Asal-usul Kesibukan Kita: Halloween, Reformasi Protestan, dan Peradaban Modern

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Rabu 14 Jan 2026, 19:13 WIB
Ilustrasi sedang bekerja. (Sumber: Pexels | Foto: Tim Gouw)

Ilustrasi sedang bekerja. (Sumber: Pexels | Foto: Tim Gouw)

Sejak kapan kita mulai sibuk? Pas bangun pagi dengan mata masih berat, buru-buru memilih prioritas notifikasi di hp. Lalu tiba-tiba sepuluh menit terbang begitu saja mengarungi feed Instagram dan konten TikTok, sambil menatap kehidupan orang lain dengan sedikit iri, sedikit penasaran.

Bergegaslah kita berangkat, masuk ke dalam dunia. Totebag digantung di bahu, kopi panas di tangan. Motor berseliweran di jalan, ojek online menyalip. Laptop dibuka, email, chat grup, slide presentasi, link dokumen, semua saling menumpuk.

Kita adalah mereka yang terburu-buru menuntaskan deadline. Yang baru tersadar bahwa malam telah menyelimuti hari demi hari lagi. Kita juga adalah mereka yang kesulitan membedakan self-reward, healing, atau work-life balance, dengan ideologi konsumerisme. Gantungan kunci, aksesoris hp, lunch box, hingga langganan aplikasi berbayar, jadi bagian dari printilan lucu yang katanya menghiasi hidup kita.

Dan ini bukan sekadar sitiran kecil dari narasi kehidupan modern yang padat dan hectic. Sebab ada yang membentang panjang dan menjadi biang dari semua vibes ini. Percaya atau tidak, banyak rupa hustle culture, FOMO, sampai sedentary lifestyle yang kita jalani sehari-hari datang sesuatu yang sangat serius.

Serius? Ya, dua-tiga bahkan 1000%-rius. Hal-hal yang tampak sekuler dan duniawi, seperti itu, mungkin sekarang kita kenali sebatas tren kekinian atau budaya populer. Tapi yakinlah, ia menancap pada nilai luhur yang telah dibentuk jauh sebelum kita lahir.

Sesuatu itu ialah agama. Yang kini dipandang penting di antara kita sekalian juga dinilai riskan buat terlalu diumbar. Namun begitu, suka tidak suka, ia tidak menjadi pilihan personal saja. Agama adalah kerangka luas yang menjiwai budaya, menghidupkan cara kita menjalani segalanya entah disadari ataupun cukup disikapi dengan bodo amat.

Akar Ingar-Bingar Modernitas

Lanskap pokok yang secara khusus menaruh kita di abad ini, yang deras mengalir ke setiap kebiasaan, prioritas, dan ambisi kita, dapat ditelusuri ke jantung Protestantisme yang muncul di dunia Kekristenan Barat. Ya, sebuah tradisi keagamaan yang seakan-akan jadi ghost writer buat merancang cara kerja modern kita.

Nilai-nilai Protestan tidak tersebar terbatas pada pray, praise, and worship, saat teduh, atau pola komunitas gerejawi. Max Weber lewat “The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism” (terjemahan bahasa Inggris, 1930) pernah bilang kalau etos Protestan itu jadi pondasi bagi kapitalisme modern. Kerja keras bukan cuma buat duit, tapi juga semacam badge moral. Dalam gagasan ini dijelaskan bahwa keberhasilan material adalah tanda integritas dan ketekunan individu.

Dikatakannya bahwa ajaran Calvinis (salah satu aliran di tubuh Protestan) menekankan doktrin predestinasi, bahwa keselamatan sudah ditentukan Tuhan sejak awal. Hal inilah yang mendorong orang di sana buat menunjukkan tanda-tanda keterpilihan lewat kerja keras, disiplin, dan kesuksesan duniawi. Dari sana, etos kerja dan pencapaian material adalah juga tentang ekspresi teologis.

Ilustrasii redefinisi beban ganda bagi ibu pekerja. (Sumber: Unsplash)
Ilustrasii redefinisi beban ganda bagi ibu pekerja. (Sumber: Unsplash)

Lynn White Jr. dalam “The Historical Roots of Our Ecologic Crisis” (1967) menyoroti sisi yang berbeda yang lumayan senada. Memang tidak menunjuk spesifik pada Protestan, tapi baginya Kristen Barat telah berhasil menempatkan manusia selaku penguasa alam yang bikin kita merasa dunia bisa diatur, dimaksimalkan, dan dimanfaatkan.

Mentalitas ini menyebar ke budaya Barat, masuk ke cara hidup global, termasuk kita di dalamnya. Hal ini juga yang bikin krisis ekologis terasa nyata. Kita hidup di sebuah zaman kemajuan, tapi relasi sama alam jadi kelempar.

