Kota Bandung selain mengendalikan petugas pengelola sampah dan terus mengedukasi masyarakat

Gunungan Sampah di TPST Batununggal Bandung. Rabu, 29 April 2026 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 15:35

Heritage: Mana yang Usang, Mana yang (harus) Terbuang

Konsep warisan kita sangat dibentuk oleh kolonialisme. Oleh karena itu, tulisan ini jadi ajakan dekonstruksi warisan yang elitis menjadi lebih inklusif, emansipatif, dan adil bagi pemilik properti.

Gedung-gedung peninggalan masa kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: Neermana Studio)
Beranda 29 Apr 2026, 15:16

Biaya Mahal yang Harus Dikeluarkan Setiap Hari untuk Mengurus Sampah Kota Bandung

Kelola ribuan ton sampah setiap hari, Kota Bandung harus mengeluarkan ribuan liter BBM demi memastikan ratusan armada pengangkut tetap bergerak menyisir lingkungan warga.

"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Bandung 29 Apr 2026, 15:05

Tren Intimate Wedding di Bandung, Afrodite WO: Tonjolkan Karakter Pengantin dan Kesesuaian Venue

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan.

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 13:36

Dari Pesantren ke Panggung Nasional: Perjalanan Hayyun Halimatul Ummah Menjadi Duta Santri

Kisah Hayyun Halimatul Ummah, santri dari keluarga sederhana yang menembus Duta Santri Nasional lewat ketekunan, keberanian, dan tekad untuk bermanfaat.

Hayyun Halimatul Ummah ketika dinobatkan sebagai Duta Santri Nasional pada malam grand final. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Wisata & Kuliner 29 Apr 2026, 13:34

Panduan Wisata Pemandian Cipanas Garut, Pilih Tempat Sesuai Gaya Liburanmu di Kaki Gunung Guntur

Panduan wisata Cipanas Garut, mengulas sejarah dua abad, sumber air panas alami, serta pilihan pemandian dan resort terbaik di kaki Gunung Guntur.

Kawasan Wisata Cipanas Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 29 Apr 2026, 10:30

Beban Berat Pengangkutan Sampah di Kota Bandung, Sehari Habiskan BBM Setara 457 Galon Air Mineral

Setiap hari, bahan bakar yang dipakai untuk mengangkut sampah di Bandung setara ratusan galon air minum. Jumlah ini menggambarkan betapa besar energi yang dibutuhkan hanya untuk menjaga kota tetap ber

Aktivitas pengangkutan sampah menuju TPA Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Selasa 6 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha Sauqi)
Beranda 29 Apr 2026, 09:15

Kota Bandung Kewalahan Hadapi 1.500 Ton Sampah per Hari, Armada Tertahan, TPA Kian Tertekan

Bandung menghadapi lonjakan sampah hingga 1.500 ton per hari. Armada tersendat akibat antrean dan kuota TPA, membuat pengangkutan melambat dan tumpukan sampah kian meluas.

Truk sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung sedang mengangkut sampah pada 18 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Bob Yanuar Muslim)