I’tikaf, Panggilan Keheningan dalam Kebisingan

4 menit baca
Ridwan Rustandi
Ditulis oleh Ridwan Rustandi diterbitkan
Seorang laki-laki muslim sedang bermunajat dalam kesendirian di ujung senja (Sumber: pixabay | Foto: pixabay)
Seorang laki-laki muslim sedang bermunajat dalam kesendirian di ujung senja (Sumber: pixabay | Foto: pixabay)

Dunia modern sibuk menyuguhkan kebisingan-kebisingan yang kian membingungkan. Hiruk-pikuk dunia dengan berbagai fitur fatamorgananya menyeret manusia untuk menyibukkan diri dengan hal-hal yang terkadang tidak dia sadari. Ia bekerja namun tidak menjiwai, ia berpikir tapi tak termaknai. Umpama robot yang diprogram untuk melakukan sesuatu tanpa sebuah kesadaran.

Di Tengah notifikasi kemegahan duniawi, Islam memanggil manusia beriman untuk merasakan keheningan. Panggilan itu datang di sepuluh terakhir bulan ramadan. Mereka yang terpanggil, dengan sadar dan berani memasuki masjid, berdiam diri, menutup pintu dan memusatkan fokus pikiran serta kendali dirinya keharibaan Allah Swt. Mereka menunaikan amalan sunah di penghujung ramadan, melakukan i’tikaf.

Kata i’tikaf berasal dari akar kata akafa yang berarti menetap pada sesuatu, berdiam diri, memusatkan diri atau tekun pada sesuatu, dan mengabdikan diri pada sesuatu secara terus-menerus. Dalam al-Qur’an, Allah Swt menegaskan bahwa i’tikaf adalah aktivitas menarik diri dari kesibukan dunia dengan tujuan memusatkan kembali pikiran untuk membangun koneksi ilahiyyah. I’tikaf berarti berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah dalam jangka waktu tertentu (Qs. 02: 187).

Rasulullah Saw melaksanakan i’tikaf pada sepertiga terakhir di bulan ramadan (HR. Bukhori & Muslim). I’tikaf adalah sunah yang dianjurkannya dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah Swt. Secara syariat, i’tikaf dilakukan dengan berdiam diri di dalam masjid selama sepuluh hari terakhir di bulan ramadan. Ia adalah jeda bagi manusia untuk memutuskan kesibukan duniawi, memperbanyak ibadah seperti salat, zikir, doa, dan tilawah, serta mencari malam lailatul qadar. I’tikaf merupakan puncak latihan spiritual ramadan yang menghanyutkan manusia beriman dalam pangkuan Allah Swt. Ia membangun intimasi sekaligus sublimasi dengan Allah agar mampu menenangkan jiwa, membersihkan hati, dan memperdalam kedekatan dengan-Nya.

Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)
Umat Muslim beribadah di Bulan Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Annas Arfnahri)

Psikologi Kedalaman dan Ruang Masjid

Secara teknis, I’tikaf adalah kombinasi antara isolasi fisik, peningkatan ibadah, dan pengurangan drastis interaksi dengan dunia luar. Tapi secara psikologis dan peradaban, ia adalah sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar ritual. I’tikaf bukan hanya sebatas ibadah, melainkan momentum jeda untuk membangkitkan kembali kedalaman akan pemaknaan kehidupan.

Bayangkan, seseorang yang ber-i’tikaf, ia secara sadar dan berani berdiam diri di masjid selama waktu tertentu dan kembali lagi dengan pikiran yang sudat direset, kendali diri yang sudah dilatih, keinginan yang diuji dengan kesabaran, serta mentalitas yang tumbuh dari dalam dengan penguatan keimanan. I’tikaf menjadi ruang kedalaman psikologis yang bertaut dengan kerinduan ilahiyyah. Ia memberi ruang kosong kepada manusia untuk memahami era paradoksal. Era di mana manusia semakin banyak terhubung dengan segalanya, tapi semakin jarang terhubung dengan dirinya sendiri. Era di mana kita memiliki lebih banyak informasi dari sebelumnya, tapi semakin miskin makna.

