Jejak Dua Seniman Eks Tahanan Politik Tersembunyi Puluhan Tahun di Hutan Maribaya

5 menit baca
Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi diterbitkan
Pengunjung berfoto di relief adu domba jantan di Maribaya, sebelah timur Lembang tahun 1971. (Sumber: collectie.wereldculturen)
Pengunjung berfoto di relief adu domba jantan di Maribaya, sebelah timur Lembang tahun 1971. (Sumber: collectie.wereldculturen)

AYOBANDUNG.ID - Tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan dan semak belukar kawasan Hutan Maribaya, sebuah penemuan unik menyimpan misteri masa lalu yang terlupakan. Koswara, pria 42 tahun dari Kampung Maribaya, Desa Langensari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, secara tak sengaja menemukan sebuah patung kepala manusia berukuran jauh lebih besar daripada kepala manusia biasa.

Patung itu memiliki diameter sekitar tiga meter, lengkap dengan mulut, hidung, dan telinga, berdiri kokoh di bawah tebing tak jauh dari Air Terjun Curug Omas. Namun, jika dilihat dari kejauhan, sosok raksasa ini sulit terlihat, tersembunyi di balik semak belukar dan rumpun bambu, dengan seluruh permukaannya tertutup rumput liar dan lumut.

Ada yang membuatnya berbeda dari patung biasa—bentuknya menyerupai arca dwarapala, sosok penjaga yang kerap ditemukan di gerbang candi atau keraton di Jawa. Namun yang ditemukan hanya bagian kepala, tanpa badan yang utuh.

Tak jauh dari lokasi itu, sekitar 500 meter jauhnya, Koswara juga menemukan sebuah ukiran relief di lereng curam. Relief tersebut menggambarkan sosok manusia berkuncir, mengenakan selendang, dan menaiki binatang mirip kuda. Berbeda dengan patung kepala yang terlihat sangat kuno, relief ini justru memberi kesan lebih modern, terlihat dari sisa warna cat merah dan kuning yang masih melekat pada ukiran tersebut.

Koswara masih ingat betul saat penemuan itu terjadi. Waktu itu, ia tengah memasang perangkap lebah di kawasan hutan tersebut. Ia teringat cerita kakek buyutnya tentang dua tempat bernama Bubutaan dan Cadas Kuda Lumping—nama-nama yang selama ini hanya dianggap sebagai sebutan biasa untuk area hutan itu.

Namun kini, nama-nama tersebut menemukan makna baru setelah melihat patung kepala manusia raksasa yang kemudian disebut Bubutaan, dan relief manusia menaiki kuda yang dinamai Cadas Kuda Lumping.

Meski begitu, Koswara tak mengetahui siapa pembuat patung dan relief itu, atau kapan keduanya dibuat. Keluarganya pun tak pernah membicarakan asal-usul benda-benda tersebut. Lebih aneh lagi, keduanya ditemukan jauh di dalam hutan belantara yang sepi, seolah sengaja disembunyikan.

Menurut cerita ayah Koswara, dulunya lokasi itu kerap menjadi tempat bertapa atau semedi. Di sana sering ditemukan dupa, rokok, atau sesaji berupa kelapa muda sebagai tanda penghormatan dan ritual spiritual. Kini, tradisi itu telah lama hilang dan jejak-jejak sesaji pun tak lagi tampak.

Karya seni berbentuk patung di tengah Hutan Maribaya yang diduga kuat merupakan karya dua orang seniman anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat yaitu Tubagus Chutbani BA dan Unu Pandi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)
Karya seni berbentuk patung di tengah Hutan Maribaya yang diduga kuat merupakan karya dua orang seniman anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat yaitu Tubagus Chutbani BA dan Unu Pandi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)
Relief yang menggambarkan sosok manusia berkuncir yang mengenakan selendang dan menaiki binatang mirip kuda.Karya seni di tengah hutan Maribaya ini diduga kuat merupakan karya dua orang seniman anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)
Relief yang menggambarkan sosok manusia berkuncir yang mengenakan selendang dan menaiki binatang mirip kuda.Karya seni di tengah hutan Maribaya ini diduga kuat merupakan karya dua orang seniman anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha)

Dari Seniman ke Tahanan Politik

Keberadaan sejumlah karya seni berbentuk patung dan relief di tengah Hutan Maribaya diduga kuat merupakan karya dua seniman anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yaitu Tubagus Chutbani BA dan Unu Pandi.

Lekra merupakan organisasi yang dibentuk sejumlah tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 17 Agustus 1950 sebagai wadah bagi para seniman pada masa itu. Namun, dalam perjalanannya, lembaga ini kerap dituding menjadi media propaganda politik PKI hingga dibubarkan tahun 1966.

