ITB sebagai Wisata Teknologi Era Globalisasi - Bagian 1

4 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Kampus ITB Jatinangor. (Sumber: Dok. ITB)
Kampus ITB Jatinangor. (Sumber: Dok. ITB)

Di masa kini, ide visioner sangat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan dan sinergitas kota, yang tanpa kita sadari, bisa menjadi ancaman dari tumbuhnya teknologi maju yang begitu pesat dan sering tidak terkendali. Sehingga terkadang kita merasa dunia ini terasa tumbuh tergesa-gesa.

Dalam era globalisasi yang ditandai oleh percepatan inovasi dan keterhubungan antarnegara, pendidikan tinggi tidak lagi sekadar tempat menimba ilmu, melainkan juga wadah untuk memperkenalkan kemajuan teknologi dan budaya akademik kepada masyarakat luas. Institut Teknologi Bandung (ITB), sebagai salah satu universitas teknik dan sains terbaik di Indonesia, memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi pusat wisata teknologi (techno-tourism) yang menggabungkan edukasi, inovasi, dan rekreasi.

Konsep ini dapat diwujudkan melalui pembukaan tur kampus tematik, pameran inovasi mahasiswa, simulasi laboratorium interaktif, serta museum teknologi yang menampilkan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Wisatawan—baik dari dalam maupun luar negeri—tidak hanya akan menikmati keindahan arsitektur kolonial kampus Ganesha dan suasana akademik yang khas, tetapi juga belajar tentang teknologi hijau, robotika, kecerdasan buatan, dan energi terbarukan hasil riset mahasiswa ITB.

Dengan cara ini, ITB tidak hanya menjadi simbol keunggulan akademik, tetapi juga ikon wisata edukatif nasional yang menunjukkan bahwa Indonesia siap bersaing di panggung teknologi global. Apalagi sumber daya manusia di Indonesia begitu banyak, yang menjadi salah satu instrumen penting dalam pengembangan potensi teknologi global.

Hal yang perlu diperhatikan, konsep pengembangan teknologi modern seyogianya juga memberi nilai tambah secara ekonomis. Misalnya, menjadikan pusat pengembangan itu tidak hanya untuk sekadar sebagai pusat penelitian dan observasi akademik, tetapi juga untuk menjadi daya tarik tersendiri bagi tumbuhnya destinasi pariwisata lokal.

Kegiatan di Technische Hoogeschool te Bandoeng (THB), yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). (Sumber: ITB)
Kegiatan di Technische Hoogeschool te Bandoeng (THB), yang kini dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung (ITB). (Sumber: ITB)

Secara positif dalam tinjauan konsep ITB sebagai wisata teknologi, ada beberapa infrastruktur dan suprastruktur yang perlu dipertimbangkan, antara lain:

1. Diversifikasi pariwisata Bandung

Bandung selama ini dikenal dengan wisata kuliner, belanja, dan alam. Wisata teknologi akan memperkaya ragam destinasi dan menarik segmen wisatawan baru — terutama pelajar, peneliti, dan keluarga yang mencari wisata edukatif.

2. Peningkatan ekonomi lokal

Kegiatan wisata di kampus akan mendorong pertumbuhan sektor pendukung seperti penginapan, transportasi, dan UMKM di sekitar Jalan Ganesha, Dago, hingga Lembang. Hal ini menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat.

3. Transfer pengetahuan dan inspirasi

Wisata teknologi dapat menumbuhkan minat generasi muda terhadap sains dan rekayasa. Anak-anak yang mengunjungi ITB bisa terinspirasi untuk berkarier di bidang teknologi di masa depan.

4. Branding Kota Bandung sebagai kota inovasi

Bandung akan semakin dikenal bukan hanya karena gaya hidup kreatifnya, tetapi juga sebagai “Smart Innovation City”, sejalan dengan arah pembangunan kota modern berbasis teknologi.

Baca Juga: Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda: Oase Bandung di Tengah Pariwisata Kontemporer

Akan tetapi, ada beberapa hal yang juga perlu dipertimbangkan, yang dapat berdampak negatif terhadap pariwisata lokal, antara lain:

1. Potensi gangguan terhadap aktivitas akademik

Arus wisatawan yang tinggi bisa mengganggu kenyamanan civitas akademika, terutama jika kegiatan tur tidak diatur dengan baik di area perkuliahan dan penelitian.

2. Komersialisasi ruang akademik

Risiko munculnya orientasi profit yang berlebihan dapat menurunkan nilai intelektual kampus jika tidak ada batas tegas antara kegiatan akademik dan komersial.

3. Dampak lingkungan dan sosial

Peningkatan jumlah pengunjung dapat memicu masalah sampah, kemacetan, dan polusi di sekitar kawasan kampus dan Dago, yang sudah cukup padat.

4. Ketimpangan pariwisata lokal

Fokus berlebihan pada kawasan elit seperti ITB bisa menyebabkan ketimpangan, di mana destinasi wisata lain di Bandung (misalnya di daerah pinggiran) kurang mendapat perhatian.

Baca Juga: Sejak Kapan Peuyeum Jadi Ikon Kuliner Khas Bandung?

Jadi persoalan ini, tidak terlepas dari sisi positif dan sisi negatif. Tetapi bagaimana ide ini bisa dijadikan referensi ke depan, sebab persoalan global yang dihadapi terkadang tidak dibarengi dengan kemampuan manajerial yang profesional. Dan juga bagaimana sistem yang dibangun, harus berhitung dengan kalkulasi anggaran yang ada.

Selama ini, program yang ditawarkan sering kali hanya mengedepankan kepentingan bisnis. Tetapi secara sosial, tidak berdampak positif terhadap lingkungan sekitarnya. Jika, dilihat dari kepentingan jangka panjang, kebijakan-kebijakan yang dibuat sering menjadi pragmatis. Sikap ini tentu beralasan, di tengah kondisi makro-ekonomi kita masih terpuruk.

Menjadikan ITB sebagai wisata teknologi era globalisasi merupakan ide visioner yang dapat memperkuat citra Indonesia sebagai bangsa inovatif. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada perencanaan terpadu antara pihak kampus, pemerintah kota, dan masyarakat lokal. Diperlukan keseimbangan antara fungsi akademik, edukatif, dan pariwisata agar nilai keilmuan tetap terjaga, sekaligus memberi manfaat nyata bagi ekonomi dan citra Bandung sebagai kota teknologi dan kreativitas.

Bagaimanapun juga, ide visioner dibutuhkan untuk mengembalikan citra ITB sebagai kampus yang tidak pernah berhenti untuk berinovasi lewat teknologi, sekaligus juga sebagai pusat kegiatan intelektual yang nyaman dalam mengembangkan pariwisata teknologi bagi daerah, khususnya Kota Bandung. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)