Bingkai Perang di Bulan Suci

3 menit baca
Encep Dulwahab
Ditulis oleh Encep Dulwahab diterbitkan
Peta Iran. (Sumber: Pexel | Foto: Lara Jameson)
Peta Iran. (Sumber: Pexel | Foto: Lara Jameson)

Pada 28 Februari 2026, serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memperpanjang konflik, dan membuat suasana Timur Tengah semakin panas. Apalagi serangannya ini tepat di bulan suci Ramadan, bulan yang seharusnya menjadi momen umat muslim khusyu menjalankan ibarah satu bulan sekali dalam setahun, peluang untuk merefleksikan nilai-nilai spiritual, dan menjalankan ibadah penuh kedamaian malah dirusak suasananya oleh kemarukan Donald Trump. 

Ramadan 1447 H berbeda dengan Ramadan tahun-tahun sebelumnya. Khusus untuk umat muslim Iran dan sekitarnya, Ramadan kali ini hadir bukan dengan keheningan dan kenyamanan dalam menjalankan ritual-ritual ibadah, melainkan dipenuhi dengan iringan dentuman rudal, teriakan orang terhimpit bangunan yang hancur, hujatan para pemimpin yang bertikai, gedung-gedung runtuh, suasana tangis duka dan pemakaman korban dampak perang. Setidaknya untuk umat muslim di Indonesia, fenomena itu tergambar jelas dalam bingkai media massa dan media sosial, yang tidak pernah berhenti menghiasi layar kaca TV atau layar ponsel. 

Bagi umat muslim Indonesia, secara geografis perang di Iran itu terasa jauh, tapi jarak yang jauh tidak menjadi kendala untuk mengakses isu-isu aktual seputar perang Iran vs Israel dan Amerika Serikat. Secara real time umat muslim Indonesia bisa leluasa mengikutinya di media massa dan media sosial. 

Konten-konten serangan dari Iran atau dari Israel yang menggunakan rudal balistik, drone tanpa awak, begitu cepat viral di media sosial dan menjadi menu utama bulan Ramadan, dan mengalahkan isu utama yang biasa tampil di bulan Ramadhan, yaitu konten menu berbuka puasa, suasana tarawih, dan arus mudik Lebaran yang biasa ramai selama Ramadan dan menjelang Lebaran. 

Tidak hanya tampilan perang yang mempertontonkan kekuatan militer serba canggih, keberhasilan mencapai target dan meluluhlantahkan gedung-gedung, linimasa juga dipenuhi dengan berbagai umpatan, kutukan, dan hasutan dari masing-masing pimpinan terhadap lawan-lawan perangnya. Tidak ketinggalan warganet pun berdebat di kolom komentar mengenai perang ini, mulai dari perbincangan seputar ideologi, agama, sejarah geopolitik, siapa yang benar dan siapa yang salah.

Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)

Warganet tidak hanya ikut terlibat secara komentar, melainkan membuat konten dengan melibatkan AI (kecerdasan buatan) dengan sumber konten dari mana pun, yang penting memanfaatkan momentum demi mendapatkan apresiasi dan sensasi. Namun sayangnya, kreativitas itu menambah suasana semakin rumit. Masyarakat akan semakin sulit untuk membedakan mana konten yang orsinil ataupun konten yang hasil rekayasa.

Dengan menggunakan perangkat AI, para konten kreator yang menyebarkan hasilnya di media sosial bisa membuat konten perang yang lebih dramatis, sesuai dengan settingan dan kepentingan. Dalam waktu yang cepat bisa membuat konten kehancuran kota  yang meyakinkan, sehingga bisa mengguncang perasaan publik, dan menjadi alat propaganda yang efektif. Alih-alih menyelesaikan peran, yang ada perang semakin besar dan melebar ke mana-mana. 

Disinilah ironi perang yang dibingkai media massa dan media sosial. Di bulan yang semestinya meredakan amarah, ketegangan antara Iran, Amerika, dan Israel justru kian membara. Ramadan membawa pelajaran tentang kesabaran, keikhlasan, pengorbanan, toleransi, seseorang dilatih menahan dorongan emosi dan hawa nafsu. Namun media massa dan media sosial bergerak ke arah yang berlawanan. Media massa dan media sosial memantik emosi, mempercepat respons negatif, dan mempersempit ruang empati. Perang dicitrakan secara kasar dan menghibur yang berakibat rasa empati dan persaudaraan perlahan terkikis sampai hilang. 

Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, meminta media Indonesia secara khusus untuk tidak begitu saja menelan informasi dari media internasional yang dinilai memiliki keberpihakan tertentu. Tambahnya lagi, kalau media Indonesia harus jujur dan profesional. Benar yang dikatatakannya, kalau media massa dan media sosial di manapun, sudah seharusnya menjadi sumber pencerahan, bukan menjadi corong yang mengajarkan perpecahan dan kebencian sampai terjadi peperangan. Di bulan Ramadan ini, umat Islam diingatkan bahwa bisa menahan diri tidak hanya dari lapar dan haus semata, melainkan juga bisa menahan diri untuk tidak menelan mudah narasi negatif yang beredar bebas di layar, dan tidak tergoda untuk menyebarkannya pada pihak lain. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)