Toponimi Lembang (Bagian 1)

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)
Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)

Toponimi adalah cabang ilmu linguistik dan geografi yang mengkaji asal-usul, arti, sejarah dan makna dari penamaan sebuah tempat atau unsur geografi. Toponimi berkaitan dengan bidang etnologi dan kebudayaan. Toponimi berasal dari bahasa Yunani, yaitu Topos yang berarti tempat dan Onoma yang berarti nama.

Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan toponimi adalah cabang Onomastika yang menyelidiki nama tempat. Adapun Onomastika merupakan bidang ilmu linguistik yang menyelidiki asal-usul, bentuk, makna dari, serta nama orang dan tempat. Karena sebuah nama adalah kontribusi utama dan bagian terpenting dalam kehidupan kita sehari-hari.

Toponimi sering diabaikan selama ini, padahal dalam kasus-kasus terkait teritori, toponimi adalah pemberi identitas dan kunci penting. Sementara itu, fungsi lain toponimi adalah menjadi salah satu unsur utama untuk berkoordinasi dan berkomunikasi antar bangsa, dan membantu menetapkan sebuah teritori wilayah dan batas administrasi.

Lembang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bandung Barat yang berjarak sekitar 22 km dari titik nol Kota Bandung yang berada pada ketinggian 1.312 hingga 2.084 mdpl. Pada KBBI Lembang artinya adalah lekuk atau cekungan pada tanah dan permukaan lainnya. Biasanya disamakan juga dengan lembah atau tanah rendah yang tergenang air.

Berdasarkan kajian geografi tentang patahan Lembang yang diteliti dan dikembangkan oleh Pak T. Bachtiar, Lembang berasal dari bahasa Sunda yaitu “Ngalembang” yang berarti air yang tergenang atau menggenang karena tertahan, sehingga membentuk genangan yang luas. Ia menjelaskan bahwa nama Lembang kemungkinan berasal dari kondisi alam wilayah tersebut pada masa lalu. Air yang mengalir dari lereng Gunung Tangkuban Parahu tertahan oleh sesar Lembang, sehingga air menjadi tergenang (ngalembang).

Dalam sebuah buku berbahasa Belanda yang berjudul “Het Nederlanche Java Institut, Javaansche Geographische Namen als Spiegel Van De Omgeving En De Denkwijze Van het Volk”, pada halaman 3, menuliskan arti dari penamaan Lembang itu sendiri yang diambil dari sebuah rumput yang banyak ditemui di kawasan Lembang, yaitu Rumput Lembang.

Tanaman ini memiliki bahasa latin Thypia Latifolla, atau dalam bahasa Inggris sering disebut dengan Cattail atau Bulrush, sedangkan dalam bahasa Indonesia disebut Lidi Air. Tanaman ini banyak ditemui di kawasan Gunung Lembang yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Bukit Bosscha (sekarang kawasan Observatorium Bosscha, Propelat, Sinapeul (eks kebun apel Baru Ajak), Baru Ajak hingga kawasan Situ Umar dan Situ PPI (Persatuan Pedagang Ikan)).

Menurut Muhammad Malik Ar Rahiem, tumbuhan ini memang tumbuh subur di kawasan rawa-rawa atau tanah yang banyak tergenang air setiap tahunnya. Namun, mirisnya sekarang tidak dapat lagi dijumpai satu pun dari Rumput Lembang di kawasan tersebut. Kawasan yang telah bersalin rupa akibat tekanan zaman yang membuat habitat Rumput Lembang harus berganti dengan pemukiman padat, sungai-sungai jernih sekarang hanya tinggal seperti selokan kecil yang kumuh, tidak ada lagi rawa-rawa, sepanjang mata memandang kawasan tersebut telah berganti menjadi lautan beton.

Dengan adanya toponimi dari penamaan Lembang ini, kita mampu melihat gambaran masa lalu sebuah wilayah. Dengan gambaran-gambaran pada penjelasan di atas kita mampu mengetahui seberapa rusak lingkungan Lembang saat ini.

