Asal-usul Kesibukan Kita: Halloween, Reformasi Protestan, dan Peradaban Modern

6 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Ilustrasi sedang bekerja. (Sumber: Pexels | Foto: Tim Gouw)
Ilustrasi sedang bekerja. (Sumber: Pexels | Foto: Tim Gouw)

Sejak kapan kita mulai sibuk? Pas bangun pagi dengan mata masih berat, buru-buru memilih prioritas notifikasi di hp. Lalu tiba-tiba sepuluh menit terbang begitu saja mengarungi feed Instagram dan konten TikTok, sambil menatap kehidupan orang lain dengan sedikit iri, sedikit penasaran.

Bergegaslah kita berangkat, masuk ke dalam dunia. Totebag digantung di bahu, kopi panas di tangan. Motor berseliweran di jalan, ojek online menyalip. Laptop dibuka, email, chat grup, slide presentasi, link dokumen, semua saling menumpuk.

Kita adalah mereka yang terburu-buru menuntaskan deadline. Yang baru tersadar bahwa malam telah menyelimuti hari demi hari lagi. Kita juga adalah mereka yang kesulitan membedakan self-reward, healing, atau work-life balance, dengan ideologi konsumerisme. Gantungan kunci, aksesoris hp, lunch box, hingga langganan aplikasi berbayar, jadi bagian dari printilan lucu yang katanya menghiasi hidup kita.

Dan ini bukan sekadar sitiran kecil dari narasi kehidupan modern yang padat dan hectic. Sebab ada yang membentang panjang dan menjadi biang dari semua vibes ini. Percaya atau tidak, banyak rupa hustle culture, FOMO, sampai sedentary lifestyle yang kita jalani sehari-hari datang sesuatu yang sangat serius.

Serius? Ya, dua-tiga bahkan 1000%-rius. Hal-hal yang tampak sekuler dan duniawi, seperti itu, mungkin sekarang kita kenali sebatas tren kekinian atau budaya populer. Tapi yakinlah, ia menancap pada nilai luhur yang telah dibentuk jauh sebelum kita lahir.

Sesuatu itu ialah agama. Yang kini dipandang penting di antara kita sekalian juga dinilai riskan buat terlalu diumbar. Namun begitu, suka tidak suka, ia tidak menjadi pilihan personal saja. Agama adalah kerangka luas yang menjiwai budaya, menghidupkan cara kita menjalani segalanya entah disadari ataupun cukup disikapi dengan bodo amat.

Akar Ingar-Bingar Modernitas

Lanskap pokok yang secara khusus menaruh kita di abad ini, yang deras mengalir ke setiap kebiasaan, prioritas, dan ambisi kita, dapat ditelusuri ke jantung Protestantisme yang muncul di dunia Kekristenan Barat. Ya, sebuah tradisi keagamaan yang seakan-akan jadi ghost writer buat merancang cara kerja modern kita.

Nilai-nilai Protestan tidak tersebar terbatas pada pray, praise, and worship, saat teduh, atau pola komunitas gerejawi. Max Weber lewat “The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism” (terjemahan bahasa Inggris, 1930) pernah bilang kalau etos Protestan itu jadi pondasi bagi kapitalisme modern. Kerja keras bukan cuma buat duit, tapi juga semacam badge moral. Dalam gagasan ini dijelaskan bahwa keberhasilan material adalah tanda integritas dan ketekunan individu.

Dikatakannya bahwa ajaran Calvinis (salah satu aliran di tubuh Protestan) menekankan doktrin predestinasi, bahwa keselamatan sudah ditentukan Tuhan sejak awal. Hal inilah yang mendorong orang di sana buat menunjukkan tanda-tanda keterpilihan lewat kerja keras, disiplin, dan kesuksesan duniawi. Dari sana, etos kerja dan pencapaian material adalah juga tentang ekspresi teologis.

Ilustrasii redefinisi beban ganda bagi ibu pekerja. (Sumber: Unsplash)
Ilustrasii redefinisi beban ganda bagi ibu pekerja. (Sumber: Unsplash)

Lynn White Jr. dalam “The Historical Roots of Our Ecologic Crisis” (1967) menyoroti sisi yang berbeda yang lumayan senada. Memang tidak menunjuk spesifik pada Protestan, tapi baginya Kristen Barat telah berhasil menempatkan manusia selaku penguasa alam yang bikin kita merasa dunia bisa diatur, dimaksimalkan, dan dimanfaatkan.

Mentalitas ini menyebar ke budaya Barat, masuk ke cara hidup global, termasuk kita di dalamnya. Hal ini juga yang bikin krisis ekologis terasa nyata. Kita hidup di sebuah zaman kemajuan, tapi relasi sama alam jadi kelempar.

