Kota Bandung Ambles Sedikit Demi Sedikit: Jejak Danau Purba Menyeruak Kembali

4 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Hasil penelitian ITB dan BRIN menunjukkan permukaan tanah Kota Bandung rata-rata turun 8 cm per tahun, bahkan di beberapa titik bisa mencapai 23 cm. Namun angka ini tak berlaku secara linier. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Hasil penelitian ITB dan BRIN menunjukkan permukaan tanah Kota Bandung rata-rata turun 8 cm per tahun, bahkan di beberapa titik bisa mencapai 23 cm. Namun angka ini tak berlaku secara linier. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Warga, industri, dan pengembang di Bandung Raya terus menyedot air tanah tanpa pertimbangan serius. Akibatnya, tanah kehilangan penyangganya dan perlahan ambles. Dalam setahun, penurunan muka tanah dilaporkan terjadi di beberapa wilayah.

Berdasarkan hasil penelitian dari ITB dan BRIN, permukaan tanah Kota Bandung terus turun setiap tahunnya. Hasil pengukuran geodesi menunjukkan rata-rata penurunan permukaan tanah adalah 8 cm per tahun, bahkan di beberapa titik bisa mencapai 23 cm.

Di tengah krisis air bersih dan laju urbanisasi yang kian pesat, penurunan tanah ini mengancam keberlanjutan kota. Jika tidak dikendalikan, sebagian kawasan Bandung Raya berisiko kembali menjadi cekungan air seperti di masa lalu.

Penyedotan Air Tanah Berlebihan jadi Penyebab Utama

Anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia, T. Bachtiar, menjelaskan bahwa penyebab utama amblesnya tanah di kawasan Bandung tidak lain adalah eksploitasi air tanah yang berlebihan. Air tanah yang semestinya mengisi pori-pori tanah dan batuan telah disedot secara besar-besaran untuk memenuhi kebutuhan industri, perumahan, dan apartemen.

Penulis buku 'Peta Danau Bandung Purba', T Bachtiar tengah menyampaikan hasil risetnya mengenai jejak danau tersebut dalam sebuah diskusi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Penulis buku 'Peta Danau Bandung Purba', T Bachtiar tengah menyampaikan hasil risetnya mengenai jejak danau tersebut dalam sebuah diskusi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Penurunan ini terjadi karena hilangnya satu dari dua elemen penyangga tanah: air. Tanpa air, struktur tanah kehilangan daya dukungnya. Maka tanah yang tadinya stabil mulai turun perlahan, dan dalam cakupan luas bisa menyebabkan amblesan yang masif.

"Awalnya itu gitu. Yang asalnya muka air tanahnya di sini, turun jadi ke sini, terus makin dalam. Karena muka airnya makin lama makin dalam, maka tanah di sini tidak ada penyangga lagi. Jadi yang menyangga lapisan tanah itu, satu adalah tanahnya itu sendiri, yang kedua adalah air. Nah, sekarang airnya tidak ada. Jadi turun," kata Bachtiar kepada AyoBandung beberapa waktu lalu.

Di wilayah seperti Rancaekek, Gedebage, dan Dayeuhkolot, penurunan tanah sudah tercatat rata-rata mencapai 0,67 meter per tahun pada periode 2021–2022. Angka itu bukan sekadar statistik, tapi cerminan dari krisis ekologis yang semakin mendekati titik kritis.

Dari Krisis Air Hingga Bangunan Retak

Efek dari penurunan muka tanah tidak hanya dirasakan secara geologis, tetapi juga menyentuh langsung kehidupan sehari-hari masyarakat. Sumur-sumur warga mulai mengering. Air bersih menjadi barang mahal. Satu jeriken air bersih kini bisa mencapai harga Rp5.000, dan dalam sehari, satu rumah bisa menghabiskan lebih dari lima jeriken.

"Sekarang aja ada rumah beli air," ujar Bachtiar. Sementara air sungai yang dulunya bisa diandalkan, kini sudah tercemar dan memerlukan proses pengolahan yang rumit dan mahal.

Tak hanya itu, bangunan-bangunan besar mulai menunjukkan tanda-tanda bahaya. Dinding yang retak, lantai yang miring, dan fondasi yang bergeser bisa menjadi indikator serius dari tanah yang terus bergerak turun.

"Kalau volume air tanah yang disedot besar, maka bukan tidak mungkin bangunan-bangunan bisa miring, turun, bahkan ambruk," tambahnya.

Jangan Biarkan Bandung Tenggelam

Lalu, apakah Bandung bisa mengalami nasib serupa dengan Jakarta yang disebut-sebut akan tenggelam? Menurut Bachtiar, jawabannya: bisa. Meskipun Bandung tidak berada di pesisir dan tidak terancam air laut masuk seperti di Jakarta, ancaman genangan tetap nyata.

“Kawasan seperti Rancaekek dulunya rawa, tempat air. Sekarang dibangun dan air tanahnya disedot, permukaan tanahnya turun. Maka, kalau hujan, air akan menggenang lebih lama,” jelasnya.

Bandung pernah menjadi bagian dari danau purba. Jika eksploitasi terus berlangsung tanpa kontrol, sejarah bisa berulang. Kota ini bukan tak mungkin kembali menjadi cekungan yang menampung air, kali ini bukan karena hujan deras semata, tapi karena tanah yang terus merosot.

Solusi jangka pendek dan jangka panjang harus dimulai sekarang juga. Menurut Bachtiar, upaya paling sederhana bisa dimulai dari rumah: menanam pohon dan membuat sumur resapan.

Menanam pohon bisa jadi solusi jangka panjang untuk menjaga ketersediaan air dalam tanah. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Menanam pohon bisa jadi solusi jangka panjang untuk menjaga ketersediaan air dalam tanah. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

"Satu rumah harusnya punya satu sumur untuk memasukkan air hujan kembali ke dalam tanah," katanya.

Pemerintah pun harus ikut ambil bagian. Setiap kantor desa, sekolah, kampus, bahkan gedung pemerintah perlu membangun sumur resapan untuk memastikan air hujan yang jatuh di atap mereka tidak langsung mengalir ke selokan, tapi kembali ke perut bumi.

"Kalau pemerintahan. Di kantor-kantor pemerintahan. Harusnya juga banyak membuat sumur-sumur serapan. Jangan sampai air yang tercurah di kantor Desa, di kantor Kelurahan. Air yang tercurah dari hujan di kantor kecamatan, di kantor wali kota, di kantor gubernur, di kampus, di SD, SMP, SMA, perguruan tinggi. Itu harusnya (air) tidak ada yang keluar. Harusnya diresapkan semuanya ke dalam tanah. Diresap kembali. Itu akan membantu ya. Paling tidak di lingkungan setempat," tegasnya.

Sumur resapan tidak harus besar. Untuk rumah sederhana, ukuran sebesar drum pun cukup. Yang penting, setiap tetes air hujan yang jatuh bisa dikembalikan ke tanah sebagai cadangan air.

Krisis ini tidak bisa diatasi dalam satu atau dua tahun. Solusinya membutuhkan kebijakan lintas periode dan komitmen jangka panjang. Ini bukan sekadar isu lingkungan, tetapi soal keberlangsungan hidup kota dan warganya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 18:29

Kemerdekaan bagi Sastra

Sastra adalah salah satu ruang terakhir bagi tempat kejujuran yang masih berani bicara. Tapi apakah kehidupan bagi pelakunya sudah layak atau tenggelam dalam lautan merdeka itu sendiri?

Ilustrasi buku sastra. (Sumber: Pexels | Foto: Alexandra Krainyukhova)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.