Sumpah Pemuda Jangan Cuma Gagah di Kata

5 menit baca
Totok Siswantara
Ditulis oleh Totok Siswantara diterbitkan
Ilustrasi peringatan Sumpah Pemuda 2026 pentignnya mencegah layunya bunga demokrasi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ilustrasi peringatan Sumpah Pemuda 2026 pentignnya mencegah layunya bunga demokrasi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Dari tahun ke tahun makna peringatan Hari Sumpah Pemuda lewat begitu saja. Yang ada cuma seremonial di sekolah dan instansi pemerintah yang itu-itu saja. Makna Sumpah Pemuda belum menggelora menjadi pekik semesta yang menggerakkan segenap potensi bangsa.

Rutinitas semu yang menjemukan berupa Peringatan Hari Sumpah Pemuda (HSP) ke-98 pada 28 Oktober 2026 kali ini diberi tema terkesan bombastis, “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”.

Kita prihatin apabila potensi besar generasi muda belum sepenuhnya terserap dalam kegiatan produktif. Indonesia memiliki sumber daya alam, pasar domestik yang luas, dan jutaan penduduk usia produktif. Namun, potensi itu belum otomatis menjadikan bangsa ini mandiri dalam teknologi, industri, dan penciptaan lapangan kerja.

Kita membutuhkan lebih banyak pemuda yang bukan sekadar menjadi konsumen produk teknologi dari luar negeri, melainkan mampu menciptakan produk, mengembangkan inovasi, dan menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Bonus Demografi Jangan Lewat Begitu Saja

Indonesia memiliki modal manusia yang besar. Sebagian besar penduduknya berada dalam kelompok usia produktif 15–64 tahun. Besarnya kelompok ini membuka peluang untuk mempercepat pembangunan ekonomi, asalkan tersedia pendidikan bermutu, keterampilan yang relevan, dan kesempatan kerja yang layak.

Namun, bonus demografi bukan hadiah yang otomatis membawa kemakmuran. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya kelompok pemuda yang masuk kategori NEET (Not in Education, Employment, or Training), yaitu mereka yang tidak sedang bersekolah atau menempuh pendidikan, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan kerja.

Kelompok NEET tidak selalu berarti penganggur yang sedang mencari pekerjaan. Didalamnya juga terdapat pemuda yang menghadapi hambatan untuk melanjutkan pendidikan, memperoleh pekerjaan, atau mengikuti pelatihan keterampilan. Kondisi ini menjadi peringatan bahwa sebagian potensi generasi muda belum terhubung dengan jalur pendidikan dan kegiatan produktif.

Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan ijazah. Sekolah, perguruan tinggi, dan pendidikan vokasi harus membekali pemuda dengan keterampilan teknis, kecakapan digital, kreativitas, serta kemampuan memecahkan masalah. Mereka juga perlu diberi ruang untuk membangun usaha dan menciptakan lapangan kerja.

Berdikari Bukan Berarti Menutup Pintu

Semangat berdikari bukan berarti Indonesia harus menolak investasi asing, perdagangan internasional, atau kerjasama teknologi. Justru, keterbukaan global perlu dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan bangsa sendiri.

Persoalannya muncul ketika Indonesia hanya menjadi pasar produk asing, sementara penguasaan desain, rekayasa, riset, dan teknologi tetap berada di luar negeri. Kita membutuhkan kebijakan industri yang mendorong perusahaan mengembangkan kemampuan tenaga ahli lokal dan memperluas kegiatan penelitian di Indonesia.

Begitu pula dengan utang. Semangat anti utang sebaiknya diarahkan pada penolakan terhadap ketergantungan pembiayaan yang tidak produktif. Pinjaman untuk membangun infrastruktur, pendidikan, dan industri dapat memberikan manfaat apabila dikelola secara sehat dan menghasilkan kapasitas ekonomi yang memadai.

