Spiritualitas Santri dalam Menerjemahkan Zaman yang Kian Apokaliptik

4 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Kegiatan setoran hafalan Quran Santri Cianjur. (Sumber: Yayasan Huda Cendekia)
Kegiatan setoran hafalan Quran Santri Cianjur. (Sumber: Yayasan Huda Cendekia)

Apakah peringatan Hari Santri Nasional, yang tiap tahun diperingati pada tanggal 22 Oktober, hanya sebatas frasa Resolusi Jihad? Atau ada persoalan global yang mengikis logika santri, untuk tetap bertahan dan menjaga nilai-nilai Resolusi Jihad tersebut? Ada yang perlu diwaspadai karena zaman berubah begitu cepat, bahkan mungkin menjadi zaman apokaliptik.

Zaman modern menghadirkan paradoks yang semakin sulit diabaikan. Ilmu pengetahuan berkembang pesat, tetapi kebijaksanaan tidak selalu mengikutinya. Teknologi mempermudah komunikasi, tetapi tidak otomatis memperkuat empati. Pertumbuhan ekonomi menghasilkan kemakmuran bagi sebagian orang, sementara ketimpangan sosial dan kerusakan ekologis terus membayangi kehidupan manusia.

Dalam situasi demikian, istilah apokaliptik tidak semata-mata menunjuk pada bayangan akhir zaman, tetapi juga menggambarkan kecemasan terhadap krisis peradaban: ketika kemajuan kehilangan orientasi moral, pengetahuan terlepas dari tanggung jawab, dan manusia semakin jauh dari kesadaran akan batas-batas dirinya.

Di sinilah spiritualitas santri menemukan relevansinya. Sasaran utamanya bukan sekadar mempertahankan kesalehan individual, melainkan membangun manusia yang mampu mempertemukan iman, akal, dan tanggung jawab sosial. Santri dituntut tidak hanya memahami teks keagamaan, tetapi juga membaca realitas yang terus berubah dengan kejernihan intelektual dan kepekaan kemanusiaan.

Spiritualitas santri dapat diringkas dalam tiga kesadaran mendasar:

Pertama, kesadaran transendental, yakni menempatkan Tuhan sebagai orientasi moral kehidupan. Kesadaran ini mengajarkan bahwa manusia bukan pusat segala sesuatu dan tidak memiliki kebebasan mutlak untuk mengeksploitasi sesama maupun alam. Iman seharusnya membatasi keserakahan, menumbuhkan kerendahan hati, dan memperkuat tanggung jawab atas setiap tindakan.

Kedua, kesadaran intelektual, yakni kemampuan mempertemukan ajaran agama dengan pengetahuan dan kenyataan empiris. Spiritualitas tidak identik dengan penolakan terhadap modernitas. Sebaliknya, iman yang matang semestinya mendorong manusia belajar, memeriksa kebenaran, dan memahami persoalan secara kritis. Santri perlu menguasai tradisi keilmuan Islam sekaligus memiliki literasi sains dan digital agar tidak terjebak dalam prasangka, disinformasi, atau penafsiran zaman yang serba spekulatif.

Ketiga, kesadaran sosial, yakni menerjemahkan nilai keagamaan menjadi tindakan yang memperjuangkan kemaslahatan. Kesalehan tidak cukup diukur melalui intensitas ibadah, tetapi juga perlu tercermin dalam kejujuran, keberpihakan terhadap kelompok rentan, kepedulian ekologis, dan keberanian menghadapi ketidakadilan.

Ketiga dimensi tersebut saling melengkapi. Kesadaran kepada Tuhan tanpa kecakapan memahami realitas berisiko menjadi kesalehan yang pasif. Pengetahuan tanpa landasan etis dapat berubah menjadi instrumen dominasi. Sementara kepedulian sosial tanpa pemahaman yang memadai berisiko berhenti pada tindakan simbolis.