Saat tahun 1821 hingga 1853, Priangan tertutup oleh pendatang dari luar. Para pendatang umumnya harus memiliki semacam visa khusus yang dipakai untuk memasuki wilayah Priangan. Namun, saat itu di kawasan Lembang dijadikan tempat pembuangan para penipu atau dalam bahasa selengean Tionghoa masa lalu sering disebut Congtipau, dan mereka semua berasal dari Batavia.

Para Congtipau tersebut dibuang ke kawasan Lembang yang saat itu masih hutan belantara, berharap para Congtipau tersebut mati karena tak mampu bertahan hidup. Namun, fakta berkata lain, para Congtipau tersebut mampu bertahan karena banyaknya sumber kehidupan yang tersebar di Lembang yang belum terjamah, karena tanahnya sangat subur.

Mereka para Congtipau itu akhirnya sukses membuka usaha penggergajian kayu, yang pada saat itu sangat digandrungi. Mereka hidup dan membentuk koloni mereka sendiri bahkan hingga beberapa generasi. Tempat mereka tinggal di Lembang bernama “Kampung Pangragajian” dan nama kampung itu masih eksis hingga kini.

Di kampung Pangragajian ini pada masa kolonial bahkan didatangi oleh satu dari sebelas bekas pejuang Boer Afrika Selatan yang membuka usaha peternakan sapi perah. Hal ini menjadikan kampung semakin hidup dan eksis hingga kini. Perkampungan ini letaknya tidak jauh dari area Sespim Polri sekarang, terus berkembang menjadi pemukiman padat.

Dengan adanya ilmu Toponimi kita jadi mampu mengetahui bahwa perkembangan wilayah kampung Pangragajian berasal dari tekad orang-orang buangan Batavia, yang akhirnya dapat membalikan keadaan mereka, karena suburnya tanah Lembang, melimpahnya segala sumber daya alam.

Tulisan saya untuk bulan Juni ini akan membahas beberapa kisah Toponimi yang ada di Lembang, sehingga mampu memberikan gambaran yang cukup lengkap dalam melihat Lembang lebih dekat. Dengan adanya ilmu toponimi ini kita akan mampu menjabarkan hal yang mungkin selama ini terlewatkan dalam pemikiran kita sehari-hari. Ternyata kita mampu melihat lebih dalam suatu tempat dan mengambil banyak hikmah sehingga lebih perduli pada keberlangsungan hidup, menjaga lingkungan dan menyelaraskan diri ini dengan alam.

Semoga tulisan-tulisan hasil riset saya tentang toponimi Lembang ini dapat bermanfaat bagi para pembaca semuanya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Tentang Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Jul 2026, 21:02

Stamp Hunting di Kota Kembang: Fenomena Demam “Museum Passport” dan Candu Baru Kaum Metropolis Bandung

Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Sekarang fenomenanya menular ke Kota Bandung.

Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 16:18

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Ketika suatu festival seni dapat memberi inspirasi bagi daerah lain.

Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:27

Mega Korupsi Era 90-an Skandal Bapindo dan Eddy Tansil Mengguncang Indonesia

Pengusaha bernama lengkap Edy Tansil (Tan Tjoa Ing) dituntut hukuman penjara seumur hidup serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp800 miliar.

Surat kabar Bandung Pos edisi akhir Juli 1994 yang menampilkan berita utama mengenai kasus mega korupsi Eddy Tansil. (Sumber: Foto dan koleksi surat kabar Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:10

Modernisasi Berkebaya yang Berbudaya

Tidak dapat ditawar lagi dengan berkebaya. Kebaya sudah menjadi identitas yang sangat penting bagi Indonesia.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 14:17

Telusur Arca Derenten: Ikonografi Durga-Agastya, Omon-Omon dari Kebun Binatang ke Museum Kota

Pengejawantahan arkeolog sebagai 'detektif masa lalu': mengkaji ikonografi Arca batu, menelusuri jejak hilangnya, hingga mengurai urgensi lembaga Museum Kota

Pintu masuk kebun binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 13:40

Pentingnya Patuh Minum Obat Hipertensi: Penyuluhan Mahasiswa PKPA UMB di Puskesmas Cibiru

Kegiatan kolaborasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan praktisi fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien di puskesmas cibiru.

