Duh! Bandung Kian Gemerlap tapi Sebagian Warganya Malah Turun Kelas

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Jembatan Pasupati, salah satu ikon Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Danny)
Jembatan Pasupati, salah satu ikon Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Danny)

WALI Kota Bandung, Muhammad Farhan, ikut  menyoroti fenomena downgrade lifestyle atau penurunan gaya hidup yang mulai dirasakan masyarakat akibat meningkatnya biaya kebutuhan sehari-hari, seraya berharap kondisi tersebut tidak sampai meluas dan terjadi di Kota Bandung.

"Downgrade lifestyle sebenarnya merupakan upaya seseorang yang sebelumnya mampu menikmati kategori affordable luxury, kemudian beralih ke pola hidup lebih hemat atau frugal life," kata Farhan, Kamis (5/11/2026), seperti dilaporkan koran-gala.id.

Apa yang dinyatakan Farhan tersebut menarik untuk dicermati. Pasalnya, persoalan ini ujungnya memang tak sekadar menyangkut perubahan gaya hidup atau pilihan seseorang untuk berhemat. Ada pula persoalan daya beli dan kemampuan rumah tangga dalam mempertahankan kualitas hidup di tengah biaya yang terus meningkat.

Sebagai kota yang dikenal dengan kafe, pusat perbelanjaan, kuliner, fesyen, dan pariwisatanya, Kota Bandung memang selalu tampak hidup. Orang Batawi bilang, “Bandung kagak ada matinye.” 

Namun, di balik ramainya kawasan komersial dan antrean di tempat makan, toh ada keluarga yang kini mulai berhitung lebih cermat. Para kepala keluarga itu masih bekerja, juga tetap berbelanja, bahkan sesekali masih bisa nongkrong. Namun, ruang untuk menabung, berlibur, atau sekadar menikmati hasil jerih payah mungkin semakin terbatas.

Dengan kata lain, aktivitas ekonomi yang terlihat ramai di Bandung belum tentu mencerminkan kondisi keuangan seluruh rumah tangga di kota ini yang -- kata remaja zaman kiwari --  fine-fine saja.

Masalahnya, mungkin, penurunan kualitas hidup ini tidak selalu kentara seperti kemiskinan. Seseorang barangkali masih memiliki pekerjaan, masih ngagigiwing telepon pintar, turun-unggah kendaraan, dan punya tempat tinggal. Dari luar, kehidupannya tampak baik-baik saja. 

Namun, sebagian besar penghasilannya habis untuk pengeluaran rutin. Dana darurat sulit bertambah. Cicilan harus dibayar tepat waktu, serta pengeluaran tak terduga bisa langsung mengganggu keuangan keluarga. 

Situasi semacam itu, jelas, bertalian dengan kerentanan finansial. Seseorang mungkin belum masuk kategori miskin, tetapi tidak memiliki cukup bantalan ekonomi untuk menghadapi guncangan.

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata pengeluaran penduduk Kota Bandung pada tahun 2025 mencapai sekitar Rp2,59 juta per kapita per bulan. 

Angka tersebut turun 1,59 persen dibandingkan tahun 2024 yang sekitar Rp2,64 juta. Pengeluaran untuk makanan tercatat sekitar Rp1 juta, sedangkan kebutuhan bukan makanan mencapai Rp1,59 juta. 

Angka rata-rata ini memang tidak bisa langsung dianggap sebagai gambaran kondisi kelas menengah di kota berjuluk Kota Kembang ini, apalagi disamakan dengan pendapatan. Namun, penurunan pengeluaran tersebut menarik dibaca bersama fenomena downgrade lifestyle. Apakah rumah tangga di Bandung semakin efisien mengelola uang, atau sebagian mulai mengerem konsumsi karena ruang keuangannya menyempit?

Data BPS yang ditampilkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencatat rasio Gini Kota Bandung sebesar 0,420 pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan distribusi pengeluaran yang masih timpang. 

Artinya, pengalaman ekonomi warga tidak bisa dipahami dari satu angka rata-rata. Di satu sisi, ada kelompok yang tetap mampu membeli rumah, berinvestasi, maupun berwisata. Di sisi lain, ada keluarga yang harus berhitung sebelum memutuskan membeli kebutuhan bulanan. Mereka hidup di kota yang sama, tetapi kemampuan mereka menikmati kehidupan berbeda.