Seorang sosiolog Ulrich Beck, melalui konsep masyarakat risiko, menjelaskan bahwa modernitas tidak hanya menghasilkan kemajuan, tetapi juga menciptakan ancaman yang berasal dari aktivitas manusia sendiri. Perubahan iklim, pencemaran lingkungan, dan risiko teknologi memperlihatkan bahwa kemampuan manusia mengendalikan alam tidak selalu sebanding dengan kemampuannya mengantisipasi konsekuensi tindakannya.

Paradoks ini menjadi tantangan bagi pendidikan pesantren. Tradisi keagamaan tidak cukup dipertahankan sebagai warisan, tetapi perlu diaktualisasikan untuk menjawab persoalan kontemporer. Konsep amanah dan kekhalifahan, misalnya, dapat menjadi landasan etis bagi kepedulian lingkungan. Prinsip ‘tabayyun’ dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 dapat diterapkan dalam menghadapi arus informasi digital. Sementara ajaran tentang keadilan dan kepedulian terhadap sesama dapat mendorong keterlibatan santri dalam pemberdayaan masyarakat.

Dengan demikian, santri tidak harus memilih antara kesetiaan pada tradisi dan keterbukaan terhadap perubahan. Keduanya dapat dipertemukan melalui pendidikan yang kritis, dialogis, dan berorientasi pada kemaslahatan.

Pesantren perlu memperkuat tradisi penguasaan kitab sekaligus membuka ruang bagi penelitian, literasi digital, pemahaman persoalan lingkungan, dan kajian sosial. Tujuannya bukan mengubah pesantren menjadi lembaga yang kehilangan identitas, melainkan memastikan bahwa identitas spiritualnya mampu menjawab tantangan zaman.

Kesadaran terhadap hari akhir merupakan bagian penting dari iman Islam. Namun, kesadaran eskatologis tidak semestinya melahirkan ketakutan yang melumpuhkan atau spekulasi tentang kapan dunia berakhir. Ia justru mengingatkan manusia bahwa kehidupan terbatas dan setiap tindakan mengandung pertanggungjawaban moral.

Surah Al-Qasas ayat 77 mengajarkan manusia untuk mengupayakan kehidupan akhirat tanpa melupakan bagiannya di dunia serta tidak membuat kerusakan di bumi. Pesan tersebut memperlihatkan bahwa orientasi akhirat tidak bertentangan dengan tanggung jawab duniawi.

Karena itu, spiritualitas santri seharusnya tidak menjadi tempat persembunyian dari krisis, melainkan sumber keberanian untuk menghadapinya. Ketika masyarakat menghadapi kemiskinan, santri perlu memahami akar persoalannya. Ketika lingkungan mengalami kerusakan, mereka perlu mendukung tindakan pemulihan yang nyata. Ketika ruang digital dipenuhi kebencian dan informasi palsu, mereka perlu membangun budaya komunikasi yang jujur dan bertanggung jawab.

Spiritualitas baru memperoleh daya transformatif ketika keyakinan menghasilkan kesadaran, kesadaran membentuk sikap, dan sikap diwujudkan dalam tindakan.

Zaman yang kian apokaliptik bukan hanya menguji kemampuan manusia bertahan hidup, tetapi juga menguji kemampuannya mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan. Kemajuan tanpa kebijaksanaan dapat melahirkan kehancuran, sebagaimana kesalehan tanpa kepedulian dapat kehilangan makna sosialnya.

Dalam konteks ini, spiritualitas santri harus menjadi perpaduan antara kedalaman iman, ketajaman berpikir, dan kesediaan mengabdi. Ketiganya merupakan fondasi untuk menerjemahkan perubahan zaman tanpa kehilangan orientasi moral.

Baca Juga: Smart Education City Siapkan Pekerja Bandung Hadapi Era Industri 4.0

Pada akhirnya, pertanyaan mendasar bagi santri bukan sekadar bagaimana memahami tanda-tanda kehancuran dunia, melainkan bagaimana mencegah manusia mempercepat kehancuran melalui keserakahan, ketidakadilan, dan pengabaian terhadap kehidupan.

Sebab, spiritualitas bukanlah kemampuan untuk meramalkan gelapnya masa depan, melainkan kesanggupan menjaga nilai-nilai kebaikan ketika masa depan menjadi tidak pasti.