Hasil penelusuran menyebutkan, kedua seniman Lekra tersebut sengaja membuat patung dan relief untuk mempercantik destinasi wisata Maribaya pada tahun 1970-an. Saat itu, pemandian air panas Maribaya, Air Terjun Maribaya, dan Air Terjun Omas masih dikelola oleh pemerintah Kabupaten Bandung.

Status keduanya adalah mantan tahanan politik (Tapol) peristiwa G30S. Mereka sempat diburu rezim Orde Baru dan ditahan di Jalan Jawa, Kota Bandung. Karena tak terbukti bersalah, pada tahun 1970-an Bupati Bandung Lily Sumantri meminta agar Chutbani dan Unu dibebaskan dan dipekerjakan di Maribaya.

“Chutbani dan Unu ini dikenal sebagai Tapol golongan C. Meski telah bebas, mereka tetap dikenakan wajib lapor,” kata Entun Suryana Alamsyah (76), rekan kerja keduanya di Maribaya.

Beberapa patung dan relief karya Chutbani dan Unu masih tersisa di hutan. Di antaranya patung kepala manusia raksasa lengkap dengan detail wajah, serta relief sosok manusia berkuncir menaiki kuda. Kini, keduanya nyaris tak terlihat karena tertutup lumut dan semak.

Tak hanya dua, menurut Entun, karya mereka mencapai puluhan, tersebar di berbagai titik Hutan Maribaya. Ada yang berada di tepi sungai, di depan pintu masuk, hingga lokasi terpencil. Beberapa masih utuh, lainnya rusak atau hanyut terbawa arus Sungai Cikapundung.

“Banyak sekali—ada patung kuda lumping, singa, katak, kera, rusa, buaya, sampai relief tradisi adu domba,” ujarnya.

Entun bercerita, selain Chutbani dan Unu, ada sekitar 30 Tapol ’65 yang bekerja di Maribaya pada 1970–1975. Mereka bisa bebas berkat jaminan langsung dari Bupati Lily Sumantri, meski tetap mendapat stigma negatif dan diskriminasi.

“Bupati Lily yakin mereka tidak bersalah. Tapi dalam kehidupan sehari-hari, mereka tetap sering dituduh PKI dan tidak bisa diangkat menjadi PNS seperti warga lain,” katanya.

Entun menyebut selama bekerja, Chutbani dan Unu tak pernah bercerita detail soal keterlibatan mereka di Lekra. Mereka hanya mengaku pernah belajar seni rupa kepada Hendra Gunawan, tokoh Lekra terkenal di Bandung dan Jawa Barat.

Kedua seniman ini menegaskan tidak pernah merencanakan atau terlibat dalam peristiwa G30S.

“Saat bekerja bersama saya, mereka membantah terlibat. Mereka hanya sempat belajar pada Hendra Gunawan. Tapi tiba-tiba dituduh PKI dan ditahan militer,” jelasnya.

Senada dengan Entun, mantan Kepala Balai Pengelolaan Tahura Ir. H. Djuanda, Lianda Lubis, mengatakan patung kepala raksasa dan relief manusia naik kuda itu memang karya Chutbani BA dan Unu Pandi sekitar tahun 1972.

Ia menjelaskan, patung dan relief itu merupakan karya seni luar ruang yang dibuat dari campuran batu, semen, dan pasir. Dulu, masyarakat melihatnya sebagai patung biasa, namun seiring waktu dan tertutup lumut, karya itu justru terlihat lebih artistik.

“Kalau ada yang bertanya ini peninggalan Belanda atau kerajaan, jawabannya bukan. Ini peninggalan dua seniman,” kata Lianda. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 18:08

Menerapkan Pompa Submersible Tenaga Surya untuk Atasi Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) di berbagai wilayah dihadang masalah klasik yakni titik api jauh dari sumber air dan listrik.

Ilustrasi penggunaan sistem pompa untuk atasi karhutla (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 17:38

Alibasah Sentot Abdullah Mustafa Prawirodirdjo Menumpas Kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832

Kisah heroik Alibasah Sentot Prawirodirdjo saat memimpin pasukan menumpas kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832. Analisis sejarah mendalam tentang strategi dan dampaknya bagi kolonial.

Alibasah Sentot Prawirodirdjo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: G.L. Kepper: Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch leger)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 16:29

Romantisme Membaca Majalah Mangle Edisi Agustus 1962: Jejak Mojang Bandung Doeloe dan Kiwari

Ada romantisme tersendiri ketika membuka kembali sebuah majalah tua yang telah berusia puluhan tahun.

Majalah Mangle edisi Agustus 1962, menampilkan mojang Bandung, Tatty Kartika, sebagai wajah sampul. (Sumber: Dokumentasi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 15:52

Riwayat Cikao dan Cikaobandung Sejak Dahulu Hingga Sekarang

Riwayat Cikaobandung dari masa lalu hingga masa kini. Menelusuri jejak perkembangan wilayah, peran strategis, transformasi sosial dan budaya yang kaya nilai historis dalam narasi yang mendalam.

