Program Boleh Berganti, Perilaku Harus Berubah

4 menit baca
Bayu Hikmat Purwana
Ditulis oleh Bayu Hikmat Purwana diterbitkan
Pembuatan Loseda di RW.10 bersama pendamping DLH Kota Bandung Tahun 2026. (Sumber: Dokumentasi RW. 10 Kelurahan Sukamaju Bandung)
Pembuatan Loseda di RW.10 bersama pendamping DLH Kota Bandung Tahun 2026. (Sumber: Dokumentasi RW. 10 Kelurahan Sukamaju Bandung)

Setiap kali Kota Bandung menghadapi persoalan sampah, berbagai upaya kembali digerakkan. Kampanye pengurangan sampah, pembagian tempat sampah berwarna, ajakan memilah sampah dari rumah, pemanfaatan aplikasi digital, hingga inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat terus diperkenalkan.

Di tengah berbagai upaya itu, ada satu pertanyaan mendasar: apakah program-program tersebut benar-benar mengubah perilaku masyarakat?

Pertanyaan ini penting karena keberhasilan pengelolaan sampah tidak cukup diukur dari pelaksanaan kegiatan. Ukuran yang lebih mendasar terletak pada perubahan perilaku warga dalam mengurangi, memilah, dan mengelola sampah dari sumbernya.

Belajar dari Praktik Baik di Tengah Masyarakat

Praktik baik dapat kita temukan diantaranya di RW 10 Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung. Dengan 789 penduduk yang terbagi dalam tujuh RT, RW ini mengembangkan berbagai kegiatan yang menghubungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat.

Melalui program Kang Pisman, warga didorong memilah sampah organik, anorganik, dan residu. Upaya ini didukung oleh pengolahan sampah organik melalui Lodong Sesa Dapur (Loseda), program dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, serta Pengolahan Limbah Dapur (Pelida), yang lahir dari gagasan putra daerah Kelurahan Sukamaju.

RW 10 juga mengembangkan kelompok berkebun sebagai turunan dari program Buruan SAE, juga saung magot. Menurut Ketua RW 10 periode 2026–2031, Setiawan, hasil panen kelompok berkebun dimanfaatkan untuk membantu ibu hamil, anak yang mengalami stunting, dan warga lanjut usia.

Berbagai upaya tersebut, mendapat pengakuan dalam kegiatan Pembinaan Wilayah dan Monitoring dan Evaluasi TP PKK Kota Bandung tahun 2025. Pada ajang kegiatan PKK tingkat kota tersebut, RW 10 menjadi wakil dari Kecamatan Cibeunying Kidul dan berhasil meraih juara umum dari lima kategori yang dilombakan.

Dukungan terhadap pengembangan wilayah juga terlihat melalui Program Prakarsa Bandung Utama, yang merupakan penyempurnaan dari Program Inovasi Pembangunan dan Pemberdayaan Kewilayahan (PIPPK). Program ini memberikan ruang bagi warga untuk menentukan prioritas pembangunan melalui forum musyawarah di tingkat RW.

Pada 2026, pemerintah menyiapkan alokasi anggaran mencapai Rp100 juta per RW, dengan rencana peningkatan anggaran secara bertahap berdasarkan evaluasi pelaksanaannya hingga tahun ke 5 kepemimpinan Farhan, Walikota Bandung.

Dukungan tersebut membuka peluang memperluas praktik baik seperti di RW 10 Sukamaju untuk dikembangkan sesuai kebutuhan dan potensi masyarakat. Diantaranya berupa pembangunan infrastruktur, penanganan sampah, peningkatan kegiatan PKK, Posyandu, Ketertiban dan Keamanan, serta kegiatan kemasyarakatan lainnya.