Sola Scriptura

Semua ini bermula di tahun 1517 di Wittenberg, Jerman, saat Martin Luther menempelkan 95 tesisnya di pintu gereja. Ia menentang praktik indulgensi yang saat itu lagi nge-hype.

FYI saja, indulgensi ini terkait dengan perayaan akhir Oktober yang kita kenal sekarang sebagai Halloween. Halloween sendiri di akar Katolik dulu adalah momen doa buat arwah, tapi penjualan indulgensi membuat banyak orang merasa keselamatan bisa dibeli.

Kritik Luther bukan cuma soal uang, tapi soal otoritas. Siapa yang berhak menentukan jalan keselamatan? Kemudian di sinilah muncul sola scriptura, bahwa hanya Alkitab yang jadi panduan, bukan otoritas gereja. Prinsip ini menekankan tanggung jawab dan penalaran akal budi pribadi.

Titik inilah yang memicu gelombang perubahan besar. Ide soal tanggung jawab individu yang lahir dari Reformasi Protestan tersebar ke berbagai aspek kehidupan Barat, mempersiapkan mentalitas yang mendukung revolusi-revolusi besar. Revolusi Ilmiah (abad ke-16-17) yang menegaskan metode rasional dan empiris sebagai standar kebenaran, Revolusi Amerika (1776) menegaskan demokrasi berbasis rakyat, dan Revolusi Perancis (1789) mengokohkan kebebasan, kesetaraan, juga hak warga.

Tentu yang tidak terlewat, Revolusi Industri di akhir abad ke-18-19, dengan tokoh seperti James Watt dan mesin uapnya, mengubah produksi manual jadi industri masal. Nilai efisiensi, produktivitas, dan inovasi yang lahir dari era ini kini terasa sampai berkembang istilah 4.0 dan 5.0. Start up, Internet of Things, AI, dan lain sebagainya.

Manusia ‘Aneh’

Pola kebudayaan inilah yang kemudian pada masa belakangan diringkas dalam satu istilah yang disebut WEIRD. Kepanjangan dari Western, Educated, Industrialized, Rich, Democratic.

(W)estern tampak dalam cara kita menempatkan Eropa Barat dan Amerika Utara sebagai role model kemajuan. Kuliah ke luar negeri, kerja di korporasi multinasional, gaya hidup urban, jam kerja profesional, sampai bahasa yang berlagak nginggris kaya tulisan ini sendiri. (E)ducated hadir dalam obsesi pada literasi, sertifikat, skill, self-improvement, dan keharusan untuk selalu upgrade diri. Entah lewat buku, podcast, aplikasi jejaring sosial profesional, atau konten berbagi cerita di media sosial.

(I)ndustrialized tercermin dalam skincare, gym, padel, pilates, diet kalori, aplikasi pelacak aktivitas olahraga, yang semuanya diarahkan pada budaya beli dan angan tubuh yang bisa lebih produktif. Semua supaya kita bisa masuk dalam gerbang industri. (R)ich muncul sebagai kecemasan sehari-hari tentang keamanan finansial. Takut tabungan tidak cukup, takut umur bertambah tapi karier stagnan. Dorongan beli gawai terkini, misalnya, seolah jadi “investasi” produktivitas yang selalu tepat.

Sementara (D)emocratic ada dalam keyakinan bahwa setiap dari kita berhak malah dituntut buat menentukan hidupnya sendiri. Kita bebas memilih jurusan, pekerjaan, gaya hidup, pasangan, keyakinan, sampai identitas diri. Kebebasan datang bersama tanggung jawab personal. Kalau hidup terasa mandek, refleksi pertama sering kali terarah pada diri sendiri bukan sistemnya yang kacau balau. 

Keseluruhan unsur ini membentuk lanskap kebudayaan yang memandang kita sebagai subjek otonom. Orang-orang yang pakai otaknya, lalu terus-menerus diminta mengelola dirinya sendiri dengan seefisien mungkin. Kita ada di dunia yang mengharuskan setiap orang buat merancang life goals-nya masing-masing. Memahami hidup sebagai proyek personal. Merasa harus “jadi versi terbaik dari dirimu sendiri”. 

Joseph Henrich inilah yang dalam “The WEIRDest People in the World” (2020), menyebut cara hidup kita hari ini sebagai WEIRD. Secara literal weird berarti ‘aneh’. Sebab dalam amatannya kita adalah sekelompok manusia yang secara statistik minoritas dalam sejarah manusia. Baik pada masa lalu sebelum Reformasi Gereja maupun pada persebaran kebudayaan non-Barat kontemporer.

