Menumbuhkan Rasa Nasionalisme Warga Bandung dalam Penanganan Karlutha

4 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Aksi unjuk rasa BEM SI Jawa Barat di Kota Bandung, Selasa 13 Oktober 2026. Mahasiswa menyoroti sejumlah persoalan negara, salah satunya kebakaran hutan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Aksi unjuk rasa BEM SI Jawa Barat di Kota Bandung, Selasa 13 Oktober 2026. Mahasiswa menyoroti sejumlah persoalan negara, salah satunya kebakaran hutan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Apa yang harus dilakukan oleh warga Bandung sebagai bagian dari wilayah NKRI? Bahwa bencana atau kerusakan pada beberapa wilayah di Indonesia, terutama terjadinya karlutha, juga menjadi perhatian serius bagi warga Bandung, meski hanya dengan bersuara dan mendorong pemerintah secara nyata dalam penanganan karlutha.

Sebagaimana diketahui, dampak terjadinya karlutha di beberapa wilayah Indonesia, sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Tanpa mengecilkan upaya-upaya yang telah dilakukan, tetapi apa yang dicapai dalam penanganan sejauh ini, bukanlah sekadar data yang dipublikasikan hanya demi pencitraan semata. Harus ada kemauan dan kesadaran kolektif yang kuat, untuk menyelesaikan karlutha.

Warga Bandung tidak boleh terjebak dalam opini-opini liar, sehingga sikap empati dan nasionalisme hanya menjadi bagian retorika. Pertanyaan yang muncul, sejauh manakah penanganan karlutha ini tercapai? Apakah sudah melibatkan pakar-pakar geografis dan ekologis, yang juga menjadi tanggung jawab sosial dalam mempertahankan kedaulatan berbangsa, bernegara dan bertanah-air? Artinya, tanggung jawab ini bukan lagi hanya menjadi cakupan lokal yang mengalami karlutha.

Nasionalisme kerap dipahami sebagai kecintaan terhadap tanah air yang diwujudkan melalui penghormatan terhadap simbol negara, kesetiaan kepada bangsa, dan kesediaan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun, dalam konteks krisis lingkungan, nasionalisme seharusnya memiliki makna yang lebih substantif: kesadaran kolektif untuk melindungi ruang hidup, menjaga kelestarian alam, serta memastikan bahwa generasi mendatang tidak mewarisi kerusakan yang diciptakan oleh generasi hari ini.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan semata-mata persoalan api yang menghanguskan vegetasi. Di baliknya terdapat persoalan ekologis, ekonomi, sosial, tata kelola, dan kesadaran masyarakat. Kebakaran dapat merusak keanekaragaman hayati, menurunkan kualitas udara, meningkatkan emisi gas rumah kaca, serta mengancam kesehatan dan mata pencaharian penduduk. Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup diserahkan kepada pemerintah, petugas pemadam, atau aparat penegak hukum. Diperlukan keterlibatan masyarakat sebagai bagian dari tanggung jawab kebangsaan.

Bagi warga Bandung, persoalan ini memiliki relevansi tersendiri. Meskipun Kota Bandung bukan wilayah dengan bentang hutan seluas sejumlah daerah lain di Indonesia, masyarakatnya tetap memiliki peran strategis dalam membangun budaya peduli lingkungan, memperkuat solidaritas antardaerah, dan mendukung pencegahan kebakaran di kawasan hutan maupun lahan. Terlebih, persoalan lingkungan tidak mengenal batas administratif. Asap, perubahan iklim, kerusakan daerah tangkapan air, dan hilangnya keanekaragaman hayati dapat menimbulkan dampak yang melampaui wilayah tempat kebakaran terjadi.

Dalam perspektif akademis, hubungan antara nasionalisme dan lingkungan dapat dijelaskan melalui konsep ‘environmental citizenship’ atau kewargaan ekologis. Konsep ini menempatkan warga negara bukan hanya sebagai pemegang hak, melainkan juga sebagai subjek yang mempunyai kewajiban terhadap keberlanjutan lingkungan. Kewargaan ekologis mengandung pengertian bahwa keputusan sehari-hari, perilaku konsumsi, kepatuhan terhadap hukum, dan partisipasi publik memiliki konsekuensi terhadap kehidupan bersama.

