Bantuan becak listrik dari Presiden Prabowo Subianto kepada para pengayuh becak patut dilihat sebagai upaya membantu masyarakat mempertahankan mata pencaharian. Bagi pengemudi lanjut usia, kendaraan ini dapat mengurangi beban fisik saat bekerja. Namun, manfaat tersebut perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas: apakah pergantian becak kayuh menjadi becak listrik juga menjawab persoalan transportasi di Indonesia?
Pengalaman di Kota Bandung memperlihatkan bahwa penyerahan kendaraan bukanlah akhir dari persoalan. Sejumlah pengemudi mengeluhkan minimnya penumpang, sementara pemerintah daerah masih mengoordinasikan lokasi operasi dan fasilitas pengisian daya. Situasi ini menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak cukup ditentukan oleh teknologi kendaraan yang dibagikan, tetapi juga oleh kesiapan sistem yang mendukung penggunaannya.
Bantuan Sosial Bukan Ukuran Keberhasilan Transportasi
Becak telah lama menjadi bagian dari kehidupan ekonomi masyarakat, terutama di sekitar pasar, permukiman, dan kawasan wisata. Bagi pengayuhnya, becak bukan sekadar alat transportasi, melainkan sumber penghasilan harian. Karena itu, bantuan becak listrik memiliki nilai sosial yang patut diapresiasi, khususnya bagi pengemudi lanjut usia yang membutuhkan bantuan untuk mengurangi beban kerja fisik.
Namun, membantu individu dan membenahi sistem transportasi merupakan dua tujuan yang berbeda. Kendaraan yang lebih modern belum tentu meningkatkan pendapatan apabila permintaan perjalanan tetap rendah. Teknologi baru juga tidak otomatis membuat masyarakat beralih menggunakan suatu moda transportasi.
Laporan IDN Times Jawa Barat pada 22 September 2026 menggambarkan situasi tersebut melalui pengalaman sejumlah pengemudi di kawasan Kiaracondong, Bandung. Salah seorang pengemudi mengaku hanya memperoleh satu atau dua penumpang sehari, sedangkan pengemudi lain menyebut sekitar tiga kali tarikan. Mereka menilai masyarakat semakin banyak menggunakan transportasi daring. Pengalaman ini tidak mewakili seluruh pengemudi becak listrik, tetapi menunjukkan bahwa pergantian teknologi belum tentu menciptakan permintaan baru.
Karena itu, keberhasilan bantuan perlu dinilai berdasarkan manfaat nyata bagi penerima. Indikatornya dapat mencakup perubahan pendapatan bersih, biaya operasional, frekuensi penggunaan kendaraan, dan keberlanjutan mata pencaharian. Jumlah kendaraan yang disalurkan merupakan keluaran program, sedangkan peningkatan kesejahteraan merupakan hasil yang masih perlu dievaluasi.
Kendaraan Listrik Membutuhkan Ekosistem Pendukung
Persoalan lain adalah kesiapan fasilitas operasional. Pada 23 September 2026, Pemerintah Kota Bandung menyampaikan rencana koordinasi dengan PLN terkait penempatan perangkat pengisian daya, sekaligus penentuan lokasi operasi yang mempertimbangkan domisili pengemudi. Pemerintah juga menyatakan bahwa becak listrik tetap tidak diperbolehkan beroperasi di kawasan yang telah ditetapkan sebagai wilayah bebas becak. Hal ini memperlihatkan bahwa pengoperasian kendaraan membutuhkan pengaturan lokasi dan infrastruktur yang sesuai.
Bagi pengemudi yang mengandalkan becak untuk mencari nafkah, akses pengisian daya merupakan bagian dari produktivitas. Kendaraan yang harus berhenti untuk mengisi baterai tidak dapat digunakan untuk mengangkut penumpang selama waktu tersebut. Jika fasilitas pengisian jauh dari tempat mangkal atau tempat tinggal, waktu dan biaya tambahan juga berpotensi muncul.
