Jejak Bung Karno di Penjara Banceuy: Ketika Cicak Jadi Teman Seperjuangan

4 menit baca
Redaksi
Ditulis oleh Redaksi diterbitkan
Monumen Soekarno di Lapas Banceuy Bandung (Sumber: Ayobandung)
Monumen Soekarno di Lapas Banceuy Bandung (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID - Di balik riuhnya Jalan Braga dan Jalan Asia Afrika Bandung, berdiri sunyi sebuah monumen yang terlindung dari keramaian: bekas Penjara Banceuy. Lokasinya tak mencolok—tersembunyi di belakang ruko-ruko Kompleks Banceuy Permai, Jalan Banceuy—namun menyimpan jejak sejarah penting perjalanan bangsa. Di sinilah, pada akhir 1929, Soekarno bersama dua rekannya, Gatot Mangkupradja dan Maskun Sumadireja, menjalani hari-hari berat sebagai tahanan politik Hindia Belanda.

Tak banyak yang menyangka, di tempat sempit tak lebih dari 2x1,5 meter itulah Soekarno menggubah naskah pidato pembelaan legendarisnya: Indonesia Menggugat. Sebuah dokumen perlawanan yang kelak menjadi titik balik bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Penangkapan Bung Karno dan kawan-kawannya dimulai pada suatu subuh bulan Desember 1929. Kala itu mereka tengah berada di Yogyakarta dalam rangka kampanye politik Partai Nasional Indonesia (PNI). Tanpa banyak kata, aparat kolonial menculik mereka. Tak ada pengadilan. Tak ada peringatan. Hanya telegram rahasia dari pemerintah Hindia Belanda yang menyulut aksi itu.

Mereka dibawa dengan kereta gerbong tertutup menuju Bandung. Setelah turun di Stasiun Cicalengka, tubuh lunglai mereka diangkut dengan mobil menuju Penjara Banceuy—penjara paling tua dan paling sangar di kota itu, dibangun pada 1887 di wilayah yang dahulu dikenal sebagai Kampung Banceuy. Penjara itu biasanya ditempati para begal, rampok, dan penjahat berat. Kini, tiga tokoh pergerakan bangsa ikut menyicip dinding dingin dan pintu-pintu besi tempat para kriminal biasa menghuni.

Soekarno ditempatkan di sel nomor 5. Gatot menempati nomor 7, sementara Maskun di nomor 9. “Tidak ada perlengkapan lainnya kecuali tempat minum dari kaleng. Selain itu, ada pula kaleng segi empat untuk buang air besar dan kecil yang harus dibersihkan setiap pagi,” tulis Her Suganda dalam Jejak Soekarno di Bandung (2015).

Baca Juga: Wajit Cililin, Simbol Perlawanan Kaum Perempuan terhadap Kolonialisme

Sel sempit itu ia gambarkan pada Cindy Adams, penulis biografinya, seperti peti mati. “Aku adalah seorang yang biasa rapi dan pemilih,” ungkap Soekarno dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. “Aku adalah seorang yang suka memuaskan perasaan, menyukai pakaian bagus, makanan enak, mencintai sesuatu dan tidak dapat menahankan pengasingan kekotoran, kekakuan dan penghinaan-penghinaan keji yang tidak terhitung banyaknya dari kehidupan tawanan.”

Cicak, Kaleng, dan Surat Kabar Rahasia

Hari-hari Soekarno di penjara nyaris tanpa hiburan. Membaca surat kabar dilarang keras. Begitu pula aktivitas lain yang bisa membuatnya "terhibur". Di tengah kekosongan, Soekarno akhirnya menjalin "pertemanan" dengan cicak-cicak di dinding sel.

Kepada Cindy Adams, dia bercerita. “Makanan kami diantarkan ke sel. Jadi apabila cicak-cicakku berkumpul, aku pun memberinya makan. Kuulurkan sebutir nasi dan menantikan seekor cicak kecil merangkak dari atas loteng,” katanya. “Tentu ia akan merangkak turun di dinding, mengintip kepadaku dengan mata seperti butiran mutiara, kemudian melompat dan memungut nasi itu, lalu lari lagi.”

