Peringatan Darurat Kekerasan terhadap Perempuan

4 menit baca
Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan
Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan. (Sumber: Unplash)
Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan. (Sumber: Unplash)

Dua tahun lalu, keluarga Yuvita Tri Rezeki (29) sempat panik. Yuvita, yang pamit merantau untuk bekerja, tiba-tiba memutus komunikasi. Keluarga pun menyebar informasi orang hilang di media sosial. Namun, jawaban yang datang justru di luar dugaan.

Yuvita menelepon kakaknya dengan nada pelan dan penuh ancaman, "Kalau keluarga terus mencari, aku tidak akan pulang selamanya." Kalimat itu menjadi kunci yang mengunci pintu kebebasannya. Keluarga diam, diliputi ketakutan dan firasat buruk, takut salah melangkah.

Hingga pada Juni 2026, pintu itu akhirnya terbuka dengan cara yang paling tragis. Yuvita ditemukan di IGD Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Kondisinya memprihatinkan: bibir atas robek, kedua mata buta, dan kepala penuh luka akibat benturan benda tumpul. Selama dua tahun, ia disekap oleh pacarnya sendiri, Taufik Hidayat, di sebuah kostan di Cileunyi. Berdasarkan pengakuan Yuvita kepada keluarganya setelah diselamatkan, pelaku secara sengaja memindah-mindahkan tempat kost mereka setiap tiga bulan sekali—sebuah modus licik untuk mengisolasi korban dan menghapus jejak.

Negara yang Terlambat Hadir

Kemarahan adalah respons pertama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, saat melihat langsung kondisi Yuvita. Marah yang berujung pada aksi nyata: ia mengeluarkan Rp250 juta dari kantong pribadi sebagai sayembara bagi siapa pun yang mampu menangkap Taufik Hidayat.

Namun, di balik aksi heroik tersebut, muncul pertanyaan pahit: mengapa harus menunggu viral? Mengapa negara harus menunggu korban mengalami cacat permanen sebelum sistem bergerak?

Rp250 juta itu adalah bukti kemarahan negara. Namun, itu sekaligus cermin bahwa sistem perlindungan kita masih terlambat. Yuvita harus hancur dan viral terlebih dahulu agar aparat sigap bergerak. Ini adalah pengingat bahwa viralitas bukanlah solusi; ia hanyalah bentuk kepuasan sesaat atas ketidaksiapan sistem yang seharusnya bekerja jauh sebelum tragedi memuncak.

Pentingnya Waspada dan Peduli Sesama

Sembari menuntut tanggung jawab negara, kita pun harus berani membenahi cara kita membangun proteksi dari lingkup terkecil: diri kita sendiri. Melihat kasus ini, sudah saatnya kita lebih bijak memaknai hubungan. Cinta memang sering kali hadir dengan pesonanya, namun ia tidak pernah menjamin keamanan masa depan. Terkadang, kita terlalu terburu-buru memberikan kepercayaan tanpa benar-benar mengenal siapa yang berdiri di hadapan kita.

Perempuan seringkali dituntut untuk mengambil keputusan berdasarkan pada tekanan sosial yang ada di masyarakat. (Sumber: Unsplash | Foto: Alex Jones)
Perempuan seringkali dituntut untuk mengambil keputusan berdasarkan pada tekanan sosial yang ada di masyarakat. (Sumber: Unsplash | Foto: Alex Jones)


Sebagaimana pesan dalam buku The Gift of Fear karya Gavin de Becker, insting kita sering kali menangkap sinyal bahaya yang diabaikan oleh logika yang terbutakan oleh rasa sayang. Mengenali latar belakang, melihat cara seseorang mengelola emosi, serta memahami bagaimana ia memperlakukan orang lain adalah bentuk kasih sayang tertinggi untuk diri sendiri.

Selain kewaspadaan pribadi, kejadian ini juga menjadi cermin bagi kepedulian kita sebagai sesama manusia. Memang benar, setiap orang memiliki privasi dan urusannya masing-masing. Namun, bukankah kita sering lupa bahwa di balik pintu tetangga atau di balik diamnya seorang teman, ada seseorang yang mungkin sedang menahan jerit minta tolong? Banyak dari mereka tidak berani bersuara bukan karena mereka baik-baik saja, melainkan karena rasa takut yang sudah melumpuhkan nyali mereka.