Sebaliknya, pembiayaan yang tidak menghasilkan nilai tambah berisiko membebani generasi berikutnya. Kemandirian bangsa perlu diukur dari kemampuannya menghasilkan pendapatan, menguasai teknologi, memperluas pekerjaan bermutu, dan membiayai pembangunan secara berkelanjutan.

Belajar dari India

India memberikan pelajaran menarik tentang pengembangan ekosistem teknologi. Negara tersebut berhasil membangun pusat rekayasa perangkat lunak, layanan digital, dan penelitian yang terhubung dengan perusahaan global.

Keberhasilan itu tidak semata-mata berasal dari banyaknya lulusan teknik. India juga mengembangkan hubungan antara perguruan tinggi, industri, investasi, dan pasar tenaga kerja. Tenaga profesional memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kompetensi sekaligus menghasilkan nilai tambah.

Indonesia dapat mengambil pelajaran dari pendekatan tersebut. Kita perlu memperkuat hubungan antara pendidikan dan industri, memperluas pelatihan teknologi, serta mendorong investasi yang tidak hanya menciptakan pekerjaan, tetapi juga meningkatkan kemampuan rekayasa dan riset nasional.

Industri pengolahan hasil pertanian, mesin, farmasi, komponen elektronik, energi, transportasi, dan perangkat lunak memiliki peluang untuk dikembangkan. Dengan penguasaan desain dan teknologi proses, Indonesia dapat meningkatkan posisi dalam rantai pasok global.

Hari Sumpah Pemuda meneguhkan kembali budaya, etika, dan moral di tengah perubahan zaman (Sumber: magnific.com)
Hari Sumpah Pemuda meneguhkan kembali budaya, etika, dan moral di tengah perubahan zaman (Sumber: magnific.com)

Ruang Kreativitas untuk Pemuda

Budaya inovasi tidak boleh berhenti pada seminar, perlombaan, atau seremoni tahunan. Pemuda membutuhkan ruang kreativitas yang dapat digunakan untuk bereksperimen, belajar, dan mengembangkan karya.

Pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, dan dunia usaha dapat membangun bengkel inovasi, laboratorium bersama, pusat pelatihan digital, serta ruang kerja kolaboratif dengan biaya terjangkau.

Fasilitas tersebut harus disertai mentor, peralatan, pelatihan, dan akses pendanaan. Pemuda yang mampu menciptakan alat pertanian, aplikasi digital, teknologi pengolahan sampah, atau perangkat penghemat energi perlu memperoleh kesempatan mengembangkan prototipe menjadi produk yang digunakan masyarakat.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mestinya mampu memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi, industri, dan komunitas. Penelitian harus semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Kurikulum sekolah juga perlu memberikan ruang lebih luas bagi pembelajaran berbasis proyek, eksperimen, dan pemecahan masalah.

Budaya inovasi membutuhkan keberanian mencoba, kesediaan memperbaiki kegagalan, dan penghargaan terhadap karya. Kreativitas tidak tumbuh subur apabila pemuda hanya dituntut mengikuti pola yang seragam tanpa diberi kesempatan mengembangkan gagasan.

Gotong Royong Membangun Kemandirian

Indonesia membutuhkan lebih banyak intelektual publik dari kalangan insinyur, ilmuwan, guru, pengusaha, peneliti, dan profesional berbagai bidang. Mereka dapat berkolaborasi dengan pemuda untuk menyelesaikan persoalan nyata, mulai dari banjir, sampah, transportasi, energi, hingga pertanian.

Kolaborasi semacam ini perlu memiliki sasaran yang jelas. Keberhasilannya bukan diukur dari banyaknya pertemuan, melainkan dari solusi yang dapat diterapkan dan manfaatnya bagi masyarakat.

Semangat gotong royong juga perlu menjangkau pemuda di kampung, desa, dan kota kecil. Potensi inovasi tidak hanya berada di perguruan tinggi besar atau pusat industri. Kearifan lokal, keterampilan masyarakat, dan kekayaan budaya dapat menjadi sumber inspirasi bagi produk serta usaha baru.