Sola Scriptura

Semua ini bermula di tahun 1517 di Wittenberg, Jerman, saat Martin Luther menempelkan 95 tesisnya di pintu gereja. Ia menentang praktik indulgensi yang saat itu lagi nge-hype.

FYI saja, indulgensi ini terkait dengan perayaan akhir Oktober yang kita kenal sekarang sebagai Halloween. Halloween sendiri di akar Katolik dulu adalah momen doa buat arwah, tapi penjualan indulgensi membuat banyak orang merasa keselamatan bisa dibeli.

Kritik Luther bukan cuma soal uang, tapi soal otoritas. Siapa yang berhak menentukan jalan keselamatan? Kemudian di sinilah muncul sola scriptura, bahwa hanya Alkitab yang jadi panduan, bukan otoritas gereja. Prinsip ini menekankan tanggung jawab dan penalaran akal budi pribadi.

Titik inilah yang memicu gelombang perubahan besar. Ide soal tanggung jawab individu yang lahir dari Reformasi Protestan tersebar ke berbagai aspek kehidupan Barat, mempersiapkan mentalitas yang mendukung revolusi-revolusi besar. Revolusi Ilmiah (abad ke-16-17) yang menegaskan metode rasional dan empiris sebagai standar kebenaran, Revolusi Amerika (1776) menegaskan demokrasi berbasis rakyat, dan Revolusi Perancis (1789) mengokohkan kebebasan, kesetaraan, juga hak warga.

Tentu yang tidak terlewat, Revolusi Industri di akhir abad ke-18-19, dengan tokoh seperti James Watt dan mesin uapnya, mengubah produksi manual jadi industri masal. Nilai efisiensi, produktivitas, dan inovasi yang lahir dari era ini kini terasa sampai berkembang istilah 4.0 dan 5.0. Start up, Internet of Things, AI, dan lain sebagainya.

Manusia ‘Aneh’

Pola kebudayaan inilah yang kemudian pada masa belakangan diringkas dalam satu istilah yang disebut WEIRD. Kepanjangan dari Western, Educated, Industrialized, Rich, Democratic.

(W)estern tampak dalam cara kita menempatkan Eropa Barat dan Amerika Utara sebagai role model kemajuan. Kuliah ke luar negeri, kerja di korporasi multinasional, gaya hidup urban, jam kerja profesional, sampai bahasa yang berlagak nginggris kaya tulisan ini sendiri. (E)ducated hadir dalam obsesi pada literasi, sertifikat, skill, self-improvement, dan keharusan untuk selalu upgrade diri. Entah lewat buku, podcast, aplikasi jejaring sosial profesional, atau konten berbagi cerita di media sosial.

(I)ndustrialized tercermin dalam skincare, gym, padel, pilates, diet kalori, aplikasi pelacak aktivitas olahraga, yang semuanya diarahkan pada budaya beli dan angan tubuh yang bisa lebih produktif. Semua supaya kita bisa masuk dalam gerbang industri. (R)ich muncul sebagai kecemasan sehari-hari tentang keamanan finansial. Takut tabungan tidak cukup, takut umur bertambah tapi karier stagnan. Dorongan beli gawai terkini, misalnya, seolah jadi “investasi” produktivitas yang selalu tepat.

Sementara (D)emocratic ada dalam keyakinan bahwa setiap dari kita berhak malah dituntut buat menentukan hidupnya sendiri. Kita bebas memilih jurusan, pekerjaan, gaya hidup, pasangan, keyakinan, sampai identitas diri. Kebebasan datang bersama tanggung jawab personal. Kalau hidup terasa mandek, refleksi pertama sering kali terarah pada diri sendiri bukan sistemnya yang kacau balau. 

Keseluruhan unsur ini membentuk lanskap kebudayaan yang memandang kita sebagai subjek otonom. Orang-orang yang pakai otaknya, lalu terus-menerus diminta mengelola dirinya sendiri dengan seefisien mungkin. Kita ada di dunia yang mengharuskan setiap orang buat merancang life goals-nya masing-masing. Memahami hidup sebagai proyek personal. Merasa harus “jadi versi terbaik dari dirimu sendiri”. 

Joseph Henrich inilah yang dalam “The WEIRDest People in the World” (2020), menyebut cara hidup kita hari ini sebagai WEIRD. Secara literal weird berarti ‘aneh’. Sebab dalam amatannya kita adalah sekelompok manusia yang secara statistik minoritas dalam sejarah manusia. Baik pada masa lalu sebelum Reformasi Gereja maupun pada persebaran kebudayaan non-Barat kontemporer.