Di tengah peradaban yang semakin canggih tetapi rentan kehilangan arah, santri diharapkan hadir bukan sebagai penonton yang menunggu akhir zaman, melainkan sebagai manusia beriman yang ikut merawat kehidupan, menegakkan keadilan, dan menjaga martabat sesama.

Maka pentingnya, santri memiliki kemampuan pengetahuan dalam menerjemahkan perubahan zaman, yang kini menjadi kian abstrak, dan dengan kompleksitas masalah yang dihadapi secara global, termasuk peran santri dalam merawat budaya tradisional yang berwawasan lingkungan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 27 Okt 2026, 15:23

Kita Menghirup Asap yang Sama

Dampak asap karhutla.

Ilustrasi polusi asap kebakaran. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 14:54

Santri Inovator: Menghadirkan Religiusitas dalam Teknologi

Hadirnya santri dalam memrakarsai kebaruan dan inovasi menjadikan optimisme bagi sumber daya di negeri ini. Sekalipun masih ada yang skeptis.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Ayo Biz 27 Okt 2026, 11:57

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Bersama Gemapala

PLN Nusantara Power UP Cirata bersama Gemapala perkuat kesiapsiagaan bencana dalam momentum Hari Sumpah Pemuda melalui aksi nyata.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Bersama Gemapala
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 10:54

Spiritualitas Santri dalam Menerjemahkan Zaman yang Kian Apokaliptik

Peringatan hari santri nasional selalu ditandai dengan frasa resolusi jihad. Tetapi, apakah maknanya mulai bergeser mengikuti arah zaman? Atau ini menjadi titik balik dalam menumbuhkan spiritualitas?

Kegiatan setoran hafalan Quran Santri Cianjur. (Sumber: Yayasan Huda Cendekia)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 10:33

Smart Education City Siapkan Pekerja Bandung Hadapi Era Industri 4.0

Tantangan Bandung adalah mengubah modal SDM menjadi kompetensi yang relevan, pekerjaan yang bermutu, dan produktivitas yang meningkat.

Walikota Bandung Tanda Tangani Kemitraan Strategis Kolaborasi Kota Bandung sebagai Kota Pendidikan (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 08:59

Dari Bandung Teknologi Pendukung untuk Mitigasi Karhutla Bisa Diintegrasikan

Pencegahan pembakaran lahan, penegakan hukum, pemulihan ekosistem gambut, pengawasan kegiatan usaha, serta partisipasi masyarakat tetap menjadi agenda utama

Perlu mengembangkan drone buatan PT Iter Aero di Bandung untuk mitigasi Karhutla (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 19:02

Media Sosial sebagai Mesin Pencari Utama Generasi Muda

Media sosial sebagai sarana pencari informasi generasi masa kini

Ilustrasi berbagai ikon platform media sosial populer seperti TikTok dan Instagram yang kini kerap digunakan sebagai sarana pencari informasi. (Sumber: Pixabay | Foto: BiljaST)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 17:00

Tahura Djuanda, Hutan Raya yang Penyimpan Jejak Sejarah

Tahura Djuanda di Dago Pakar, Bandung, menawarkan hutan sejuk, Gua Belanda, Gua Jepang, museum, dan Curug Omas untuk liburan alam dan sejarah.

Gelang masuk Taman Hutan Raya Ir. Djuanda, Bandung.
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 16:36

Bandung dan Pusat Mata Nasional:  Solidaritas bagi Korban Karhutla Kalimantan

Segenap urang Bandung memiliki momentum yang amat mulia untuk menunjukkan bahwa solidaritas antardaerah tidak berhenti pada rasa prihatin.

Aeshtetic Eye Care & Dry Eye Clinic di RS Mata Cicendo. (Sumber: RS Mata Cicendo)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 16:02

Menata Kiaracondong, Menjaga Mata Pencaharian: Tantangan Kepemimpinan Pemerintah

Adanya Penertiban 77 lapak pedagang kaki lima di Pasar Kiaracondong, Kota Bandung, Pada Senin, 12 Oktober 2026. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan bagaimana pemerintah menjalankan perannya.

