Sejak Kapan Peuyeum Jadi Ikon Kuliner Khas Bandung?

9 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
Peuyeum, ikon kuliner khas Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons/Okkisafire)
Peuyeum, ikon kuliner khas Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons/Okkisafire)

Artikel ini menyajikan analisis mendalam dan teknis mengenai fondasi sejarah, budaya, dan ekonomi yang telah mengukuhkan Peuyeum Bandung—makanan tradisional berbahan dasar singkong fermentasi—sebagai ikon pariwisata dan warisan kultural yang tidak terpisahkan dari identitas regional metropolitan Bandung.

Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat ialah tiga daerah yang sering disebut Bandung Raya (baca: metropolitan Bandung). Jadi saat anda menyebut Peuyeum Bandung, sebetulnya sedang menyebut tiga daerah ini, karena Peuyeum secara kultural sudah membudaya di warga tiga daerah ini.

Bahkan saking kulturalnya Peuyeum Bandung, setiap warga di daerah Jawa Barat pandai membuat Peuyeum Bandung. Justifikasi ikonik ini tidak hanya didasarkan pada rasa, tetapi merupakan hasil sintesis yang kompleks antara memori krisis pangan, amplifikasi media masif, dan resiliensi pasar yang teruji oleh guncangan infrastruktur.

***

Peuyeum, yang secara esensial merupakan camilan tradisional khas Sunda terbuat dari singkong yang difermentasi, telah bertransisi melampaui statusnya sebagai makanan biasa. Dalam konteks ekonomi kultural, status ikonik Peuyeum di Bandung adalah hasil sintesis yang berhasil antara kebutuhan historis, memori kolektif budaya, amplifikasi media yang kuat, dan aktivitas komersial berkelanjutan di wilayah metropolitan Bandung.

Analisis ini didasarkan pada hipotesis bahwa identitas ikonik Peuyeum terwujud dari ketegangan yang produktif antara dua peran: sebagai pangan fungsional yang bersahaja dan sebagai simbol budaya yang memiliki nilai jual premium. Makanan ini kaya nutrisi, serat, vitamin B, dan probiotik yang bermanfaat bagi pencernaan, membuktikan fungsi dasarnya sebagai makanan sehat. Namun, narasi yang melekat padanya sebagai "Peuyeum Bandung kamashur" (termasyhur) telah mengangkatnya menjadi artefak sosial dan ekonomi.

Peuyeum diakui sebagai warisan budaya dan kekayaan kuliner dari Jawa Barat. Produk ini telah menjadi bagian dari budaya Sunda selama berabad-abad, berakar pada kearifan lokal masyarakat Sunda dalam memanfaatkan singkong, terutama di musim panen yang melimpah. Kemampuan mengolah singkong menjadi makanan yang tahan lama dan kaya rasa melalui fermentasi adalah inti dari narasi budaya ini.

Penamaan produk ini mencerminkan integrasi mendalam dalam identitas Sunda: kata peuyeum berasal dari proses pengolahannya, yaitu dipeuyeum atau diperam (diberi ragi lalu dibiarkan semalam atau lebih). Praktik penamaan makanan berdasarkan cara pengolahannya ini unik di tatar Sunda, yang menekankan pentingnya teknologi lokal. Ketika nama tersebut ditambahkan dengan label produksi—Bandung—maka konsep Peuyeum Bandung menjadi semakin menarik karena Bandung adalah nama legendaris untuk sebuah ibu kota provinsi, yang memberikan otoritas komersial dan pamor yang signifikan.

Keunikan Peuyeum Bandung terletak pada proses fermentasi spesifiknya yang menghasilkan karakteristik organoleptik khas, membedakannya dari produk tape generik lainnya. Peuyeum didefinisikan sebagai singkong (ubi kayu) yang diolah melalui fermentasi menggunakan ragi khusus.Proses ini menghasilkan aroma khas dan tekstur yang lembut, sedikit kenyal, dan sedikit basah. Cita rasanya adalah perpaduan unik antara manis dan asam.