Mahasiswa PKPA Universitas Muhammadiyah Bandung sedang melaksanakan Penyuluhan di Puskesmas Cibiru. Kamis (23/6/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Indri Wahyuni A)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 13:22

Lontong Goreng Gasibu, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Gedung Sate Bandung

Cari sarapan enak di Bandung? Lontong Goreng Gasibu menawarkan lontong goreng hangat dan tahu Sumedang dengan harga mulai Rp4.000 di kawasan Lapangan Gasibu.

Lontong Goreng Gasibu. (Sumber: Instagram @hayulahgaskeun)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 10:22

Sate, Sang Mahakarya Kuliner Nusantara: Dari Warisan Budaya hingga Diplomasi Rasa Dunia

Indonesia boleh dibilang merupakan "Negeri Seribu Sate".

Pedagang sate. (Sumber: Pexels | Foto: nourrie zein)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 07:55

Kesantunan Berdigital bagi Anak

Kecerdasan buatan tidak boleh membatasi proses tumbuh kembang anak.

Orang tua dan anaknya. (Sumber: Pexels/Lgh_9)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 19:42

Gunung Alit Telah Lahir di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu

Gunung Alit ini lahir di sisi utara Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu.

Gunung Alit lahir di dalam Kawah Ratu pascaletusan Juli–Agustus 2019. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 18:02

Serunya Belajar di Alam Bebas

Pendidikan terbaik bukan selalu tentang seberapa cepat anak mampu membaca, menulis, berhitung. Melainkan ketika anak tumbuh menjadi manusia yang rasa ingin tahunya tetap hidup, hatinya tetap lembut

Asyiknya Kakang naik Bebek Gowes di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 17:00

Hari Anak Nasional: Kenalkan Proses Kreatif Sejak Dini Lewat Program Little Creator

Kreativitas di segala bidang kehidupan adalah kunci masa depan anak.

Program Kreator Cilik yang diselenggarakan oleh Omochatoys menekankan proses kreatif sejak usia dini (Foto: dok Omochatoys)
Wisata & Kuliner 23 Jul 2026, 16:22

Wahana Pilihan TMII, dari Kereta Gantung hingga Drone Show Gratis

Rencanakan kunjungan ke TMII dengan panduan wahana terbaik, lengkap dengan tiket, museum pilihan, Jagat Satwa Nusantara, dan tips berkunjung hemat.

Museum Indonesia TMII. (Sumber: TMII)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 16:21

Hari Anak Nasional: Sudahkah Anak-Anak Indonesia Merdeka?

Apakah anak-anak layak dikatakan sudah merdeka? jika rasa aman, nyaman dan hak-hak dasar dalam hidup mereka belum sepenuhnya bisa ditunaikan.

Seorang anak sekolah di Aceh yang menyebrangi jembatan tali menuju sekolah. (Sumber: Generated AI (Terinspirasi dari Video Asli di Aceh))
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 15:11

Hari Anak Nasional Menjadi Momen Tumbuhnya Generasi Kuat dan Cerdas

Seharusnya peringatan Hari Anak Nasional dijadikan momentum penting untuk membangun anak-anak yang kuat dan cerdas.

Butuh kerjasama dan partisipasi dari berbagai pihak dalam rangka mewujudkan pendidikan terbaik bagi anak-anak negeri ini. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 14:39

Ketika Kritik Tenggelam dalam Kebisingan

Status quo tidak selalu bertahan karena kritik dibungkam, tetapi karena perhatian kita terlalu mudah dialihkan.

Sebuah pagelaran seni dog-dog di tengah sebuah aksi. (Foto: Dokumen pribadi)