Santri Inovator: Menghadirkan Religiusitas dalam Teknologi

4 menit baca
Muh Husen Arifin
Ditulis oleh Muh Husen Arifin diterbitkan
Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)

Menghadirkan pemikiran santri di tengah teknologi yang masif ini memang menjadi tantangan tersendiri. Santri yang notabene masih dianggap sebagai masyarakat yang belum mengenal teknologi, padahal dapat dibantah dengan banyaknya santri yang telah memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni.

Hadirnya santri dalam memrakarsai kebaruan dan inovasi menjadikan optimisme bagi sumber daya di negeri ini. Sekalipun masih ada yang skeptis. Namun hal ini dapat dibuktikan dengan santri-santri yang telah memiliki inovasi dan telah diakui oleh masyarakat dan tentunya ini menggembirakan.

Negeri ini tak kekurangan santri-santri yang berprestasi. Maka dari itu, pertimbangan kita bahwa santri harus didudukkan sebagai sumber daya yang berkemajuan dan mampu mengembangkan talentanya.

Jika ada yang masih memberikan pertanyaan, bagaimana mungkin inovasi hadir di antara santri yang belum mendapatkan keilmuan yang mumpuni? Maka jawabannya sederhana, ilmu pengetahuan sesungguhnya selaras dengan motivasi para santri untuk menjadi inovator yang berkelas bahkan mendapatkan pengakuan dari dunia internasional.

Teknologi sudah dimiliki oleh santri. Tidak sekadar membaca kitab kuning. Melainkan kemauan santri untuk terus belajar mengembangkan dirinya menjadi manusia Indonesia yang cerdas untuk generasi emas mendatang.

Siapakah Santri Inovator?

Jika kita mempertanyakan, siapakah santri inovator sebenarnya? Santri dijelaskan disini adalah yang memiliki latarbelakang menjadi santri, pernah menjadi santri di pondok pesantren. Ketika santri sudah lulus dari pondok pesantren, maka tetap saja disebut sebagai alumni dari pondok pesantren.

Maka tidak ada istilah, mantan santri. Sebab pondok pesantren melekatkan pada diri santri, bahwasanya santri tetaplah menjadi santri dimanapun berada. Oleh karena itu, santri adalah seseorang yang bermukim di pondok pesantren dalam periode tertentu, kemudian ketika menjadi alumni tetap disebut sebagai santri.

Santri inovator di antaranya Muhammad Ja'far Hasibuan dengan karya Biofar Shrimp Skin Care. Muhammad Al Hindawi dengan karya Menemukan celah keamanan (bug) pada sistem NASA.

Malik Khidir dengan karya penemu dan CEO di bidang teknologi robotika, membuktikan bahwa santri mampu memimpin industri high-tech. Nabila Saphira dengan karya menemukan prototipe turbin air penghasil listrik untuk energi terbarukan.

Khoirul Adib dengan karya sebagai pemenang medali emas World Young Inventors Exhibition dan penemu platform digital. Naqib Alwi Okbah & Reghan Athaya Suandi dengan karya merancang Creative Design Robot dan sistem kendali otomatis pada Drone yang diintegrasikan untuk kebutuhan fungsional.

Mereka adalah santri-santri yang mampu mengharumkan pondok pesantren dan menjadi kebanggaan bagi Indonesia.

Dari mereka pula, kita bisa belajar bahwa santri memiliki kemampuan yang sama, setara dengan pelajar lainnya. Maka dari itu, tidak ada yang perlu diragukan, mereka adalah santri inovator yang sangat ditunggu oleh bangsa, mereka yang mampu mewujudkan Indonesia emas.

Menemukan Makna Inovasi dan Religi

Santri dengan semua hal yang berkaitan dengan teknologi, tidak pernah melepaskan atributnya sebagai masyarakat yang religius. Kendati santri sudah menjadi alumni. Maka santri tetap berpegang teguh atas kereligiusannya di tengah lingkungan yang berbeda.

Setiap santri berinovasi dengan penemuan-penemuannya yang mengagumkan tersebut, santri tidak bisa melepaskan pula terkait kehidupan religiusnya, tetap mengingat bahwasanya pembelajaran agama menjadi paling utama. Bahkan sebagai pegangan keimanan agar tetap lurus terus menerus.

Terhindar dari godaan maupun perbuatan yang munkar, maka dari itu santri wajib menemukan makna sesungguhnya bagaimana religiusitas berperan penting dalam mengimplementasikan inovasi-inovasinya di tengah masyarakat?

Untuk itu, upaya yang harus dilakukan berkaitan. Pertama, santri wajib menjadi tokoh yang diteladani dan mampu memberikan pembelajaran yang baik, tidak mencoreng nama baik almamater dan juga tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan hingga akhir hayat.