Peringatan Sumpah Pemuda seharusnya mendorong lahirnya generasi yang berani bekerja, mencipta, dan berinovasi. Semangat patriotik perlu diwujudkan melalui produktivitas, kegigihan melalui penguasaan kompetensi, dan empati melalui kepedulian terhadap sesama.

Hampir satu abad lalu, para pemuda menyatukan tekad untuk membangun Indonesia. Kini, tantangan kita adalah memastikan persatuan itu menghasilkan kemampuan nyata untuk menghadapi persaingan global.

Sumpah Pemuda jangan cuma gagah di kata. Semangatnya harus terlihat dari semakin banyaknya pemuda yang mampu menciptakan teknologi, membangun usaha, menghasilkan pekerjaan, dan memperkuat kemandirian bangsa. Sebab, Indonesia yang berdikari tidak lahir dari slogan semata, tetapi dari pengetahuan, keberanian berinovasi, dan kerja nyata generasi mudanya. (TS)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Okt 2026, 17:07

Sumpah Pemuda Jangan Cuma Gagah di Kata

Peringatan Sumpah Pemuda seharusnya mendorong lahirnya generasi yang berani bekerja, mencipta, dan berinovasi.

Ilustrasi peringatan Sumpah Pemuda 2026 pentignnya mencegah layunya bunga demokrasi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 28 Okt 2026, 15:46

Tantangan Jurnalis di Era AI Bukan Lagi Soal Kecepatan

Perkembangan AI dan maraknya kreator konten membuat kecepatan bukan lagi keunggulan eksklusif media.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin. (Sumber: Humas Indonesia)
Beranda 28 Okt 2026, 15:30

IDMC 2026 AMSI Dibuka, Bahas Masa Depan Media di Era AI dan Konten Kreator

Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika, mengatakan industri media menghadapi tantangan serius terkait kepercayaan publik.

Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 13:29

Budaya, Etika dan Moral di Tengah Perubahan Zaman: Refleksi Hari Sumpah Pemuda

Apa yang bisa kita definisikan kembali tentang budaya, etika dan moral dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda Tahun ini? Seharusnya budaya, etika dan moral maknanya tidak tercerabut dalam perubahan zaman

Hari Sumpah Pemuda meneguhkan kembali budaya, etika, dan moral di tengah perubahan zaman (Sumber: magnific.com)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 12:46

Kala PKL Bandung Menunggu ‘Wahyu’ dari Balai Kota

Gerobak milik PKL yang menutup jalur pejalan kaki bukan urusan remeh. Begitu pula sampah, kemacetan, dan bangunan liar.

Petugas Satpol PP Kota Bandung melakukan penertiban bangunan liar di atas trotoar. Hal tersebut sebagai upaya lanjutan dalam pembenahan PKL di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 11:42

Nasi Timbel dalam Balutan Anyaman Sunda

Nasi timbel lengkap di Warung Kopi Gunung Ciwidey disajikan dalam anyaman bambu khas Sunda, dengan ikan asin balado dan rempeyek kacang renyah.

Hidangan yang di balut kearifan lokal. (Foto: Zahra Rihhadatul Aisy)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 08:06

Bukan Sekadar Tempat Ngopi: Cerita tentang Jeda di Kalatemu

Lebih dari sekadar tempat ngopi, Kalatemu menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melepas penat, menyelesaikan tugas, dan menikmati jeda dari rutinitas sehari-hari.

Tampak depan Kalatemu dengan logo kafe yang menjadi identitas tempat tersebut di Jalan Manisi, Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Yuhan Safarah)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 20:11

Kamar Mewah dalam Lapas

Pungli di lapas ada uang ada kamar mewah

Ilustrasi lapas. (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock project)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 19:00

Perguruan Tinggi di Bandung dan Karhutla

Karhutla sering terjadi di Indonesia sehingga diperlukan upaya-upaya agar tidak terjadi lagi di masa datang dengan aktifnya kampus atau Perguruan Tinggi berpartisasi dalam pencegahannya

Petugas gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, Rabu (12/8). (Sumber: Bidang Komunikasi Kebencanaan)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 18:02

Jejak Kenangan: Famor Radio Idola Bandung Era 80-90-an

Di Bandung, salah satu nama yang pernah mewarnai kehidupan pendengar pada era 1970-an hingga 1980-an adalah Radio FAMOR.