Daya tahan baterai dan durasi pengisian karena itu perlu dievaluasi berdasarkan kondisi penggunaan sehari-hari, bukan hanya spesifikasi teknis dalam kondisi ideal. Jarak tempuh aktual dapat dipengaruhi oleh beban penumpang, kondisi jalan, dan pola operasi. Pengelola program perlu memastikan tersedianya fasilitas pengisian yang mudah dijangkau, pemeliharaan kendaraan, suku cadang, serta rencana penggantian baterai ketika masa pakainya berakhir.
Aspek keselamatan juga tidak boleh diabaikan. Kendaraan perlu memenuhi persyaratan teknis yang sesuai, sedangkan pemerintah daerah harus mengatur ruang operasi dan titik naik-turun penumpang agar tidak menimbulkan konflik dengan pejalan kaki, pesepeda, maupun kendaraan bermotor.
Dari sisi lingkungan, kendaraan listrik memang tidak menghasilkan emisi gas buang langsung ketika digunakan. Namun, manfaat lingkungannya secara menyeluruh juga dipengaruhi oleh sumber listrik, umur baterai, dan pengelolaan baterai bekas. Oleh sebab itu, elektrifikasi kendaraan perlu disertai perencanaan operasional dan pengelolaan lingkungan yang memadai.
Integrasi Transportasi, Bukan Sekadar Distribusi Kendaraan
Dalam sistem transportasi perkotaan, becak listrik berpotensi melayani perjalanan jarak pendek dan menghubungkan masyarakat dengan angkutan umum. Moda ini dapat membantu perjalanan menuju pasar, fasilitas kesehatan, kawasan permukiman, halte, atau stasiun, terutama apabila terdapat kebutuhan perjalanan yang belum terlayani dengan baik.
Namun, fungsi sebagai angkutan pengumpan (feeder) tidak muncul dengan sendirinya hanya karena kendaraan telah menggunakan tenaga listrik. Pemerintah daerah perlu memetakan pola perjalanan masyarakat, menentukan pangkalan dan titik naik-turun penumpang, serta menghubungkan layanan tersebut dengan jaringan angkutan umum. Lokasi operasi juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan penumpang, kondisi jalan, dan ketentuan yang berlaku.
Langkah tersebut membutuhkan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola bantuan, penyedia listrik, dan para pengemudi. Pengemudi perlu dilibatkan karena mereka memahami kondisi lapangan dan kebiasaan penumpang. Sementara itu, pemerintah daerah perlu memastikan aturan operasional dan keselamatan jelas serta fasilitas pendukung tersedia.
Baca Juga: Warteg dan Kehidupan para Mahasiswa
Evaluasi program sebaiknya mengukur lebih dari jumlah kendaraan yang dibagikan. Apakah becak listrik digunakan secara berkelanjutan? Apakah pendapatan bersih pengemudi meningkat setelah memperhitungkan biaya operasional? Apakah kendaraan mempermudah masyarakat mengakses fasilitas publik dan angkutan umum? Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dijawab melalui data lapangan agar program dapat diperbaiki sesuai kebutuhan.
Pada akhirnya, bantuan becak listrik dan transformasi transportasi tidak harus dipertentangkan. Bantuan ini dapat menjadi bagian dari perbaikan sistem apabila disertai perencanaan, infrastruktur pendukung, dan integrasi layanan. Sebaliknya, apabila keberhasilan hanya diukur dari jumlah kendaraan yang dibagikan, persoalan permintaan penumpang, aksesibilitas, dan keberlanjutan operasional berisiko tetap tidak terselesaikan.
Indonesia tidak cukup hanya mengganti teknologi kendaraan. Transformasi transportasi menuntut sistem yang memungkinkan masyarakat bergerak dengan aman, terjangkau, dan mudah berpindah antarmoda. Becak listrik dapat menjadi bagian dari solusi, tetapi elektrifikasi becak itu sendiri bukanlah transformasi sistem transportasi. (*)