Kedua, beriringan dengan nilai-nilai keagamaan ini, teknologi yang terus berdampingan dengan santri tetap disebut sebagai alat atau sesuatu yang tidak boleh dinomor satukan dalam perspektif kehidupan, meski teknologi sudah menjadi sesuatu yang segalanya menggunakan teknologi, maka santri dapat mengubah paradigma tersebut. Teknologi bukan sesuatu yang harus dituhankan.

Ketiga, kemampuan santri diperlukan agar selalu belajar, dan mampu meraih prestasi. Selain itu, santri terus memotivasi dirinya menjadi masyarakat yang selalu dibanggakan.

Baca Juga: Spiritualitas Santri dalam Menerjemahkan Zaman yang Kian Apokaliptik

Keempat, hadirnya santri diwujudkan sebagai masyarakat yang sudah melek teknologi meskipun di pondok pesantren, maka pondok pesantren wajib memberikan fasilitas dan sarana berkaitan teknologi agar tercipta santri-santri yang baru, santri yang terus mengembangkan teknologi dalam menghadapi masa depannya.

Terakhir, bahwa inovasi dan religi merupakan makna yang menegaskan bahwa santri tidak lagi disebut tidak tahu apa-apa. Santri sudah bermetamorfosis menjadi santri yang melek teknologi, santri yang mengedepankan religiusitasnya dalam berteknologi. Santri memanfaatkan kapasitasnya menjadi sumberdaya manusia yang memberi manfaat kepada masyarakat.

Semoga di hari santri ke 11 tahun ini, selalu menjadi doa-doa dan dorongan besar agar santri selalu hadir di kancah dunia, memberikan makna yang hakiki untuk bangsa dan negara. Apakah kita bisa meneladani penemuan-penemuan dari santri? Tentu saja. Jika kita terus bergerak bersama. Belajar bersama. Berdoa bersama. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 27 Okt 2026, 15:23

Kita Menghirup Asap yang Sama

Dampak asap karhutla.

Ilustrasi polusi asap kebakaran. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 14:54

Santri Inovator: Menghadirkan Religiusitas dalam Teknologi

Hadirnya santri dalam memrakarsai kebaruan dan inovasi menjadikan optimisme bagi sumber daya di negeri ini. Sekalipun masih ada yang skeptis.

Ilustrasi santri. (Sumber: Pixabay)
Ayo Biz 27 Okt 2026, 11:57

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Bersama Gemapala

PLN Nusantara Power UP Cirata bersama Gemapala perkuat kesiapsiagaan bencana dalam momentum Hari Sumpah Pemuda melalui aksi nyata.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kesiapsiagaan Bencana Bersama Gemapala
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 10:54

Spiritualitas Santri dalam Menerjemahkan Zaman yang Kian Apokaliptik

Peringatan hari santri nasional selalu ditandai dengan frasa resolusi jihad. Tetapi, apakah maknanya mulai bergeser mengikuti arah zaman? Atau ini menjadi titik balik dalam menumbuhkan spiritualitas?

Kegiatan setoran hafalan Quran Santri Cianjur. (Sumber: Yayasan Huda Cendekia)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 10:33

Smart Education City Siapkan Pekerja Bandung Hadapi Era Industri 4.0

Tantangan Bandung adalah mengubah modal SDM menjadi kompetensi yang relevan, pekerjaan yang bermutu, dan produktivitas yang meningkat.

Walikota Bandung Tanda Tangani Kemitraan Strategis Kolaborasi Kota Bandung sebagai Kota Pendidikan (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 08:59

Dari Bandung Teknologi Pendukung untuk Mitigasi Karhutla Bisa Diintegrasikan

Pencegahan pembakaran lahan, penegakan hukum, pemulihan ekosistem gambut, pengawasan kegiatan usaha, serta partisipasi masyarakat tetap menjadi agenda utama

Perlu mengembangkan drone buatan PT Iter Aero di Bandung untuk mitigasi Karhutla (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 19:02

Media Sosial sebagai Mesin Pencari Utama Generasi Muda

Media sosial sebagai sarana pencari informasi generasi masa kini

Ilustrasi berbagai ikon platform media sosial populer seperti TikTok dan Instagram yang kini kerap digunakan sebagai sarana pencari informasi. (Sumber: Pixabay | Foto: BiljaST)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 17:00

Tahura Djuanda, Hutan Raya yang Penyimpan Jejak Sejarah

Tahura Djuanda di Dago Pakar, Bandung, menawarkan hutan sejuk, Gua Belanda, Gua Jepang, museum, dan Curug Omas untuk liburan alam dan sejarah.