Tjikao Koffiepakhuis – Gudang Kopi Cikao, 1880. (Sumber: Koleksi Leiden University Libraries)
Linimasa 28 Agu 2026, 15:09

Riwayat Hitam Kebakaran Hutan di Kalimantan, 4 Dekade Kabut di Lahan Gambut

Kebakaran hutan berulang di Kalimantan sejak 1982. Ketahui riwayat karhutla besar, El Niño, lahan gambut, hingga peristiwa 2026.

Ilustrasi kebakaran hutan.
Sejarah 28 Agu 2026, 14:30

Sejarah Gempa NTT, Tercatat Sejak 1898

Sejarah gempa besar NTT berlangsung lebih dari satu abad, dengan sejumlah peristiwa disertai tsunami dan korban jiwa besar.

Dampak tsunami Lunyuk 1977. (Sumber: Pulau Sumba News)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 14:01

Peran Unpad Membantu Gen Z Raih LoA Universitas Top Dunia

Saat ini adalah momentum untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) agar setara dengan negara maju.

Ilustrasi peran Unpad membantu siswa memperoleh LoA dari universitas top dunia (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 12:42

Jangan Menjadikan ‘Pitbull’ sebagai Tersangka Tunggal

Dalam kasus pitbull di Arjasari, Anjing itu memang yang menyerang anak. Itu terlihat jelas dalam rekaman video yang sempat viral di media sosial. 

Ilustrasi anjing sebagai hewan peliharaan. (Sumber: Magnific)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 10:25

Motivasi dan Peluang Mahasiswa Wirausaha

Sebab di era digital dan era yang penuh ketidakpastian ini, mahasiswa sangat ditekankan untuk mengelola setiap keputusannya.

Ilustrasi mahasiswa (Sumber: Pexels | Foto: hartono subagio)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 20:20

Ayyuhal Walad: Kumpulan Nasihat Imam Al-Ghazali untuk Orang yang Sedang Mencari

Ayyuhal Walad merupakan kumpulan nasihat yang ditulis ketika Al-Ghazali mendapatkan surat dari salah satu murid kinasihnya.

Buku "Ayyuhal Walad". (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 18:34

Sudahkah Hukum Berpihak pada Korban Kekerasan Seksual Anak di Bawah Umur?

Mengangkat isu mengenai kekerasan seksual pada anak sebagai persoalan yang sensitif dan penting, memaparkan berbagai kekerasan seksual, dan membahas mengenai sulitnya bagi korban untuk bersuara.

Ilustrasi anak yang mengalami trauma kekerasan. (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 17:25

Istilah Sunda untuk Besar Guncangan Gempa Bumi

Masyarakat Sunda memiliki lima istilah untuk menggambarkan tingkat guncangan gempabumi, dari riyeg hingga pralaya, yang berkaitan dengan skala MMI dan dampak kerusakannya.

Gambar tafsir baru mitologi gempabumi. Bola bumi berada di ujung tanduk sapi yang berdiri di atas paus. Bila paus dan sapi bergerak, terjadilah gempabumi. (Sumber: Dok. T Bachtiar)
Beranda 27 Agu 2026, 16:55

Kemenkes Temukan Jutaan Kasus PTM lewat Cek Kesehatan Gratis, Prioritaskan Tata Laksana demi Indonesia Emas 2045

Skrining Cek Kesehatan Gratis terhadap 73,8 juta peserta hingga Juli 2026 mengungkap jutaan kasus penyakit tidak menular yang selama ini tidak terdeteksi.

Pelaksanaan program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 27 Agu 2026, 16:20

73,8 Juta Peserta Jangkau Cek Kesehatan Gratis, Kemenkes Ubah Paradigma Menuju Indonesia Emas 2045

Generasi yang sakit akan sulit menjadi generasi unggul, sementara generasi yang sehat menjadi modal utama menuju Indonesia Emas 2045.

Program cek kesehatan gratis (CKG) untuk anak sekolah di SMPN 5 Bandung, Jalan Jawa, Kota Bandung, Senin 4 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 15:17

Selawatan, Muludan, dan Perdamaian 

Dari buku yang semula hanya tergeletak di rak sederhana tiba-tiba menjadi pintu masuk untuk membicarakan Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana mencintai Nabi, tetapi harus menjadi landasan bersama

Anak-anak tengah asyik diskusi sebelum belajar ngaji bersama. (Sumber: instagram @jaro_numoto)
Ayo Netizen 27 Agu 2026, 13:53

Nasib CFD Bandung yang Terjerat Audit Rp2,7 Miliar

BPK menemukan penggunaan anggaran sekitar Rp 2,7 miliar terkait CFD untuk membayar personel non-ASN tanpa dasar hukum yang memadai.

CFD di kawasan Dago. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)