Ada anomali psikologis yang dirasakan oleh manusia abad 21. Mereka mengalami krisis diam di tengah kebisingan peradaban. Kita telah menjadi spesies yang tidak tahan dengan keheningan dirinya sendiri. Kita mengisi setiap celah waktu kosong dengan stimulasi seperti musik, podcast, media sosial, dan notifikasi. Otak kita telah terlatih untuk selalu dalam kondisi menerima input dari luar, dan ketika input itu dihentikan, yang kita rasakan bukan kedamaian melainkan kecemasan.

Memahami fenomena seperti ini, Marcus Raichle (2001) mengenalkan konsep Default Mode Network (DMN). Istilah ini merujuk pada konsep neurosains yang menemukan bahwa otak manusia akan aktif optimal pada saat tidak sedang melakukan aktivitas eksternal. Jaringan area otak akan melakukan pemrosesan mendalam dalam mode hening seperti saat melamun, merenung, mengingat masa lalu, atau memikirkan diri sendiri. Itu artinya, keheningan berdampak pada aktivasi kreativitas dan wawasan yang bermakna.

Beberapa tahun sebelumnya, Esther Buchholz (1997) mengenalkan konsep solitude, yakni kesendirian yang dipilih secara sadar. Menurutnya, manusia membutuhkan momen jeda seperti ini sebagai sebuah kebutuhan psikologis yang penting. Dalam kesendirian yang sehat, seseorang memperoleh ruang untuk merenung, memahami diri, mengelola emosi, dan menata kembali makna hidupnya.

Konsep kedalaman ini dikenalkan juga oleh Carl Gustav Jung (1916) melalui proses individuasi. Konsep ini menunjukkan sebuah perjalanan batin untuk menjadi diri yang utuh. Yaitu proses ketika seseorang secara bertahap menyadari, menerima, dan mengintegrasikan berbagai aspek kepribadiannya baik yang disadari maupun yang tersembunyi dalam alam bawah sadar. Individuasi menghendaki adanya kematangan jiwa dalam transformasi manusia yang berinteraksi dengan dirinya. Ia membutuhkan waktu, keheningan, dan keberanian untuk menghadapi diri sendiri tanpa topeng.

Baca Juga: Pensiun Jadi Pemburu THR: Selamat Datang Gen Z di Fase 'Berbagi Berkah' demi Senyum Keponakan

Beberapa konsep psikologi kedalaman tersebut menunjukkan sebuah kebutuhan manusia untuk menyepi dari keramaian, memenuhi panggilan keheningan dari ingar-bingar notifikasi duniawi. Empat belas abad yang lalu, ajaran Islam yang diturunkan Allah Swt kepada Muhammad Saw menuntun manusia untuk menjalankan ritual syariat yang terbukti bisa memenuhi kebutuhannya untuk membangun keintiman dengan dirinya dan sang pencipta. Berdiam diri di masjid melakukan i’tikaf dalam batas waktu tertentu memfasilitasi manusia untuk kembali ke kedalaman dirinya, mengheningkan cipta, rasa, dan karsanya untuk bangkit membangun peradaban. Dan masjid menjadi simbol penting bagi manusia dalam melakukan turning point (titik balik) perubahan dalam dirinya dan lingkungan sekitarnya.

Sama seperti proses tahannuts yang dilakukan Rasulullah Saw di Gua Hira. Ia adalah metafora yang dilakukan oleh seorang manusia untuk tenggelam dalam pemaknaan diri agar membawa perubahan besar dalam peradaban manusia. I’tikaf maupun tahannuts mensaratkan seseorang untuk berdiam diri di suatu tempat, mereset pikiran, melatih mental dan menguji kesabarannya dari keterfanaan duniawi.

Mereka berdiam diri dan menutup pintu dunia sesaat. Dalam diamnya ia tenggelam dalam ketaatan dan melepas diri dari kemaksiatan. Diamnya bukan kelemahan melainkan peradaban yang berpikir. I'tikaf adalah cara Islam mengingatkan bahwa setiap manusia dan setiap peradaban, sesekali perlu berhenti, masuk ke dalam dirinya sendiri, dan bertanya: Fa ayna tadhhabūn, ke mana sesungguhnya semua ini bergerak? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)