Kualitas Peuyeum sangat bergantung pada ragi yang digunakan. Fermentasi ini secara teknis mengubah pati singkong menjadi gula dan alkohol, yang tidak hanya meningkatkan rasa tetapi juga daya tahan produk dibandingkan dengan singkong rebus biasa. Perubahan ini memungkinkan singkong, yang merupakan sumber daya yang berlimpah, diubah menjadi komoditas yang stabil. Proses penamaan berdasarkan teknik dipeuyeum menegaskan bahwa teknologi fermentasi ini, yang merupakan kearifan lokal masyarakat Sunda, adalah elemen paling krusial dalam identitas produk ini.

Selain sebagai camilan lezat, Peuyeum dikenal menyimpan berbagai manfaat kesehatan. Proses fermentasi menghasilkan probiotik yang vital untuk menjaga kesehatan pencernaan dan meningkatkan daya tahan tubuh. Secara nutrisi, Peuyeum kaya akan karbohidrat, serat, vitamin B, dan mineral.

Penelitian ilmiah juga menunjukkan bahwa fermentasi singkong dapat meningkatkan aktivitas antioksidan karena pembentukan senyawa-senyawa antioksidan baru selama proses tersebut. Secara tradisional, orang tua di tatar Sunda juga percaya bahwa Peuyeum dapat membantu mengatasi masalah kulit seperti jerawat dan bisulan, serta mempercepat keluarnya darah menstruasi.

Meskipun terdapat dua varian utama peuyeum (singkong dan ketan), Peuyeum Singkong lah yang menjadi ikon massal Bandung. Pembedanya terletak pada fungsi sosialnya: Peuyeum Singkong dikonsumsi sebagai camilan harian yang mudah diakses oleh semua kalangan, sementara Peuyeum Ketan cenderung dibuat dan disajikan hanya menjelang hari besar seperti Lebaran atau saat ada pesta hajatan.

Sifat konsumsi harian dan ketersediaan singkong yang berlimpah—terutama dalam konteks sejarah krisis pangan—memastikan bahwa Peuyeum Singkong memiliki penetrasi pasar dan ingatan budaya yang jauh lebih besar. Kelekatan sejarah pada singkong sebagai simbol ketahanan pangan menjadikannya bentuk peuyeum yang paling ikonik dan melekat pada identitas Bandung.

Status ikonik Peuyeum di Bandung diperkuat oleh peran historisnya dalam ketahanan pangan dan fungsinya dalam mempererat tatanan sosial masyarakat Sunda. Asal mula kepopuleran Peuyeum terkait erat dengan masa krisis pangan, khususnya pada zaman penjajahan Belanda. Ketika padi (beras) disita oleh penjajah atau sulit didapatkan, masyarakat Jawa Barat beralih mengandalkan umbi-umbian, dengan singkong sebagai bahan konsumsi utama pengganti nasi.

Fermentasi menjadi metode penting untuk mempertahankan komoditas vital ini, menjamin ketahanan pangan sepanjang tahun. Transisi Peuyeum dari makanan darurat menjadi camilan pilihan menunjukkan akulturasi dan mitologisasi produk tersebut dalam ingatan kolektif Sunda. Pengalaman bersama mengonsumsi singkong olahan selama masa-masa sulit menciptakan memori kolektif yang kini diwujudkan dalam ikatan sosial.

Dari perspektif etnografi, fungsi Peuyeum Bandung melampaui pemenuhan kebutuhan fisik. Makanan ini secara intrinsik berfungsi sebagai ungkapan ikatan sosial, ungkapan solidaritas kelompok, dan bahkan memberikan ketenangan jiwa.

Sebagai hasil budaya Sunda, Peuyeum memiliki kemampuan mengikat orang-orang Sunda secara sosial. Ketika disajikan dalam konteks sosial, Peuyeum bukan hanya hidangan, tetapi simbol yang memanggil kembali warisan bersama dan rasa memiliki. Visual produk ini pun unik; Peuyeum Bendul (varian singkong panjang) sering digantung berjajar di kios penjual. Metode pajangan tradisional ini berfungsi sebagai bentuk branding primitif yang sangat efektif, menjadikannya pemandangan yang seketika dikenali oleh para pelancong dan memperkuat identitasnya sebagai oleh-oleh wajib.

Mengapa Menjadi "Peuyeum Bandung"?