Pada tahun 2025, persentase penduduk miskin Kota Bandung tercatat 3,78 persen, turun menjadi 3,67 persen pada 2026 menurut data statistik Jawa Barat. Ini perkembangan positif dan tentu patut diapresiasi. 

Namun, garis kemiskinan bukan garis pemisah antara hidup nyaman dan hidup rentan. Rumah tangga yang penghasilannya berada sedikit di atas batas kemiskinan tidak otomatis memiliki tabungan, rumah sendiri, atau jaminan ketika kehilangan pekerjaan. 

Begitu pula keluarga kelas menengah yang masih mampu memenuhi kebutuhan rutin, tetapi bisa terguncang ketika ada anggota keluarga sakit, kontrak kerja berakhir, atau biaya pendidikan meningkat. Artinya, tidak miskin bukan berarti aman secara ekonomi.

Upah minimum kota (UMK) Bandung tahun 2026 ditetapkan sebesar Rp4.737.678 per bulan. Angka ini merupakan batas upah minimum bagi pekerja dengan masa kerja kurang dari satu tahun, dan bukan gambaran penghasilan seluruh pekerja atau standar pasti kecukupan hidup sebuah keluarga. 

Namun, angka tersebut dapat menjadi titik awal untuk mengajukan pertanyaan ihwal seberapa jauh penghasilan pekerja mampu mengejar kebutuhan hidup di Kota Bandung. Terlebih, satu sumber penghasilan sering kali harus menopang lebih dari satu orang. 

Kita bisa bayangkan, ada biaya rutin kontrakan atau cicilan rumah, ongkos perjalanan, biaya makan, sekolah anak, listrik, internet, hingga kebutuhan orang tua. Di atas kertas, gaji mungkin terlihat cukup. Dalam praktiknya, bagi sebagian orang tanggal kolot kerap kadang datang lebih cepat daripada tanggal gajian.

Bandung tampaknya memiliki persoalan perkotaan yang membuat pengeluaran rumah tangga saling mempengaruhi. Pilihan tempat tinggal yang lebih terjangkau belum tentu dekat dengan tempat kerja. Jarak yang lebih jauh dapat berarti tambahan ongkos transportasi dan waktu perjalanan yang lebih panjang. 

Kemacetan yang merundung Bandung bukan hanya menghabiskan bahan bakar, tetapi juga waktu produktif dan energi. Sementara itu, rumah yang lebih dekat dengan pusat kegiatan ekonomi biasanya menuntut biaya hunian yang lebih tinggi. 

Warga akhirnya berhadapan dengan pilihan yang sama-sama tidak ringan, yakni membayar lebih mahal untuk tinggal dekat tempat kerja atau menghemat biaya rumah dengan menanggung ongkos perjalanan lebih besar. 

Pernyataan Walikota Bandung Muhammad Farhan tentang tiga langkah menjaga daya beli warga -- dengan mendukung pembangunan tiga juta rumah, memastikan kelancaran pasokan pangan, serta membuka peluang kerja dan usaha -- tentu memiliki relevansi. 

Namun, ketiga langkah itu perlu diterjemahkan menjadi kebijakan yang hasilnya bisa dirasakan rumah tangga di kota ini. Pasokan beras yang terjaga membantu mengendalikan pengeluaran. Rumah yang terjangkau mengurangi beban jangka panjang. Lapangan kerja memberi sumber pendapatan. 

Akan tetapi, kualitas pekerjaan, besaran upah, kepastian penghasilan, dan jarak antara tempat tinggal dengan lokasi kerja juga menentukan apakah warga Bandung benar-benar melakoni kehidupan yang lebih baik. 

Bandung tentu saja tidak cukup hanya menjaga agar warganya tetap bisa balanja. Kota ini perlu memastikan penduduknya mempunyai kemampuan menyisihkan sebagian penghasilan mereka. 

Dalam ekonomi rumah tangga, tabungan bukan sekadar sisa uang setelah semua kebutuhan dibayar. Tabungan merupakan bantalan ketika kehidupan tidak berjalan sesuai rencana. 

Tanpa cadangan keuangan, kehilangan pekerjaan, kerusakan kendaraan, biaya sekolah, atau kebutuhan kesehatan bisa berubah menjadi petaka besar. 

Kemampuan menabung juga menentukan apakah sebuah keluarga bisa merencanakan masa depan, bukan hanya sibuk menyelesaikan urusan tagihan bulan berjalan. 

Fenomena downgrade lifestyle, seperti yang disoroti Wali Kota Bandung seharusnya tidak buru-buru dipandang sebagai perubahan selera masyarakat Bandung. 

