Bingkai Perang di Bulan Suci

Encep Dulwahab
Ditulis oleh Encep Dulwahab diterbitkan Jumat 13 Mar 2026, 08:10 WIB
Peta Iran. (Sumber: Pexel | Foto: Lara Jameson)

Peta Iran. (Sumber: Pexel | Foto: Lara Jameson)

Pada 28 Februari 2026, serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memperpanjang konflik, dan membuat suasana Timur Tengah semakin panas. Apalagi serangannya ini tepat di bulan suci Ramadan, bulan yang seharusnya menjadi momen umat muslim khusyu menjalankan ibarah satu bulan sekali dalam setahun, peluang untuk merefleksikan nilai-nilai spiritual, dan menjalankan ibadah penuh kedamaian malah dirusak suasananya oleh kemarukan Donald Trump. 

Ramadan 1447 H berbeda dengan Ramadan tahun-tahun sebelumnya. Khusus untuk umat muslim Iran dan sekitarnya, Ramadan kali ini hadir bukan dengan keheningan dan kenyamanan dalam menjalankan ritual-ritual ibadah, melainkan dipenuhi dengan iringan dentuman rudal, teriakan orang terhimpit bangunan yang hancur, hujatan para pemimpin yang bertikai, gedung-gedung runtuh, suasana tangis duka dan pemakaman korban dampak perang. Setidaknya untuk umat muslim di Indonesia, fenomena itu tergambar jelas dalam bingkai media massa dan media sosial, yang tidak pernah berhenti menghiasi layar kaca TV atau layar ponsel. 

Bagi umat muslim Indonesia, secara geografis perang di Iran itu terasa jauh, tapi jarak yang jauh tidak menjadi kendala untuk mengakses isu-isu aktual seputar perang Iran vs Israel dan Amerika Serikat. Secara real time umat muslim Indonesia bisa leluasa mengikutinya di media massa dan media sosial. 

Konten-konten serangan dari Iran atau dari Israel yang menggunakan rudal balistik, drone tanpa awak, begitu cepat viral di media sosial dan menjadi menu utama bulan Ramadan, dan mengalahkan isu utama yang biasa tampil di bulan Ramadhan, yaitu konten menu berbuka puasa, suasana tarawih, dan arus mudik Lebaran yang biasa ramai selama Ramadan dan menjelang Lebaran. 

Tidak hanya tampilan perang yang mempertontonkan kekuatan militer serba canggih, keberhasilan mencapai target dan meluluhlantahkan gedung-gedung, linimasa juga dipenuhi dengan berbagai umpatan, kutukan, dan hasutan dari masing-masing pimpinan terhadap lawan-lawan perangnya. Tidak ketinggalan warganet pun berdebat di kolom komentar mengenai perang ini, mulai dari perbincangan seputar ideologi, agama, sejarah geopolitik, siapa yang benar dan siapa yang salah.

Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)

Warganet tidak hanya ikut terlibat secara komentar, melainkan membuat konten dengan melibatkan AI (kecerdasan buatan) dengan sumber konten dari mana pun, yang penting memanfaatkan momentum demi mendapatkan apresiasi dan sensasi. Namun sayangnya, kreativitas itu menambah suasana semakin rumit. Masyarakat akan semakin sulit untuk membedakan mana konten yang orsinil ataupun konten yang hasil rekayasa.

Dengan menggunakan perangkat AI, para konten kreator yang menyebarkan hasilnya di media sosial bisa membuat konten perang yang lebih dramatis, sesuai dengan settingan dan kepentingan. Dalam waktu yang cepat bisa membuat konten kehancuran kota  yang meyakinkan, sehingga bisa mengguncang perasaan publik, dan menjadi alat propaganda yang efektif. Alih-alih menyelesaikan peran, yang ada perang semakin besar dan melebar ke mana-mana. 

Disinilah ironi perang yang dibingkai media massa dan media sosial. Di bulan yang semestinya meredakan amarah, ketegangan antara Iran, Amerika, dan Israel justru kian membara. Ramadan membawa pelajaran tentang kesabaran, keikhlasan, pengorbanan, toleransi, seseorang dilatih menahan dorongan emosi dan hawa nafsu. Namun media massa dan media sosial bergerak ke arah yang berlawanan. Media massa dan media sosial memantik emosi, mempercepat respons negatif, dan mempersempit ruang empati. Perang dicitrakan secara kasar dan menghibur yang berakibat rasa empati dan persaudaraan perlahan terkikis sampai hilang. 

Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, meminta media Indonesia secara khusus untuk tidak begitu saja menelan informasi dari media internasional yang dinilai memiliki keberpihakan tertentu. Tambahnya lagi, kalau media Indonesia harus jujur dan profesional. Benar yang dikatatakannya, kalau media massa dan media sosial di manapun, sudah seharusnya menjadi sumber pencerahan, bukan menjadi corong yang mengajarkan perpecahan dan kebencian sampai terjadi peperangan. Di bulan Ramadan ini, umat Islam diingatkan bahwa bisa menahan diri tidak hanya dari lapar dan haus semata, melainkan juga bisa menahan diri untuk tidak menelan mudah narasi negatif yang beredar bebas di layar, dan tidak tergoda untuk menyebarkannya pada pihak lain. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Encep Dulwahab
Dosen Ilmu Komunikasi UIN Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 30 Apr 2026, 20:12

Tema Ayo Netizen Mei 2026: Bersabar, Bekerja, dan Berkorban demi Hidup di Bandung

Mei bukan sekadar bulan kelima dalam kalender. Di Bandung, Mei adalah bulan yang sesak.

Keluarga korban longsor Cisarua menangis usai mendengar informasi salah satu keluarganya ditemukan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Mayantara 30 Apr 2026, 18:41

Kehidupan Sehari-hari sebagai ‘Arsip’

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari.

Internet tidak hanya membangun hubungan kolaboratif antar-pengguna secara individual, tetapi juga “merekam” serangkaian tindakan online kita setiap hari. (Sumber: Pexels | Foto: Şevval Pirinççi)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 18:00

Panduan Wisata Curug Citambur, Eksotisme Tersembunyi di Cianjur Selatan

Panduan wisata Curug Citambur, air terjun 130 meter di Cianjur Selatan, lengkap rute, tiket, dan tips berkunjung.

Curug Citambur. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 17:12

Menakar Geliat Inovasi di Lereng Subang: Tinjauan Kritis atas Transformasi Ekonomi Berbasis Kopi

Dalam konstelasi perdagangan global, kopi bukan sekadar komoditas penyegar, melainkan instrumen strategis yang menentukan posisi tawar sebuah negara.

Buku "Geliat Desa Membangun Inovasi Kopi Subang: Status Quo" (Sumber: BRIN)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 15:30

Jalan Nasional Rasa Jalan Lokal: Mengapa Macet dan Kecelakaan Terus Terjadi di Koridor Caringin–Cimahi?

Kemacetan dan kecelakaan bukan sekadar ulah pengguna, tetapi akibat kegagalan sistem: akses tak terkendali, hambatan samping tinggi, dan simpang tanpa pengaturan yang andal.

Kepadatan arus lalu lintas di Jalan Raya Cimareme, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.com/Restu Nugraha)
Beranda 30 Apr 2026, 14:59

Hadapi Kemarau Panjang dan Risiko Kebakaran, Diskar Kota Bandung Fokus Perkuat Sumber Air

Diskar PB Kota Bandung perkuat akses sumber air melalui pemetaan hidran dan kolam retensi guna pastikan penanganan kebakaran yang cepat dan efektif selama musim kemarau panjang.

Petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung melakukan pendinginan pada kios material barang bekas yang terbakar di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Kamis 26 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 11:30

Panduan Lengkap Penggunaan Partikel dalam Bahasa Indonesia

Panduan praktis agar tidak lagi ragu saat menuliskan partikel-partikel bahasa.

Partikel dalam bahasa Indonesia. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 11:17

Kuliner Soto Bongko Sumedang, Sarapan Ratusan Tahun yang Bertahan di Balik Bayang Tahu

Sarapan khas Sumedang ini menawarkan kuah santan gurih, lontong besar, dan tahu Sumedang dalam tradisi pagi yang bertahan sejak ratusan tahun.

Kuliner Soto Bongko Sumedang. (Sumber: Instagram @sajiansedap)
Wisata & Kuliner 30 Apr 2026, 11:17

Hikayat Opak, Camilan Tradisional yang Masih Bertahan Bahkan Menjadi Ciri Khas

Opak Sukamanah dibuat turun-temurun dengan resep rahasia. Pulen, gurih, dan jadi andalan oleh-oleh khas Bandung.

