Inisiatif Bandung Melawan Panas dengan Teknologi Kabut Air

4 menit baca
Totok Siswantara
Ditulis oleh Totok Siswantara diterbitkan
Ilustrasi musim kemarau. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ilustrasi musim kemarau. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kabut air untuk ruang terbuka untuk atasi temperatur ekstrem (Sumber: foto: Pexels)
Kabut air untuk ruang terbuka untuk atasi temperatur ekstrem (Sumber: foto: Pexels)

Bandung yang dahulu dikenal sebagai kota berhawa sejuk kini semakin sering menghadapi cuaca panas yang menyengat. Dalam beberapa hari terakhir, teriknya matahari terasa mengganggu aktivitas warga, terutama mereka yang bekerja atau beraktivitas di ruang terbuka. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa kenyamanan kota tidak lagi cukup mengandalkan udara pegunungan dan pepohonan, tetapi juga membutuhkan inovasi untuk menghadapi perubahan iklim.

Data prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa suhu maksimum Kota Bandung diperkirakan mencapai 32 derajat Celcius pada 17 Oktober 2026 dan 33 derajat Celcius pada sejumlah hari berikutnya. Pada 20–21 Oktober, beberapa wilayah Kota Bandung bahkan diperkirakan mengalami suhu maksimum sekitar 31–34 derajat Celcius, bergantung pada kecamatan. Angka tersebut merupakan prakiraan suhu udara, bukan seluruhnya hasil pengukuran aktual di lapangan.

Pada skala yang lebih luas, BMKG melaporkan suhu maksimum mencapai 38,5 derajat Celcius di sejumlah wilayah Jawa Barat pada 17 Oktober 2026. Angka tersebut tidak mewakili suhu Kota Bandung, tetapi memperlihatkan betapa kuatnya kondisi panas yang melanda sebagian wilayah provinsi ini.

Cuaca panas tersebut berlangsung ketika Indonesia menghadapi El Niño dengan intensitas sangat kuat. Dalam pemantauan awal Oktober 2026, BMKG mencatat anomali suhu muka laut di kawasan Niño 3.4 mencapai positif 3,33 derajat Celcius dan indeks ENSO tiga bulanan sebesar positif 3,08. Bersamaan dengan fase positif Indian Ocean Dipole atau IOD, kondisi ini berkontribusi terhadap berkurangnya potensi pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia.

El Niño bukan satu-satunya faktor yang menentukan suhu di Bandung. Minimnya tutupan awan, intensitas radiasi matahari, kelembaban, serta karakter lingkungan perkotaan turut mempengaruhi rasa panas yang dialami masyarakat. Permukaan aspal dan beton menyerap serta menyimpan panas, sementara kawasan yang minim pepohonan memiliki lebih sedikit perlindungan dari paparan matahari langsung.

Situasi tersebut menuntut pemerintah kota untuk memikirkan langkah adaptasi yang konkret. Salah satu gagasan yang layak diuji adalah pemanfaatan teknologi kabut air atau water misting di sejumlah ruang publik.

Kabut Air untuk Ruang Publik

Sebagai Insinyur saya punya inisiatif atau usulan kepada Pemkot Bandung atau kepada pengelola gedung dan tempat publik untuk menerapkan teknologi kabut air yang bekerja dengan menyemprotkan butiran air yang sangat halus ke udara. Ketika butiran tersebut menguap, proses penguapan menyerap panas dari lingkungan sehingga berpotensi meningkatkan kenyamanan termal. Efektivitasnya dipengaruhi oleh kelembapan udara, suhu, pergerakan angin, ukuran butiran air, dan rancangan instalasi.

Di Kota Bandung, teknologi ini dapat diuji atau diterapkan pada lokasi yang tepat, seperti area tunggu terminal, pasar tradisional, halte, kawasan pedestrian, dan ruang terbuka yang memiliki naungan. Tempat-tempat tersebut sering digunakan warga untuk menunggu kendaraan, berbelanja, atau menjalankan aktivitas harian di tengah cuaca panas.

Penerapannya perlu dirancang dengan cermat. Sistem kabut air tidak otomatis membuat seluruh kawasan menjadi sejuk, terlebih ketika kelembaban tinggi atau angin membawa butiran air menjauh dari area sasaran. Karena itu, uji coba perlu disertai pengukuran suhu, kelembaban, kecepatan angin, dan persepsi kenyamanan pengguna.

