Dari Kepakan Sayap Kupu-Kupu hingga Karhutla: Bandung Tak Bisa Berpaling

3 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Hujan di salah satu sudut Bandung (Foto: Abah Omtris)
Hujan di salah satu sudut Bandung (Foto: Abah Omtris)

Ada gagasan yang dikenal sebagai butterfly effect: perubahan kecil dalam sebuah sistem dapat berkaitan dengan perubahan besar di tempat lain. Bukan berarti kepakan sayap kupu-kupu secara harfiah menyebabkan badai, melainkan sebuah pengingat bahwa hal-hal yang tampak berjauhan bisa saling terhubung.

Begitu pula dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Api di Sumatra, Kalimantan, atau Papua mungkin terasa jauh dari Bandung. Kita tidak melihat kobarannya dari jendela rumah. Berita itu pun mudah tenggelam di antara kesibukan kota dan riuh media sosial.

Namun, apakah jarak geografis cukup menjadi alasan untuk berpaling?

Api dan Persoalan di Baliknya

Cuaca kering dan kemarau dapat meningkatkan risiko kebakaran. Informasi BMKG mengenai kondisi cuaca dan peringatan karhutla penting untuk memahami situasi tersebut. Namun, cuaca saja tidak selalu menjelaskan mengapa api muncul, mengapa kebakaran berulang, atau bagaimana pengelolaan lahan turut memengaruhi kerentanannya.

Karena itu, kita perlu membaca data dari berbagai sumber. Informasi pemerintah membantu melihat kejadian dan penanganan resmi, sementara kajian organisasi masyarakat sipil dapat membuka pertanyaan mengenai konsesi, pengawasan, dan pertanggungjawaban.

Pada Oktober 2026, WALHI menerbitkan kajian Siapa di Balik Api? yang menelusuri konsentrasi titik panas dan keterkaitannya dengan wilayah konsesi serta kepemilikan perusahaan. Greenpeace Indonesia, bersama Pantau Gambut, juga menerbitkan laporan mengenai titik sumber asap dan kerentanan wilayah gambut.

Temuan semacam ini penting untuk ditindaklanjuti, tetapi harus dibaca secara cermat. Titik panas di dalam konsesi bukan dengan sendirinya bukti bahwa perusahaan sengaja membakar lahan. Indikasi perlu diperiksa melalui verifikasi lapangan dan penyelidikan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sikap kritis bukan berarti menolak data pemerintah atau menerima semua temuan organisasi lingkungan tanpa pertanyaan. Justru dengan membandingkan sumber, kita bisa melihat persoalan secara lebih utuh.

Apa yang Bisa Dilakukan Warga Bandung?

Kita mungkin tidak bisa memadamkan api di pulau lain dari Bandung. Tetapi kita tetap memiliki peran.

Pertama, periksa informasi sebelum menyebarkannya. Pastikan foto, tanggal, lokasi, dan sumber berita benar. Jangan sampai kepedulian justru ikut menyebarkan kabar yang menyesatkan.

Kedua, hidupkan percakapan tentang lingkungan. Kampus, sekolah, komunitas seni, dan lingkungan warga bisa menjadi ruang untuk membahas hubungan antara hutan, tata kelola lahan, dan kehidupan manusia. Kepedulian tidak harus dimulai dengan tindakan besar; ia bisa tumbuh dari percakapan yang membuat orang mau mencari tahu.

Ketiga, desak keterbukaan dan pertanggungjawaban. Warga dapat meminta informasi yang jelas mengenai pencegahan, penanganan, pengawasan, dan penegakan hukum. Jika ditemukan indikasi kebakaran di wilayah konsesi, publik berhak mempertanyakan tindak lanjutnya. Jangan sampai laporan berhenti sebagai berita yang viral, lalu dilupakan.

Keempat, rawat lingkungan sendiri. Tidak membakar sampah sembarangan, menjaga ruang hijau, dan mendukung gerakan perlindungan lingkungan merupakan bagian dari membangun kebiasaan ekologis. Tindakan lokal memang tidak langsung memadamkan kebakaran di tempat lain, tetapi dapat memperkuat kesadaran bahwa lingkungan bukan sekadar urusan pemerintah.

Namun, ada batas yang harus ditegaskan. Kepedulian warga tidak boleh dijadikan alasan bagi negara untuk melepaskan tanggung jawab pencegahan dan penegakan hukum. Begitu pula perusahaan yang terbukti melanggar tidak boleh berlindung di balik imbauan agar masyarakat lebih peduli. Warga dapat mengawasi dan menuntut, tetapi pihak yang memiliki kewenangan tetap harus menjalankan kewajibannya.

Jarak Bukan Alasan untuk Acuh

Bandung punya persoalan lingkungannya sendiri: sampah, banjir, penyusutan ruang hijau, dan perubahan ruang hidup. Tetapi mengurus persoalan kota tidak berarti kita harus menutup mata terhadap kerusakan di wilayah lain.