Puluhan pedagang di kawasan Pasar Kiaracondong membongkar bangunan yang ditempati secara mandiri, Senin, 12 Oktober 2026. (Sumber: Dok. Pemkot Bandung)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 14:00

Kebakaran Hutan di Masa Hindia Belanda

Sejarah kehutanan pada masa Hindia Belanda menjadi pengingat bahwa pengelolaan hutan harus menyeimbangkan kepentingan ekonomi, hak masyarakat, dan kelestarian lingkungan.

Pembukaan lahan di Sumatra Utara pada 1910 untuk dijadikan perkebunan. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 13:27

Parkir Gratis sebagai Fiksi yang Dipajang dengan Huruf Kapital

Keberadaan juru parkir di depan gerai minimarket  tidak otomatis berarti terjadi pelanggaran. Toh, di sejumlah minimarket, ada petugas parkir yang memang bekerja secara resmi.

Ilustrasi lahan parkir sepeda motor. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 11:11

Menumbuhkan Rasa Nasionalisme Warga Bandung dalam Penanganan Karlutha

Warga Bandung harus bersuara kritis dalam penanganan karlutha. Mendorong pemerintah untuk menangani karlutha ini lebih serius dengan sikap empati dan kesadaran kolektif. Ini sudah bencana nasional.

Aksi unjuk rasa BEM SI Jawa Barat di Kota Bandung, Selasa 13 Oktober 2026. Mahasiswa menyoroti sejumlah persoalan negara, salah satunya kebakaran hutan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 11:02

Bantu Kami Bersuara, Meski Terkesan Sia-sia

Suara rakyat di negeri ini memang seringkali terabaikan. Tapi tidak ada cara lain yang bisa dilakukan oleh masyarakat terdampak selain bersuara.

Kondisi update Palangkaraya (Sumber: Instagram | nabila_albathaty)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 10:34

Inisiatif Bandung Melawan Panas dengan Teknologi Kabut Air

Pemkot Bandung atau kepada pengelola gedung dan tempat publik untuk menerapkan teknologi kabut air yang bekerja dengan menyemprotkan butiran air yang sangat halus ke udara.

Ilustrasi musim kemarau. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 07:47

Hanya karena Bandung Tidak Terdampak, Bukan Berarti Korban Karhutla Baik-baik Saja

Karhutla yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia masih belum ditangani dengan baik. Sementara yang hilang bukan hanya hutan tapi penghuni didalamnya pun manusia itu sendiri.

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 20:33

Dari Kepakan Sayap Kupu-Kupu hingga Karhutla: Bandung Tak Bisa Berpaling

Karhutla mungkin terasa jauh dari Bandung. Namun, melalui gagasan butterfly effect, kita diingatkan bahwa kepedulian lingkungan perlu diwujudkan lewat tindakan dan tuntutan pertanggungjawaban.

Hujan di salah satu sudut Bandung (Foto: Abah Omtris)
Bandung 25 Okt 2026, 20:00

Napas Subkultur Jalanan Kota Kembang: Saat Beton Arena Jadi Rumah Ekspresi dan Tangguh Anak Muda

Menjaga denyut subkultur jalanan Kota Kembang, bagaimana ruang berekspresi di Bandung jadi wadah memoles mental dan solidaritas generasi muda.

Menjaga denyut subkultur jalanan Kota Kembang, bagaimana ruang berekspresi di Bandung jadi wadah memoles mental dan solidaritas generasi muda. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 19:38

Program Boleh Berganti, Perilaku Harus Berubah

Kota yang bersih tidak lahir hanya dari program yang baik, tetapi juga dari kebiasaan warganya. Tantangannya, bagaimana memastikan program yang baik, benar-benar melahirkan perubahan perilaku?

Pembuatan Loseda di RW.10 bersama pendamping DLH Kota Bandung Tahun 2026. (Sumber: Dokumentasi RW. 10 Kelurahan Sukamaju Bandung)