Kita yang terbiasa mikir kalau karier harus dipilih atau passion harus ditemukan, adalah agregat pengecualian. Selain dari kita memandang kehidupan tak sesepi itu. Orang auto-lahir ke dalam peran sosial, ke dalam komunitas keluarga besar, klan, suku, apapun. Tidak ada yang namanya krisis aku mau jadi apa.

Henrich-lah yang menelusuri akar paling dalam dari cara hidup ini, dan menemukannya pada tradisi Protestan. Sebagaimana sudah disinggung di atas bahwa ajaran soal kebenaran iman yang harus dicari sendiri lewat membaca Alkitab, juga berarti setiap orang kudu bisa baca. Harus paham. Harus mikir.

Agama tak lagi dititipkan kepada para klerus, keluarga, atau ritus bersama. Ia jadi urusan privat. Salah-benar ditanggung masing-masing.

Dari sini meledak budaya literasi. Sekolah. Buku. Catatan. Evaluasi. Perlahan, orang dilatih buat terbiasa duduk sendirian, membaca, mencerna, lalu mengambil sikap. Kebiasaan religius ini tanpa terasa berubah jadi kebiasaan hidup.

Dan dalam jangka panjang, lahirlah mentalitas yang sangat kita kenal hari ini. Individu yang harus bisa mengatur dirinya sendiri. Waktu dipantau. Target ditulis. Progress diukur. Dunia pun diperlakukan seperti sistem yang bisa di-manage. Termasuk diri sendiri. Termasuk burnout.

Inilah fondasi kebudayaan Barat modern. Cara hidup yang sekarang terasa normal bahkan keren, ternyata ia berangkat dari warisan religius yang panjang. Kita mungkin sudah tidak sadar lagi ke hulu gereja mana ia berasal, tapi logikanya masih kita pakai setiap hari. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 14 Jan 2026, 19:13 WIB

Asal-usul Kesibukan Kita: Halloween, Reformasi Protestan, dan Peradaban Modern

Dari tradisi religius sampai gelombang perubahan besar, budaya kerja keras, FOMO, dan obsesi produktivitas yang kita jalani sehari-hari ternyata punya akar sejarah yang panjang.
Ilustrasi sedang bekerja. (Sumber: Pexels | Foto: Tim Gouw)
Ayo Netizen 14 Jan 2026, 17:18 WIB

Belajar dari Buku 'Broken Strings': Berhenti Berharap Dia Berubah

Jangan biarkan 'dawai' hidupmu putus karena terlalu berharap dia berubah.
Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Jelajah 14 Jan 2026, 15:12 WIB

Sejarah Rumah Sakit Cicendo Bandung, Lawan Kebutaan Sejak 1909

Sejarah RS Mata Cicendo Bandung sejak era kolonial hingga menjadi Pusat Mata Nasional. Dari wabah trachoma sampai teknologi operasi mata modern.
RS Mata Cicendo, Bandung. (Sumber: rsmatacicendo.go.id)
Ayo Netizen 14 Jan 2026, 15:01 WIB

Melipir dari Kota: Pesona Magnetis Pinggiran Bandung

Mengajakmu 'melipir' ke 4 penjuru Bandung. Dari karst Barat hingga kabut Selatan, temukan pesona alam pinggiran yang melengkapi jiwa Bandung sejati.
Situ Cileunca di Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Jelajah 14 Jan 2026, 15:00 WIB

Hikayat Banjir Gedebage Zaman Kolonial, Bikin Gagal Panen dan Jalan Rusak

Dahulu sawah dan kampung yang tenggelam, kini perumahan dan jalan. Sejarah banjir Gedebage telah tercatat sejak kolonial.
Ilustrasi banjir zaman baheula.
Ayo Netizen 14 Jan 2026, 12:46 WIB

24 Jam Versi Risky Aly: Gaya Hidup Sang Peraih Double Degree dalam Satu Waktu

Tulisan ini menceritakan tentang gaya hidup disiplin Risky Aly, pemuda asal Bondowoso yang berhasil meraih double degree.
Foto Risky Aly ketika wisuda double degree. (Sumber: Dari Risky Aly setelah sesi wawancara selesai)
Ayo Netizen 14 Jan 2026, 10:19 WIB

Tes Kemampuan Akademik sebagai Perbaikan Mutu Pembelajaran

Seyogianya kualitas pendidikan di negeri ini harus terus ditingkatkan dari tahun ke tahun.
Ilustrasi sekolah di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: el jusuf)
Ayo Netizen 14 Jan 2026, 08:31 WIB