Opak di Kampun Sukamanah, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 30 Apr 2026, 09:27

Dari Bekasi untuk Evaluasi: Keselamatan KRL Bukan Soal Posisi Gerbong

Tragedi di Stasiun Bekasi Timur menyoroti bahwa keselamatan KRL bukan soal posisi gerbong, melainkan tentang keandalan sistem perkeretaapian dalam mencegah kecelakaan dan melindungi seluruh penumpang.

Stasiun Bekasi Timur. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Fikri RA)
Wisata & Kuliner 29 Apr 2026, 20:34

Wisata Pantai Karangsong, Tamasya Santai di Pesisir Utara Jawa Barat

Panduan lengkap Pantai Karangsong Indramayu dengan info lokasi, biaya masuk, wisata mangrove, serta pengalaman menikmati pantai di pesisir utara.

Pantai Karangsong Indramayu. (Sumber: Ayomedia)
Beranda 29 Apr 2026, 18:48

Mereka yang Agamanya Pernah ‘Dihapus’ dari KTP, Kini Gencar Menebar Hal Baik

Hidup pada masa Orde Baru tidaklah mudah. Terutama jika keturunan Tionghoa dan beragama Konghucu.

Fam Kiun Fat yang akrab disapa Akiun, salah satu tokoh Tionghoa dan Konghucu ternama di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 16:54

Kota ini Tak Lagi Sama(Pah) Tanpamu

Tidak ada langkah yang lebih realistis untuk mengatasi masalah sampah di Kota Bandung selain mengendalikan petugas pengelola sampah dan terus mengedukasi masyarakat

Gunungan Sampah di TPST Batununggal Bandung. Rabu, 29 April 2026 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 15:35

Heritage: Mana yang Usang, Mana yang (harus) Terbuang

Konsep warisan kita sangat dibentuk oleh kolonialisme. Oleh karena itu, tulisan ini jadi ajakan dekonstruksi warisan yang elitis menjadi lebih inklusif, emansipatif, dan adil bagi pemilik properti.

Gedung-gedung peninggalan masa kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: Neermana Studio)
Beranda 29 Apr 2026, 15:16

Biaya Mahal yang Harus Dikeluarkan Setiap Hari untuk Mengurus Sampah Kota Bandung

Kelola ribuan ton sampah setiap hari, Kota Bandung harus mengeluarkan ribuan liter BBM demi memastikan ratusan armada pengangkut tetap bergerak menyisir lingkungan warga.

"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Bandung 29 Apr 2026, 15:05

Tren Intimate Wedding di Bandung, Afrodite WO: Tonjolkan Karakter Pengantin dan Kesesuaian Venue

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan.

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 13:36

Dari Pesantren ke Panggung Nasional: Perjalanan Hayyun Halimatul Ummah Menjadi Duta Santri

Kisah Hayyun Halimatul Ummah, santri dari keluarga sederhana yang menembus Duta Santri Nasional lewat ketekunan, keberanian, dan tekad untuk bermanfaat.

Hayyun Halimatul Ummah ketika dinobatkan sebagai Duta Santri Nasional pada malam grand final. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Wisata & Kuliner 29 Apr 2026, 13:34

Panduan Wisata Pemandian Cipanas Garut, Pilih Tempat Sesuai Gaya Liburanmu di Kaki Gunung Guntur

Panduan wisata Cipanas Garut, mengulas sejarah dua abad, sumber air panas alami, serta pilihan pemandian dan resort terbaik di kaki Gunung Guntur.

Kawasan Wisata Cipanas Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 29 Apr 2026, 10:30

Beban Berat Pengangkutan Sampah di Kota Bandung, Sehari Habiskan BBM Setara 457 Galon Air Mineral

Setiap hari, bahan bakar yang dipakai untuk mengangkut sampah di Bandung setara ratusan galon air minum. Jumlah ini menggambarkan betapa besar energi yang dibutuhkan hanya untuk menjaga kota tetap ber

Aktivitas pengangkutan sampah menuju TPA Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Selasa 6 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha Sauqi)
Beranda 29 Apr 2026, 09:15

Kota Bandung Kewalahan Hadapi 1.500 Ton Sampah per Hari, Armada Tertahan, TPA Kian Tertekan

Bandung menghadapi lonjakan sampah hingga 1.500 ton per hari. Armada tersendat akibat antrean dan kuota TPA, membuat pengangkutan melambat dan tumpukan sampah kian meluas.

Truk sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung sedang mengangkut sampah pada 18 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Bob Yanuar Muslim)