Pengalaman RW 10 menarik bukan semata-mata karena beragam kegiatan dan penghargaan yang diperoleh, melainkan karena upaya lingkungan dihubungkan dengan manfaat sosial yang dirasakan warga. Di sini, masyarakat memperoleh ruang untuk berpartisipasi, bergotong royong, dan mengembangkan potensi lingkungannya.

Namun, capaian program dan penghargaan tidak otomatis membuktikan bahwa perubahan perilaku telah berlangsung secara konsisten. Pertanyaan penting berikutnya adalah bagaimana memastikan warga terus memilah dan mengelola sampah, serta menjaga lingkungan dalam keseharian, juga memastikan agar praktik baik tersebut dapat dipelajari dan dikembangkan di lingkungan lain.

Dari Program ke Perubahan yang Terukur

Ukuran keberhasilan program perlu bergeser dari sekadar menghitung kegiatan menuju pengamatan terhadap perubahan yang dihasilkan.

Pemerintah tidak cukup mengetahui berapa banyak sosialisasi telah dilakukan atau fasilitas yang disediakan, tetapi juga perlu melihat apakah upaya tersebut benar-benar mengubah perilaku masyarakat.

Langkah awalnya adalah menetapkan perilaku yang ingin diubah, mengukur kondisi awal, kemudian mengevaluasi perkembangannya secara berkala. Dalam hal pengelolaan sampah, indikatornya dapat berupa persentase rumah tangga yang memilah sampah dengan benar, konsistensi pemilahan, serta jumlah sampah yang berhasil dialihkan dari tempat pemrosesan akhir dalam periode tertentu.

Namun, perubahan perilaku tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada masyarakat. Konsistensi layanan dan kepastian sistem turut menentukan apakah kebiasaan baru dapat tumbuh dan bertahan.

Warga mungkin memahami pentingnya memilah sampah, tetapi kesulitan melakukannya jika fasilitas tidak memadai. Mereka juga bisa kehilangan kepercayaan ketika sampah yang telah dipisahkan dari rumah kembali tercampur saat pengangkutan.

Karena itu, edukasi perlu berjalan seiring dengan perbaikan layanan. Sistem pengangkutan dan pengolahan sampah harus mendukung pemilahan dari rumah. Insentif, pengawasan, dan penegakan aturan yang proporsional juga dapat memperkuat kepatuhan warga.

Pemerintah pun perlu membuka ruang dialog untuk mengetahui apakah layanan yang diberikan telah menjawab kebutuhan masyarakat. Pengalaman warga, keluhan, dan usulan perbaikan perlu menjadi bahan evaluasi agar program dapat terus disempurnakan.

Di sinilah peran strategis pendekatan audit sosial. Dengan mendengarkan masyarakat, pemerintah dapat memahami mengapa perubahan belum terjadi dan mengenali hambatan yang perlu diatasi.

Oleh karena itu, ketika perilaku yang diharapkan belum terbentuk, pemerintah tidak serta-merta menyalahkan rendahnya kesadaran warga. Bisa jadi edukasinya belum tepat, fasilitasnya belum memadai, atau sistem pelayanannya belum mendukung.

Mengukur perubahan perilaku bukan hanya tentang menilai masyarakat, melainkan juga memastikan bahwa kebijakan dan layanan pemerintah benar-benar memungkinkan perubahan itu terjadi.

Baca Juga: Elektrifikasi Becak Bukan Transformasi Sistem Transportasi

Menjaga Perubahan agar Tidak Berhenti

Kota Bandung telah memiliki berbagai inisiatif, termasuk Kang Pisman dan kegiatan pengelolaan sampah berbasis RW. Praktik seperti di RW 10 Sukamaju dapat menjadi sumber pembelajaran untuk memahami faktor yang mendukung keberhasilan maupun kendala yang masih dihadapi masyarakat.

Di sinilah peran analis kebijakan dan Pendamping DLH menjadi penting. Temuan di lapangan perlu diolah menjadi rekomendasi agar pemerintah dapat memperbaiki program, memperluas praktik yang relevan, dan menghindari pengulangan pendekatan yang kurang efektif.