Pemikiran tersebut sejalan dengan gagasan Elinor Ostrom mengenai pengelolaan sumber daya bersama. Dalam kajian tata kelola sumber daya, Ostrom menunjukkan pentingnya partisipasi komunitas, aturan yang disepakati, pengawasan, serta kerja sama antarpihak dalam menjaga sumber daya yang digunakan bersama. Hutan, lahan, air, dan udara bukan hanya objek ekonomi, melainkan bagian dari sistem penyangga kehidupan yang manfaatnya dirasakan masyarakat luas.

Dari sudut pandang ini, nasionalisme tidak seharusnya berhenti pada retorika kecintaan terhadap Indonesia. Nasionalisme perlu diterjemahkan menjadi tindakan konkret, seperti tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuka lahan dengan api, melaporkan indikasi kebakaran, mengawasi kerusakan lingkungan, dan mendukung kebijakan perlindungan hutan. Mencintai Indonesia berarti turut menjaga tanah, air, udara, serta kehidupan yang tumbuh di atasnya.

Bandung memiliki modal sosial dan historis untuk menumbuhkan kesadaran tersebut. Tradisi gotong royong, komunitas pendidikan, organisasi kepemudaan, perguruan tinggi, serta kelompok masyarakat sipil dapat menjadi kekuatan dalam membangun gerakan nasionalisme ekologis. Tantangannya adalah mengubah kepedulian yang sering muncul secara insidental menjadi kebiasaan sosial yang terorganisasi dan berkelanjutan.

Persoalan utama dalam membangun partisipasi publik bukan semata-mata kurangnya pengetahuan tentang bahaya kebakaran, melainkan bagaimana pengetahuan tersebut diubah menjadi perilaku. Masyarakat mungkin memahami bahwa karhutla merugikan negara, tetapi pemahaman itu tidak otomatis melahirkan tindakan pencegahan. Diperlukan pendidikan, keteladanan, mekanisme partisipasi, dan dukungan kebijakan yang memungkinkan warga bertindak secara nyata.

Warga Bandung dapat memulai dari lingkungan terdekat. Pengurus RT dan RW, karang taruna, komunitas lingkungan, sekolah, serta perguruan tinggi dapat mengembangkan pendidikan kebencanaan dan literasi karhutla. Materinya tidak cukup berupa imbauan agar masyarakat mencintai alam, tetapi harus menjelaskan penyebab kebakaran, risiko pembakaran terbuka, cara mengenali tanda awal kebakaran, prosedur pelaporan, dan tindakan aman ketika menemukan titik api.

Pendidikan semacam ini penting karena penanganan karhutla membutuhkan pemahaman mengenai hubungan sebab-akibat. Pembakaran lahan, terutama ketika vegetasi mengering dan kondisi cuaca mendukung, dapat berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan. Pada kawasan gambut, kebakaran bahkan dapat menjalar di bawah permukaan sehingga tidak selalu terlihat dari luar. Karena itu, pencegahan harus menjadi prioritas, bukan sekadar pemadaman setelah kebakaran membesar.

Selain itu, masyarakat perlu membangun sikap kritis terhadap praktik yang merusak lingkungan. Kepedulian ekologis tidak berarti menyalahkan kelompok tertentu tanpa bukti, melainkan mendorong agar setiap dugaan pelanggaran diperiksa secara adil dan berdasarkan hukum. Penegakan hukum yang konsisten terhadap pembakaran ilegal, baik yang dilakukan individu maupun pelaku usaha, merupakan bagian penting dari upaya menciptakan keadilan lingkungan.

Nasionalisme yang sehat tidak menutup mata terhadap pelanggaran hanya karena pelakunya memiliki kepentingan ekonomi atau kedudukan sosial. Sebaliknya, kecintaan terhadap bangsa menuntut keberanian menjaga kepentingan publik dari tindakan yang merugikan kehidupan bersama. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 26 Okt 2026, 14:00

Kebakaran Hutan di Masa Hindia Belanda

Sejarah kehutanan pada masa Hindia Belanda menjadi pengingat bahwa pengelolaan hutan harus menyeimbangkan kepentingan ekonomi, hak masyarakat, dan kelestarian lingkungan.

Pembukaan lahan di Sumatra Utara pada 1910 untuk dijadikan perkebunan. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 13:27

Parkir Gratis sebagai Fiksi yang Dipajang dengan Huruf Kapital

Keberadaan juru parkir di depan gerai minimarket  tidak otomatis berarti terjadi pelanggaran. Toh, di sejumlah minimarket, ada petugas parkir yang memang bekerja secara resmi.