Booklet pedoman acara Radio Famor 1260 kHz yang memuat berbagai pilihan program siaran sepanjang tahun 1988. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 16:30

Karhutla Jauh dari Kota Bandung, namun Ibarat Kebakaran Halaman Rumah Sendiri (Bagian 1)

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia bukan lagi masalah jauh. Dampaknya nyata merusak alam, mengancam kesehatan dan merugikan ekonomi—layaknya halaman rumah kita sendiri yang sedang membara.

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan Gunung Semeru. (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 15:23

Kita Menghirup Asap yang Sama

Dampak asap karhutla.

Ilustrasi polusi asap kebakaran. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 14:54

Santri Inovator: Menghadirkan Religiusitas dalam Teknologi

Hadirnya santri dalam memrakarsai kebaruan dan inovasi menjadikan optimisme bagi sumber daya di negeri ini. Sekalipun masih ada yang skeptis.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Ayo Biz 27 Okt 2026, 11:57

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Bersama Gemapala

PLN Nusantara Power UP Cirata bersama Gemapala perkuat kesiapsiagaan bencana dalam momentum Hari Sumpah Pemuda melalui aksi nyata.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Bersama Gemapala
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 10:54

Spiritualitas Santri dalam Menerjemahkan Zaman yang Kian Apokaliptik

Peringatan hari santri nasional selalu ditandai dengan frasa resolusi jihad. Tetapi, apakah maknanya mulai bergeser mengikuti arah zaman? Atau ini menjadi titik balik dalam menumbuhkan spiritualitas?

Kegiatan setoran hafalan Quran Santri Cianjur. (Sumber: Yayasan Huda Cendekia)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 10:33

Smart Education City Siapkan Pekerja Bandung Hadapi Era Industri 4.0

Tantangan Bandung adalah mengubah modal SDM menjadi kompetensi yang relevan, pekerjaan yang bermutu, dan produktivitas yang meningkat.

Walikota Bandung Tanda Tangani Kemitraan Strategis Kolaborasi Kota Bandung sebagai Kota Pendidikan (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 08:59

Dari Bandung Teknologi Pendukung untuk Mitigasi Karhutla Bisa Diintegrasikan

Pencegahan pembakaran lahan, penegakan hukum, pemulihan ekosistem gambut, pengawasan kegiatan usaha, serta partisipasi masyarakat tetap menjadi agenda utama

Perlu mengembangkan drone buatan PT Iter Aero di Bandung untuk mitigasi Karhutla (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 19:02

Media Sosial sebagai Mesin Pencari Utama Generasi Muda

Media sosial sebagai sarana pencari informasi generasi masa kini

Ilustrasi berbagai ikon platform media sosial populer seperti TikTok dan Instagram yang kini kerap digunakan sebagai sarana pencari informasi. (Sumber: Pixabay | Foto: BiljaST)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 17:00

Tahura Djuanda, Hutan Raya yang Penyimpan Jejak Sejarah

Tahura Djuanda di Dago Pakar, Bandung, menawarkan hutan sejuk, Gua Belanda, Gua Jepang, museum, dan Curug Omas untuk liburan alam dan sejarah.

Gelang masuk Taman Hutan Raya Ir. Djuanda, Bandung.
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 16:36

Bandung dan Pusat Mata Nasional:  Solidaritas bagi Korban Karhutla Kalimantan

Segenap urang Bandung memiliki momentum yang amat mulia untuk menunjukkan bahwa solidaritas antardaerah tidak berhenti pada rasa prihatin.

Aeshtetic Eye Care & Dry Eye Clinic di RS Mata Cicendo. (Sumber: RS Mata Cicendo)