Keberhasilan satu RW memang tidak otomatis mewakili seluruh kota, tetapi dapat menjadi sumber pengetahuan untuk merancang kebijakan yang lebih baik.

Program pemerintah boleh berganti. Prioritas dapat berubah dan inovasi baru selalu diperlukan. Namun, setiap pergantian semestinya membawa pembelajaran dari program sebelumnya, bukan sekadar menghadirkan nama dan slogan baru.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya terlihat dari apa yang dikerjakan pemerintah, tetapi juga dari kebiasaan baik yang tumbuh di tengah masyarakat. Program boleh selesai, anggaran boleh berganti, tetapi perilaku baik harus tetap hidup.

Sebab, kota yang bersih bukan hanya hasil dari kebijakan, melainkan juga buah dari kebiasaan warganya yang terus dijaga. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Okt 2026, 20:33

Dari Kepakan Sayap Kupu-Kupu hingga Karhutla: Bandung Tak Bisa Berpaling

Karhutla mungkin terasa jauh dari Bandung. Namun, melalui gagasan butterfly effect, kita diingatkan bahwa kepedulian lingkungan perlu diwujudkan lewat tindakan dan tuntutan pertanggungjawaban.

Hujan di salah satu sudut Bandung (Foto: Abah Omtris)
Bandung 25 Okt 2026, 20:00

Napas Subkultur Jalanan Kota Kembang: Saat Beton Arena Jadi Rumah Ekspresi dan Tangguh Anak Muda

Menjaga denyut subkultur jalanan Kota Kembang, bagaimana ruang berekspresi di Bandung jadi wadah memoles mental dan solidaritas generasi muda.

Menjaga denyut subkultur jalanan Kota Kembang, bagaimana ruang berekspresi di Bandung jadi wadah memoles mental dan solidaritas generasi muda. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 19:38

Program Boleh Berganti, Perilaku Harus Berubah

Kota yang bersih tidak lahir hanya dari program yang baik, tetapi juga dari kebiasaan warganya. Tantangannya, bagaimana memastikan program yang baik, benar-benar melahirkan perubahan perilaku?

Pembuatan Loseda di RW.10 bersama pendamping DLH Kota Bandung Tahun 2026. (Sumber: Dokumentasi RW. 10 Kelurahan Sukamaju Bandung)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 15:00

Elektrifikasi Becak Bukan Transformasi Sistem Transportasi

Elektrifikasi becak dapat membantu pengemudi, tetapi belum cukup mentransformasi transportasi. Integrasi layanan, fasilitas pengisian daya, keselamatan, dan keberlanjutan perlu menjadi perhatian.

Sejumlah pengemudi becak konvensional dan becak listrik menunggu penumpang di Jalan Baranangsiang, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 10 Oktober 2026. (Sumber: Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 12:59

Warteg dan Kehidupan para Mahasiswa

Warteg selalu menjadi tempat makan yang unik, bukan karena harganya saja yang terjangkau tapi juga berbagai macam cerita didalamnya.

Sajian makanan di Warung Tegal. (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 11:41

Semangkuk Cuanki Rp50 Ribu, Wali Kota Bandung Tak Mungkin Menunggui Setiap Mangkuk

Masalah getok harga seperti cuanki yang viral ini sesungguhnya bukan monopoli Bandung.

Ilustrasi cuanki Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 09:40

Semarak, Santri, dan Harmoni

Semarak menghadirkan kegembiraan, santri menempuh perjalanan ilmu, dan harmoni menjaga agar proses itu tetap berpijak pada kasih sayang, peduli, serta penghormatan terhadap sesama.

Status WhatsApp Istri, "Alhamdulillah masih bisa ketemu walaupun cuma 1 jam" Masjid Raya Al-A'zhom Kota Tangerang, Kamis (22/10/2026). (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)