Mengurai Cerita Penurunan Permukaan Tanah Kota Bandung yang Tak Terlihat

6 menit baca
Andres Fatubun
Ditulis oleh Andres Fatubun diterbitkan
Permukaan tanah di sebagian kawasan di Kota Bandung   mengalami ambles karena pengambilan air tanah berlebihan dan beban bangunan yang berakumulasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Permukaan tanah di sebagian kawasan di Kota Bandung mengalami ambles karena pengambilan air tanah berlebihan dan beban bangunan yang berakumulasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Fenomena penurunan permukaan tanah atau amblesan menjadi sorotan serius di kota-kota besar Indonesia, tak terkecuali di Kota Bandung. Isu ini, meskipun sering disebut sebagai silent disaster karena kejadiannya yang tidak tiba-tiba dan dramatis seperti gempa, namun dampaknya bersifat merusak dan bisa terjadi secara progresif.

Dr. Eng. Imam Achmad Sadisun, S.T., M.T, seorang ahli geologi dari ITB, menjelaskan bahwa amblesan tanah di Bandung bukanlah fenomena baru.

"Fenomena itu sebenarnya di Bandung sudah cukup lama dan para ahli sepakat salah satu kota besar di Indonesia yang turun itu salah satunya Bandung," ungkapnya.

Selain Bandung, kota-kota lain di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dan bahkan Pekalongan juga menghadapi masalah serupa.

Dosen Fakultas Geologi ITB, Imam Sadisun. (Sumber: ITB | Foto: Fadila As-syifa Febriana)
Dosen Fakultas Geologi ITB, Imam Sadisun. (Sumber: ITB | Foto: Fadila As-syifa Febriana)

Mengurai Istilah Amblesan

Dalam ranah keilmuan, terdapat beberapa istilah yang sering digunakan dan kadang tumpang tindih maknanya. Imam mengklarifikasi, land subsidence adalah istilah yang paling tepat dalam bahasa Inggris, yang dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai amblesan. Istilah ini merujuk pada penurunan massa lahan secara keseluruhan.

"Lebih tepat sebenarnya bahasa Indonesianya atau lebih banyak yaitu menggunakan amblesan," jelas Sadisun.

Selain land subsidence, dikenal juga istilah settlement. Namun settlement lebih sering digunakan dalam ilmu sipil untuk menggambarkan penurunan sebagian dari struktur bangunan, misalnya partial settlement pada fondasi gedung yang menyebabkan kemiringan.

Meskipun keduanya merujuk pada penurunan, amblesan diartikan sebagai fenomena yang lebih dalam dan melibatkan area yang lebih luas, sedangkan settlement dapat menjadi akibat dangkal dari proses amblesan.

Faktor Manusia

Menurut Imam, ada tiga penyebab utama amblesan tanah di Bandung yang paling sahih untuk disebut. Sementara soal faktor tektonik masih spekulatif.

Faktor pertama adalah konsolidasi alamiah endapan danau Bandung Purba.

Dia mengatakan Bandung yang dulunya merupakan danau purba, memiliki ketebalan material endapan, terutama lempung, yang mencapai ratusan meter di bagian tengah cekungan. Proses konsolidasi alamiah ini masih terus berlangsung.

"Secara alamiah itu ya tanah dan batuanlah sebenarnya di bawah itu ya, itu memang masih dalam proses konsolidasi secara alamiah," jelas Sadisun.

Material lempung dan kandungan organik yang cukup tinggi dalam endapan ini berkontribusi besar pada penyusutan tanah ketika kehilangan air, mempercepat proses konsolidasi.

Faktor kedua adalah pengambilan air tanah berlebihan.

Berbeda dengan faktor pertama yang disebabkan oleh alam, faktor kedua ini seperti kata Imam disebabkan oleh ulah manusia.

Eksploitasi air tanah yang masif, terutama untuk kebutuhan industri dan domestik, mempercepat proses konsolidasi alamiah. Ketika air tanah diambil, pori-pori dalam tanah yang sebelumnya terisi air akan kosong, menyebabkan butiran tanah saling merapat dan memampat.

Warga mengambil air sumur yang berada di trotoar Jalan Cipaganti, Kelurahan Pasirkaliki, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Warga mengambil air sumur yang berada di trotoar Jalan Cipaganti, Kelurahan Pasirkaliki, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Sebuah hasil riset yang diterbitkan di dalam Riset Geologi dan Pertambangan (2025) Vol. 35, menyebutkan bahwa penurunan permukaan tanah akibat pengambilan air tanah berada pada rentang 0,01 hingga 51,75 cm per tahun, dengan rata-rata 1,85 cm per tahun. Angka ini jauh melampaui penurunan akibat konsolidasi alami yang hanya berkisar 0,02 hingga 10,59 cm per tahun atau rata-rata 0,92 cm per tahun.

Rancaekek menjadi wilayah dengan tingkat penurunan lahan tertinggi akibat eksploitasi air tanah. Sementara Bojongsoang memimpin dalam penurunan lahan akibat proses konsolidasi alami.

Secara keseluruhan, pengambilan air tanah menyumbang 44,30% dari total penurunan lahan di Cekungan Bandung. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan konsolidasi alami yang hanya 15,76%. Sisanya, sekitar 39,94%, dipengaruhi oleh faktor lain seperti beban bangunan dan aktivitas tektonik. Data ini menggarisbawahi perlunya perhatian serius terhadap pengelolaan air tanah di kawasan Bandung.