Pemerintah Kota Bandung dapat memulai proyek percontohan di satu atau dua titik yang ramai dikunjungi masyarakat. Sensor sederhana dapat digunakan untuk membandingkan kondisi sebelum dan sesudah sistem beroperasi. Evaluasi juga perlu mencakup konsumsi air dan listrik, biaya perawatan, kebersihan nozel, serta risiko genangan.

Keselamatan Tidak Boleh Diabaikan

Penggunaan kabut air di dekat jalan raya harus mempertimbangkan keselamatan pengguna jalan. Butiran air tidak boleh membuat permukaan jalan licin, mengganggu jarak pandang pengemudi, atau membasahi instalasi listrik. Karena itu, pemasangan sebaiknya diprioritaskan pada area tunggu pejalan kaki yang terpisah dari jalur kendaraan dan memiliki sistem drainase yang baik.

Di area parkir bawah tanah, pendekatannya harus berbeda. Ruang tertutup membutuhkan sirkulasi udara yang memadai, sistem pembuangan gas kendaraan, serta pemantauan karbon monoksida. Penyemprotan kabut air bukan solusi utama untuk mengatasi panas di tempat seperti ini karena dapat meningkatkan kelembaban, membasahi lantai, dan menimbulkan persoalan pada peralatan listrik. Ventilasi mekanis, kipas pembuangan, dan pengelolaan udara yang baik lebih penting.

Di pasar, terminal, dan stasiun, kabut air dapat dipadukan dengan kanopi, kipas, ventilasi silang, dan tempat duduk yang teduh. Pendekatan kombinasi akan lebih bermanfaat daripada mengandalkan satu teknologi saja.

Ilustrasi menata kota Bandung untuk mengatasi tenmperatur ekstrim (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ilustrasi menata kota Bandung untuk mengatasi tenmperatur ekstrim (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Menata Kota yang Lebih Tahan Panas

Teknologi kabut air seharusnya menjadi bagian dari strategi yang lebih luas untuk menghadapi peningkatan suhu perkotaan. Penanaman dan pemeliharaan pohon peneduh tetap penting karena tajuk pohon mengurangi paparan radiasi matahari, sedangkan proses evapotranspirasi membantu mendinginkan lingkungan. Trotoar yang teduh, atap bangunan yang memantulkan panas, ruang terbuka hijau, serta akses transportasi umum yang nyaman juga perlu menjadi prioritas.

Di tengah El Nino yang sangat kuat, pemkot perlu memperhatikan kelompok yang paling rentan terhadap panas, termasuk pekerja lapangan, pedagang, lansia, anak-anak, dan warga yang memiliki keterbatasan akses terhadap ruang sejuk. Penyediaan air minum, tempat berteduh, informasi cuaca, serta himbauan untuk mengurangi aktivitas berat saat siang hari tetap diperlukan.

Gagasan kabut air bukanlah jawaban tunggal bagi persoalan panas di Bandung. Namun, apabila diuji secara terukur dan ditempatkan secara tepat, teknologi tersebut dapat menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan kenyamanan ruang publik.

Pemkot Bandung perlu mempertahankan reputasinya sebagai kota yang nyaman melalui langkah nyata, bukan sekadar bernostalgia pada kesejukan masa lalu. Saat cuaca panas menjadi tantangan yang semakin serius, perpaduan teknologi, penghijauan, tata ruang yang bijaksana, dan perlindungan terhadap warga menjadi kunci membangun kota yang lebih tangguh menghadapi perubahan iklim. (TS)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Okt 2026, 14:00

Kebakaran Hutan di Masa Hindia Belanda

Sejarah kehutanan pada masa Hindia Belanda menjadi pengingat bahwa pengelolaan hutan harus menyeimbangkan kepentingan ekonomi, hak masyarakat, dan kelestarian lingkungan.

Pembukaan lahan di Sumatra Utara pada 1910 untuk dijadikan perkebunan. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 13:27

Parkir Gratis sebagai Fiksi yang Dipajang dengan Huruf Kapital

Keberadaan juru parkir di depan gerai minimarket  tidak otomatis berarti terjadi pelanggaran. Toh, di sejumlah minimarket, ada petugas parkir yang memang bekerja secara resmi.