Menjadi peka terhadap perubahan kecil di sekitar, seperti tetangga yang mendadak hilang kontak atau teman yang perilakunya berubah drastis bukanlah perilaku mencampuri urusan orang lain. Itu adalah bentuk kepedulian untuk memastikan bahwa tidak ada lagi nyawa yang hancur hanya karena kita memilih untuk abai.

Memutus Rantai Ketakutan

Kasus Yuvita adalah alarm keras bahwa Indonesia masih menghadapi krisis Keamanan Berbasis Gender yang mengancam nyawa perempuan. Ini adalah kelalaian kolektif kita: pemerintah yang lamban, lingkungan sekitar yang enggan peduli, hingga sistem hukum yang belum memberikan efek jera yang setimpal. Negara tidak cukup hanya dengan sayembara. Kita butuh sistem deteksi dini (early warning system) yang lebih baik di tingkat kelurahan dan integrasi layanan kesehatan dengan aparat penegak hukum agar korban kekerasan tidak perlu menunggu viral untuk mendapatkan perlindungan.

Balasan apa yang setimpal bagi pelaku? Dalam hukum, mungkin penjara adalah jawabannya. Namun, bagi korban yang telah kehilangan masa depan, penglihatan, dan kemerdekaan tubuhnya, hukuman penjara sering kali terasa tidak sebanding. Keadilan sejati bukan hanya tentang berapa lama pelaku mendekam di balik jeruji, tetapi tentang memastikan pelaku tidak lagi memiliki ruang untuk merusak hidup orang lain.

Banyak korban memilih bungkam, persis seperti Yuvita yang dipaksa terisolasi oleh ancaman. Diam adalah makanan utama bagi pelaku kekerasan. Padahal, langkah pertama untuk memutus rantai kekerasan dimulai dari keberanian untuk bercerita. Bercerita kepada orang tua, sahabat, atau lembaga pendamping seperti LBH APIK bukanlah tanda kelemahan.

Melapor mungkin terasa berat. Namun, menyimpan luka sendirian jauh lebih mematikan. Keberanian untuk berkata, "Aku disakiti," adalah bentuk perlawanan paling dasar. Sama seperti luka-luka di tubuh Yuvita yang menjadi saksi bisu—itu bukan hanya tanda penderitaan, melainkan bukti bahwa ia tidak pernah benar-benar menyerah pada kejamnya sekapan. Karena diam bukanlah bentuk kesetiaan, dan peduli bukanlah bentuk ikut campur. Sudah saatnya kita saling menjaga sebelum satu per satu dari kita menjadi korban berikutnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nenah Haryati
Tentang Nenah Haryati
Mahasiswa yang hobi mengamati sisi lain kehidupan sehari-hari, terutama yang dialami Generasi Z.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Jul 2026, 16:01

Bandung Begal, Beungal, dan Bedul

Memberantas begal tidak cukup hanya dengan menangkap pelakunya.

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 15:15

Pembongkaran Perpustakaan Gasibu Picu Kekecewaan Pembaca Buku di Bandung

Pembongkaran fisik Perpustakaan Gasibu Bandung memicu banyak kekecewan dari warga sekitar dan pegiat literasi.

Perpustakaan Gasibu yang dibongkar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 14:34

Posisi Strategis Ibu dalam Pelestarian Bahasa Ibu

Pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah tidak bisa lepas dari peran ibu sendiri.

Ilustrasi masyarakat tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Wahyu Prabowo)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 13:14

Legitnya Peuyeum Ciruluk, Warisan Kuliner Khas Kalijati Subang

Sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 20 Jul 2026, 11:47

Hikayat Pasar Andir Pusat Grosir Fesyen Bandung yang Mencoba Terus Bertahan

Pasar Andir pernah menjadi pusat grosir fesyen Bandung dan kini berjuang menghadapi perubahan perilaku belanja masyarakat.