Peuyeum. (Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Peuyeum. (Sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Pelekatan nama Bandung pada produk singkong fermentasi ini merupakan keputusan strategis, baik secara organik maupun komersial, yang menghasilkan percepatan brand equity yang luar biasa.

Meskipun Peuyeum adalah kuliner khas Jawa Barat secara umum, klaim asal spesifiknya sering diperdebatkan. Beberapa sumber menyebutkan Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, sebagai tempat awal kelahiran tape singkong tersebut. Di sisi lain, ada klaim yang mengaitkannya dengan daerah Cipeuyeum, Kabupaten Cianjur. Persaingan regional ini juga terlihat dari keberadaan Peuyeum Bendul di Purwakarta.

Meskipun terdapat kontestasi geografis, penambahan label "Bandung" memberikan bobot komersial yang luar biasa. Bandung, sebagai ibu kota provinsi yang "legendaris", berfungsi sebagai appellasi kualitas yang meningkatkan jangkauan pasar dan persepsi nilai produk, bahkan jika produksi fisiknya bergeser ke wilayah penyangga (Kabupaten Bandung Barat). Identitas Peuyeum Bandung beroperasi sebagai merek regional yang kuat, bahkan sering didistribusikan dari Bandung ke kota-kota lain seperti Garut dan Cianjur. Merek ini berfungsi layaknya Indikasi Geografis (IG) non-formal, yang secara efektif membayangi produk fermentasi singkong dari daerah lain.

Faktor tunggal terpenting dalam mempopulerkan produk ini adalah lagu pop Sunda "Peuyeum Bandung," yang dipopulerkan oleh Nining Meida. Lagu ini berfungsi sebagai kampanye pemasaran budaya masif dan berkelanjutan. Liriknya secara eksplisit menyatakan bahwa kudapan ini sudah "terkenal betapa nikmat rasanya" (tos kakoncara ku nikmat rasana).

Lagu tersebut menanamkan narasi ikonik dengan tiga poin branding utama: Pertama, kemasyhuran Universal: Peuyeum Bandung kamashur (termasyhur). Kedua, keterjangkauan: Pangaosna teu luhur (harganya tidak mahal). Ketiga, daya Tarik Lintas Usia: Dapat dibeli oleh siapa pun (ku sadaya kagaleuh), baik sepuh jeung murangkalih (tua dan muda).

Penekanan pada harga yang rendah dan aksesibilitas massal ini merupakan strategi (walaupun organik) yang memastikan penetrasi pasar maksimum, menjadikan Peuyeum sebagai oleh-oleh yang wajib dan terjangkau bagi semua wisatawan, tidak peduli latar belakang sosial-ekonominya. Sebagai ikon, Peuyeum memainkan peran sentral sebagai mesin ekonomi lokal, terutama dalam sektor pariwisata gastronomi Bandung.

Popularitas Peuyeum sebagai cenderamata yang dibawa pulang (oleh-oleh) tidak terlepas dari karakteristik komersialnya. Makanan ini mudah ditemukan di pasar tradisional dan toko oleh-oleh, serta dapat dikemas dalam berbagai bentuk dan ukuran, menjadikannya praktis untuk dibawa. Selain itu, teknik fermentasi memberikannya daya tahan yang lebih lama dibandingkan tape biasa, yang sangat penting untuk komoditas yang dijual kepada wisatawan dari luar kota. Visual tradisional menggantung Peuyeum di warung juga secara instan mengkomunikasikan ketersediaan dan kualitas produk kepada para pelancong.

Baca Juga: Botram, Tradisi Sunda yang Berpotensi Jadi Tujuan Wisata Tanah Pasundan

Sejarah ekonomi Peuyeum Bandung ditandai oleh dua guncangan struktural signifikan yang menguji daya tahan sentra produksinya, terutama di Kabupaten Bandung Barat. Analisis ini sangat penting untuk memahami kerentanan model bisnis tradisional.

Pembukaan Jalan Tol Cikampek–Purwakarta–Padalarang (Cipularang) pada tahun 2005 memberikan "pukulan telak" kepada para pelaku usaha Peuyeum yang berada di sepanjang ruas jalan arteri lama Cikalongwetan dan Cipatat. Sebelumnya, kios-kios ini berfungsi sebagai tempat persinggahan wajib bagi kendaraan umum dan pariwisata.