Ilustrasi lahan parkir sepeda motor. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 11:11

Menumbuhkan Rasa Nasionalisme Warga Bandung dalam Penanganan Karlutha

Warga Bandung harus bersuara kritis dalam penanganan karlutha. Mendorong pemerintah untuk menangani karlutha ini lebih serius dengan sikap empati dan kesadaran kolektif. Ini sudah bencana nasional.

Aksi unjuk rasa BEM SI Jawa Barat di Kota Bandung, Selasa 13 Oktober 2026. Mahasiswa menyoroti sejumlah persoalan negara, salah satunya kebakaran hutan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 11:02

Bantu Kami Bersuara, Meski Terkesan Sia-sia

Suara rakyat di negeri ini memang seringkali terabaikan. Tapi tidak ada cara lain yang bisa dilakukan oleh masyarakat terdampak selain bersuara.

Kondisi update Palangkaraya (Sumber: Instagram | nabila_albathaty)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 10:34

Inisiatif Bandung Melawan Panas dengan Teknologi Kabut Air

Pemkot Bandung atau kepada pengelola gedung dan tempat publik untuk menerapkan teknologi kabut air yang bekerja dengan menyemprotkan butiran air yang sangat halus ke udara.

Ilustrasi musim kemarau. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 07:47

Hanya karena Bandung Tidak Terdampak, Bukan Berarti Korban Karhutla Baik-baik Saja

Karhutla yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia masih belum ditangani dengan baik. Sementara yang hilang bukan hanya hutan tapi penghuni didalamnya pun manusia itu sendiri.

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 20:33

Dari Kepakan Sayap Kupu-Kupu hingga Karhutla: Bandung Tak Bisa Berpaling

Karhutla mungkin terasa jauh dari Bandung. Namun, melalui gagasan butterfly effect, kita diingatkan bahwa kepedulian lingkungan perlu diwujudkan lewat tindakan dan tuntutan pertanggungjawaban.

Hujan di salah satu sudut Bandung (Foto: Abah Omtris)
Bandung 25 Okt 2026, 20:00

Napas Subkultur Jalanan Kota Kembang: Saat Beton Arena Jadi Rumah Ekspresi dan Tangguh Anak Muda

Menjaga denyut subkultur jalanan Kota Kembang, bagaimana ruang berekspresi di Bandung jadi wadah memoles mental dan solidaritas generasi muda.

Menjaga denyut subkultur jalanan Kota Kembang, bagaimana ruang berekspresi di Bandung jadi wadah memoles mental dan solidaritas generasi muda. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 19:38

Program Boleh Berganti, Perilaku Harus Berubah

Kota yang bersih tidak lahir hanya dari program yang baik, tetapi juga dari kebiasaan warganya. Tantangannya, bagaimana memastikan program yang baik, benar-benar melahirkan perubahan perilaku?

Pembuatan Loseda di RW.10 bersama pendamping DLH Kota Bandung Tahun 2026. (Sumber: Dokumentasi RW. 10 Kelurahan Sukamaju Bandung)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 15:00

Elektrifikasi Becak Bukan Transformasi Sistem Transportasi

Elektrifikasi becak dapat membantu pengemudi, tetapi belum cukup mentransformasi transportasi. Integrasi layanan, fasilitas pengisian daya, keselamatan, dan keberlanjutan perlu menjadi perhatian.

Sejumlah pengemudi becak konvensional dan becak listrik menunggu penumpang di Jalan Baranangsiang, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 10 Oktober 2026. (Sumber: Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 12:59

Warteg dan Kehidupan para Mahasiswa

Warteg selalu menjadi tempat makan yang unik, bukan karena harganya saja yang terjangkau tapi juga berbagai macam cerita didalamnya.

Sajian makanan di Warung Tegal. (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 11:41

Semangkuk Cuanki Rp50 Ribu, Wali Kota Bandung Tak Mungkin Menunggui Setiap Mangkuk

Masalah getok harga seperti cuanki yang viral ini sesungguhnya bukan monopoli Bandung.

Ilustrasi cuanki Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 09:40

Semarak, Santri, dan Harmoni

Semarak menghadirkan kegembiraan, santri menempuh perjalanan ilmu, dan harmoni menjaga agar proses itu tetap berpijak pada kasih sayang, peduli, serta penghormatan terhadap sesama.

Status WhatsApp Istri, "Alhamdulillah masih bisa ketemu walaupun cuma 1 jam" Masjid Raya Al-A'zhom Kota Tangerang, Kamis (22/10/2026). (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)