Bisa jadi sebagian warga memang memilih hidup lebih sederhana. Dan itu keputusan pribadi yang patut dihargai. Namun, jika penghematan dilakukan karena penghasilan semakin sulit mengejar biaya hidup di kota ini, persoalannya sudah berbeda. 

Pengakuan Wali Kota Bandung, sebagaimana dikutip koran-gala.id, bahwa pertumbuhan ekonomi Bandung belum merata dan ketimpangan masih tinggi justru menjadi bagian penting dari persoalan yang harus diselesaikan. 

Bandung sama sekali tidak pernah kekurangan kafe, tempat wisata, pusat belanja, atau restoran-restoran baru tempat memanjakan lidah dan perut. 

Yang perlu dipastikan adalah apakah segala fasilitas yang tersedia di kota ini juga memperbesar ruang hidup segenap warganya. Jangan sampai Bandung semakin gemerlap sebagai kota tujuan pelesiran, sementara sebagian penduduknya diam-diam malah sibuk menurunkan standar kehidupan mereka agar tetap bisa survive di kota ini. 

Kita selalu berharap Kota Bandung bisa membuat warganya naik kelas, dan bukan mengajari agar mereka kian pintar turun kelas. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Nov 2026, 20:45

Potensi Desa yang Tak Ada di Peta Digital

Strategi publikasi digital potensi desa menggunakan peta digital.

Wisatawan menaiki wahana Kereta Dangdeur Van Java di Ciherang, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Mitra 06 Nov 2026, 20:30

Angola Jajaki Kerja Sama Pasokan Pupuk dan Investasi dengan Pupuk Kujang

Pemerintah Angola menjajaki peluang kerja sama di sektor pupuk dan pertanian dengan PT Pupuk Kujang Cikampek.

Direktur Utama Pupuk Kujang, Panji Winanteya Ruky saat menyambut Dubes Angola untuk Indonesia, Florencio Mariano da Conceciao e Almeida. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 06 Nov 2026, 19:56

Cikasungka, Semula Belantara Habitat Areuy Kasungka

Banyaknya toponim Cikasungka menandakan bahwa pada awalnya areuy kasungka tersebar dengan sangat baik di hutan hujan tropis pegunungan di Jawa Barat dan di Banten.

Bunga, buah, areuy kasungka. (Sumber: tropical.theferns.info)
Mayantara 06 Nov 2026, 19:05

Suara Kritis Masyarakat Jejaring

Ketika persoalan perempuan menjadi percakapan publik di ruang digital.

Ilustrasi pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: MART PRODUCTION)
Seni Budaya 06 Nov 2026, 18:56

Wayang Dari Panggung Rakyat Hingga Diakui Dunia

Dunia mungkin menyebutnya Puppet, akan tetapi bagi masyarakat Indonesia kesenian ini bukan hanya berupa boneka atau bentuk yang menyerupai manusia. Masyarakat di Nusantara mengenalnya dengan sebutan w

Ilustrasi Wayang di Indonesia (Foto: AI)
Ayo Netizen 06 Nov 2026, 17:12

Semoga Abadi dalam Gejolak Api Neraka

Jika kritikan secara halus tak jua di dengar maka biarkan bait-bait yang menusuk relung dan jiwa yang terlontar.

Jika kritik secara halus tak di dengar maka biarkan gejolak api dalam jiwa yang berbicara. (Sumber: Pexels)
Ayo Netizen 06 Nov 2026, 14:21

Duh! Bandung Kian Gemerlap tapi Sebagian Warganya Malah Turun Kelas

Kita perlu memastikan apakah segala fasilitas yang tersedia di Kota Bandung juga memperbesar ruang hidup segenap warganya.

Jembatan Pasupati, salah satu ikon Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Danny)
Ayo Netizen 06 Nov 2026, 10:22

Jangan Sepelekan Buah Sukun

Saat ini pohon Sukun di Kota Bandung sedang berbuah sementara pohon-pohonnya tersebar dan berada di pinggir jalan, raya,, di tempat-tempat umum dan perkantoran.