Kita yang terbiasa mikir kalau karier harus dipilih atau passion harus ditemukan, adalah agregat pengecualian. Selain dari kita memandang kehidupan tak sesepi itu. Orang auto-lahir ke dalam peran sosial, ke dalam komunitas keluarga besar, klan, suku, apapun. Tidak ada yang namanya krisis aku mau jadi apa.

Henrich-lah yang menelusuri akar paling dalam dari cara hidup ini, dan menemukannya pada tradisi Protestan. Sebagaimana sudah disinggung di atas bahwa ajaran soal kebenaran iman yang harus dicari sendiri lewat membaca Alkitab, juga berarti setiap orang kudu bisa baca. Harus paham. Harus mikir.

Agama tak lagi dititipkan kepada para klerus, keluarga, atau ritus bersama. Ia jadi urusan privat. Salah-benar ditanggung masing-masing.

Dari sini meledak budaya literasi. Sekolah. Buku. Catatan. Evaluasi. Perlahan, orang dilatih buat terbiasa duduk sendirian, membaca, mencerna, lalu mengambil sikap. Kebiasaan religius ini tanpa terasa berubah jadi kebiasaan hidup.

Dan dalam jangka panjang, lahirlah mentalitas yang sangat kita kenal hari ini. Individu yang harus bisa mengatur dirinya sendiri. Waktu dipantau. Target ditulis. Progress diukur. Dunia pun diperlakukan seperti sistem yang bisa di-manage. Termasuk diri sendiri. Termasuk burnout.

Inilah fondasi kebudayaan Barat modern. Cara hidup yang sekarang terasa normal bahkan keren, ternyata ia berangkat dari warisan religius yang panjang. Kita mungkin sudah tidak sadar lagi ke hulu gereja mana ia berasal, tapi logikanya masih kita pakai setiap hari. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Jul 2026, 20:11

Masih Ada Asa untuk Pos Indonesia

Sektor logistik merupakan asa bagi karyawan Posindo.

Ilustrasi kondisi Posindo yang sedang menghadapi badai disrupsi namun masih ada harapan yang tersisa. (Sumber: Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 18:20

Saat Medium Musik Menjadi Jembatan Emosi antara Institusi dan Publik

Konsistensi gaya komunikasi mampu memperkuat hubungan antara institusi dan publik.

konsistensi gaya komunikasi mampu memperkuat hubungan antara institusi dan publik. (Sumber: https://newsroom.spotify.com)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 18:01

Bagaimana Perusahaan Kosmetik Global Membentuk Opini Publik di Era Media Sosial?

Kunci keberhasilan strategi PR digital dalam membentuk opini publik yang positif dan berkelanjutan.

Kunci keberhasilan strategi PR digital dalam membentuk opini publik yang positif dan berkelanjutan. (Ilustrasi oleh AI)
Wisata & Kuliner 22 Jul 2026, 17:45

Wisata Edukasi Museum ITB Sabuga: Lokasi, Harga Tiket, dan Fasilitas

Berencana mengunjungi Museum ITB? Ketahui harga tiket, cara pemesanan online, jam buka, lokasi, dan fasilitas museum terbaru di Kampus Ganesha Bandung.

Museum ITB. (Sumber: Instagram @indonesiaartdocumentary)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 17:15

Butiran Debu Kapur yang Mengundang Gangguan Saluran Pernapasan

Sepanjang jalan dengan pemandangan pohon berwarna putih saya kira karena warnanya ternyata ada serpihan debu dari pertambangan. Dampaknya terhadap gangguan pernapasan perlu diperhatikan

Pohon yang penuh debu halus dari pertambangan kapur. (Minggu, 19/06/2025) (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 16:48

Festival Film Bandung, Jejak Panjang Apresiasi Independen Perfilman Indonesia

Selama hampir empat dekade, Festival Film Bandung terus bertahan melewati berbagai fase perkembangan sinema nasional.

Pengumuman daftar nominasi Festival Film Bandung (FFB) 2026 yang digelar di Gulapadi, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Kamis, 16 Juli 2026. (Foto: Ratna Ayu Budhiarti)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 15:10

Parkir Kendaraan Konvensional di Area Pengisian Daya: Pelanggaran Etika dan Mengganggu Fungsi SPKLU

Parkir kendaraan konvensional di area pengisian daya bukan sekadar pelanggaran etika. Praktik ini dapat mengganggu fungsi SPKLU, mengurangi keandalan layanan, dan menurunkan kenyamanan pengguna.

Kendaraan konvensional yang parkir di area pengisian daya kendaraan listrik pada sebuah SPKLU di Kota Bandung. (Foto: Angga Marditama)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 13:14

Bandung dalam Bayang-Bayang Begal: Realitas atau Efek Viral?