Dari Pinggiran Jalan: Menyambung Hidup untuk Kebutuhan Harian

Ketika kas tak lagi mampu menjaga kompor tetap menyala, kios kecil namun penuh makna.
Kios distro Dimas Angga menawarkan berbagai pakaian dan aksesori bergaya streetwear di pinggir jalan kawasan Pasar
Ciwastra pada malam hari di Kota Bandung (4/11/2025). (Sumber: Tito Andrean | Foto: Tito Andrean)
Beranda 14 Jan 2026, 07:30 WIB

Modal Kolaborasi dan Relasi, Cerita SeputarSoettaBdg Bertahan di Tengah Riuhnya Media di Bandung

Kisah SeputarSoettaBdg menjadi bukti bahwa di tengah riuhnya media besar di Bandung, kedekatan personal dan relasi antarwarga masih menjadi modal utama untuk bertahan.
Rezza Radian Zulfikar (kanan) dan Muhammad Saeful, pengelola homeless media seputarsoetta.bdg. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 19:48 WIB

Kenapa Americano Jadi Favorit Baru Anak Muda? Ini Manfaatnya!

Americano lagi viral karena rasanya ringan, dan kalorinya rendah.
Ini dia manfaat dari kopi Americano yang perlu kamu ketahui! (Sumber: Freepik)
Ayo Jelajah 13 Jan 2026, 18:47 WIB

Riwayat Bandung Tiris, saat Hawa Dingin Kepung Kota Cekungan

Letak geografis Bandung membuat udara dingin mudah terperangkap dan menciptakan sensasi sejuk hingga menggigil sejak dulu.
Ilustrasi cuaca dingin Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 18:04 WIB

Profesi dan Hobi Harus Seimbang: Seorang Guru SMA Membuktikan Ambisinya

Guru SMA Lisda Nurul Romdani sukses menaklukkan maraton dan trail run (35 km) di tengah jadwal padat, membuktikan ambisi, mental, dan konsistensi.
Lisda Nurul Romdani seorang guru SMA membuktikan hobinya sebanding dengan rutinitas mengajar saat mengikuti Half Marathon Pocari Sweat Run 2024 di Bandung. (Sumber: @lisdaanr | Foto: @fotoyu_official Pocari Sweet RUN 2024)
Ayo Biz 13 Jan 2026, 18:04 WIB

Kekurangan Vitamin D, Masalah Nutrisi Anak yang Masih Mengakar di Indonesia

Kekurangan vitamin D masih cukup sering ditemukan pada anak usia sekolah dan dapat berdampak pada kesehatan tulang dan gigi.
Ilustrasi kekurangan vitamin D masih menjadi masalah nutrisi yang cukup umum pada anak dan remaja, termasuk di Bandung. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 17:19 WIB

Resolusi 2026 Warga Bandung: Berharap Transportasi Umum yang Lebih Terintegrasi

Keluhan warga Bandung mengenai transportasi umum yang dinilai belum efisien dan kurang terintegrasi.
Suasana metro jabar trans dipenuhi penggunana di sore hari sepulang kerja (03/12/2025). (Sumber: Pribadi | Foto: M. Kamal Natanegara)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 16:18 WIB

Penyairan Masa Kini: Bahasa yang Mencari Rumah Baru

Penyair masa kini menjaga kedalaman di tengah riuh digital, merawat bahasa, melampaui klise, dan menghadirkan ruang hening saat dunia bergerak terlalu cepat.
Puisi mencari napas baru, sementara penyair menjaga jantung bahasanya. (Sumber: Pixnio/Bicanski)
Ayo Biz 13 Jan 2026, 16:06 WIB

Gen Z dari Scrolling ke Running, Gaya Hidup Baru yang Menggerakkan Pasar Kebugaran

Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru.
Ilustrasi. Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 14:34 WIB

'Doom Spending' dan Generasi yang Menyerah Membeli Masa Depan

Mengapa anak muda memilih "kebahagiaan kecil" yang mahal saat impian besar seperti rumah makin mustahil dicapai gaji UMR.
Ilustrasi dompet kosong. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 13:13 WIB

Bandung Makin Macet, Transportasi Umum Bisakah Jadi Penolong?

Kesenjangan Pusat Kota yang Diperhatikan dan Pinggiran Kota yang Terlupakan
Halte Cicaheum, Kota Bandung, yang sudah mulai usang dan banyak tumpukan sampah di belakang bangku, (3/12/25). (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Putriana Basar)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 11:37 WIB

Chopper: Sejarah dan Makna Desain Mesin Kebebasan Roda Dua

Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an.
Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an. (Sumber: Pexels | Foto: Rachel Claire)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 10:19 WIB

Tren Coffee Shop Jadi Markas Mahasiswa Bandung 'Ngebut Tugas' Menjelang UAS

Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.