Konsekuensi langsung dari pembangunan tol adalah perubahan rute kendaraan secara permanen, menyebabkan kios-kios di sepanjang jalur lama menjadi sepi dan sebagian besar bangkrut atau gulung tikar. Bagi pengusaha di sentra Peuyeum Bendul (Purwakarta), omzet dilaporkan anjlok hingga 70%. Para pembuat Peuyeum di Kampung Cipicung, Kabupaten Bandung Barat, merasakan dampaknya ketika pesanan dari pengecer anjlok drastis. Guncangan ini menunjukkan kerentanan struktural model bisnis yang sepenuhnya bergantung pada lokasi geografis di koridor transit tertentu.

Guncangan kedua datang dengan pandemi COVID-19, yang memperparah kondisi industri yang sebelumnya sudah minim omzet. Krisis ini menghilangkan pesanan turis dan bulk order dari kios yang tersisa.

Produsen di Kampung Cipicung, yang mayoritas warganya berprofesi sebagai pembuat Peuyeum, sangat terdampak. Seorang produsen, Sahim Mulyana, mengalami kesulitan mencapai target produksi satu kuintal dan terkadang hanya mampu memproduksi 50 kilogram dalam satu bulan. Produksi pedagang keliling pun anjlok drastis (misalnya dari 2-3 kuintal per hari menjadi 50 kilogram) dan membutuhkan waktu penjualan yang jauh lebih lama.

Menghadapi kehancuran ekonomi yang disebabkan oleh disrupsi infrastruktur dan kesehatan, sentra produksi Peuyeum di Kampung Citatah dan Cipicung menerapkan strategi bertahan hidup yang adaptif.

  • Pertama, Relokasi dan Diversifikasi Pasar: Banyak pedagang ritel terpaksa pindah lokasi berjualan ke wilayah lain seperti Jakarta, Merak, Cikampek, atau Padalarang. Di lokasi lama, kios yang bertahan melengkapi dagangan mereka dengan produk kerajinan lain.
  • Kedua, Jaringan Pedagang Keliling (B2B): Produsen yang masih beroperasi mengalihkan fokus dari penjualan ritel di pinggir jalan ke model Business-to-Business (B2B). Mereka memasok produk kepada pedagang keliling yang menjajakan Peuyeum menggunakan pikulan atau sepeda motor ke kampung-kampung. Strategi ini memungkinkan pembuat Peuyeum di Cipicung untuk tetap menerima pesanan meskipun volume totalnya berkurang.
  • Ketiga, Modernisasi: Penelitian menunjukkan bahwa kelangsungan usaha pasca-pandemi memerlukan adopsi diferensiasi produk berbahan dasar Peuyeum, serta penjualan melalui media sosial dan e-commerce. Strategi ini krusial untuk melepaskan ketergantungan penjualan dari rute fisik yang sudah usang.

Status Peuyeum sebagai ikon Kota Bandung didasarkan pada fondasi yang kokoh, dibentuk oleh sejarah krisis pangan (memori akan ketahanan), pengukuhan budaya (simbol solidaritas), dan, yang terpenting, melalui akselerasi branding yang masif berkat lagu rakyat yang abadi. Merek "Peuyeum Bandung" berhasil mentransendensi realitas geografis produksi aktualnya, yang sebagian besar terkonsentrasi di Kabupaten Bandung Barat.

Namun, disrupsi ganda akibat Tol Cipularang dan Pandemi COVID-19 menunjukkan kerentanan parah rantai pasok tradisional yang berbasis lokasi. Untuk memastikan kelangsungan Peuyeum Bandung—bukan hanya sebagai memori kolektif, tetapi juga sebagai mesin ekonomi yang berkelanjutan—dibutuhkan pergeseran strategis dari model ritel yang tergantung pada infrastruktur fisik menjadi model komersial yang didukung penuh oleh digitalisasi, inovasi produk, dan perlindungan warisan kultural melalui penetapan Indikasi Geografis. Kelangsungan ikon ini menuntut dukungan kebijakan aktif untuk memberdayakan produsen tradisional agar dapat beradaptasi dan bersaing di pasar modern. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Tentang Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)