Toponimi adalah cabang ilmu linguistik dan geografi yang mengkaji asal-usul, arti, sejarah dan makna dari penamaan sebuah tempat atau unsur geografi. Toponimi berkaitan dengan bidang etnologi dan kebudayaan. Toponimi berasal dari bahasa Yunani, yaitu Topos yang berarti tempat dan Onoma yang berarti nama.
Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan toponimi adalah cabang Onomastika yang menyelidiki nama tempat. Adapun Onomastika merupakan bidang ilmu linguistik yang menyelidiki asal-usul, bentuk, makna dari, serta nama orang dan tempat. Karena sebuah nama adalah kontribusi utama dan bagian terpenting dalam kehidupan kita sehari-hari.
Toponimi sering diabaikan selama ini, padahal dalam kasus-kasus terkait teritori, toponimi adalah pemberi identitas dan kunci penting. Sementara itu, fungsi lain toponimi adalah menjadi salah satu unsur utama untuk berkoordinasi dan berkomunikasi antar bangsa, dan membantu menetapkan sebuah teritori wilayah dan batas administrasi.
Lembang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bandung Barat yang berjarak sekitar 22 km dari titik nol Kota Bandung yang berada pada ketinggian 1.312 hingga 2.084 mdpl. Pada KBBI Lembang artinya adalah lekuk atau cekungan pada tanah dan permukaan lainnya. Biasanya disamakan juga dengan lembah atau tanah rendah yang tergenang air.
Berdasarkan kajian geografi tentang patahan Lembang yang diteliti dan dikembangkan oleh Pak T. Bachtiar, Lembang berasal dari bahasa Sunda yaitu “Ngalembang” yang berarti air yang tergenang atau menggenang karena tertahan, sehingga membentuk genangan yang luas. Ia menjelaskan bahwa nama Lembang kemungkinan berasal dari kondisi alam wilayah tersebut pada masa lalu. Air yang mengalir dari lereng Gunung Tangkuban Parahu tertahan oleh sesar Lembang, sehingga air menjadi tergenang (ngalembang).
Dalam sebuah buku berbahasa Belanda yang berjudul “Het Nederlanche Java Institut, Javaansche Geographische Namen als Spiegel Van De Omgeving En De Denkwijze Van het Volk”, pada halaman 3, menuliskan arti dari penamaan Lembang itu sendiri yang diambil dari sebuah rumput yang banyak ditemui di kawasan Lembang, yaitu Rumput Lembang.
Tanaman ini memiliki bahasa latin Thypia Latifolla, atau dalam bahasa Inggris sering disebut dengan Cattail atau Bulrush, sedangkan dalam bahasa Indonesia disebut Lidi Air. Tanaman ini banyak ditemui di kawasan Gunung Lembang yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Bukit Bosscha (sekarang kawasan Observatorium Bosscha, Propelat, Sinapeul (eks kebun apel Baru Ajak), Baru Ajak hingga kawasan Situ Umar dan Situ PPI (Persatuan Pedagang Ikan)).
Menurut Muhammad Malik Ar Rahiem, tumbuhan ini memang tumbuh subur di kawasan rawa-rawa atau tanah yang banyak tergenang air setiap tahunnya. Namun, mirisnya sekarang tidak dapat lagi dijumpai satu pun dari Rumput Lembang di kawasan tersebut. Kawasan yang telah bersalin rupa akibat tekanan zaman yang membuat habitat Rumput Lembang harus berganti dengan pemukiman padat, sungai-sungai jernih sekarang hanya tinggal seperti selokan kecil yang kumuh, tidak ada lagi rawa-rawa, sepanjang mata memandang kawasan tersebut telah berganti menjadi lautan beton.
Dengan adanya toponimi dari penamaan Lembang ini, kita mampu melihat gambaran masa lalu sebuah wilayah. Dengan gambaran-gambaran pada penjelasan di atas kita mampu mengetahui seberapa rusak lingkungan Lembang saat ini.
Saat tahun 1821 hingga 1853, Priangan tertutup oleh pendatang dari luar. Para pendatang umumnya harus memiliki semacam visa khusus yang dipakai untuk memasuki wilayah Priangan. Namun, saat itu di kawasan Lembang dijadikan tempat pembuangan para penipu atau dalam bahasa selengean Tionghoa masa lalu sering disebut Congtipau, dan mereka semua berasal dari Batavia.
Para Congtipau tersebut dibuang ke kawasan Lembang yang saat itu masih hutan belantara, berharap para Congtipau tersebut mati karena tak mampu bertahan hidup. Namun, fakta berkata lain, para Congtipau tersebut mampu bertahan karena banyaknya sumber kehidupan yang tersebar di Lembang yang belum terjamah, karena tanahnya sangat subur.
Mereka para Congtipau itu akhirnya sukses membuka usaha penggergajian kayu, yang pada saat itu sangat digandrungi. Mereka hidup dan membentuk koloni mereka sendiri bahkan hingga beberapa generasi. Tempat mereka tinggal di Lembang bernama “Kampung Pangragajian” dan nama kampung itu masih eksis hingga kini.
Di kampung Pangragajian ini pada masa kolonial bahkan didatangi oleh satu dari sebelas bekas pejuang Boer Afrika Selatan yang membuka usaha peternakan sapi perah. Hal ini menjadikan kampung semakin hidup dan eksis hingga kini. Perkampungan ini letaknya tidak jauh dari area Sespim Polri sekarang, terus berkembang menjadi pemukiman padat.

Dengan adanya ilmu Toponimi kita jadi mampu mengetahui bahwa perkembangan wilayah kampung Pangragajian berasal dari tekad orang-orang buangan Batavia, yang akhirnya dapat membalikan keadaan mereka, karena suburnya tanah Lembang, melimpahnya segala sumber daya alam.
Tulisan saya untuk bulan Juni ini akan membahas beberapa kisah Toponimi yang ada di Lembang, sehingga mampu memberikan gambaran yang cukup lengkap dalam melihat Lembang lebih dekat. Dengan adanya ilmu toponimi ini kita akan mampu menjabarkan hal yang mungkin selama ini terlewatkan dalam pemikiran kita sehari-hari. Ternyata kita mampu melihat lebih dalam suatu tempat dan mengambil banyak hikmah sehingga lebih perduli pada keberlangsungan hidup, menjaga lingkungan dan menyelaraskan diri ini dengan alam.
Semoga tulisan-tulisan hasil riset saya tentang toponimi Lembang ini dapat bermanfaat bagi para pembaca semuanya. (*)