Soekarno di depan Pengadilan Bandung tahun 1930. (Sumber: Wikimedia)
Soekarno di depan Pengadilan Bandung tahun 1930. (Sumber: Wikimedia)

Tapi tak selamanya sunyi. Salah satu sipir penjara, yang merasa iba, mulai memperbolehkan Bung Karno membaca surat kabar. Diam-diam, ia diberikan koran De Preangerbode dan Sipatahoenan—surat kabar yang dipimpin Otto Iskandardinata dan memuat perkembangan terbaru PNI.

Dari situlah lahir jaringan "estafet koran" di antara para tahanan. Lewat seutas benang yang diselipkan di celah pintu besi dan dinding sel, Soekarno mengoper surat kabar itu ke sel Maskun. Maskun menarik ujung benangnya pelan-pelan, lalu mengirimkannya lagi ke sel berikutnya.

Koran itu akhirnya sampai ke sel nomor 11, tempat Suriadinata—seorang pemuda propagandis PNI dari Cianjur—ikut ditahan. Ketukan-ketukan kecil di dinding menjadi sandi. Kaleng-kaleng tempat buang hajat menjadi tempat sembunyi-sembunyi menyimpan naskah. Dari dalam sel yang katanya peti mati itu, mereka justru menyusun strategi hidup.

Dalam pengasingan itu pula, Soekarno mulai menyusun pidato pembelaannya. Sebuah dokumen panjang yang kelak dibacakan di depan hakim kolonial di Gedung Landraad, Bandung. Judulnya singkat, namun penuh makna: Indonesia Menggugat.

Pledoi ini bukan sekadar pembelaan. Bukan juga upaya merayu hukum kolonial agar membebaskannya. Sebaliknya, naskah itu adalah dakwaan balik: terhadap kolonialisme, terhadap ketidakadilan, dan terhadap kekuasaan asing yang mencengkeram negeri ini.

Tak mudah menyusun naskah seperti itu di balik jeruji besi. Bung Karno melakukannya dengan kertas yang diperoleh diam-diam, dan menyembunyikannya dengan hati-hati. Ia hafalkan bagian-bagian pentingnya karena sewaktu-waktu penjagaan bisa berubah menjadi represif lagi.

“Indonesia bukan sekadar nama. Indonesia adalah tanah air, Indonesia adalah rakyat, dan Indonesia adalah cita-cita merdeka yang tak bisa dibungkam,” begitulah semangat yang ia tanamkan dalam naskah itu.

Baca Juga: Batulayang Dua Kali Hilang, Direbus Raja Jawa dan Dihapus Kompeni Belanda

Ketika akhirnya hari persidangan tiba, Soekarno berdiri di ruang Landraad yang sesak oleh penjagaan dan para pengunjung. Ia membacakan Indonesia Menggugat dengan lantang dan penuh keyakinan. Naskah itu menggema, tak hanya di Bandung, tapi juga di seantero Hindia Belanda. Pers dan rakyat memperbincangkannya. Para aktivis menjadikannya sebagai pegangan.

Dan dunia tahu: Indonesia belum merdeka, tapi ia tak lagi bungkam.

Kini, Penjara Banceuy sudah tidak lagi berfungsi. Yang tersisa hanya satu bangunan kecil dan satu sel yang dulu ditempati Bung Karno: sel nomor 5. Di dalamnya kini berdiri patung Bung Karno berlapis cat emas, tengah memegang buku. Di sampingnya, terpajang kisah perjuangan dalam bentuk kronik visual dan tulisan.

Walaupun monumen kecil ini kalah pamor dibanding gedung-gedung tua di sekitar Braga dan Asia Afrika. Tapi ia menyimpan kisah yang lebih megah dari sekadar bata dan semen. Di dalam ruang sempit itu, lahir ide-ide besar. Di tempat yang disebut "peti mati", tumbuh semangat yang tak pernah mati.

Bung Karno memang pernah ditawan di Banceuy. Tapi pikirannya, seperti cicak-cicak kecil yang setia menemaninya, terus merayap ke luar. Menyeberangi jeruji, melompati dinding, lalu mengukir sejarah.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)