Buah sukun. (Sumber: Pexels | Foto: Quang Nguyen Vinh)
Ayo Netizen 06 Nov 2026, 08:49

Ngopi Tahun 1980-an

Banyak warung kopi sederhana yang menjadi tempat mangkal untuk menikmati secangkir kopi tubruk di Kota Bandung pada dekade tahun 1980-an.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 20:21

Potensi Hutan Babakan Siliwangi Bandung sebagai Destinasi Wisata

Bandung menjadi salah satu kota yang masih memiliki hutan kota. Hutan Babakan Siliwangi Bandung berpotensi untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata, selain penyeimbang udara bersih dari polusi.

Hutan Kota Babakan Siliwangi, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 20:09

Karhutla dan Kabut Asap Menjadi Berita Utama Surat Kabar Daerah-Nasional hingga Internasional

Besarnya perhatian terhadap bencana ekologis tercermin dari pemberitaan berbagai surat kabar daerah, nasional, hingga internasional.

Sejumlah surat kabar daerah yang menyoroti peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 19:08

Dari Papua ke Jawa Barat: Karhutla dan Peran Warga Bandung

Dari karhutla Papua hingga kejadian di Bandung, mari jaga lingkungan lewat 4 langkah sederhana pencegahan kebakaran di sekitar rumah.

Ilustrasi kebakaran hutan di Papua. (Sumber: AI Generator | Foto: Ilustrasi AI)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 18:23

Hanya Sepekan: Asap Karhutla Kembali Penuhi Langit Palangkaraya

Baru saja genap sepekan langit Palangka Raya bersih karena sudah turun hujan. Namun kabar baik tersebut tidak berlangsung lama setelah pembakaran hutan kembali terjadi.

Asap Karhutla kembali penuhi langit Palangkaraya. (Sumber: Instagram| info.kalteng)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 17:25

10 Netizen Terpilih Oktober 2026: Menangkap Isu Hujan, Bencana, dan Wajah Kota Bandung

10 penulis terbaik Ayo Netizen Oktober 2026 diumumkan. Dari isu hujan dan bencana hingga wajah kota Bandung, total hadiah Rp1,5 juta.

Banjir yang menggenangi Jalan Raya Pluto, Margahayu, Kota Bandung, Rabu 14 Mei 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 16:45

Apakah Buku Fisik Mulai Menjadi Bagian dari Masa Lalu?

Analisis kebiasaan membaca digital mahasiswa Indonesia beserta tiga keterbatasan data yang perlu dicermati sebelum menyimpulkan nasib buku cetak.

Contoh buku fisik berjudul Pride and Prejudice karya Jane Austen. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Dila Ananda Pratama)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 13:57

Menemukan Manisnya Ketan Susu Bang Zul, Hidden Gem Kuliner di Ujung Berung

Ketan Susu Bang Zul, salah satu hidden gem kuliner di Ujung Berung, Bandung. Sajian ketan susu dengan beragam topping, menawarkan perpaduan rasa manis, gurih, dan tekstur yang menggugah selera.

Ketan Susu Bang Zul. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 12:24

Éling ka Wiwitan, Sadar ka Wekasan: Membangun Bandung Tangguh Bencana

Kota tangguh bencana tidak dibangun ketika bencana datang, melainkan jauh sebelumnya melalui kesadaran mengenali risiko dan keberanian melakukan mitigasi.

Pembangunan kota harus dimulai dengan kesadaran bersama terhadap risiko bencana. (Sumber: pexels | Foto: alfian light)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 11:11

Lagu ‘Halo-Halo Bandung’ Kala Persib Tandang di Negeri Orang

Tanpa harus merencanakan sebuah pertunjukan kebudayaan, para bobotoh Persib membawa salah satu simbol sejarah Bandung ke hadapan publik internasional.

Pemain Persib merayakan kemenangan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Nov 2026, 07:57

Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor: Merawat Welas Asih dari Jalanan

Di tengah rezim yang sewenang-wenang, Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor kembali menyatukan suara korban yang diabaikan dan menjaga nyala welas asih sebagai napas panjang perlawanan di jalanan.

Aksi Kamisan Bandung & Jatinangor di Braga, 29 Agustus 2026 (Foto: Iqa Kinanti Nandakasih)
Mitra 04 Nov 2026, 20:29

Dari 475 Pendaftar, 35 Jurnalis Terpilih Raih Beasiswa S2 BRI Fellowship Journalism 2026

BRI resmi mengukuhkan 35 jurnalis sebagai penerima beasiswa pascasarjana lewat Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026.

BRI resmi mengukuhkan 35 jurnalis sebagai penerima beasiswa pascasarjana lewat Inaugurasi BRI Fellowship Journalism 2026. (Sumber: Dok. BRI)