Begal, dengan segala unsur ketegangan dan ancamannya, menjadi “konten” yang nyaris sempurna.

Tersangka Begal di Kawasan Cicendo Kota Bandung, beberapa waktu lalu. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Kurniawan)
Ikon 22 Jul 2026, 12:58

Pempek Palembang, Warisan Kuliner Legendaris dengan Sejarah dari Era Sriwijaya

Pempek Palembang bukan sekadar makanan khas Sumatera Selatan. Simak sejarah, bahan utama, jenis-jenis pempek, dan kisah cuko yang membuatnya mendunia.

Pempek Palembang, salah satu kuliner legendaris Indonesia.
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 11:02

Gunung Pangradinan: Ketika Pendakian Singkat Menjadi Perjalanan yang Berkesan

Pendakian tektok ke Gunung Pangradinan membuktikan bahwa perjalanan terbaik bukan hanya soal puncak, tetapi juga orang-orang yang ditemui di sepanjang jalan.

Potret kebersamaan yang diambil saat berada di puncak Gunung Pangradinan (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Sifa Nurfauziah)
Beranda 22 Jul 2026, 08:33

Air Situ Ciburuy Menyusut, Dasar Danau Berusia 1 Abad Ini Perlahan Terbuka

Kemarau panjang yang diprediksi BMKG berlangsung hingga Oktober membuat debit air Situ Ciburuy terus surut, hingga dasar bendungan bersejarah berusia satu abad itu mulai terlihat.

Fenomena tahunan menyusutnya air Situ Ciburuy kian terasa di musim kemarau ini, berdampak langsung pada sektor pertanian, pariwisata lokal, hingga aktivitas warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 22 Jul 2026, 08:00

Rendezvous Masa Lalu dan Kini di Tanah Pasundan

Bagaimana membaca ingatan antara masa lalu dan kini. Titik pertemuan ini adalah sebuah rendezvous.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 19:52

Menilik Komunikasi Digital dalam Publikasi Peluncuran Layanan Kereta Api

Penggunaan kata kunci pada website dan Instagram memiliki fokus informasi yang sama kepada seluruh masyarakat pembaca digital.

Ilustrasi komunikasi digital layanan kereta api. (AI)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 17:12

Propaganda Masa Pendudukan Jepang di Bandung

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik.

Propaganda-propaganda Jepang ini dibentuk untuk menarik simpati dari publik. (Foto: wowshack.com)
Wisata & Kuliner 21 Jul 2026, 17:05

Lontong Balap, Kuliner Ikonik Surabaya yang Lahir dari Para Pedagang Berlari

Sejarah lontong balap Surabaya, dari tradisi pedagang memikul kemaron hingga menjadi salah satu makanan khas Jawa Timur yang paling legendaris.

Lontong Balap khas Surabaya. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:20

Time Travel Seru bareng Cerita Bunda: Menguak Sejarah dan Thrifting Perangko di Museum Pos Bandung!

Kemarin, hari Sabtu tanggal 18 Juli 2026, saya bareng 20 orang teman-teman dari komunitas Cerita Bunda, main ke Museum Pos Indonesia. Mari simak keseruannya!

Foto 1 Peserta Komunitas Cerita Bunda Sedang Thrifting Perangko dan Postcard. (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 16:07

Tren Manusia Digital: Ketika Live Streamer menjadi Pekerjaan Baru bagi Masyarakat

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun dibalik gemerlap dunia maya seringkali menyisakan moral dan budaya yang semakin terkikis.

Media sosial memang kerap membuka banyak peluang bagi masyarakat. Namun terkadang ada harga yang dibayar untuk moral. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 15:32

Kampanye Digital Akhir Tahun Terbesar Raih Lebih dari 200 Juta Pengguna dalam Satu Hari

Spotify Wrapped 2025 jadi kampanye digital akhir tahun terbesar dengan lebih dari 200 juta pengguna dalam 24 jam pertama dan lebih dari 500 juta kali dibagikan di TikTok, Instagram, dan X.

Ilustrasi platform musik. (Sumber: Pexels | Foto: Breakingpic)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 14:48

Pengembangan Stadion GBLA dan Pusat Produk Peralatan Olahraga

Pentingnya transformasi stadion olahraga dengan ekosistem yang memberikan tempat untuk menumbuhkan industri produk peralatan olahraga

Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 21 Jul 2026, 12:06

Tangkis Tengkes untuk Generasi Emas Bandung

Urusan stunting pada dasarnya kompleks dan penuh perjuangan dengan menggunakan pendekatan multi sektor dan multi disiplin.

Pencegahan stunting di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)