Bumi tidak mengenal batas administrasi yang dibuat manusia. Dampak kerusakan lingkungan dapat melampaui tempat terjadinya, meskipun bentuk dan besarnya harus dibuktikan dengan data.

Kita mungkin tidak mampu menghentikan kebakaran hanya dengan satu unggahan. Namun, kita bisa memilih untuk tidak menyebarkan kabar palsu, tidak menormalisasi kerusakan, dan tidak membiarkan pertanggungjawaban menghilang bersama pergantian berita.

Kepakan sayap kupu-kupu mengingatkan kita tentang keterhubungan. Karhutla mengingatkan bahwa keterhubungan itu menuntut kepedulian, pengetahuan, dan keberanian untuk meminta pertanggungjawaban.

Warga Bandung mungkin jauh dari titik api. Namun, jarak itu tidak harus menjadi jarak kepedulian.

Seberapa jauh kepedulian kita bersedia melampaui batas rumah sendiri? (*)

Referensi

  • Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) — informasi dan penanganan karhutla: https://www.bnpb.go.id/
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) — informasi cuaca dan peringatan karhutla: https://www.bmkg.go.id/
  • Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan — informasi kebijakan dan penanganan karhutla: https://www.menlhk.go.id/
  • WALHI, Peluncuran Kajian “Siapa di Balik Api?”, 14 Oktober 2026: https://www.walhi.or.id/index.php/peluncuran-kajian-siapa-di-balik-api-walhi-tuntut-pertanggungjawaban-aktor-paling-diuntungkan-dari-karhutla
  • Greenpeace Indonesia, Saat Udara Bersih Dikorbankan demi Komoditas Global, 5 Oktober 2026: https://www.greenpeace.org/indonesia/laporan/67961/saat-udara-bersih-dikorbankan-demi-komoditas-global/
  • Jikalahari, Karhutla 2026: Kebakaran 583 Hektar Gambut di Konsesi Korporasi, Agustus 2026: https://jikalahari.or.id/kabar/jikalahari-ungkap-kebakaran-583-hektar-gambut-di-konsesi-korporasi-karhutla-2026-bukti-kegagalan-tata-kelola-dan-pengawasan-izin/
Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Okt 2026, 20:33

Dari Kepakan Sayap Kupu-Kupu hingga Karhutla: Bandung Tak Bisa Berpaling

Karhutla mungkin terasa jauh dari Bandung. Namun, melalui gagasan butterfly effect, kita diingatkan bahwa kepedulian lingkungan perlu diwujudkan lewat tindakan dan tuntutan pertanggungjawaban.

Hujan di salah satu sudut Bandung (Foto: Abah Omtris)
Bandung 25 Okt 2026, 20:00

Napas Subkultur Jalanan Kota Kembang: Saat Beton Arena Jadi Rumah Ekspresi dan Tangguh Anak Muda

Menjaga denyut subkultur jalanan Kota Kembang, bagaimana ruang berekspresi di Bandung jadi wadah memoles mental dan solidaritas generasi muda.

Menjaga denyut subkultur jalanan Kota Kembang, bagaimana ruang berekspresi di Bandung jadi wadah memoles mental dan solidaritas generasi muda. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 19:38

Program Boleh Berganti, Perilaku Harus Berubah

Kota yang bersih tidak lahir hanya dari program yang baik, tetapi juga dari kebiasaan warganya. Tantangannya, bagaimana memastikan program yang baik, benar-benar melahirkan perubahan perilaku?

Pembuatan Loseda di RW.10 bersama pendamping DLH Kota Bandung Tahun 2026. (Sumber: Dokumentasi RW. 10 Kelurahan Sukamaju Bandung)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 15:00

Elektrifikasi Becak Bukan Transformasi Sistem Transportasi

Elektrifikasi becak dapat membantu pengemudi, tetapi belum cukup mentransformasi transportasi. Integrasi layanan, fasilitas pengisian daya, keselamatan, dan keberlanjutan perlu menjadi perhatian.

Sejumlah pengemudi becak konvensional dan becak listrik menunggu penumpang di Jalan Baranangsiang, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 10 Oktober 2026. (Sumber: Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 12:59

Warteg dan Kehidupan para Mahasiswa

Warteg selalu menjadi tempat makan yang unik, bukan karena harganya saja yang terjangkau tapi juga berbagai macam cerita didalamnya.

Sajian makanan di Warung Tegal. (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 11:41

Semangkuk Cuanki Rp50 Ribu, Wali Kota Bandung Tak Mungkin Menunggui Setiap Mangkuk

Masalah getok harga seperti cuanki yang viral ini sesungguhnya bukan monopoli Bandung.

Ilustrasi cuanki Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 09:40

Semarak, Santri, dan Harmoni

Semarak menghadirkan kegembiraan, santri menempuh perjalanan ilmu, dan harmoni menjaga agar proses itu tetap berpijak pada kasih sayang, peduli, serta penghormatan terhadap sesama.

Status WhatsApp Istri, "Alhamdulillah masih bisa ketemu walaupun cuma 1 jam" Masjid Raya Al-A'zhom Kota Tangerang, Kamis (22/10/2026). (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)