Menghadirkan pemikiran santri di tengah teknologi yang masif ini memang menjadi tantangan tersendiri. Santri yang notabene masih dianggap sebagai masyarakat yang belum mengenal teknologi, padahal dapat dibantah dengan banyaknya santri yang telah memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni.
Hadirnya santri dalam memrakarsai kebaruan dan inovasi menjadikan optimisme bagi sumber daya di negeri ini. Sekalipun masih ada yang skeptis. Namun hal ini dapat dibuktikan dengan santri-santri yang telah memiliki inovasi dan telah diakui oleh masyarakat dan tentunya ini menggembirakan.
Negeri ini tak kekurangan santri-santri yang berprestasi. Maka dari itu, pertimbangan kita bahwa santri harus didudukkan sebagai sumber daya yang berkemajuan dan mampu mengembangkan talentanya.
Jika ada yang masih memberikan pertanyaan, bagaimana mungkin inovasi hadir di antara santri yang belum mendapatkan keilmuan yang mumpuni? Maka jawabannya sederhana, ilmu pengetahuan sesungguhnya selaras dengan motivasi para santri untuk menjadi inovator yang berkelas bahkan mendapatkan pengakuan dari dunia internasional.
Teknologi sudah dimiliki oleh santri. Tidak sekadar membaca kitab kuning. Melainkan kemauan santri untuk terus belajar mengembangkan dirinya menjadi manusia Indonesia yang cerdas untuk generasi emas mendatang.
Siapakah Santri Inovator?
Jika kita mempertanyakan, siapakah santri inovator sebenarnya? Santri dijelaskan disini adalah yang memiliki latarbelakang menjadi santri, pernah menjadi santri di pondok pesantren. Ketika santri sudah lulus dari pondok pesantren, maka tetap saja disebut sebagai alumni dari pondok pesantren.
Maka tidak ada istilah, mantan santri. Sebab pondok pesantren melekatkan pada diri santri, bahwasanya santri tetaplah menjadi santri dimanapun berada. Oleh karena itu, santri adalah seseorang yang bermukim di pondok pesantren dalam periode tertentu, kemudian ketika menjadi alumni tetap disebut sebagai santri.
Santri inovator di antaranya Muhammad Ja'far Hasibuan dengan karya Biofar Shrimp Skin Care. Muhammad Al Hindawi dengan karya Menemukan celah keamanan (bug) pada sistem NASA.
Malik Khidir dengan karya penemu dan CEO di bidang teknologi robotika, membuktikan bahwa santri mampu memimpin industri high-tech. Nabila Saphira dengan karya menemukan prototipe turbin air penghasil listrik untuk energi terbarukan.
Khoirul Adib dengan karya sebagai pemenang medali emas World Young Inventors Exhibition dan penemu platform digital. Naqib Alwi Okbah & Reghan Athaya Suandi dengan karya merancang Creative Design Robot dan sistem kendali otomatis pada Drone yang diintegrasikan untuk kebutuhan fungsional.
Mereka adalah santri-santri yang mampu mengharumkan pondok pesantren dan menjadi kebanggaan bagi Indonesia.
Dari mereka pula, kita bisa belajar bahwa santri memiliki kemampuan yang sama, setara dengan pelajar lainnya. Maka dari itu, tidak ada yang perlu diragukan, mereka adalah santri inovator yang sangat ditunggu oleh bangsa, mereka yang mampu mewujudkan Indonesia emas.
Menemukan Makna Inovasi dan Religi
Santri dengan semua hal yang berkaitan dengan teknologi, tidak pernah melepaskan atributnya sebagai masyarakat yang religius. Kendati santri sudah menjadi alumni. Maka santri tetap berpegang teguh atas kereligiusannya di tengah lingkungan yang berbeda.
Setiap santri berinovasi dengan penemuan-penemuannya yang mengagumkan tersebut, santri tidak bisa melepaskan pula terkait kehidupan religiusnya, tetap mengingat bahwasanya pembelajaran agama menjadi paling utama. Bahkan sebagai pegangan keimanan agar tetap lurus terus menerus.
Terhindar dari godaan maupun perbuatan yang munkar, maka dari itu santri wajib menemukan makna sesungguhnya bagaimana religiusitas berperan penting dalam mengimplementasikan inovasi-inovasinya di tengah masyarakat?
Untuk itu, upaya yang harus dilakukan berkaitan. Pertama, santri wajib menjadi tokoh yang diteladani dan mampu memberikan pembelajaran yang baik, tidak mencoreng nama baik almamater dan juga tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan hingga akhir hayat.
Kedua, beriringan dengan nilai-nilai keagamaan ini, teknologi yang terus berdampingan dengan santri tetap disebut sebagai alat atau sesuatu yang tidak boleh dinomor satukan dalam perspektif kehidupan, meski teknologi sudah menjadi sesuatu yang segalanya menggunakan teknologi, maka santri dapat mengubah paradigma tersebut. Teknologi bukan sesuatu yang harus dituhankan.
Ketiga, kemampuan santri diperlukan agar selalu belajar, dan mampu meraih prestasi. Selain itu, santri terus memotivasi dirinya menjadi masyarakat yang selalu dibanggakan.
Baca Juga: Spiritualitas Santri dalam Menerjemahkan Zaman yang Kian Apokaliptik
Keempat, hadirnya santri diwujudkan sebagai masyarakat yang sudah melek teknologi meskipun di pondok pesantren, maka pondok pesantren wajib memberikan fasilitas dan sarana berkaitan teknologi agar tercipta santri-santri yang baru, santri yang terus mengembangkan teknologi dalam menghadapi masa depannya.
Terakhir, bahwa inovasi dan religi merupakan makna yang menegaskan bahwa santri tidak lagi disebut tidak tahu apa-apa. Santri sudah bermetamorfosis menjadi santri yang melek teknologi, santri yang mengedepankan religiusitasnya dalam berteknologi. Santri memanfaatkan kapasitasnya menjadi sumberdaya manusia yang memberi manfaat kepada masyarakat.
Semoga di hari santri ke 11 tahun ini, selalu menjadi doa-doa dan dorongan besar agar santri selalu hadir di kancah dunia, memberikan makna yang hakiki untuk bangsa dan negara. Apakah kita bisa meneladani penemuan-penemuan dari santri? Tentu saja. Jika kita terus bergerak bersama. Belajar bersama. Berdoa bersama. (*)