Ilustrasi lahan parkir sepeda motor. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 11:11

Menumbuhkan Rasa Nasionalisme Warga Bandung dalam Penanganan Karlutha

Warga Bandung harus bersuara kritis dalam penanganan karlutha. Mendorong pemerintah untuk menangani karlutha ini lebih serius dengan sikap empati dan kesadaran kolektif. Ini sudah bencana nasional.

Aksi unjuk rasa BEM SI Jawa Barat di Kota Bandung, Selasa 13 Oktober 2026. Mahasiswa menyoroti sejumlah persoalan negara, salah satunya kebakaran hutan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 11:02

Bantu Kami Bersuara, Meski Terkesan Sia-sia

Suara rakyat di negeri ini memang seringkali terabaikan. Tapi tidak ada cara lain yang bisa dilakukan oleh masyarakat terdampak selain bersuara.

Kondisi update Palangkaraya (Sumber: Instagram | nabila_albathaty)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 10:34

Inisiatif Bandung Melawan Panas dengan Teknologi Kabut Air

Pemkot Bandung atau kepada pengelola gedung dan tempat publik untuk menerapkan teknologi kabut air yang bekerja dengan menyemprotkan butiran air yang sangat halus ke udara.

Ilustrasi musim kemarau. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 07:47

Hanya karena Bandung Tidak Terdampak, Bukan Berarti Korban Karhutla Baik-baik Saja

Karhutla yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia masih belum ditangani dengan baik. Sementara yang hilang bukan hanya hutan tapi penghuni didalamnya pun manusia itu sendiri.

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 20:33

Dari Kepakan Sayap Kupu-Kupu hingga Karhutla: Bandung Tak Bisa Berpaling

Karhutla mungkin terasa jauh dari Bandung. Namun, melalui gagasan butterfly effect, kita diingatkan bahwa kepedulian lingkungan perlu diwujudkan lewat tindakan dan tuntutan pertanggungjawaban.

Hujan di salah satu sudut Bandung (Foto: Abah Omtris)
Bandung 25 Okt 2026, 20:00

Napas Subkultur Jalanan Kota Kembang: Saat Beton Arena Jadi Rumah Ekspresi dan Tangguh Anak Muda

Menjaga denyut subkultur jalanan Kota Kembang, bagaimana ruang berekspresi di Bandung jadi wadah memoles mental dan solidaritas generasi muda.

Menjaga denyut subkultur jalanan Kota Kembang, bagaimana ruang berekspresi di Bandung jadi wadah memoles mental dan solidaritas generasi muda. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 19:38

Program Boleh Berganti, Perilaku Harus Berubah

Kota yang bersih tidak lahir hanya dari program yang baik, tetapi juga dari kebiasaan warganya. Tantangannya, bagaimana memastikan program yang baik, benar-benar melahirkan perubahan perilaku?

Pembuatan Loseda di RW.10 bersama pendamping DLH Kota Bandung Tahun 2026. (Sumber: Dokumentasi RW. 10 Kelurahan Sukamaju Bandung)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 15:00

Elektrifikasi Becak Bukan Transformasi Sistem Transportasi

Elektrifikasi becak dapat membantu pengemudi, tetapi belum cukup mentransformasi transportasi. Integrasi layanan, fasilitas pengisian daya, keselamatan, dan keberlanjutan perlu menjadi perhatian.

Sejumlah pengemudi becak konvensional dan becak listrik menunggu penumpang di Jalan Baranangsiang, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 10 Oktober 2026. (Sumber: Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 12:59

Warteg dan Kehidupan para Mahasiswa

Warteg selalu menjadi tempat makan yang unik, bukan karena harganya saja yang terjangkau tapi juga berbagai macam cerita didalamnya.

Sajian makanan di Warung Tegal. (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 11:41

Semangkuk Cuanki Rp50 Ribu, Wali Kota Bandung Tak Mungkin Menunggui Setiap Mangkuk

Masalah getok harga seperti cuanki yang viral ini sesungguhnya bukan monopoli Bandung.

Ilustrasi cuanki Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 09:40

Semarak, Santri, dan Harmoni

Semarak menghadirkan kegembiraan, santri menempuh perjalanan ilmu, dan harmoni menjaga agar proses itu tetap berpijak pada kasih sayang, peduli, serta penghormatan terhadap sesama.

Status WhatsApp Istri, "Alhamdulillah masih bisa ketemu walaupun cuma 1 jam" Masjid Raya Al-A'zhom Kota Tangerang, Kamis (22/10/2026). (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)