Berikutnya faktor ketiga yang juga disebabkan oleh manusia adalah beban bangunan yang terakumulasi.

Pembangunan infrastruktur dan gedung-gedung secara masif di atas permukaan tanah juga menambah beban, mempercepat pemampatan lapisan tanah di bawahnya.

Sementara faktor tektonik, seperti keberadaan sesar atau patahan di Cekungan Bandung, sejauh ini masih menjadi spekulasi dan belum diyakini sebagai penyebab dominan amblesan di Kota Bandung.

Titik-titik Rawan Amblesan di Bandung

Berdasarkan data yang ia perlihatkan, beberapa wilayah di Cekungan Bandung menunjukkan intensitas penurunan yang signifikan. Daereh tersebut antara lain Cimahi, Gedebage, Dayeuh Kolot, Bojongsoang, dan Rancaekek, khususnya yang berasosiasi dengan kawasan industri dan padat penduduk, menjadi area yang paling rentan.

Imam juga menunjukkan peta Bandung Raya yang memperlihatkan kawasan yang memiliki banyak sumur dan lapisan tanah lempung. Imam mengatakan kawasan tersebut adalah daerah yang mengalami penurunan permukaan tanah paling serius.

Data kecepatan amblesan yang diluncurkan pada tahun 2018 bahkan menunjukkan angka penurunan mencapai 15 hingga 20 sentimeter per tahun di beberapa titik paling parah (zona merah). Namun, dia menekankan bahwa kecepatan ini tidak bersifat linier.

"Konsolidasi itu nanti lama-lama kalau habis makin pelan, jadi jangan dibayangkan kecepatan itu linier ya," tuturnya. Ini berarti, seiring berjalannya waktu dan habisnya potensi pemampatan, laju penurunan akan melambat.

Hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh dosen Geologi ITB bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menunjukan cekungan Bandung mengalami amblesan tanah yang saat ini terukur antara 8 hingga 23 cm per tahun berdasarkan data Global Positioning System (GPS) dan Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR).

Dampak Amblesan

Laiknya bencana alam, dampak amblesan tanah ini pun merugikan, baik bagi infrastruktur maupun lingkungan.

Imam mengatakan dampak paling umum adalah area-area tertentu menjadi lebih rendah dari sekitarnya, memperparah masalah genangan dan banjir. Ia mencontohkan banjir di kawasan Jakarta bagian utara, yang menurutnya hampir sama dengan wilayah terdampak di Bandung.

"Wilayah banjir Jakarta seakan-akan bertambah karena ada bagian-bagian yang memang enggak dilindungi ya, tanahnya turun gitu loh," kata Imam.

Dampak lainnya adalah kerusakan infrastruktur, meskipun ia mengatakan harus diteliti lebih dalam. Apakah kerusakan infrastruktur tersebut akibat amblesan atau karena kualitas bangunan.

"Bangunan-bangunan di atasnya itu pasti akan mengalami kerusakan, yang pertama memang biasanya retak dulu," terang Imam. Retakan dapat muncul pada dinding bangunan, struktur jembatan, dan jalan.

Imam menekankan pentingnya analisis yang seksama untuk membedakan kerusakan akibat amblesan tanah dengan kualitas bangunan yang buruk.

"Jika kita yakini bahwa bangunan itu sudah bagus, sudah didesain dengan perhitungan yang secara engineering benar, tapi kok tetap ada masalah, ya itu baru kita yakin itu jangan-jangan land subsidence yang nggak masuk dalam hitungan," jelasnya.

Dia mencontohkan, ruas jalan tol di beberapa titik sering kali harus ditambal karena permukaan tanah di sekitarnya terus turun.

Di Bandung sendiri, contoh kasus nyata adalah kawasan sekitar Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) di Gedebage. Dia mengatakan fondasi sejumlah bangunan di sekitar GBLA terlihat menonjol karena tanah di sekelilingnya mengalami penurunan. Sementara GBLA sendiri tak terpengaruh karena tanahnya sudah lebih dulu dimampatkan.

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Masa Depan Amblesan Tanah Bandung

Karena berada di kawasan lapisan tanah yang rapuh, salah satu tantangan besar adalah bagaimana pembangunan, terutama perumahan dan infrastruktur, dapat mempertimbangkan fenomena amblesan ini.

Pemerintah daerah melalui dinas terkait, seperti Dinas Tata Ruang, seharusnya memiliki data dan regulasi yang mempertimbangkan peta amblesan tanah dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan rencana detail tata ruang (RDTR). Namun, apakah pertimbangan ini sudah terintegrasi secara optimal, masih perlu dikonfirmasi.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 4 Desember 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 4 Desember 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Meskipun pengukuran dan pemetaan amblesan tanah sudah banyak dilakukan, khususnya di permukaan, Imam menyoroti kurangnya data di bawah permukaan.

"Kegiatan tersebut lebih banyak dilakukan di permukaan, sementara di bawah permukaan masih belum masif. Jadi kita nggak tahu mana sih yang terdeformasi," ujarnya. Memahami deformasi di bawah permukaan sangat penting untuk mengetahui biang kerok sebenarnya dan merumuskan mitigasi yang lebih efektif.

Penelitian lebih lanjut dengan data bor dan analisis geologi mendalam menjadi kunci untuk memprediksi dan memitigasi dampak amblesan tanah di Bandung di masa depan. Tanpa pemahaman komprehensif dari permukaan hingga bawah permukaan, Bandung masih akan terus menghadapi tantangan dari silent disaster yang mengancam stabilitas infrastruktur dan kesejahteraan masyarakatnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)