Suasana Pasar Andir, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 11:42

Gernas RANA: Menepis Cemas dan Menanam Senyum di Hari Pertama Sekolah

Lewat Permendikdasmen 12/2026 & Gernas RANA, sekolah kini jadi ruang aman bebas cemas. Saatnya sambut masa depan anak dengan kasih sayang!

Pengenalan sekolah bagi para siswa-siswi baru. (Foto: Oleh : bkhmvidio@gmail.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 09:09

Bedah Publikasi Pesan Program Pendampingan Gizi dalam Pencegahan Stunting

Nestle Indonesia mempublikasikan program pendampingan gizi di berbagai platform komunikasi dengan menyesuaikan karakteristik tiap platform.

Ilustrasi penulis sedang membedah narasi iklan. (Dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 08:39

Sudah Sehatkah Demokrasi Kita?

Apakah demokrasi bisa tumbuh secara sehat tanpa partisipasi masyarakat? Bagaimana pandangan pakar tentang ini?

Bendera negara Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Rizky Rahmat Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 07:55

SPMB Jalur Domisili Belum Cukup Mengurangi Ketergantungan Pelajar pada Sepeda Motor

SPMB jalur domisili mendekatkan jarak antara rumah dan sekolah, tetapi belum cukup mengurangi ketergantungan pelajar pada sepeda motor dan risiko keselamatan di jalan raya.

Sejumlah sepeda motor milik siswa sebuah SMA di Kota Bandung diparkir di badan jalan. (Istimewa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 18:04

Cara Ampuh Menerangi Jalan Kota Bandung

Menindak tegas begal bukan sekadar menjadi program tapi melanjutkan keluhan masyarakat yang diprioritaskan

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 15:30

Mafia Olahraga, Sebuah Stigma Menakutkan

Olahraga yang seharusnya menjadi ruang sportivitas kini dihantui oleh mafia yang terhubung dengan jaringan global.

Uang rupiah. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Wisata & Kuliner 19 Jul 2026, 14:01

Keripik Paru Klaten, Oleh-oleh Gurih Legendaris dari Kampung Tegal Kepatihan

Dari Kampung Tegal Kepatihan hingga dikenal luas, Keripik Paru Klaten menjadi ikon kuliner khas. Ketahui sejarah, proses, dan tempat membelinya.

Keripik Paru Klaten.
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 11:33

Marak Begal, Gangster, dan Matel Menelan Korban, Warga Bandung Pertanyakan Aksi Walikota dan Aparat

Bandung darurat 'Red Zone' akibat maraknya begal, gangster, dan matel yang menelan banyak korban.

Senjata Tajam. (Sumber: Pixabay/KhanaBadosh | Foto: Pixabay/KhanaBadosh)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 08:00

Ketika Deru Knalpot dan Distorsi Musik Menyatukan Ribuan Pecinta Otomotif Bandung

Seri pembuka Kejurnas Slalom MLDSPOT Autokhana 2026 sukses mengguncang GOR Arcamanik Bandung.

Gate masuk event MLDSPOT Autokhana, pada 11 Juli 2026 (Sumber: Athhar Jundi Pratama Attaqa | Foto: Athhar Jundi Pratama Attaqa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 07:50

Mengembalikan Fungsi Bandara Husein Bukan Romantisme Masa Lalu

Keberhasilan reaktivasi Bandara Husein pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh hari pertama operasional, melainkan oleh apa yang terjadi berbulan-bulan setelahnya.

Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 21:21

Panduan Wisata ke Kawah Ijen Banyuwangi: Blue Fire, Tiket, dan Tips Lengkap

Panduan lengkap wisata Kawah Ijen Banyuwangi, mulai harga tiket 2025, fenomena Blue Fire, rute pendakian, jam terbaik, hingga tips agar perjalanan lebih aman.

Kawah Ijen Banyuwangi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 20:15

Luka, Algoritma, dan Dogma

Luka hanya dapat disembuhkan oleh kepedulian, algoritma dapat diimbangi dengan literasi, dan rapuhnya interaksi sosial hanya dapat dipulihkan saat kita meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama

Kita tidak akan sepenuhnya paham bagaimana rasanya di-bully, sebelum kita merasakan sendiri dampaknya. (Sumber: Unsplash/Carolina)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)