Gelang masuk Taman Hutan Raya Ir. Djuanda, Bandung.
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 16:36

Bandung dan Pusat Mata Nasional:  Solidaritas bagi Korban Karhutla Kalimantan

Segenap urang Bandung memiliki momentum yang amat mulia untuk menunjukkan bahwa solidaritas antardaerah tidak berhenti pada rasa prihatin.

Aeshtetic Eye Care & Dry Eye Clinic di RS Mata Cicendo. (Sumber: RS Mata Cicendo)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 16:02

Menata Kiaracondong, Menjaga Mata Pencaharian: Tantangan Kepemimpinan Pemerintah

Adanya Penertiban 77 lapak pedagang kaki lima di Pasar Kiaracondong, Kota Bandung, Pada Senin, 12 Oktober 2026. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan bagaimana pemerintah menjalankan perannya.

Puluhan pedagang di kawasan Pasar Kiaracondong membongkar bangunan yang ditempati secara mandiri, Senin, 12 Oktober 2026. (Sumber: Dok. Pemkot Bandung)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 14:00

Kebakaran Hutan di Masa Hindia Belanda

Sejarah kehutanan pada masa Hindia Belanda menjadi pengingat bahwa pengelolaan hutan harus menyeimbangkan kepentingan ekonomi, hak masyarakat, dan kelestarian lingkungan.

Pembukaan lahan di Sumatra Utara pada 1910 untuk dijadikan perkebunan. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 13:27

Parkir Gratis sebagai Fiksi yang Dipajang dengan Huruf Kapital

Keberadaan juru parkir di depan gerai minimarket  tidak otomatis berarti terjadi pelanggaran. Toh, di sejumlah minimarket, ada petugas parkir yang memang bekerja secara resmi.

Ilustrasi lahan parkir sepeda motor. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 11:11

Menumbuhkan Rasa Nasionalisme Warga Bandung dalam Penanganan Karlutha

Warga Bandung harus bersuara kritis dalam penanganan karlutha. Mendorong pemerintah untuk menangani karlutha ini lebih serius dengan sikap empati dan kesadaran kolektif. Ini sudah bencana nasional.

Aksi unjuk rasa BEM SI Jawa Barat di Kota Bandung, Selasa 13 Oktober 2026. Mahasiswa menyoroti sejumlah persoalan negara, salah satunya kebakaran hutan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 11:02

Bantu Kami Bersuara, Meski Terkesan Sia-sia

Suara rakyat di negeri ini memang seringkali terabaikan. Tapi tidak ada cara lain yang bisa dilakukan oleh masyarakat terdampak selain bersuara.

Kondisi update Palangkaraya (Sumber: Instagram | nabila_albathaty)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 10:34

Inisiatif Bandung Melawan Panas dengan Teknologi Kabut Air

Pemkot Bandung atau kepada pengelola gedung dan tempat publik untuk menerapkan teknologi kabut air yang bekerja dengan menyemprotkan butiran air yang sangat halus ke udara.

Ilustrasi musim kemarau. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Okt 2026, 07:47

Hanya karena Bandung Tidak Terdampak, Bukan Berarti Korban Karhutla Baik-baik Saja

Karhutla yang terjadi di sejumlah daerah di Indonesia masih belum ditangani dengan baik. Sementara yang hilang bukan hanya hutan tapi penghuni didalamnya pun manusia itu sendiri.

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 20:33

Dari Kepakan Sayap Kupu-Kupu hingga Karhutla: Bandung Tak Bisa Berpaling

Karhutla mungkin terasa jauh dari Bandung. Namun, melalui gagasan butterfly effect, kita diingatkan bahwa kepedulian lingkungan perlu diwujudkan lewat tindakan dan tuntutan pertanggungjawaban.

Hujan di salah satu sudut Bandung (Foto: Abah Omtris)
Bandung 25 Okt 2026, 20:00

Napas Subkultur Jalanan Kota Kembang: Saat Beton Arena Jadi Rumah Ekspresi dan Tangguh Anak Muda

Menjaga denyut subkultur jalanan Kota Kembang, bagaimana ruang berekspresi di Bandung jadi wadah memoles mental dan solidaritas generasi muda.

Menjaga denyut subkultur jalanan Kota Kembang, bagaimana ruang berekspresi di Bandung jadi wadah memoles mental dan solidaritas generasi muda. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 25 Okt 2026, 19:38

Program Boleh Berganti, Perilaku Harus Berubah

Kota yang bersih tidak lahir hanya dari program yang baik, tetapi juga dari kebiasaan warganya. Tantangannya, bagaimana memastikan program yang baik, benar-benar melahirkan perubahan perilaku?

Pembuatan Loseda di RW.10 bersama pendamping DLH Kota Bandung Tahun 2026. (Sumber: Dokumentasi RW. 10 Kelurahan Sukamaju Bandung)